Bukan Kacung Kaleng-kaleng

Bukan Kacung Kaleng-kaleng
106. Hamidun, pak!


Sehabis bicara dengan Zayn dan meminta adik tiri mendatangi Anggun, Garrick berbalik pergi tanpa melihatku lagi sedetik pun. Pria menawan itu pergi begitu saja...Uh..


Garrick telah berlalu dari mejaku, kembali bersila di panggung atas sana dengan begitu tenang. Seolah tak peduli dengan ratusan pasang mata yang sedang menyorot dirinya. Pria yang gagah dan segak itu nampak sangat berkharisma dengan sematan baju pengantin di badan. Namun bagiku, ini justru menyakitkan!


Sekali lagi kupandang bocah baik di sebelahku. Ingin hati ini merayu pada lelaki itu. Agar segera saja pergi ke depan mendekati Anggun untuk memeriksa kondisinya dengan benar. Tapi si bocah baik hanya duduk diam dengan pandangan cermat ke panggung. Mengamati abang tirinya di sana. Apa yang sedang kau pikir Zayyynn...?


Terlihat di panggung sana, pak naib, pak David dan Garrick, seperti tengah berbincang sesuatu bertiga. Kemudian pak naib dan pak David nampak berbicara dengan Anggun. Sepertinya Anggun menangis, telah kuhafal bagaimana dia menangis, meski tak nampak guncang sengguknya. Dan sesekali Anggun menggelengkan kepala. Ah sayang sekali, tak terdengar sama sekali dari sini apa yang mereka bincangkan.


Pak naib bergerak bergeser duduk ke depan, lebih dekat menghadap kami. Mic speaker telah dipegang di Tangan, lalu disorong dekat bibirnya. Pak Naib diam sejenak, lalu fokus memandang tepat pada Zayn.


"Andakah saudara Zayn? Dokter Zayn?!" Suara pak naib begitu keras dan tegas pada Zayn melalui mic speaker di tangan.


Zayn begitu santai meluruskan duduknya, mengangkat tangan pada pak naib.


"Betul, pak. Saya Zayn!" Suara Zayn sangat lantang. Pak naib mengangguk pada Zayn.


"Mohon maaf. Saya terpaksa mengeraskan bicara saya. Agar seluruh tamu undangan pun juga paham. Bahwa acara akan di pending barang sejenak atas permintaan dari calon pengantin lelaki sendiri. Sedang ada suatu masalah yang terjadi saat ini. Jadi para hadirin harap bersabar." Pak naib menurunkan mic sejenak. Lalu kembali memandang Zayn.


"Berhubung calon pengantin perempuan tidak bersedia menjawab apapun. Saya persilahkan dokter Zayn untuk memeriksanya atau jika memerlukan peralatan, kami bersabar menunggu, agar dokter Zayn mengambilnya." Pak naib yang sedang menghirup nafasnya, tetiba didekati pak David dan mengatakan hal yang kami tidak dengar. Pak naib yang nampak serius itu kembali berkata dengan mic.


"Mohon maaf pak, akad nikah ini tidak mungkin bisa berjalan tanpa keinginan calon lelakinya. Dan saya tidak mungkin menikahkan keduanya dengan keadaan seperti ini. Jadi mohon bersabar!" Ah, pak David..mana bisa kalian memaksanya..Ah, aku sangat tidak sabar!


"Saudara dokter Zayn! Tolong, harap anda segera melakukakan pemeriksaan.!" Pak naib begitu tegas. Trims pak naib...Aku padamu...


"Pak..!!!" Oh, Zayn...Terkejut aku dengan lengking kerasmu yang mendadak di sampingku. Seksama kupandang Zayn dengan degub debarku. Apa yang akan dilakukan oleh bocah baik dengan panggilan kerasnya pada pak naib itu?


"Iya, dokter Zayn! Kami tunggu, silahkan kemari!" Pak naib mengangguk pada Zayn.


"Maaf, pak! Akan saya katakan sakit kak Anggun dari sini !" Hah, Zayn..Benarkah? Ayo Zayn..katakan!


Sepertinya semua tamu undangan dan kerabat, telah fokus menunggu pada ucapan Zayn selanjutnya. Semua mata memandangnya. Garrick di atas sana nampak pias menatap adik tirinya berbicara. Mungkin tengah tegang. Garrick sekalipun tidak lagi melirikku...


"Silahkan saudara Zayn. Katakan, sakit apa saudari Anggun, agar abang anda segera memberi keputusan. Silahkan ..!!" Pak naib model serius itu pun nampaknya tak sabar lagi menunggu.


Semua hadirin memandang Zayn.


"Ehm...!! Telat, pak!!" Zayn sangat lantang bicara dengan hanya tiga patah katanya. Aku pun terkejut.


Kupandang ke depan. Pak naib termenung, seperti kurang yakin dengan apa yang didengarnya.


Mataku mencarinya, Garrick...Ah, dia sedang meraup wajah dengan kedua tangannya. Apa dia paham? Apa dia terkejut? Apa dia sudah menyangka dan lega?


"Hamidun, paaakk...!!! Kak Anggun hamil duluan! Sudah dua bulan !!!" Maak..!! Ah,mulutmu Zayn.. Bocah baik!


Bocah itu memang begitu pintar menebak. Ingat saat tebak hamidunnya pada Ike dulu. Sangat tepat!


"Wah. Ini masalah serius ya! Bagaimana ini, pak David?!" Pak naib segera beringsut nendekati pak David yang sedang pucat pasi. Sedang Anggun.. Ah, dia manangis terisak sangat jelas. Dan dipeluk ibunya.


Deg..! Mata itu.., mata yang jika dekat pasti terlihat iris coklatnya. Hanya memandangku. Pandangannya membuatku salah tingkah. Apa yang dipikirnya? Tak mungkin kan, Garrick meneruskan perjodohan ini. Ah..ini belum jelas..Sebenarnya ini bagaimana, dia jadi menikah apa tidak?! Kami berpandangan..


"El.." Eh, Zayn memangggilku. Juan...Dia belum juga kembali, dia kata cuci tangan ke wastafel.


"Bagaimana perasaanmu, El? Kurasa bang Garrick dan Anggun tak jadi menikah.." Mata Zayn sangat tajam padaku. Tak pernah dia sedingin ini sebelumnya. Kenapa, dia?


"Kenapa, Zayn? Tentu saja aku sangat kaget dengan kejadian ini. Tapi aku kan hanya penonton.." Entah.,tiba-tiba perasaanku jadi tak nyaman. Sendiri.,tanpa teman. Juan, kau di mana? Zayn tiba-tiba berubah. Dan aku merasa asing saat ini.


"Jangan berkelit, El. Aku tahu, malam itu bang Garrick pergi ke kamarmu. Sangat lama. Bagaimana bisa kau bilang perasaanmu biasa saja?" Benar..Zayn sedikit banyak sudah tahu. Lalu aku harus jawab apa? Bagaimana perasaanku..? Aku memang berharap..


"Maafkan aku, Zayn.." Ah, akhirnya hanya jujurlah pilihan terbaikku.


Perasaan ini tiba-tiba sangat sedih.. Sedih..,sedih campur aduk dan tak jelas mana yang paling membuatku jadi sedih.


Tak ada jawaban dari Zayn, tatapannya kosong ke arah orang-orang di panggung. Aku pun menatap panggung mengikutinya.


Moderator tengah duduk mendekat ke depan. Siap dengan mic speaker di tangan.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Tapi dengan penuh syukur, acara akad nikah ini mari kita lanjutkan. Namun... sekali lagi mohon maaf. Karena ada suatu alasan dan masalah yang meski hanya sedikit, kita telah dengar bersama. Nama calon pengantin lelaki yang akan menikahi saudari Anggun Melisa David bukan lagi saudara Garrick, melainkan saudara Juan Adrian Harsono. Untuk mempersingkat waktu. Pak penghulu akan segera memulainya!" Deg ! Deg...deg..deg.. Ah, bukankah ini kejutan indah yang kutunggu dan kuharap? Tapi, perasaanku terasa masih tergantung.. Rindu-cintaku ini, bagaimana nasibnya?


Dep!! Ough.. Hentakan kursi di sebelahku terasa mengejutkan bersamaan hempasan tubuh besar di sampingku. Kutoleh perlahan. Garrick..!!!


"El.." Garrick lirih menyebutku.


"Iya.." Kasahut tak kalah lirihnya. Hatiku dig dug bergemuruh.


"Habis ini pulanglah. Kita pulang bersama." Ah, suaranya sangat lirih. Tapi begitu kuat kudengar. Dan telah mampu menggemparkan hatiku. Bermacam sangka akan maksud ucapan itu berkelebat di kepalaku. Oh, Garjuu.. Apakah kau akan kembali melamarku? Harapku...


"El.." Teguran Garrick akan diamku sangat lembut.


"Iya.." Kujawab juga tak kalah halusnya.


Zayn masih duduk di kursi sampingku. Aku tak tega jika Zayn terlalu jelas mendengar. Aku yakin, Zayn tak main-main dengan ungkapan hatinya padaku malam itu. Jadi, kupahami sedalam apa sakit di hati Zayn saat ini. Zayn, tetap jadilah bocah baik yang sableng. Agar tak kau rasa sangat, sakitnya patah hati..