
🌻 Winona
Pikiranku berkelana, mencoba mencari makna. Di balik sikap perhatiannya yang selalu membuatku terlena. Aku tidak mau lagi, membuat hatiku kembali merana.
“Ada aku di sini. So please tell me...”
Aku meneguk saliva dengan kasar. Berharap aku tidak salah dengar.
Untuk sesaat, aku membiarkan diriku tenggelam dalam kekalutan pikiran. Mengapa, sehangat ini pelukannya? Membuatku ingin meleburkan segala duka dan air mata. Karena aku tak lagi merasa sekarang.
Sebelum jurang di dalam pikiran kembali menyeretku ke dalam ekspektasi, aku menarik diri. Aku memberanikan diri, menatap kedua mata indah itu.
Bagiku, mata itu penuh dengan janji palsu!
“Lo tahu, lo pria paling brengsek setelah Gema!” ujarku dengan nada geram.
Jacob menundukkan wajahnya. Bibirnya bergetar. Aku mendengar helaan napas panjangnya, sebelum kedua mata itu kembali terbuka dan balas menatap kedua mataku.
“Aku tahu, tapi...”
“Gema lebih brengsek! Seenggaknya, lo tahu kesalahan lo apa.” Aku melangkah menuju sofa, lalu duduk di atasnya. “Gue nggak ngerti, apa maunya cowok buaya itu!”
Jacob ikut duduk di kursi bulat, tubuhnya tegap, menghadap ke arahku. “Bagaimana bisa kamu kenal dengan Gema?”
“Nggak penting bagaimana bisa gue kenal, yang jelas...” aku mengembuskan napas gusar. Aku mengusap wajah dengan kasar. “Gue nggak mau lagi berhubungan dengan dia! Gue pikir, setelah dia menikah, pria brengsek itu nggak bakal gangguin gue lagi!”
“Yang namanya cowok buaya, susah untuk tobat! Jelas dia sudah terobsesi sama kamu!” Jacob terlihat geram. Bahkan aku bisa melihat rahangnya ditarik kencang saat mengutarakan kalimat.
“Kasihan Sepia. Dia udah...”
Jacob tertawa pelan, “dia tahu kalau suaminya suka sama kamu?”
Aku mengernyitkan kening, memikirkan pertanyaan Jacob.
Aku kembali mengingat isi chat tadi pagi dengan Sepia. Jika aku pikir-pikir, semenjak Sepia menikah, ia baru menghubungiku hari ini!
“Tadi pagi dia bilang kalau mereka pindah lagi ke Jakarta. Terus Sepia ngajak gue ketemuan. Dia nanya sih, bagaimana pekerjaan gue!” mataku terbuka lebar, saat menyadari ada hal aneh. “Sepia nggak pernah nanya detail. Gue pikir, mungkin kita udah jarang komunikasi makanya dia nanya-nanya gitu...”
“Ya, pasti buaya darat itu yang chat kamu.” Jacob menegapkan posisi duduknya. “Boleh aku lihat isi pesannya?”
Aku menarik napas tajam, lalu mencari-cari di mana aku meletakkan ponselku.
Jacob berdiri, ia melangkah menuju dapur yang terletak dua meter dari samping kananku.
Aku membuka password ponselku, lalu mencari nama Sepia. Ada sembilan panggilan tak terjawab semenjak tadi aku mematikan teleponnya.
Lalu ada satu pesan di sana.
|Kamu di mana?
Jacob merenggut ponsel dari genggaman tanganku. Sesaat ia membaca pesan itu, tawa mencemoohnya terdengar. Jarinya menggeser pesan di layar. Mungkin membaca pesanku dari atas.
Aku kembali merenggut ponselku. Menatap Jacob kesal, saat kedua mata itu masih berkedut dengan tawa. “Emang selucu itu hidup gue? Lo terhibur dengan penderitaan gue?”
Senyum itu langsung hilang. Begitupun matanya, kembali redup. “Wio, aku...” Jacob mengembuskan napas dalam. “Aku nggak ngetawain kamu. Si buaya itu! Kamu...”
Meskipun aku merasa kesal, aku tidak merasa marah dengan Jacob. Satu kata yang membuatku tak bisa bebas darinya... nyaman!
Kata itu begitu menggangguku. Karena kenyamanan itu meresahkan. Membuaiku untuk tinggal.
“Jadi kamu butuh pekerjaan?”
Apa Jacob ada lowongan pekerjaan?
Aku mengembuskan napas kalut. Jika aku kembali bertemu secara konsisten dengan pria di hadapanku ini, bukan tidak mungkin hati ini kembali padanya!
Dia begitu tampan! Begitu mapan! Dan aku begitu penuh dengan harapan agar tidak jomblo lagi.
Dia standar ideal cowokku! Dan...
Huh! Aku tidak percaya, sesulit ini move on dari Jacob, hanya untuk kembali pada Jacob?
Apa kisah cintaku seperti lingkaran yang berulang? Dan hanya ada satu nama di lingkaran itu yang bermain peran!
Ponselku kembali bergetar. Aku melihat ada beberapa pesan lainnya.
| Ada tawuran di jalan kosan kamu
| 😡
Aku tertawa pelan membaca pesan itu. Aku tidak membuka pesan itu, hanya membacanya dari bilah notifikasi.
“Dia chat kamu lagi?”
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Jacob. “Awalnya, gue temenan baik sama dia. Terus, si brengsek itu baper. Ya gue nolak dia, setelah dia ngasih gue berbagai macam hadiah. Toh hadiah itu gue kembaliin lagi ke dia. Emang dianya aja yang maksa!”
“Dia nggak terima kamu nolak dia terus-terusan. Dia pikir bisa membeli kamu dengan semua hadiah itu!” Jacob juga ikut terlihat geram. “Emang dia chat apa lagi?”
Aku kembali memberikan ponselku. “Jangan buka, baca dari notif aja!”
Jacob mengangguk. Keningnya mengernyit dalam membaca pesan di layar. Kemudian ia menarik napas tajam, dan dia berdiri untuk duduk di sebelahku.
Aku menggeser tempatku duduk, sebisa mungkin memberikan jarak agar tidak bersentuhan.
“Aku ada ide,” ujarnya dengan senyum kecil di sudut bibir. Sebelah tangannya menghidupkan layar Tv, “kamu foto aku. Bilang ke dia, kalau kita balikan...”
“Lo gila apa!” selaku histeris!
Jacob mendecih pelan, “katanya mau terbebas dari buaya darat. Aku tunjukin caranya nggak mau?”
Aku tertawa pelan. Sebelum perlahan rencana Jacob masuk ke dalam pikiranku. Jika Gema berasumsi aku balikan dengan Jacob, dia pasti akan meninggalkanku sendiri. Begitu bukan?
Jacob menarik tanganku, “ayo coba! Balas aja pesannya.”
Tidak ada salahnya mencoba.
Aku membuka pesan itu, dan langsung memfoto Jacob dari samping. Napasku kembali dicuri, saat menatap gambaran itu di layarku. Lalu melirik wajah menawan hati itu dengan mata kepalaku sendiri!
Efeknya bahkan lebih membuat jantungku berdentum tak karuan.
Mengapa aku berakhir di sini? Dengan rencana absurd ini?
“Udah?” tanya Jacob sambil berpaling.
Aku mengangguk cepat, lalu menurunkan tanganku. Aku mengirim pesan itu, yang langsung dibaca oleh si penerima.
“Terus kamu dengan Sepia gimana?”
“Apanya yang gimana?”
“Kalau emang suaminya seperti itu, lebih baik kamu menghindar.”
“Andai saja aku bisa pergi ke manapun aku mau. Tidak terikat dengan kebutuhan untuk membiayai adik aku kuliah...”
Aku akan meninggalkan kota ini.
Kepedihan dari realita kehidupan kembali membuatku merasa getir. “Tadi saat Sepia bilang kalau ada lowongan dan gajinya lumayan, tentu aja gue langsung mau untuk diajak bertemu. Gue pikir Gema udah berubah...”
Aku teringat kumpulan foto yang diposting Sepia di Instagramnya. “Sepia hamil, dan gue pikir...”
“Siapa yang bisa berpaling dari kamu?” ujar Jacob pelan. Senyum kecut itu kembali tertarik di sudut bibirnya.
Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Jacob menarik napas tajam. “Kalau kamu butuh pekerjaan, aku bisa tanya ke Kakak aku.”
Mengenal Jacob, dia tidak hanya sekedar menanyakan, dia akan memaksa kakaknya mencarikan pekerjaan untukku.
Apa aku akan menolak kesempatan ini?
Ingin aku mengatakan tidak! Tapi realitanya, mencari pekerjaan tanpa adanya koneksi sungguh sulit.
“Jangan tolak ya. Aku mau aja ngasih kamu uang, tapi pasti kamu nolak.”
Aku tertawa pelan mendengar kalimat itu. Memang aku akan menolaknya, “gue bukan istri lo yang harus lo nafkahi.”
Senyumnya kembali lebar. “Kalau kamu mau, kita nikah besok,” ujarnya dengan tawa kecil.
Aku tertawa, karena bagiku, ucapannya barusan adalah candaan.
“Mudah buat jatuh cinta lagi sama kamu...” lirihnya.
Kenapa dari tadi Jacob merayuku terus?
Oh, jangan luluh Wio! Ingat! Jacob cowok Red Flag!