
Berjumpa pandangan langka tak disangka, asa diriku seperti dicambuk oleh maklampir dengan cemeti amarasuli rampasannya! Gegas langkah mengikuti mereka dengan video phone yang stay on di tangan. Video mesra mereka sudah cukup sebatas pintu masuk. Pegawai sobek tiket membuatku terpental pergi lagi ke belakang.
"El, nyelip dari mana? Baru mau ku telpon, kau!" Tatap cemas Irgi membuatku bertenang.
"Sorry, Gi. Kebelet.." Ku tampilkan gigi putih rapiku. Irgi menahan senyumnya.
"Okelah, El ! Yuk, kita masuk." Irgi mengajakku mendekati dua petugas sobek tiket.
Nomor kursi yang Irgi dapat berada di tepi dekat dinding bioskop. Dengan Irgilah yang di pinggir. Meski yang di pinggir adalah angka kursi di tiketku. Kami duduk di barisan nomor empat dari belakang, dan memang cukup terbelakang. Harap-harap sejoli Juan tak duduk di bangku belakang, yang mungkin saja melihatku.
Baru sebentar menyelidik, mataku dah sangkut di posisi tengah, tiga barisan bangku di depanku. Itu..Juan sejoli telah duduk merapat di sana. Tepatnya, Anggunlah yang tetap bergayut manja di Juan. Wanita bermuka dua! Jika bukan segan dengan larangan memainkan Handphone, tentu akan ku buat rekaman mereka yang kedua.
Film Warkop DKI komedi yang jadi ajang menghibur diri, serasa sangat tak berguna bagiku kali ini. Meski lampu telah padam dan sejoli Juan hanya samar di temaram, tetap juga aku tak fokus pada isi film yang gosipnya cukup bagus.
Ingat dengan bocoron Cintia waktu itu. Gadis salon saat aku dinner dengan Anthony Lung di Garju Ocean Seas yang sempat berghibah seru denganku. Cintia kata, Anggun memiliki kekasih di Swiss. Dan berpisah begitu saja, tanpa jelas kebubarannya. Apakah kekasih yang tak terungkap itu ternyata Juan? Apakah Juan juga pernah sekolah dan bekerja di negara Swiss, seperti halnya Anggun?
Akhirnya lampu-lampu itu dinyalakan kembali cukup terang. Dan hanya ku pahami bahwa film Warkop DKI Reborn telah habis masa putar, tanpa ku rasa jalan ceritanya. Cuma ku tahu, Irgi begitu berisik di sampingku dengan cikikan dan kekehan tawa ria gembira saat film dalam pemutaran.
Begitu juga dengan penonton depan, belakang dan sampingku, mereka seperti sedang berlomba adu tawa saja ku rasa. Meski ada beberapa juga yang tertidur dan bangun saat terang. Apa Juan dan Anggun bisa tertawa ria seperti mereka? Atau aku saja yang tak ikut suasana... Ah, ruginya diriku...!
"Eh, sudah bangun kau, El!" Irgi nampak heran saat aku berdiri lebih cepat darinya.
"Aku tak tidur, Gi. Kebelet!" Kali ini aku tak menipu. Tak ingin jadi bayang pengganggu, ku tahan sebentar penuh air di ginjalku.
"Mau berapa kali, El? Jika nonton lagi, pakai popok saja, jangan ditahan, El !" Irgi cengengesan saat ku cibir dirinya. Untung tanpa berisik, tapi hanya berbisik.
Aku dan Irgi keluar awal sebelum Juan. Dua sejoli itu masih duduk tenang saat terakhir ku pandang. Ku ikuti Irgi melenggang keluar dengan cepat, berharap tak sebentar pun bersemuka dengan Juan dan Anggun. Aku hanya ingin berperang di waktu paling tepat, bersenjata tayang rekam yang sangat mudah kudapat tak sengaja!
Uda Fahri telah datang, jauh lebih cepat dari yang ku kira. Bahkan Riana pun belum keluar juga dari kantor 21. Terpaksa ku tinggal Irgi sendiri, duduk di taman samping Nagoya Hill.
"Datanglah lagi, kapan pun semaumu, El ! Kafeku terbuka menyambutmu!" Irgi berseru terakhir kalinya padaku.
"Pasti, Gi! Terimakasih sambutanmu! " Ku seru pada Irgi sebelum pergi menjumpai uda Fahri yang sudah nampak menungguku.
Uda Fahri telah menyelusup di antara laju mobil, menyalipi kendaraan lain membelah jalan raya.
"Uda bawa lebih cepat, ya El ?!" Uda Fahri berkata dari kursi kemudi di depan.Aku pilih duduk di belakang.
Uda Fahri sudah serasa terbang saja melajukan taksinya. Aku pun hanya pasrah dengan aksinya.. Menahan rasa tegang...Seru..dan asyik yang ku rasa!
"Apa yang uda kejar?!" Penasaran dengan niatnya. Cara mengemudi kali ini, jauh beda saat mengantarku berangkat.
"Uda ingin cepat antar Elsi sampai hotel. Uda ada janji sama kawan, ikut jamaah Isya' ke Masjid Agung, Batam Center." Uda Fahri sangat tenang menjawab. Tak segarang cara dia bawa taksi. Ku percaya ucapannya.
"Uda Fahri bisa bawa saya sekali ke Masjid?" Ragu sebetulnya... aku tanpa kerudung...tapi sangat ingin!
"Betulkah, Elsi? Dengan senang hati, ikutlah uda ke Masjid!" Uda Fahri terdengar menjawab senang.
"Tak masalah, El. Temanmu banyak yang sepertimu di sana" Jawaban uda Fahri nampak tenang. Kurang sudah raguku!
"Baiklah, uda. Bawalah aku!" Apa betul, di Masjid Agung itu banyak yang tak berkerudung?
Ragu tanyaku terjawab impas saat sampai di kawasan dalam Masjid Agung. Memang banyak jamaah perempuan tak berhijab sepertiku. Dengan baju biasa, atau pun dengan baju berseragam. Sepertinya mereka adalah para karyawan pabrik yang baru pulang dari kerja. Dan ingin melakukan shalat berjamaah sepulang dari kerja.
Uda Fahri meninggalkanku, pergi bergabung bersama kawan-kawan yang menunggu di serambi depan masjid. Kawan-kawan uda Fahri sangat sopan, hanya memandangku sekilas kemudian melempar pandang atau bahkan menunduk. Berusaha untuk tidak berulang melihatku. Antara mereka menundukkan pandangan dariku atau justru jijik denganku?! Hu..hu...hu..
Rasa pedeku menguat lagi saat ku masuki dalam masjid setelah wudhu. Perempuan sepertiku banyak sekali. Namun, ada yang kontras di sini. Perempuan bercadar pun bahkan tak kurang banyaknya. Terheran ku pandang, pilihan syar'i yang jarang ku lihat di kotaku. Tapi ini...Ku lihat live banyak banget. Jika perempuan berkerudung sih aku tak heran. Ini bercadar...dengan pakaian yang semua serba hitam... Ah...Uniknya Batam!
Sehabis Isya', ku usung juga maghribku yang berlalu. Ku pasrah dengan tanggapan Tuhanku, yang penting masih adalah usahaku.
Rasanya haru sendu, saat para perempuan bercadar itu ternyata menghampiriku dan menyalamiku! Tangan halus mereka sangat erat menjabatku, meski mereka nampak berlalu buru-buru.
Pesanku untuk uda Fahri belum juga dibaca, apalagi dibalas. Ku abaikan bajuku yang serasa compang camping dibanding para wanita bercadar yang menjabat tanganku barusan.
Ku turuni tangga ke lantai dasar Masjid Agung. Seperti berada di pasar mini saja rasanya. Ada banyak kios-kios yang menjual ragam pakaian, oleh-oleh, kosmetik, obat- baik kimia atau herbal dan buku-buku. Juga ku lihat perpustakaan besar dan perkantoran yang berderet-deret. Kafe dan warung makan pun ada. Jika bukan karena bajuku, ingin lebih lama lagi berkeliling dan membeli suatu kenangan di sini.
Berniat kembali, Ku lewati lagi perkantoran di samping perpustakaan. Ku percepat langkahku, nampak banyak lelaki, beberapa berbaju koko dan beberapa berjas berdasi. Mereka tengah keluar dari salah satu perkantoran masjid itu. Tak berani lagi kulirik, pandanganku lurus ke bawah, cepat melangkah melewati mereka. Aku malu dengan penampilanku.
"El..!" Maak...Alamak! Suara tuanku! Betulkah?!
"El ! Itu betul kau?! Buat apa kau di sini?!" Suara Garrick telah tepat di sampingku. Cepat ku toleh, dan benar adanya, dialah Garrick tuanku. Dan nampak heran memandangku.
"Tuanku.. Anda juga, kenapa di sini?!" Biarlah tak sopan, aku juga penasaran. Ngapain Garrick nyangkut di sini?! Tak ku duga, berjumpa si garang di lingkungan Masjid Agung.
"Menjemput pelancong dari Aceh, El. Mereka akan singgah di pantai Palm Spring, Nongsa dan menginap di hotelku." Garrick bicara dengan terus memandangku.
"Kau belum menjawab, El. Kenapa kau di sini?" Garrick bertanya pelan, beberapa orang seperti sedang menunggunya.
"Singgah shalat, tuan." Ku jawab singkat. Aku ingin cepat kembali ke serambi teras atas, mungkin uda Fahri telah menunggu.
"Siapa yang mengantarmu?" Garrick tak juga puas bertanya padaku.
"Taksi, tuan. Sopir taksi sedang menungguku di serambi. Saya pamit ya tuanku !" Tak ku tunggu jawab Garrick.
"El..! Kau bisa menumpang di mobilku!" Garrick terdengar berseru dari belakang. Demi rasa segan, ku balik badan sebentar.
"Terimakasih. Saya sudah ada taksi. Assalamu'alaikum, tuanku!" Ku harap salam ini mengakhiri seruan Garrick padaku. Juga menambah wibawa tuanku di depan para relasinya, terutama mereka yang berkoko.
Ku laju langkahku menuju serambi tempat asal datangku. Ku lihat uda Fahri bersamaan getar di ponselku.
"Uda Fahri!" Nama uda Fahri tertera di layar ponselku.
"Hei, El !" Uda Fahri menolehku, begitu juga para teman berpeci yang berdiri bersamanya. Yang kemudian mereka membuang pandang setelah melihatku. Aku seperti pembawa dosa jika sekali lagi mereka memandangku. Sadar situasi, ku langkah laju turun tangga mencari sepatu di latar bawah serambi. Berharap uda Fahri segera menyusulku dan berlalu!