
Gerbang yang panjang dan tinggi menjulang itu tergeser perlahan, dibuka oleh seorang penjaga rumah lelaki yang terlihat masih bocah. Suamiku sedang bercakap sapa dengannya. Rupanya, dia adalah pegawai baru dan belum pernah mengenal suamiku.
Langkahku tergesa mengikuti Garrick melewati jalan di halaman lurus memanjang menuju sebuah rumah besar yang tinggi dan kokoh. Eits.. rumah ini bermodel seperti rumah ibuku di Kacuk, Kota Malang. Bergaya Belanda namun juga sudah dimodernkan, direnovasi sana sini. Hanya bedanya, rumah ibunya Garrick di Semarang ini jauh lebih megah dan besar dari rumah ibuku.
Dan seperti terbelah dua, bahkan ditambah dengan bangunan berlorong panjang di sebelah. Mirip bangsal-bangsal namun sangat modern, seperti mini perumahan yang berjejer dan bergandeng.
Kenapaaalah..Mereka ini bisa kaya di mana-mana.. Apakah aku dan anak-anakku kelak juga akan kaya.. Ah, serasa tak percaya jika aku ini istrinya.. Kucuri pandang wajah hubbiku yang tenang sambil berucap syukur dalam diam.
"Kenapa model rumahnya dibuat begitu, hubbi..?" Kurasa rumah bangsal itu unik dan menarik. Garrick memandang rumah ibunya sambil terus berjalan.
"Iya. Kau lupa, wifi..? Ibuku pengusaha kamar kos dan kontrakan. Usaha temurun dari leluhur. Bahkan ayah dan ibu bertemu juga karena ayah mengontrak di salah satu kamar itu. Saat ayahku kuliah dulu. Berjodoh sebentar dengan anak ibu kos. Dan lahirlah aku dan adikku." Garrick nampak tertawa kecil dengan penjelasannya. Ya, dia pernah bilang punya adik perempuan yang ikut pada ibunya di Semarang, tapi aku lupa akan ceritanya.
Sebuah seru suara mengejutkanku dan Garrick.
"Masss...!! Mas Jull...?!" Seorang wanita yang juga berhijab sepertiku berseru dari teras. Garrick menolehku dan tersenyum. Aku juga tersenyum, tapi dengan senyum yang heran dariku.
Garrick berjalan lebih cepat lagi, menggandengku sambil menyeret sendiri koper besar milik kami. Bukan lagi koper silver, mantan beban abadiku di kapal pesiar tempo dulu.
"April...Kalian sehat semua?" Kami telah saling berhadapan. April mungkin adik perempuan Garrick..,sebaya Anggun. Cantik, namun bersahaja.
"Iya, mas. Alhamdulillah. Tapi maaf ya mas, aku pun terpaksa tidak datang di acaranya mas Jull. Sebab harus menemani ibu." April telah menyalami dan mencium tangan kakak lelakinya. Mata itu nampak berkilat, air nampak menggenang di sana.
"Ya, Pril.. Aku paham. Justru aku berterimakasih, kamu mau bersabar tinggal di sini merawat ibu kita." April mengangguk, lalu memandangku.
"Ini mbak Elsi itukah, mas? Cantik banget.. Mas Jull, mbak Elsi, kalian sangat serasi. Selamat atas pernikahan kalian.. Semoga bahagia selamanya, ya....." Aku dan April saling melempar senyum lalu bersalaman dan berangkulan. Cium pipi kanan dan juga pipi kiri.
"Salam kenal dariku ya mbak April... Eh, dek April, yaaa..?" Aku dan April jadi sama-sama tertawa.
"Iyalah, mbak Elsi.. Padahal aku lebih tua darimu lima tahun, tapi aku tua-tua begini tetap adikmu lho mbak..." Kami kembali tertawa. Ah, mulus sekali perkenalanku dengan adik ipar ini. Kuharap, dia akan baik luar dalam dan baik lahir batin, sepertiku. Aamiin. Eh, promosi kecap ya....? Ha..ha.. Biarlah..
Aku dan April kini mengikuti suamiku yang sedang berjalan pelan menuju sebuah pintu kamar. April bilang padakuΓ ., ini adalah kamar ibunya. Dan kini Garrick akan membawaku masuk menemui ibunya. Ah, cukup berdebar dadaku!
πππΌππ
Bu Mayang, nama ibu mertuaku itu tengah duduk di ranjang super lebarnya memandangku dan Garrick. Wajah itu begitu cerah bahagia saat Garrick menarikku mendekati. Bahkan, kaca air di mata berkerutnya menetes deras saat sang putra yang dirindu, sedang salam sungkem lalu memeluk eratnya.
Bu Mayang melambai pelan ke arahku setelah Garrick melepas pelukan. Tanpa ragu, kubuat seperti hal yang suamiku lakukan padanya barusan dengan rasa sangat haru.
Ah, rasanya sangat sedih dan tegang. Bu Mayang juga menangis deras saat kupeluk erat bahu dan punggungnya. Membalas lemah memelukku. Tubuhnya memang masih sangat lemah sekali. Dan belum ada suara saat ingin berbicara. Hanya menggerakkan tangan dan sesekali suara berdesis akan keluar dari mulutnya. Dan pertanda bu Mayang sedang ingin berbicara. Dan hanya April yang akan mengerti maksudnya.
Garrick kata, bu Mayang mengalami gegar otak setelah peristiwa kecelakaan hebat yang menimpa di perjalanan pulang dari Jakarta. Meski mendapat luka berat di kepala, bu Mayang cukup beruntung bisa selamat. Sebab, sang sopir terpaksa tidak selamat meski sudah dilarikan ke rumah sakit dengan cepat.
Kondisi bu Mayang berangsur membaik setelah melewati tahap koma selama berminggu lamanya. Dan kini sedang rutin menjalani terapi dengan perawatan dokter spesialis otak dan syaraf, yang didatangkan khusus oleh Garrick dari negara jiran Singapura.
"Mas Jull..Bawa istrimu ke kamar. Kalian istirahat saja. Tapi kalian makanlah dulu. Lihatlah, ibuk sudah mengantuk. Obat yang tadi diminumnya telah bekerja..." Yang dikatakan April memang benar. Bu Mayang yang tadi direbahkan April, telah mulai menutup kelopak matanya merapat.
πππππ
Aku dan Garrick sehabis mandi bergantian. Cuaca kota Semarang saat malam cukup gerah. Begitu habis isi perut, kami langsung kembali ke kamar dan mandi. Aaah..,segar sekali sekarang..
Kamar Garrick tiga kali luas kamarku di Kacuk. Mungkin juga seluas kamar kaca kami di Rooftop. Bercat gelap, bisa jadi biru tosca. Tempat tidurnya pun sangat besar dan lebar. Serta set sofa dan televisi. Dan banyak lagi properti berkelas lainnya yang melengkapi kamar ini.
Dig dug dadaku terasa terhentak. Saat kuhampiri sebuah almari serupa etalase yang kacanya amat bening dan bersih. Diantara miniatur-miniatur beragam model dan bentuk yang tertata sangat rapi, kudapati sebuah benda menarik yang sangat tidak asing lagi bagiku.
Ya.. Gelas porselen dua buah di dalam itu sungguh mirip dengan gelas kesayanganku di rumah. Banyakkah orang yang memilikinya..?
"Hubbi.." Sangat penasaran kudekati Garrick. Pria rupawan itu tengah mengeringkan rambut basahnya.
"Apa, wifiku..?" Garrick meletak hair dryer dan menyimakku.
"Apa kamu pernah naik ke Merbabu? Empat tahun lalu.." Mata coklat itu sangat dalam memandangku. Seperti ada yang sedang ditimbangnya.
"Kenapa...? Apa kau sudah melihat gelas itu?"
Tangan Garrick sambil merangkulku. Membawaku duduk di sofa dan memangku diriku.
"Iya, El... Telah jadi gelas kesayanganmu, yang sebelumnya adalah gelas kesayanganku. Tapi ibukmu telah mengeluarkannya untuk Nino. Jangan pernah pakai lagi gelas itu, ya.. Jika disimpan saja tak masalah." Oh, jantungku.. Rasanya sulit kupercaya. Ini sangat kejutan bagiku.
"Wifi...Kau masih ingat kan, kenapa kuberikan?" Auhgh.. Diantara debar kejutku, tangan Garrick terulur membelai wajah dan bibirku. Aku pelan mengangguk menatapnya.
Empat tahun lalu, aku mendaki jauh ke gunung Merbabu di Jawa Tengah, bersama lima orang temanku. Empat orang lelaki dan dua perempuan, aku dan Titin. Empat teman lelaki join dalam satu dump (mini tenda yang maksimal berisi 4 orang). Aku berdua dengan Titin di dump milikku pribadi. Di samping tenda kami ada sebuah dump lagi berisi tiga orang lelaki. Kami tidak saling mengenali. Semua mengenakan topi gunung dengan wajah yang tertutup.
Hampir dini hari, terjadilah peristiwa menegangkan. Tenda tetangga itu ternyata telah koyak parah karena angin Merbabu malam hari sangat kencang. Dan seorang di antara mereka rupanya tengah terkena serangan hipotermia atau kedinginan yang ekstrem.
Ketua mendaki kami, memintaku menampung dua orang di antara mereka ke dumpku. Sedang yang satu, join berlima di dump lelaki bersama ketua mendakiku.
Jadilah aku, Titin, lelaki hipotermia dan seorang lelaki yang berbadan besar, join berempat dalam dumpku. Ketua mendaki kami juga ada..sebab ikut memantau penderita hipo itu.
Derita hipo lelaki berbadan kurus itu makin serius, padahal sudah kurelakan kantung sleeping bagku padanya. Bahkan mulai melepasi hampir seluruh bajunya- hipo parah akan merubah rasa dingin ekstrem itu menjadi rasa panas dan gerah. Manipulasi dari rasa dingin yang sebenarnya dan sangat berbahaya.
Jika berlanjut seperti itu..merasa gerah tanpa baju..padahal suhu tubuh semakin anjlok. Resiko terakhir..tentu saja ancaman kematian. Lelaki berbadan besar yang kemungkinan kakak lelaki kecil itu begitu panik dan kalut.
Langkah terakhir, ketuaku ingin seseorang masuk sleeping bag untuk mencoba memulihkan suhu badan lelaki kurus itu. Dan..Terpaksa akulah yang terpilih. Sebab, kebetulan di pendakian kali ini, tim yang kudapat berbadan boomber semua. Tak mungkin muat berdua di sleeping bag. Termasuk juga, Titin. Kategori sangat besar dibandingku.
Masuklah aku ke dalam sleeping bag menemani lelaki hipo itu. Segala usaha kulakukan. Berbicara, bercerita, bernyanyi serta kuselingi merapal ayat doa di telinga lelaki hipo itu. Sampai kulumatkan coklat dalam mulutku dan kujujukan di mulut si hipo. Peluk..iya..sambil kutepuk peluk lelaki hipo itu. Jika begini.. Kami..siapapun kami..juga aku..sangat totalitas dalam mempertahankan kesadaran penderita.
Alhamdulillah..Segala usaha kami ini berhasil. Si hipo mulai mengeluh dingin dan bisa diajak bicara oleh kakaknya.
Ketuaku telah menyuruh beberapa teman untuk turun berkabar.Sebentar lagi tim SAR pendaki Merbabu akan naik menjemput.
Si hipo mulai sadar sepenuhnya dan aku dibolehkan keluar dari sleeping bag oleh ketuaku. Lelaki kurus itu mulai mau memakan apapun yang hangat-hangat yang diberikan oleh kakaknya.
Hingga tim SAR datang menjemput. Sebelum pergi, lelaki berbadan besar, kakak si hipo berbisik padaku.
*Simpanlah gelas ini. Saat ini aku sangat panik. Tidak sempat mengenalmu. Kuharap suatu saat bertemu. Aku berhutang sangat besar padamu. Terimakasih.* Lelaki badan besar itu memberiku lembaran merah cukup banyak dan sebuah gelas porselen cantik di pangkuanku, sebelum pergi dan lenyap bersama tim SAR menuruni puncak Merbabu. Aku sedang duduk..Sebab aku pun merasa sangat lelah saat itu..
Dan..itulah pendakian terakhirku...Empat tahun lalu...
Auwh... Garrick telah memindahkanku ke kasur empuk di ranjang. Sepertinya sebentar lagi, suamiku akan menjelma menjadi panglima perang hebat lagi padaku. Akur pada kemauan sang jenderalnya untuk menjelajahi lagi diriku.
"Jadi.. Lelaki kurus yang hipotermia itu adalah Zayn?" Garrick mengangguk, dia mulai menindihku.
"Dan yang seorang lagi, memberiku gelas , kamukah itu, hubbi..?" Garrick mengangguk lagi, dia tengah sibuk menghempasi bajuku.
"Lalu, yang seorang lagi, apa sekarang juga telah kukenal?" Garrick mengangguk lagi.
"Armand..." Garrick menyebutkan nama orang ke-tiga itu.
"Wifi El.. Kuharap jangan pernah Zayn mengetahui tentang fakta ini. Aku tak mau dia semakin susah untuk move on darimu. Kau mau berjanji, wifi El..?" Wajah Garrick begitu dekat dengan wajahku.
"Tentu. Aku janji. Aku juga sangat tidak ingin dia sampai tahu sedikitpun. Jangan khawatir hubbiku.."
"Untuk apa waktu itu kalian naik gunung, hubbi..?" Garrick telah selesai menghempasi seluruh bajuku.
"Zayn yang sangat ingin. Dia sedang liburan denganku ke Jawa bersama Armand. Zayn sedang merayakan kelulusan SMAnya.."
Aku diam, tidak lagi ingin bicara apapun. Garrick pun sama denganku. Kini kami telah mulai tenggelam dalam perang. Perang nikmat menuju puncak kemenangan ke surga dunia bersama..
...π»π»π»ππππΌπΌπ·π·π·πππππ...
...π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’...
π’π’π’ Sorry..belum cut ended... Besok...
Reader baik..terimakasih yang tak bosan mendukungku...menghadiahku..ngevoteku.. Terlebih lagi yang sudi komen tiap-tiap bab... atau hanya sesekali... Trimsthanks for u..
Untuk yang belum pernah..Semoga terus mendapat hidayah...Sudi memberiku bermacam hadiah... Sedikit menyenangkan hatiku..tidaklah membuatmu merugi.. Tapi itu sangatlah terpuji.. ππ Kutunggu!! ππ’π’