Yellow Flag

Yellow Flag
Cafe, Jacob dan Aleia


🌻 Winona


Aleia melirik jam di pergelangan tangannya. Gelas matcha latte itu masih tersisa separuh. Tidak ada respon setelah pembahasan Sepia. Meski aku penasaran, bagaimana kondisi Sepia saat ini, aku harus menahan diri untuk tidak kembali membuka subjek itu.


Aku berteman dengannya semenjak SMP. Ketika SMA, kita berbeda jurusan. Namun kedekatan hubungan pertemananku dengan Sepia terjalin saat kita masuk di jurusan yang sama saat kuliah. Kami semakin dekat, saat mengikuti organisasi kemahasiswaan.


Keluarga Sepia tidak harmonis. Ibunya hilang tanpa kabar setelah menjadi TKW. Ayah Sepia bekerja menjadi porter di pasar, gajinya hanya pas-pasan untuk hidup. Untungnya, ketika Sepia kuliah, abangnya mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai ASN. Dari abangnyalah Sepia mendapatkan tambahan uang jajan.


Deringan telepon merenggut hayalanku mengenai Sepia. Mataku terbuka lebar saat melihat nama Jacob di layar. Sekilas, aku melirik Aleia yang menatap ke arahku dan ponsel di atas meja.



Aku mendesah pelan, kembali mengunci layar ponselku. “Gue nggak pengen jadi penghalang hubungan orang lain,” ujarku. Kembali membalas tatapan heran Aleia, gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada gelas berisi cairan hijau itu. “Jacob mau ketemuan sama gue. Menurut lo, kenapa…”


“Lo ngasih apa sih,” sela Aleia. “Sampai Jacob gagal move on dari lo?” nada dalam suara itu terkesan dingin. Begitu pun sorot wajah Aleia yang terlihat datar.


Aku mendecih pelan, merasa kesal dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir manis itu. Pertanyaan itu seolah-olah menuduhku telah berbuat yang tidak-tidak dengan Jacob. “Lo pikir gue cewek apa? Huh!” balasku kesal. “Gue nggak ngasih apa-apa!” imbuhku.


Tiba-tiba, terpikir olehku sebuah ide cemerlang. “Kalau lo penasaran, tanyain langsung sama orangnya!” Aku mengambil ponsel, menekan kontak Jacob, dan langsung menghubungi pria itu.


“Halo Wio,” ujarnya di seberang sana.


“Lo di mana?”


Aku mendengar helaan napasnya, sebelum Jacob angkat suara. “Aku di depan kos kamu.”


Pesan terakhir dari pria itu, mengatakan ia mau pergi ke kosku! Tanpa menunggu balasanku, Jacob sudah langsung pergi ke sana. “Gue nggak di kos,” ujarku cepat. Aku melirik Aleia yang menatapku dengan kening berkerut. “Bisa kita ketemu…”


“Bisa!” sela pria itu cepat. “Kamu kirim aja lokasi kamu sekarang.”


Aku menutup telepon. Langsung mengirimkan lokasi cafe ini pada Jacob.


Tawa mengejek terdengar, membuatku melirik singkat pada sosok di hadapanku. Mengambil gelas, aku menyeruputnya hampir sepertiga gelas.


“Lo bisa tanyakan langsung sama Jacob. Karena apa pun yang keluar dari mulut gue, lo anggap sebagai bualan gue belaka!” Aku menggelengkan kepala, mendesah tak percaya. “Bahkan sampai mikir yang enggak-enggak!” Wajahku kembali memanas oleh emosi yang tidak bisa aku kontrol.


Aleia mengambil tasnya. “Gue nggak ada waktu buat…”


“Justru itu,” potongku cepat. “Lo nggak bisa luangin weekend lo buat Jac? Lo egois, tau nggak.”


Aleia mengembuskan napas berat, “lo nggak paham posisi gue! Ada target yang harus gue capai. Gue baru memulai karir gue. Melepaskannya begitu saja, setelah bertahun-tahun gue memantaskan diri… dan pada akhirnya gue lepas demi seorang pria?”


“Lo udah buat pilihan!” tekanku, “karir lo yang lebih utama. Jika sekarang Jacob nggak mau nunggu lo, lantas apa? Lo maksa dia, dengan ancaman penarikan investasi dari eyang lo?”


Aleia menarik napas tajam. “Dari mana lo tau,” lirihnya. “Eyang invest di perusahaan rintisannya Jacob.”


“Menurut lo, gue tahu dari mana?” tanyaku dengan menaikkan sebelah alis.


Aleia menggaruk pelipis. Bibirnya terbuka. Sorot bingung tampak jelas pada mata itu. “Apa lo mau menghindar? Karena jujur, gue capek disalahin kek gini!” Aku berpaling sebentar, melihat ke arah jalanan luar. Langit tampak cerah, ditemani awan kecil yang berarak.


Aku kembali menghabiskan matcha di gelasku.


Aleia berpaling, menatap ke arah meja barista. Keningnya mengernyit dalam. Aku tahu, pikirannya tengah bergumul dengan spekulasi. Jika aku berada di posisi Aleia, mungkin aku juga akan bimbang.


Tunggu, jika Sepia mengunjungi Aleia, itu artinya dia mengambil profesi dokter kandungan!


“Dia mau ke sini?” tanya Aleia memutus kesunyian.


Aku mengangguk cepat, menjawab pertanyaan singkat itu.


Menit-menit berikutnya, tidak ada percakapan yang terjadi. Kami sama-sama sibuk menatap layar ponsel masing-masing. Hingga akhirnya, sosok yang dinantikan masuk jarak pandangku.


“Itu, Jacob udah datang.” Kalimatku membuat Aleia menarik napas tajam, lalu perlahan, menoleh ke balik bahu rampingnya.


Senyum Jacob yang semula lebar saat menatapku, berubah datar saat lirikan matanya tertuju pada Aleia.


Ah, aku lupa memberi pesan. Apa tadi sebaiknya aku bilang pada Jacob bahwa Aleia bersamaku? Pria itu tampak terkejut. Langkah lebarnya juga tampak mengayun pelan.


“Ada Lea di sini,” ujar Jacob, saat pria itu sudah berjarak satu meter dari meja kami.


Jacob menarik kursi, meletakkannya di tengah-tengah meja kayu berukuran satu meter. Ia bolak-balik mengedarkan pandangan dari wajahku, ke wajah Aleia. “Ngomongin apa kalian?” nada suara itu sedikit dingin. Tidak ada senyum kecil. Yang ada, sorot mata tajam Jacob yang menatapku penasaran.


Aku berdehem pelan, sebelum membuka suara.


“Kata Jacob, kalian balikan,” ujar Aleia cepat. Gadis di hadapanku menatapku dan Jacob dengan gugup. “Jadi gue cuman mau tahu aja, bagaimana bisa Winona ketemu sama lo. Baru Jum’at lalu bukannya, lo balik ke Indonesia?” senyum kaku terulas di sudut bibir Aleia.


Senyum yang sama juga tercipta di wajah tampan Jacob. “Ya bisa dong…” wajah itu berpaling, melihat ke arahku dengan senyum yang semakin lebar.


Jarak kami cukup dekat. Sekitar tiga puluh centimeter. Napasku tertahan sejenak, terlena dengan suguhan visual yang berada di hadapanku.


Jacob kembali menoleh. Keningnya mengernyit, “nggak ke rumah sakit?”


Aleia mengangguk cepat. “Iya, ini mau pergi.” Gadis itu berdiri.


“Bukannya lo mau…”


“Gue ada draft laporan yang mesti segera diselesaikan," ujar Aleia cepat, memotong kalimatku. "Jadi ya, gue pergi dulu.” Aleia melangkah pergi.


Aku hanya bisa mengembuskan napas berat! Pada akhirnya, Aleia memilih untuk menghindar dari percakapan ini!


“Kamu ngomongin apa sama Aleia?” mulai Jacob.


Aku menarik pandanganku dari punggung Aleia yang menjauh, pada wajah di sampingku. “Kenapa sih, masih bilang kalau kita balikan?” dengusku kesal.


Jacob mengembuskan napas tajam. Wajahnya ditundukkan. “Aku emang mau balikan sama kamu,” ucapnya tanpa melihat ke arahku.


Aku melepaskan tawa tertahan, “kamu tahu, ini bakal mendatangkan kesalahpahaman? Baru Aleia yang datang sekarang. Next, mungkin mama kamu.”


Jacob menatapku. Cukup lama dia hanya diam. “Aku habis ketemuan dengan Sepia.”


Pergantian topik yang tiba-tiba membuatku sedikit menelengkan kepala. “Sepia?”


Jacob mengangguk singkat, “dia akan setting buat kita dinner berempat. Jadi kamu bisa bilang ke Gema buat berhenti…” Jacob diam beberapa detik, “buat gangguin kamu.” Nada serius dalam suara itu membuat jantungku berdegub kencang.


Karena Jacob menunjukkan, betapa posesifnya dia padaku!