
"Lalu, apa tujuan anda masuk ke kamarku?" Lebih ku sampingkan wajahku melihatnya. Garrick berbalik duduk, menyamping ke arahku dengan menaikkan sebelah kaki ke atas tempat tidur.
"Dua kepentingan, El. Menyangkut Zayn dan diriku sendiri." Jika saja lampu lebih terang, mungkin mata coklat pekatnya itu akan terlihat lekat menatapku. Perasaan yang agak takut, cemas, serta was-was, mulai menguap dan menipis. Hanya debar di dada, dan rasa tak nyaman sebab panaslah yang kian menyiksa.
"Bagaimana jika bicara saja besok? Saya sangat lelah. Ingin istirahat. Lebih baik cepat keluar, tidak pantas berdua di kamar malam-malam." Suaraku tidak lagi panik dan keras.
Meski kamar ini terletak menyendiri di pojok belakang rumah. Kupelankan bicaraku, ada risau jika pembicaraan ini terdengar dari luar. Seluruh teman kacung akan menganggapku gadis murah.
"Memang tidak pantas. Tapi anggaplah apa yang kulakukan ini tetap pantas. Tidak ada yang akan menggunjing di rumahku." Iyalah, mana berani mengaibmu, telingakulah yang panas.
"Aku tak ingin menunda, El. Lagipula, besok pagi dan hari-hari mendatang, aku sangat sibuk. Ini akhir bulan." Cara bicara Garrick tetap biasa, seperti memberi bukti pada kebenaran ucapannya. Bahwa seluruh area bangunan ini kuasanya. Tentu saja aku tetap resah, aku paham apa ghibah!
"Lalu, apa? Cepat saja sampaikan, saya penat." Suaraku tetap kecil, dan ingin dia cepat keluar dari kamar, tubuh di selimut, telah seperti dipepes kukus. Panas!
"Mengenai keinginan Zayn, apa tanggapanmu, El?" Apa ini penting..sampai mendesak menyusup malam-malam?
"Masih kupikirkan." Begini saja kujawab. Nyatanya memang belum kutolak, masih di pikiran.
"Abaikan, El. Umur Zayn masih labil. Jika kau menikah dengannya, kau tidak akan bahagia hingga tua. Masa bulan madu sajalah bahagia yang akan kau rasa. Selebihnya meragukan, Zayn mungkin akan cepat bosan dengan pernikahan. Kau tidak cukup hanya dengan limpahan hartanya saja kan?" Apa harus kujawab? Kedengarannya manis sekali. Si garang peduli pada bahagiaku? Dia memikir Zayn, apa memikirku? Ah, berdebar di dada!
Aku paham maksudnya. Padahal itu sudah kupikirkan...Sebagai lelaki, kesempatan Zayn sangatlah panjang. Masa bosan itu pasti datang. Secara dia berharta dengan profesi menggiurkan. Pasti banyak godaan yang datang pada Zayn. Di umur mudanya, apa Zayn bisa bertahan? Akan menyakitkan jika akhirnya aku diabaikan, apalagi diduakan... Ah, tidak akan! Itu satu dari sekian alasan aku menolak ajakan Zayn. Selain tak cinta!
"Aku serius, El. Jujur kukatakan, aku benar-benar melarangmu!" Garrick terkesan menekanku. Begitulah sejatinya si garang. Urusan orang lain pun dilarang. Harusnya si Zayn, adiknya saja yang diingatkan. Malah aku yang dikekang! Apa haknya pada urusan pribadiku?
"Aku memang tak pantas buat Zayn. Tak layak untuk masuk di keluarga kalian. Aku tahu diri, aku hanya pembantu hina dina di matamu. Tapi tolong jangan terlalu menekanku, apa hakmu memberi arahan yang bukan urusan kerjaku?" Suaraku tetap pelan. Meski suasana hatiku membara dengan badan yang terus berasap, kutahan nadaku.
"El..! Bukan itu maksudku." Garrick yang duduk dengan menekuk kaki sebelahnya di ranjang, beringsut maju mendekatku.
Kini rebah tubuhku semakin serong saja ke tengah. Garrick telah duduk di samping pahaku. Aku seperti terhipnotis mengikutinya. Dia punya sihir. Apa ular hitam itu perlambang datangnya si garang ke kamarku? Apa garangan ini akan bertindak buruk padaku...
"Lalu, untuk apa mengurusiku? Itu hakku." Sambil kubetulkan jepitan selimut di bagian kaki. Tak ingin lengah dengan kuda-kudaku.
"Aku memang mengurusimu dan melarangmu tapi tidak akan merugikanmu, El. Tapi aku akan menggantinya." Apa..?! menggantinya? Apa itu bermaksud dia akan memberiku kompensasi jika aku menolak Zayn?
Aha..ha... nasib baik keberatanku pada lamaran Zayn tak langsung kubilang. Tapi terkesan kuberatkan. Tentu kompensasi yang Garrick beri ini akan jauh lebih besar. Mengingat ini adalah mesa depan adiknya. Ah, matrenya aku! Daripada jujur menolak tapi tangan kosong... Lebih baik kura-kura disuap dengan penuh di kantong kan?!
Tapi, ini akan menurunkan harga diriku dan merusak nama baik kacung babu.. Meski sebenarnya memang tak minat, tapi penolakanku pada adiknya akan dianggap karena suap.. Tapi juga, ini rizqi hokiku kan?! Ah.., bingungnya aku!
**Menurutmu..., bagaimana?!**