
Adzan maghrib berkumandang nyaring dari mushola di samping rumahku. Mushola megah abadi yang mungkin tidak akan berkesempatan berubah menjadi Masjid. Sebab keberadaan masjid di lingkungan Kacuk tempat tinggalku dinyatakan mencukupi.
Kerabat jauh telah pulang sebelum datang waktu maghrib. Dan akan datang lagi besok pagi di acara resepsi nikahan. Hanya pakdheku yang dari Blitarlah yang tetap tinggal dan menginap di rumah malam ini. Sebab, akan melelahkan jika harus bolak-balik dua kali untuk datang.
...πππππ...
Bugh..!
"Mbaaak..!! Lagi ngayal ya?! Kan udah.. Sabar yoo, kang mas gatotkacamu lagi sholat di Mushola, sama bapakku..!" Maak..!Bocah sableng ini! Kejutnya akuuu...
"Aku tau,...Gimana ujianmu?" Kutepikan tubuhku dari himpitan bocah yang duduk menghempas, di sampingku.
"Lancar mbaak...Pokok aku nggak belajar, lancaaar..!" Heh, mana adaa...
"Kok ada kayak gitu..?" Bocah kecil itu sedang menikmati es krim lumer coklat home made buatanku kemarin.
"Kalo belajar, ingetnya setengah-setengah, jadi bingung nulis jawabnya. Kalo nggak belajar kan, enak mbak. Tulis aja jawaban yang kumau.. Dan tidak pakek ragu-ragu!" Heeh...Ada-ada saja.
Bocah cantik itu kakak sepupuku, anak pakdheku, Heellen Andina, 15 tahun. Tamat SMP tahun ini. Tak pernah mau memanggilku dek Elsi, takut lekas tua alasannya. Dan dia akan menangis kejerr jika kupanggilnya mbak Heellen. Dan kebiasaan memanggil terbalik kami itu kebawa hingga sekarang.
"Hill,..! Ya Allah.. Tak tunggu-tunggu, malah duduk di sini! Bilang apa tadi, kamu..?!" Eh,bocah cantik itu telah pergi melesat ke dapur sambil cekikikan, lari dari omelan ibunya.
"Disuruh bawa kopi ke depan, katanya nanti dulu. Cuma minum bentar saja....."
"Lho, Sii..,suamimu masih di Mushola sama pakdhemu, ta?" Budhe Sri, istri pakdheku itu berdiri di sampingku.
"Iya budhe, mungkin sambil kenal mengenal.." Budhe Sri mengangguk paham padaku.
"Ya kalo capek, masuk kamar saja dulu, Si. Siap-siap nunggu suamimu di dalam. Biar budhe yang jaga. Nanti begitu nampak..,tak bilangane kamu wes di dalem.." Budhe Sri menepuk bahuku beberapa kali. Seperti paham yang kurasa. Aku memang lelah, kurang tidur.
"Iya, budhe.. Pesan saja, jika ibu atau mbak Salsa datang, aku di kamar. Terimakasih ya, dhe." Aku berlalu diiringi anggukan budhe.
Ibuku dan mbak Salsa memang sedang keluar bersama, mencari sandal seragam cantik buat resepsi besok. Mereka pergi beli ke Gadjah Mada atau pun ke Ramayana.
...πππππ...
Jam dinding di samping atas jendela menunjuk di pukul sepuluh setengah malam. Garrick yang kupikir akan menyusulku setelah adzan Isya', tak juga datang membuka pintu di kamarku.
Baju nikahanku, gamis semi kebaya cantik yang kupakai pun telah kulepas dan kutukar.Hingga aku tertidur dan kini terbangun. Bahkan, sensasi adem dan segar setelah mandi saat isya' tadi pun telah mengering kurasakan. Cerita akan bantuan suami saat membuka zipper belakang gaun istri habis nikahan pun, hanya khayalan bagiku. Duh,maak! Hu..hu..hu..Garjuu..
Garrick memang bilang akan kembali dari Mushola setelah shalat isya' di sana. Dia bilang, akan numpang tukar baju dan menumpang tidur di kamarku malam ini. Suamiku itu berkata lirih padaku sesaat sebelum pergi. Degh...!Suami,,,,Garju,,suamiku?! Auwh...Dag dig dug dadaku..
Ceklek..!
Eh..Duh..!! Orang yang sedang kurunsingkan telah datang dan sedang nyata memasuki kamarku.
"El..." Garrick telah menutup pintu, dan menuju ranjang tempatku.
"Kau menunggu? Sorry, orang-orang barusan pulang. Dan, pakdhemu... Sangat betah berbincang denganku.." Degh..!Garrick mengulur tangan dan pelan menarikku. Aku pun turun ranjang dan berdiri di depannya.
"Itu..,,aku justru suka. Dan kuharap, ayahku pun juga akan suka punya menantu sepertimu.." Ah, tiba-tiba aku ingat ayahku dan sedih. Degh..! Garrick juga mendadak memelukku..
"Tentu, El. Ayahmu pasti sudah suka juga denganku. Acara kita berjalan dengan baik. Dan aku pun sudah mengunjungi makam ayahmu. Semoga resepsi kita besok pun juga lancar. Jika kita ke Batam, kau pun juga kunjungilah makam ayahku." Kuanggukkan kepalaku. Ah, sedihnya..
Auwh..Garrick merapatkan pelukan padaku. Kurangkul peluk juga Garrick dengan tubuh besar, empuk dan padatnya. Hangat.. Kusandar kepalaku di bahu dadanya yang lebar. Mendapati harum khas itu menghembus hidung ke dadaku. Augh..Garrick lebih merapatkan lagi tubuhnya padaku.. Sesaat saling memeluk sangat lekat dan rapat. Melepas kerinduan dan keinginan dalam angan yang tertahan.
"El,.." Suara Garrick mulai serak memanggilku.
"Aku ingin tukar baju.. Kau mau membantuku?" Kami saling merenggang pelukan, aku cepat mengangguk. Tak berani lagi ku-umpat bahwa itu permintaan yang manja. Tapi sekarang aku sangat suka.
Kubiarkan Garrick melepas sendiri jas nikahan yang dipakai. Kuambil ransel kecil miliknya yang dibawa. Kubuka dan lebih kudekatkan lagi pada yang punya. Garrick belum juga selesai. Kudekati dan mulai kubantu melepas dengan ikhlas.
"Tadi bajumu..Kau lepas sendiri?" Garrick menunduk memandangku.
"Iya..Sangat mudah, aku tidak susah melepas bajuku." Garrick menahan senyuman dengan menunduk menatapku.
Jas dan kemejanya telah kutanggal semua. Duh, maak! Hamparan tubuh Garrick serupa pahatan tuan yunani yang tegas dan sempurna. Degh.. Garrick menggenggam tanganku yang memegang jas kemeja. Garrick tersenyum. Dia paham jika aku keberatan melepas celananya.
"Tunggulah, El... Sebentar lagi, aku yang akan melepaskan seluruh bajumu." Degh..!Augh.. Apa katanya?! Garrick telah melesat ke kamar mandi dengan menyambar ranselnya. Deguban jantungku melaju dengan senyum yang susah kurapatkan.
...π...
Ceklek..!
Duh, maak! Garrick tengah keluar dengan bersarung dan berkoko sangat rapi. Peci dan ransel masih terpegang di tangannya.
"El, aku tak ingin menunda untuk tidur panas bersamamu malam ini. Tapi, kita lakukan sunah kita dulu bersama sebelumnya." Sambil meletak ransel dan memakai peci, Garrick berkata dan tersenyum mesum padaku.
...π...
Oh, jantungku..,bertenanglah kamu..jangan bikin aku kian malu yaa.. Tapi dig dug dadaku justru kian laju..
Garrick telah menamatkan sholat sunah pasutri setelah nikahan itu bersamaku. Aku tak menyangka dia berinisiatif dan ternyata mampu memimpinku menunaikan. Bahkan dengan doa malam pertama juga sekalian. Duh, sangat berdebar hatiku. Oh, Garjuu..aku padamu!
"El.." Garrick tercekat memanggilku.
"El, kita mulai sekarang..?" Tubuh besar itu mendekatiku. Melihatku mengangguk pasrah padanya.
Garrick menarik pelan tubuhku lebih mendekat lagi padanya. Pandangan Garrick telah meredup dan kelam padaku. Saling bertatapan, mengungkap hasrat yang terpendam dan terpaksa ditahan selama ini.
Auwhhh..! Garrick merapatkan diriku padanya. Kami berpelukan. Bersamaan kurasa tempelan bibirnya di bibirku. Diam sesaat, jantungku malaju. Auhph..! Garrick telah menggerakkan bibir dan mengulumm dalam bibirku berterusan. Mulai terasa getar-getar geli di tubuhku. Auh..aku yang kaku diam jadi tak tahan!
Kubalas seperti apa yang tengah dibuatnya padaku. Aku dan Garrick tengah berperang bibir sangat gencar dan hebat. Menghasilkan bunyi-bunyian yang justru seperti cambuk untukku dan Garrick jadi kian semangat tak terpuuass. Tubuhku mulai memanas. Panas yang terus menyebar ke manapun tubuhku. Auwwhh..!
Aku terlena, pasrah harap saat kusadar dan kurasa, tangan besar Garrick menyelusup dan mengelus kulit punggungku. Menarik tali dress tidurku sangat mudah dan melorot jatuh ke lantai.
Auwwh..! Tetiba tubuhku melayang, Garrick mengangkatku dan meletak pelan di ranjang empuk kamarku. Mata coklatnya semakin berkilat-kilat dan lekat menatapku.
"Eellh.." Auwh..Suara terengahnya berakhir dengan libasan lidah dan mulutnya di bibirku. Auh.. Berperang bibir dan lidah kembali kami gencarkan dengan rakus tanpa mendapatkan rasa puass.
Ahgh...Perasaan tak terkata saat tangannya kembali mengungkit dan mengelus kulit mulus punggungku dan berlanjut melepas kait di pengaman dadaku..
"Auh..auh..sshh..ah.." Tak mampu lagi kutahan desahku. Garrick telah melepas lummatann di bibirku. Lidah bibirnya bergeser menyapu kulit leherku berterusan. Telingaku pun tak selamat dari sapuan basah lidahnya.
"Arghh..aaaahh...assh.." Auwh..Geli desahku sudah tak lagi terkendali. Geli nikmat menggetarkan..ingin berterusan.. dan sangat tak ingin dihentikan. Garrick telah berpindah dan menjelajah di dadaku. Memporak-porandakan gunung-gunung yang tegak berdiri di sana, dan kini semakin menjulang saja kurasakan. Tangan, bibir, lidah dan hidung Garrick sangat lihai menawanku di sana. Raga jiwaku tertawan pada rasa nikmat tanpa kata tak berujung. Oh..Garrick...!
Hauuh..hauh... Garrick telah bergerak mengabaikan wilayah dadaku. Turun perlahan dan berhenti di sana.. Tenggelam bermain di kulit perut dan pusarku sangat lama... Dan aku semakin mengawang saja rasanya..
"Garriiiick...Auuhh..ssshh ah..Garrick...!" Tanpa sadar dan kendali kusebut histeris namanya.. Tapi dia tak berhenti, justru semakin menjadi saat kusebut seru namanya. Ah, Garrick tengah tenggelam di kubangan mahkotaku. Aku tak mampu bicara akan apa yang tengah dibuatnya pada mahkotaku. Hanya kurasa begitu geli nikmat melayang tak terlukis pada kata. Dengan rasa tak ingin jika dia menghentikannya begitu saja. Tapi...
"Ah..ah..ah..Sudah..sudah..Garrick ..ah jjangan di sanah..Aku tak mauh..!" Meski berat, aku tak ingin senang sendiri. Kudorong perlahan kepala suamiku agar menjauh dariku.
"Eellh...Kau ingin.. kita mulai.. bersama..? Kau..siap?" Garrick terengah menatapku. Dia telah kembali di posisi semula di atasku. Wajah yang kian tampan itu tepat ada di depanku. Tubuh yunaninya telah polos tak berbenang sehelaipun. Entah kapan dilepasnya..
"Iyaaah...Kita.. coba saja ..bersama.." Aku pun tak kalah terengah menatapnya. Kubelai rahang wajahnya dengan jemari halus lentikku. Dan merambat mengelus punggungnya. Garrick kembali menghabiskan bibirku. Sambil mendorong pelan dan membuka, hingga menganga kaki pahaku lebar-lebar...
"Aaawwwhh..Garrick..Garrick...Garriiick..!!" Aku histeris..sedikit kudorong tubuhnya dariku... Aku takut..rasanya sakit..
"Sangat sakit, El..? Bagaimana? Kita coba lagi ya,,, Akan kulakukan lebih pelan.." Garrick kembali merapat...
Rasa sayang, cinta, iba dan rindu beterusanlah yang membuatku kembali mengangguk dan tunduk pada inginnya. Kembali kusiapkan diriku tahan-tahan..
Garrick kembali menyasarkan sang jenderal di mahkotaku. Mendiamkan sang jenderal sedikit menyusup, lalu diam tak bergerak. Garrick kembali menguasai bibir dan lidahku sambil tangannya lembut menjelajahi gunung-gunung di dadaku. Auh...panass..teramat panas yang sangat.. Seperti mengawang saja saking panas nikmatnya... Degh..!! Ah..
"Aaah... Garriiiiick......!!!" Jerit tertahan kembali kuserukan...Sang jenderal kembali mengacung terabaikan..
Ah..kasian Garrick..aku tak kuat menahan sakitnya... Garrick hanya memelukku sangat erat sambil menggeram tertahan. Tubuhku seperti sedang tergencet oleh tubuh besarnya... Kutahan jika hanya sakit tertindih begini.. Kubalas memeluk punggungnya sangat erat...Seperti akan lekat menyatu saja rasanya...
π»π»π»π»π»
πππππ
πΊπΊπΊπΊπ»
π’π’π’ Apa readers kecewa..? Pada nggak jadi berkondangan... Ha..ha..ha..Kenapa reader suka banget sih kondangan...? Pada nebak2 kondangan... Kondangan kan ngabis2in uang... Bukanlah ya...Anggap saja sedekah di tepat sasaran... Untuk yang bilang terang2an nunggu m p ... Emang benar2 novelable banget lah dia.... ter uwwu2 jadinya...
Untuk yang kecewa nggak jadi kondangan.. Kondang2 sajalah sendiri di kandang .... Selamat bermaljum dengan pak jendralnya masing2 ...
Yang pada jomblo...,maljumnya hampa... Bersabarlah... Akan indah pada waktumu...
**pesanku: jangan baca kembali judul ini dua kali ya...Ntar kalian senyum2..**
**Padahal otor sedang fokus saja ikut pantau sang jenderal kejam itu..Kalian paham kan?*
Salam sayang dariku..,
Author bronze recehan kasta dasar...ββ€
π’π’π’π’π’π’ Harap hujan like. vote.hadiah darimu... Komentar2mu adalah semangatku..
Jangan kendor menyemangati author.. Terimakasih Datangmu...!!Kutunggu komentarmu!ββ€