
Si boss membawaku turun dengan lift tidak menuju Garju resto seperti yang telah dibilangnya pada Dora. Namun sebuah salon dan spa nampak mewah di salah satu kabin di dek empat.
Dua orang pegawai salon perempuan bergegas menyambut kedatangan kami. Mereka mengangguk begitu hormat pada Garrick. Lalu tersenyum sangat ramah padaku.
"Selamat sore tuan Garrick. Ada yang perlu kami lakukan?" Salah seorang pegawai salon bertanya dan mengamatiku.
"Bawalah dulu gadis ini." Garrick bersikap acuh menjawab pertanyaan pegawai salon.
Mereka menuntunku di kanan dan di kiri, serasa aku ini seperti seorang putri. Salon manapun yang pernah ku kunjungi, tak pernah sekalipun menuntunku begitu.
Garrick menyusul di belakang sambil bertelepon. Dari bahasa yang ku dengar, itu pasti dari Anthony Lung. Garrick mengulurkan ponsel pada kedua pegawai di kanan dan kiriku, yang di terima oleh gadis di kananku. Beberapa saat ponsel itu merapat di telinganya, gadis itu nampak mengangguk berulangkali.
"Iya tuan Lung..Beres, anda tenang saja. Oke..Terimakasih kepercayaannya, tuan Lung. Selamat sore." Gadis itu mengembalikan ponsel pada Garrick dengan wajah cerahnya.
"Tuan Garrick, harap menunggu sebentar. Kami akan make over saudari anda sebaik mungkin." Gadis salon itu sangat hormat dan formal saat bicara dengan Garrick.
Garrick tak menanggapinya, bibirnya diam tarkatup rapat. Sepertinya Garrick dan Anthony Lung sama-sama tenar di antara pekerja. Tentu, Garrick pemilik kapal ini, lalu Anthony Lung?
Garrick berputar badan dan melangkah keluar dari salon. Kurasa akan menemui Dora. Ku tatap punggung kokohnya hingga hilang di telan lorong kabin. Mataku tetap menatap, meski hanya ruang kosong yang ku pandang.
"Bagaimana?" Suara gadis salon di kiri mengusikku, dia nampak menunggu kabar hasil telepon dari temannya.
"Anthony Lung ingin kita membuatnya ala-ala gadis China." Gadis salon di kanan yang menerima telepon nampak lekat mengamatiku.
"Itu mudah saja. Lihatlah, dia memang pantas bersama Lung." Gadis salon di kiriku tersenyum ceria menatapku. Aku terdiam, tak ada semangat menyahutinya.
Aku terus menurut saat di perlakukan bagaimanapun oleh mereka. Bahkan mataku begitu berat, terseret-seret oleh rasa ngantuk yang hebat. Mataku kembali terasa sehat saat dua gadis salon itu agak menyeretku menuju ruang ganti baju.
"Cheongsam cantik ini agak rumit, biarkan kami yang membantu anda nona." Hhhheeh.. Rasa termehek-mehek di hatiku.
Aku gadis rimba, biasa panjat gunung, tebing, juga keluar masuk hutan. Sungguh merasa geli dangan cara bicara mereka padaku. Merasa lebih nyaman saja dengan gaya keras Garrick padaku, meski kadang ku rasa menyakitkan.
"Wah ..nona, anda seperti gadis China yang menakjubkan. Mari, kita bercermin di sini."
Tanganku kembali dituntun ke ruang depan. Ada kaca super lebar serta tinggi di sana. Aku dibawa tepat di tengah cermin itu. Maak..! Itukah cerminan diriku?! Serasa pingsan saja ku rasa.
Cheongsam indah modern itu melekat rapat di badan, sangat pas dengan postur tubuhku. Membuat tak yakin bahwa yang di kaca itu adalah aku.
"Bagaimana, nona? Apakah anda merasa cocok dan puas?" Mereka berdua tersenyum penuh arti padaku.
"Selamat menikmati dinner yang indah dengan tuan Lung, nona. Semoga kalian saling cocok satu sama lain." Mereka mengharap hal yang mereka belum tahu pasti kebenarannya.
"Ehemm!!" Kami bertiga serentak menoleh pada deheman besar di pintu. Garrick sedang tajam memandangku, hanya sebentar.
"Kirim notif biayanya segera. Itu sedikit uang gembira untuk kalian!" Garrick berkata tegas pada mereka.
"Terimakasih, tuan Garrick. Semoga rezeki anda lancar. Dan saudari anda yang cantik ini, makin bergembira dengan tuan Lung!" Salah satu gadis salon itu berkata sok tahu. Meski harapan mereka terdengar mulia. Tentu aku sangat tidak nyaman dengan ucapan mereka.
****
Anthony telah menunggu kami di lorong kabin dekat lift. Begitu kami keluar menginjak dek tiga, lelaki itu menyambutku dengan senyuman yang tak pernah habis dari bibirnya. Anthony Lung juga mendaratkan matanya di seluruh penampilanku cukup lama. Lalu bercakap sebentar dengan Garrick dalam bahasa mandarin, yang menyesal tak minat ku pahami saat dulu.
"Elsi?! Kamukah itu?!" Sebuah suara yang aku mulai hafal milik siapa, mengejutkan kami dari lorong berlawanan. Ya...Dialah Irgi!
Irgi tidak sendiri. Seorang perempuan cukup manis tengah bergayut manja memegangi lengannya. Mungkin itulah pacar Irgi.
"El, Ada acara apa kamu dandan hebat begini? Kamu benar-benar mengalahkan diraba dilumat!" Hah..apa maksud Irgi, tumben tidak sopan padaku! Bahkan jauh dari sopan!
"Irgi..!" Garrick menghardik irgi cukup nyaring.
"Bang...bang..maaf bang..! Kak Irgi maksudkan itu, Dilraba Dilmurat, itu..nama artis China dari suku Uighur yang lagi tenar di mana-mana itu bang.. Kak Irgi memang sering menyebutkan diraba dilumat padaku, bang..!" Kekasih Irgi yang manis itu sungguh cekatan memasang badan buat Irgi. Terlihat mereka sangat cocok. Dari pembelaan gadis itu, memang bisa diraba, bagaiman gaya pacaran mereka.
Ku lirik Garrick, tuanku itu tengah mengangkat dua alisnya tinggi-tinggi sambil memandang Irgi dan kekasihnya, yang keduanya terus cengar-cengir melihatku. Akupun tak dapat menahan senyumku, sebenarnya ingin tertawa, tapi segan sama si garang. Irgi yang melihat senyumku, kembali berkedip sebelah mata padaku. Sedang Anthony, tengah tersenyum masam melihat sejoli itu, yang justru nampak santuy di depan kami.
"Kalian berdua, bergabung saja dengan kami!" Anthony Lung memecah hening dengan ajakannya pada Irgi dan pacarnya.
"Segan bang!" Aha..ha.. ha..Aku tahu, Irgi jual mahal. Ayolah..Gi..ikut saja..makin rame makin nyaman. Aku berharap dalam hati.
"Kalian ikut saja! Pesan apa saja!" Kali ini Garricklah yang mengundang sejoli itu. Keduanya nampak menimbang berpandangan. Irgi mendadak menolehku. Reflek ku beri kedipan mata sebelahku, sebagai tanda ajakanku pada mereka. Ku lihat pacarnya pun senyum-senyum padaku.
"Okelah bang. Lanjut gabung!" Ah...ku rasa lega di dada. Irgi dan pacarnya sungguh cocok jadi pencair suasana.
Berlima, kami jalan maju di lorong kabin. Irgi dan pacarnya jalan paling depan. Menyusul aku dan Anthony Lung yang jalan bersama. Kali ini, Garrick berada di belakang. Sedikit rasa puas di dada, kini Garrick berada di posisiku, jadi baygon kadaluarsa saat bersama Dora. Ha..ha..ha..
"Kita ke mana, bang?!" Irgi berseru dari depan.
"Garju, Gi!" Anthony Lung menjawabnya.
Irgi telah berhenti, aku pun ikut berhenti, begitu juga dengan Lung, mungkin Garrick di belakang juga sama. Aku segan menolehnya. Kami berempat memutar badan ke kiri hampir bersamaan, mungkin begitu juga dengan Garrick.
"Kak..!" Suara wanita terdengar bersamaan pintu yang di buka, muncul Dora dari dalam pintu kaca yang lebar di hadapan kami.
Dora sekilas saja menatap cerah pada Garric, matanya seketika bergeser pada posisiku. Dora menatapku sekilas dengan sinis, lalu matanya kembali menatap Garrick penuh senyum. Ku lirik Garrick di sampingku, nampak bibir merahnya mengulum senyum pada Dora. Mungkin Garrick bahagia, Dora menyelamatkan dirinya dari peran baygon yang membosankan. Ah..pantaskah hatiku merasa sedikit tak suka?