
đźš© Jacob
Deru tarikan dan embusan napas pelan, menggelitik leherku. Hangat mentari pagi menambah suhu panas di udara. Membuatku sepenuhnya membuka mata.
Mengapa tubuhku rasanya berat untuk digerakkan?
Aku berpaling, mendapati helaian rambut di samping wajahku.
Saat kesadaran masuk perlahan, aku menahan erangan. Seketika, flashback kejadian semalam berbayang di kepala.
Winona sudah terlelap, dengan kepala yang tersandar pada punggung sofa. Sebelah tangannya menopang kepala, sebelah lagi terkulai di samping tubuhnya.
Backsound tv menjadi suara latar belakang yang sangat pelan, membuatku tidak merasa kesepian.
Aku akui, sedikit hasrat membuatku menarik tubuh itu. Dan dengan pelan, menyandarkan kepalanya ke bahuku. Dengan perlahan, aku menarik ponsel yang masih berada di dalam genggamannya.
Aku memasukkan nomor teleponku, lalu mengirim pesan. Aku juga mengirim kontak Sepia. Karena hari ini, aku akan menemui wanita itu!
Jika Winona bangun, dia pasti marah padaku.
Gadis mana yang tidak marah, bangun dengan posisi seperti ini? Dengan kedua tanganku memeluk tubuh rampingnya.
Sekali lagi, aku menjadi pria brengsek untuk Winona. Apa aku menyesalinya?
Well, tidak juga.
Sekarang, bagaimana caranya untuk bangun tanpa membuat gadis itu terjaga? Sofa ini tidak begitu lebar, hanya pas seukuran badan. Aku tidak bisa menggeser Winona tanpa membuat gadis ini terjatuh.
Ah, sial!
Bagaimana ini?
Apakah pukulan pelan di dada, dan teriakan kesal akan menjadi awal pagiku?
Tapi sebaiknya, Winona tidak tahu ini! Biar saja aku menjadi pendosa, dan dia menjadi gadis suci. Dan jika aku terus-terusan tersadar dengan Winona dalam pelukanku, mungkin saja pikiranku akan menyesatkanku dalam ruang imaji liar.
Aku menggeser tubuh, perlahan menggerakkan kaki dan tanganku untuk menggelayut pada sandaran sofa. Aku memindahkan tangan Winona secara perlahan. Lalu kembali menarik tubuhku untuk sepenuhnya menggantung di sandaran sofa.
Fiuh!
Winona tidur manis seperti anak kucing. Maksudku, dia terlihat menggemaskan.
Dengan langkah cepat, aku menuju kamar mandi. Pancuran selalu bisa membuat pikiran runyam dan kotor, menjadi bersih lagi. Setelah ini, aku akan menelpon rekan timku, hanya sekedar menanyakan progress kerja mereka.
Setelah itu...
Aku akan mengurus Sepia. Firasatku tidak enak. Semenjak Kim mengatakan bahwa Sepia membenci Winona, aku langsung saja berprasangka buruk pada suaminya.
Mendengar cerita dari Winona, sepertinya bajingan itu memang terobsesi padanya. Well, mengapa tidak!
Jika Winona masih perawan, buaya mana yang tidak akan mendekat?!
Aku masuk dalam daftar itu. Meskipun aku tidak akan pernah merusak reputasi gadis itu! Gema jelas tidak peduli! Asalkan dia mendapatkan Winona, pria bajingan itu akan melakukan segala upaya.
Keluar pancuran, aku membersihkan muka dengan handuk. Mengusap pelan kaca kamar mandi yang buram, aku mengembuskan napas kasar saat melihat pantulan wajahku di cermin.
Jika orang bilang, menjadi narsistik dengan mengagumi diri sendiri, aku akan masuk dalam kriteria itu. Setidaknya, ada banyak hati yang berdebar melihat wajah ini.
Aku tertawa pelan. Memuji diri sendiri membuatku merasa kasihan. Karena aku sudah mendapatkan konfirmasi sana sini.
Langkahku kembali mengayun cepat, menuju lemari pakaian. Aku mengepaskan celana dasar dan kemeja gelap, lalu mencari ikat pinggangku. Sembari menyisir rambut, aku membuka pesan semalam yang aku kirim dari ponsel Winona.
Ada pesan lainnya, dari Aleia.
Ah...
Dia akan ke sini? Mataku membulat lebar, saat melihat notifikasi beruntun dari Aleia.
| Aku udah di depan,
| Bukain pintu ya.
Sial!
Aku langsung berdiri, dan berlari menuju ruang tengah.
Sofa kosong!
Mataku membulat lebar saat melihat Winona menggapai kenop pintu.
“Wio!” sorakku cepat.
Gadis itu reflek memalingkan wajahnya. Mata sembab itu masih menatapku dengan sedikit kedipan pelan.
Langkahku kembali mengayun lebar. “Kamu udah bangun?”
Winona memutar bola matanya malas, “belum. Masih setengah sadar,” ujarnya pelan. Suara itu sedikit parau. “Tapi...”
“Paket!” potongku cepat. “Aku beli sarapan,” kilahku begitu saja.
Winona mengangguk pelan. “A...”
“Kamu cuci muka dulu,” aku menarik tangannya. Sebelum Winona sempat mengatakan apapun, aku harus membawanya dengan cepat menjauhi pintu. “Biar aku yang urus,” aku mendorong tubuhnya pelan, masuk ke dalam kamar.
“Ini kamar mandinya di mana?”
“Kamu pakai yang di kamar aku aja, yang di luar nggak ada sabun.”
Winona mendengus, “kamu nyuruh aku pakai sabun untuk pria gitu?”
Winona tersentak, seolah terkejut dengan apa yang aku ucapkan. Sebelah tangannya langsung menutup mulut. Tak lama, gadis itu mengangguk singkat dan menutup pintu dengan cepat.
Di saat terdesak, otakku ini bisa diandalkan untuk mencari alibi!
Apa yang aku ucapkan pada Aleia?
Dia tidak boleh masuk! Tapi...
Ah, iya! Aku membuka kemeja, lalu mencampakkannya secara asal-asalan ke atas sofa. Aku mengacak rambut basahku, membuatnya tampak berantakan.
Aku harus ekstra!
Aku mengambil air kran dengan gelas, membasahi kepala yang langsung mengalir ke wajahku. Aku kembali berlari, lalu membuka pintu sedikit, menyempilkan wajahku untuk membalas tatapan terkejut dari wajah manis itu.
Aku bisa merasakan, tatapan itu membulat lebar, lalu menelusuri hingga ke lantai bawah. Tempat di mana air yang sebentar ini aku siram, menetes-netes.
“Kamu habis mandi?” cicitnya.
Aku mengangguk cepat, “lagi mandi. Tapi kamu chat aku...”
“Huh?! Kamu bawa hp sambil... mandi?” tanya Aleia terkejut.
Aku tercekat, “bukan!” suaraku terdengar sedikit meninggi. “Suara bel, terus aku lihat ponsel... pas aku lewat, layar aku hidup. Trus aku pikir ada pesan masuk.”
“Ah...” gumam Aleia.
“Sorry, ya... aku nggak bisa buka. Soa...”
“Iya, ya. Nggak usah,” tawa gugup terdengar di akhir kalimatnya. Aleia menyodorkan paper bag coklat, “ini ada sarapan buat kamu.”
“Oh,” senyum lebar tertarik di wajahku. Mengatakan ada sarapan pada Wio, menjadi alasan yang masuk akal sekarang. “Makasih ya, hm... kamu gimana? Nungguin aku? Kita sarapan bareng?”
Di dalam hati, aku meringis! Bagaimana bisa mulutku dengan cepat mengatakan pertanyaan bodoh itu!
“Ya, rencananya sih gitu.” Aleia tertawa lagi, “tapi gimana? Kamu masih...”
Ah, sial! Sial! Terkutuklah aku!
Sekarang apa yang akan aku ucapkan, untuk menyuruh Aleia pergi?
Jika Winona tahu, bisa-bisa gadis itu tidak mau menerima bantuanku! Aku tidak akan tenang, membiarkan Winona hidup dengan bayang-bayang pria brengsek model Gema itu!
“Kamu tunggu di lobi,” keningku mengernyit, teringat sesuatu. “Bagaimana bisa kamu ke sini?”
Aleia kembali tersenyum malu-malu, “Mama kamu ngasih aku kartu akses ke apartemen ini.”
“Kapan?”
Mata Aleia membulat lebar, “oh... itu, sekitar satu minggu yang lalu. Pas kamu bilang, kamu jadi ke Indonesia. Jadi...”
Aku mendengus kesal. Bukan pada Aleia. Tapi pada keluargaku!
Mereka tidak hanya menjodohkanku dengan Aleia, tapi sudah menyetujui perjodohan ini! Aku yang seperti orang dungu, tak tahu apa-apa mengenai perjanjian keluarga Atmadja dan keluargaku sendiri!
“Jac?”
Suara itu membuatku kembali memfokuskan diri, menatap tepat pada sorot cemas Aleia. “Nanti aku hubungi lagi ya. Kamu pulang aja dulu,” ujarku sambil menarik pintu.
“Kamu marah?” sembur Aleia cepat. “Aku balikin card itu kalau kamu...”
“Jangan sama aku,” ucapku pelan.
“Aku balikin ke Mama, kalau begitu.”
Mama? Apa Aleia memanggil ibuku dengan sebutan Mama?! Sudah seberapa akrab mereka!
Wajah cantik itu seketika berubah sedih. Aku melihat tangannya sedikit bergetar.
Ah, gadis lainnya merasakan patah hati.
Sebelum aku berubah pikiran, aku menutup pintu. Jika Aleia menangis, aku tahu, aku akan membuka pintu dan mencoba semampuku untuk membuatnya kembali tenang.
Tepat saat aku membalikkan tubuh, paras cantik Winona menjadi hal pertama yang aku lihat.
Gadis itu tertawa pelan, terkesan mencemooh. “Paket makanan? Dari cewek?” Winona meletakkan tangan di dagunya, keningnya mengernyit dalam, di kala ia bergumam. “Siapa ya kira-kira?”
“Wio...”
Winona tertawa, lalu tangannya melambai ke arahku. “Mana baju lo tadi? Oh! Biar dia nggak masuk? Karena gue di sini?”
Tidak ada nada marah, hanya nada geli yang ia coba tahan, agar tidak ada tawa mencemooh yang keluar.
Aku mendecih pelan. Meletakkan paper bag itu dengan kasar di atas meja. “Lo tahu, gue kesal sekarang!” ucapku menahan geram.
Aku duduk, lalu membuka kotak makanan. Isinya sandwich, salad dan... aku mengeluarkan termos kecil. Membuka penutupnya, aku bisa mencium aroma latte.
“Oh, kopi!” ucap Winona histeris. “Buat gue aja!” tangan mungil itu merenggut tumblr dari genggamanku.
Aku mendengus pelan, “gue pikir, lo ogah makan...”
“Malu gue udah habis!” sela Winona. Sebelah alisnya terangkat, “ngapain sok jaim sekarang? Huh!”
Winona duduk, fokusnya sekarang pada gelas dan termos kopi.
“Lo nggak cemburu apa?” ucapku kesal.
Entah mengapa, aku sangat berharap Winona cemburu. Dia akan merengut, dan merajuk. Alih-alih, gadis itu mencebikkan bibirnya. Lalu dengan cepat, mencomot sepotong sandwich dan melahapnya.