
đźš© Jacob
Usai mengantar Winona ke kosannya, aku melajukan kendaraan sedikit lebih cepat. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 09.05, saat aku mendorong pintu masuk kantor.
Aku ingat, tiga hari yang lalu aku dengan singkat dan cepat merekrut empat orang karyawan. Lalu aku juga yang menyuruh mereka untuk datang ke kantor hari Sabtu ini!
Sekarang, aku menyesali keputusanku!
Jika saja aku tidak bertemu dengan Winona, mungkin pikiranku sudah berada di tempat kerja. Alih-alih, sekarang aku memikirkan pergi ke taman hiburan dengannya!
Winona suka naik wahana. Aku pikir aku sudah move on, nyatanya satu kali pertemuan, membuatku ingin dekat dengannya lagi!
Perempuan di awal dua puluhan langsung berdiri. Aku mengingat semua karyawan yang dipekerjakan, ada dua orang perempuan. Fera dan Lolita. Fera seingatku memakai kacamata dan berhijab. Jadi ini pasti Lolita!
Aku menyisir ruangan seluas dua puluh lima meter persegi dengan mata, dua orang pria yang seumuran denganku ikut berdiri dan tersenyum simpul.
“Fera mana?”
“Sudah datang Pak, dia lagi ke toilet,” jawab pria berkacamata dan sedikit gempal. Dia Beno! Dan di sampingnya, pasti Hasan. Dia pria kurus berpakaian kasual.
Lolita langsung tersenyum lebar, menghampiriku dengan merapikan pakaiannya. Bagiku, setelan warna pink itu terlihat pas memeluk tubuh berlekuknya. Rok itu sejengkal di atas lutut, membuatku mengernyitkan kening. Meski Lolita mengenakan legging transparan berwarna hitam, itu tidak merubah fakta bahwa ia melanggar kode berpakaian yang sudah aku berikan.
“Kamu selalu berpakaian seperti ini?” tanyaku dingin.
Lolita melepaskan tawa gugup, “nggak Pak,” cicitnya pelan.
“Kalau mau pakai setelan kayak gini, kamu tahu sopannya seperti apa?”
Lolita menggigit bibir bawahnya. Bulu mata tebal hasil extension memberi efek lebat, eyeliner nya juga dipoles memanjang, membuat tampilan tajam pada mata monolid itu.
“Maaf Pak,” senyum kecil, terkesan sungkan tertarik di sudut bibirnya. “Saya kadang juga gini di tempat saya yang lama.”
“Oh!” gumamku pelan. Aku mengangguk singkat. “Yaudah, balik aja ke tempat lama. Di sini ada peraturannya!” aku berlalu dengan cepat, meninggalkan gadis itu mematung di samping mejanya.
Dari sudut mata, aku bisa melihat kedua pria menarik senyum tipis. Terkesan terkejut.
Tak lama, aku mendengar pintu tertutup pelan.
Aku mengembuskan napas pelan, menatap ke sekeliling kantor. Kantor ini hibah dari Mama, imbas dari paket yang di press darinya. Jika aku ingin kantor yang lapang dan luas, aku harus mendapatkannya dari keuntungan bisnis!
Beberapa karyawan bersertifikat magang online. Maksudku, mereka ikut pelatihan online, lalu mendapatkan sertifikat. Aku begitu terburu-buru merekrut, karena kepulanganku sama sekali tidak direncanakan.
Eyang membuat drama, mengatakan ia masuk rumah sakit. Bibiku yang ikut berperan dalam drama Eyang, melebih-lebihkan berita. Perempuan berumur empat puluh delapan tahun itu mengatakan Eyang terkena serangan jantung. Menginginkan semua anak dan cucunya berkumpul.
Aku yang panik langsung memesan penerbangan dari Berlin ke Jakarta. Saat aku transit di Hongkong, pesawatku delay. Aku yang ingin secepatnya berada di sisi Eyang, malah akhirnya menelpon Eyang. Karena tidak tega melihatku begitu khawatir, Eyang mengungkapkan cerita yang sebenarnya.
Saat itu, ingin rasanya untuk kembali mengambil penebangan ke Berlin. Namun karena Eyang mengatakan akan memberikan investasi untuk memulai bisnis startup yang aku inginkan, akhirnya aku mau melanjutkan perjalanan kembali pulang.
Mama mendesakku, jika aku tidak bisa memulai projek pertamaku dalam waktu seminggu, investasi Eyang akan ditarik. Akhirnya, waktu tunggu pesawatku yang delay dihabiskan dengan merekrut empat orang karyawan. Ada lima denganku yang bekerja di ruangan ini.
Oh, tunggu...
Jika Winona mau, aku bisa saja menggantikan Lolita! Apa aku pecat saja Lolita sekarang?
Well, memang bagiku terasa menyebalkan! Tapi keputusan Mama dikarenakan ulahku sendiri yang selama ini hidup menghamburkan uang. Meski jika menurutku, kelakuanku tidak separah Dirga.
Dirga teman dekatku. Keluarganya kaya raya melebihi keluargaku. Bisnis retail sana sini, belum lagi investasi properti. Ceweknya tiap minggu berganti terus. Dia pria brengsek sejati. Membeli perempuan seperti membeli sandal jepit.
“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih karena bersedia masuk kantor Sabtu ini.”
Beno mengangguk cepat, sedangkan Hasan mengangguk penuh dengan penghayatan. Mereka berdua tampak tegang. “Saya mulai kalau dua cewek itu sudah berada di ruangan.”
“Siap Pak,” ucap mereka bergantian.
Pak? Terdengar tua. “Panggil nama aja. Kita juga seumuran.”
Beno tertawa sungkan, dan lagi-lagi, Hasan mengangguk cepat.
Sejujurnya, aku takut memulai bisnis ini. Ada empat orang tanggung jawabku. Bagaimana pun, gaji mereka harus keluar. Belum lagi biaya subscribe aplikasi digital yang kami gunakan.
Lima menit kemudian, Lolita dan Fera sudah duduk di bangku masing-masing.
“Selamat pagi semua,” mulaiku. “Saya tahu, ini kesannya mendadak. Bahkan sebagian kalian bertanya-tanya dan meragukan keaslian pekerjaan kalian ini.”
Aku melihat kedutan senyum di masing-masing wajah.
“Tidak ada review kerja dan lain sebagainya, dan ya... kita yang merintis ini bersama-sama. Saya optimis memulai pertemuan pada hari ini karena projek pertama kita. Itu promosi sandal gunung.”
Aku mendengar tarikan napas tajam dari samping kiriku. “Sandal gunung apa Pak?” tanya Fera pelan.
Aku berdehem pelan. “Merek lokal. Jadi kita akan secepatnya ke lokasi. Siapa tahu mereka borong untuk bikin video iklan semua produk?” aku tertawa pelan.
Dua jam berikutnya, aku disibukkan dengan deadline dan masukan ide dari Beno dan Fera.
“Kita mulai produktif Senin. Web, sosmed dan semuanya kita kerjakan hari itu. Sekarang, saya sudahi meeting dadakan kita.”
Sebenarnya, masih ada rencana kedua, jika kami masih kesulitan mendapatkan klien. Aku memiliki channel pribadi, sudah lumayan subscriber di sana. Jika aku kembali produktif dan mempromosikan akun itu, aku rasa bisa menjadi sumber pendanaan bisnis ini.
Aku masih di kantor, di saat semuanya sudah meninggalkan ruangan.
Seperti janjiku pada diri sendiri dan Winona, aku menelpon Sepia.
...📞...
“Halo...” jawabnya di seberang telepon.
Jika aku memulai dengan nada kesal, Sepia tidak akan mau bertemu denganku. Aku harus mencoba agar terdengar bersahabat.
“Hai, Sep... ini gue Jacob.”
Aku mendengar tarikan napas tajamnya. “Jacob? Kamu... oh... ada apa kamu, eh bentar...” nada bicaranya terdengar gugup. “Gimana kamu dapet nomor aku?”
“Dari suami lo. Gue ketemu sama dia,” ujarku, lancar sekali berbohong.
“Huh! Kok Gema nggak cerita?”
Tentu Gema tidak cerita! Dia akan menjelaskan pertemuan gagalnya dengan Winona!
“Kok kamu tahu suami aku?”
Ah, sial! Menipu orang yang sudah terbiasa berbohong, harus mengandalkan kecerdasan dan ketepatan bicara.
Aku menggigit bibir bawah, “gue ketemu sama Kim. Jadi kita ketemuan di Cafe, terus Kim bilang dia lihat suami Sepia. Gue penasaran dong, Sepia udah nikah, apa Wio...”
Aku sengaja menggantungkan kalimat. Jika aku mengatakan aku tertarik dengan kisah hidupnya, Sepia pasti tidak mudah percaya. Jika aku membawa nama Winona, pasti Sepia akan paham ke mana arah pembicaraanku.
“Oh, Kim.” Aku mendengar decihan pelannya, “kamu nelpon aku nanyain Wio, yakan?”
Apa aku bilang! Dari nada gusarnya, pasti Sepia tidak lagi membahas bagaimana aku bisa bertemu dengan suaminya. Topik pembicaraan sepenuhnya telah dialihkan.
“Ya, kalau gue boleh tahu nomornya. Lo ada akan?”
“Nggak! Gimana dong! Soalnya gue nikah, dan lo tau sendiri... Wio itu orangnya suka tebar pesona!”
Pipiku merah padam, mendengar kalimat itu! Yang suka tebar pesona justru dirinya!
“Suami gue itu pebisnis sukses. Kalau dia main mata sama suami gue, bisa-bisa anak dalam kandungan gue nggak punya keluarga yang utuh.” Rengekan terdengar di ujung kalimatnya.
Dasar wanita berhati iblis! Di saat Winona mementingkan perasaannya, Sepia malah menjelek-jelekkannya seperti ini!
“Ya udah, kalau lo nggak bisa ngasih kontak Wio. Gue cari sendiri!”
“Tapi, Jac...”
...📞...
Dengan kesal, aku mematikan sambungan telepon.
Usai aku mengembuskan napas kasar, teleponku berdering. Nama Mama terpampang di layar.
Firasatku tidak enak. Tapi jika aku abaikan, akan semakin menimbulkan masalah.
...📞...
“Halo Mah...”
“Kamu, ke rumah sekarang juga! Mama tunggu!” telepon dimatikan.
...📞...
Baiklah...
Aku tahu apa masalahnya. Aleia...