
🌻Winona
Belum dua puluh empat jam aku kembali bertemu dengan Jacob, namun memori kebersamaan itu sudah terpatri di dalam ingatan. Kejadian masa lalu yang indah, semuanya juga berputar ulang di kepalaku. Dari sikapnya yang manis, hingga perhatiannya. Mungkin rasa suka dan kagum membuatku lengah.
Bahwa semua perhatian itu nyatanya hanya buaian palsu. Dirinya sendiri perwujudan mantra yang menyesatkan hatiku. Membuatku tak bisa memisahkan kemauan hati dan penolakan logika. Membuatku kembali pasrah dan tenggelam dalam ekspektasi.
Aku menggeleng pelan. Lalu mengusap wajahku dengan kasar.
Memikirkan Jacob hanya akan membuang waktu dan pikiranku saja! Lebih baik aku mandi lalu mengangsur draft kerjaku yang jika aku biarkan, akan semakin menumpuk.
Jari tanganku rasanya sudah pegal. Kepalaku juga sudah berat. Pelupuk mataku? Huh, sudah berapa kali aku menggosoknya karena hampir saja membuatku terlelap.
Aku punya target kerja, tiga jam baru aku istirahat.
Aku tadi mulai pukul setengah sepuluh. Itu artinya, ada satu jam lagi hingga aku bisa istirahat. Dua file sudah beres aku edit, masing-masing memuat sepuluh sub draft.
Aku kembali menguap. Dan di saat itu aku tersadar, aku membutuhkan kopi.
Aku mendengus, mengingat kopi pahit yang Aleia kirimkan tadi pagi! Saladnya juga sangat kering! Sandwichnya? Uh, sandwich tuna! Aku hanya memakannya tiga gigit, hanya untuk membuat perutku yang lapar sedikit terisi.
Huh! Apa dia tidak pandai memasak? Dan...
Tadi sepertinya ada kesalahpahaman di antara mereka. Jika aku boleh memutar ulang kejadian tadi pagi di pikiranku, wajah Jacob tampak begitu kesal. Sudut matanya berkedut, rahangnya ditarik kencang. Dan pria itu beberapa kali mengembuskan napas kasar.
Seingatku, Aleia sepupu Jacob. Pertalian hubungan kekeluargaan mereka cukup jauh sebenarnya. Orang tua Jacob bercerai saat umurnya lima tahun. Lalu ibunya menikah lagi di saat Jacob berumur sembilan tahun. Dan pernikahan itu hanya bertahan dua tahun.
Saat Jacob berumur delapan belas, ibunya kembali menikah. Kali ini dengan duda kaya pemilik saham sana sini. Ayah sambungnya tidak memiliki anak sebelumnya. Dan setelah menikah dengan ibu Jacob, mereka memiliki satu orang putri yang sekarang berumur delapan tahun.
Dan Aleia, anak dari adik, ayah sambung Jacob.
Dilihat dari ekspresi Jacob tadi, pria itu sepertinya tidak suka jika Aleia memegang kartu apartemennya. Dan itu berita menggembirakan untukku!
Huh! Seharusnya aku tidak senang! Seharusnya aku merasa waspada! Karena Jacob sama buayanya dengan Gema. Meski Gema jelas lebih buaya dari Jacob.
Oh! Aku jadi ingat surat yang Jacob katakan tadi! Apa benar, Sepia menyembunyikan surat itu dariku? Tapi, kenapa?
Lalu tadi, Jacob mengatakan Sepia suka padanya?
Aku paham kenapa Sepia menyukai pria itu... well... aku pun sudah menjadi korban perasaannya. Dan sekarang aku mewanti-wanti diriku sendiri agar tidak jatuh ke lubang yang sama!
Lalu, apakah benar Sepia yang mengajakku ketemuan kemarin? Bukan Gema? Oh, aku harus memastikannya sendiri.
Ya!
Aku mengklik mode sleep, lalu meraih ponsel. Aku langsung menekan kontak Sepia.
Panggilanku tidak diangkat!
Aku mendengus kesal. Pipiku langsung memanas rasanya! Apa benar, Sepia bermuka dua? Seperti yang Jacob tuduhkan! Aku tidak ingin mempercayainya!
Dan perkara satu kantor, aku memang tidak mau masuk kerja di tempat Sepia! Temanku itu pernah cerita, manager cabangnya itu pria hidung belang. Bahkan Sepia saja pernah bercerita padaku, dia terpaksa menemani pria yang memiliki lemak menggunung di perut itu, pergi karaoke!
Aku tidak merasa jijik waktu itu, karena Sepia menceritakannya sambil menangis. Dia terpaksa, karena butuh cuti. Ibu Sepia meninggal dunia, dan ia sangat ingin melihat wajah ibunya untuk terakhir kali.
Dan aku sebenarnya yang mencarikan lowongan di perusahaan Gema, ketika aku masih bekerja di sana. Aku bahkan tidak menyangka... Gema akhirnya bertemu dengan Sepia! Meskipun lamaran mereka terkesan seperti cara Gema menolak malu, karena aku tolak.
Namun menurutku, Gema memang menyukai Sepia! Temanku itu sendiri yang menceritakan berbagai hal manis dan romantis yang pria itu lakukan pada dirinya.
Memikirkan semua ini, membuat kepalaku berdenyut.
Berdiri, aku melangkah cepat menuju pantry kecil yang aku dekorasi sendiri. Kosanku ini panjangnya sekitar enam meter dan lebarnya empat meter. Aku meletakkan kasur single di sudut dekat jendela. Lalu aku menambahkan rak-rak dan meja kecil di sudut yang berlawanan dengan tempat tidur. Aku memasang tirai lipat berwarna krem, membuat ruangan kecil selebar satu meter dan panjang empat meter.
Aku mengambil bungkus kopi latte favoritku, lalu memotong bungkus kecil berisikan gula, meletakkannya di dalam toples. Aku tidak membutuhkan tambahan gula terpisah itu. Kemudian aku mengambil setengah sendok teh, tambahan kopi hitam tanpa ampas. Cukup untuk menambah rasa pahitnya. Menuangkan air panas, aku bisa mencium aroma kopi yang kembali membuatku merasa rileks.
Ponselku berdering. Aku melangkah cepat ke arah kasur single itu.
Mataku terbelalak, saat melihat nama Sepia di layar!
“Halo! Lo ke mana aja sih? Susah banget gue hubungi! Lo ngajak gue ketemuan semalam, Sep! Tapi lo ke mana?” semburku cepat. Aku mengembuskan napas gusar. “Waktu awal lo nikah, gue ajak lo ketemuan, alasannya jemput Yura dari tempat les! Itu awal lo nikah! Trus lo pindah. Eh, sekarang lo balik lagi ke sini. Lo ngajak gue ketemuan... tapi apa?”
Aku mendengar tawa kecilnya dari seberang telepon. “Lo tahu kenapa gue insecure? Lo tahu apa yang paling gue takuti sekarang?” suara di ujung sambungan sedikit bergetar. “Lo hancurin rumah tangga gue, dan nyatanya lo nggak cinta sama Gema! Lalu gue? Anak gue jadi korban broken home. Gue merasa takut lagi untuk menikah...” kalimat itu terhenti.
Aku menahan napas, mendengar kalimat itu keluar begitu saja dari Sepia. “Sep, gue nggak mau rumah tangga lo hancur gara-gara gue!”
“Makanya lo nikah secepatnya! Biar Gema nggak mikirin lo terus!” tawa kecil, seolah mencemooh itu kembali terdengar. “Lo tahu? Gue merasa sesak, saat gue di ranjang yang sama... dan dia malah manggil nama lo! Gue yang dipeluknya! Tapi nama orang lain yang ada dalam bisikan paraunya!”
Aku tercekat. Tidak bisa memproses kata-kata yang tepat untuk menghibur temanku.
“Maaf, jika gue harus jujur sama lo! Gue udah mencoba untuk nggak ceritain ini ke lo! Tapi sumpah, gue nggak tahan lagi Wio! Gue udah capek!”
Aku mendengar isak tangisnya. Oh, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Hatiku ikut hancur, dengan setiap tarikan napas tajam yang terdengar kalut itu.
“Dan sebentar ini, Jacob nelpon gue! Nanyain keberadaan lo!”
Jacob menelpon Sepia? Mengapa pria itu berpura-pura tidak bertemu denganku?
“Kenapa sih? Cowok sebucin itu sama lo? Kurangnya gue apa dibandingin diri lo!”
Kata-kata itu menusuk hatiku. Menikam jantungku yang berdetak pelan.
Sambungan telepon dimatikan.
Mengapa bisa Sepia mengatakan hal itu padaku? Seolah-olah aku yang salah, karena Gema masih saja memikirkanku!
Apa yang bisa aku perbuat? Bahkan aku sudah menjauh dari Gema! Seharusnya pria itu yang sadar diri!
Apa karena itu Sepia tidak lagi menghubungiku? Dia menyimpan rasa kesalnya pada Gema, dengan mengkambing hitamkan namaku. Aku mengerti, orang-orang yang terluka cenderung mencari pembelaan diri. Dengan menyalahkan orang lain, atas luka batin yang mereka rasakan.
Tapi Sepia salah! Tidak seharusnya dia membenciku! Seharusnya dia bisa memahami keadaanku. Dia tahu aku seperti apa! Aku bukan perempuan yang suka mendekati seseorang yang sudah berpunya!