
🌻 Winona
Cemburu?
Justru aku merasa cemburu jika Jacob menutup pintu itu, lalu ia mengatakan padaku untuk tidak keluar. Dia akan jujur padaku, mengatakan ada wanita yang bersuara lembut datang mengunjunginya.
Lalu aku akan berdiam diri, bersembunyi seperti tukang selingkuh!
Aku mendengar pertanyaan Jacob, dan gadis itu dengan polos menjawab bahwa ia mendapatkan kartu akses dari ibunya Jacob.
Hmm, menarik. Menurutku, karena dari intonasi kesal pria itu, dia tidak suka jika ada yang mengakses apartemennya. Jika dia tidak suka gadis itu mendapatkan kartu akses, itu tandanya Jacob masih menyisakan ruang privasi!
Sedangkan aku? Di sini! Di dalam apartemennya! Jika aku cewek nakal seperti Sepia, aku rasa...
Oh! Mungkin tadi malam, sudah menjadi akhir dari keperawananku!
Aku terbangun tengah malam, karena merasakan ada yang memeluk pinggangku. Perlahan kesadaran masuk ke dalam pikiranku, saat aku mendengar deru napas di atas pucuk kepala.
Aku tidak tahu bagaimana awalnya aku bisa tidur di sofa itu, yang jelas, aku sadar sudah tertidur di samping Jacob. Dan aku membiarkannya!
Ah, ini pasti karena pelukan itu terasa hangat dan nyaman. Dan aku terlalu naif untuk berpindah tempat. Meski aku menyesali keputusanku, sepertinya Jacob berupaya agar insiden semalam menjadi sebuah ‘kecelakaan’. Dia tidak mengatakan apapun, seolah itu tidak pernah terjadi!
Sorot mata itu masih terlihat kesal, kening Jacob juga masih mengernyit. Meski aku penasaran dengan sosok gadis yang memberikan sarapan, aku tidak siap merasa kecewa oleh kenyataan.
Kenyataan bahwa Jacob telah memiliki kekasih lain.
Dan jika benar... lalu posisiku apa? Aku tidak mau menjadi perantara antara Jacob dan gadis itu! Aku tidak mau menjadi penyebab hancurnya sebuah hubungan.
“Jika benar Gema yang ngirim chat itu, pasti Sepia nggak tahu!”
Kalimat Jacob membuatku menggoyangkan kepala dengan pelan, kembali membawa kesadaran pada pria di hadapanku.
Mulutnya masih mengunyah salad, sedangkan pandangannya terlihat tidak fokus. Seolah awan asumsi menggelayut penuh di dalam pikirannya.
Apa dari tadi dia memikirkan masalahku dengan Gema? Karena aku pikir, Jacob masih kesal dengan kunjungan gadis sarapan.
“Sepia tahu pun, dia bisa apa?” ujarku pelan. Aku mengembuskan napas kalut. “Hari-harinya disibukkan jadi baby sitter. Yura masih berumur enam tahun, tapi dia sudah masuk les sana sini.”
“Yura?” tanya Jacob.
Aku mendecih pelan, “anaknya Gema dengan istri pertamanya. Perempuan itu meninggal dunia karena kecelakaan.”
“Oh...” bibir itu membulat, “jadi dia udah punya anak?”
Aku mengangguk, “gue awalnya dekat karena merasa simpati. Dia pandai sekali bercerita. Gue pikir dia pria yang hebat. Single parent yang tangguh, soalnya anaknya pintar banget.”
“Trus, kenapa kamu nggak jadi ibu sambungnya aja? Apa masalahnya?” pertanyaan itu terlontar dengan intonasi kesal.
Aku memikirkan pertanyaan Jacob sebentar. Mengapa aku menolak Gema?
Dua tahun yang lalu aku bertemu dengannya, seharusnya aku sudah bisa merelakan Jacob. Tapi mengapa aku tak bisa merasa?
Aku menggeleng pelan, “gue nggak tau kenapa gue nggak mau.” Aku menarik napas tajam, kemudian menatap kedua mata yang indah itu. Senyum kecil bermain di sudut bibirnya. “Gue nggak kepikiran lagi buat pacaran! Gue lelah, gue capek untuk berharap jika ujung-ujungnya, apa yang udah gue genggam tidak bisa gue miliki.”
Jacob menundukkan kepalanya. Senyum di sudut bibirnya perlahan memudar. “Apa karena aku, kamu...”
“Nggak juga!” selaku cepat. “Gue kagum sama lo, tapi apakah gue cinta sama lo? Mungkin jika hubungan kita berlanjut, rasa itu akan mengakar di hati gue. Tapi nyatanya, lo pergi. Mencabut segala rasa yang mulai tumbuh.”
Apa yang aku lakukan semalam, hanyalah sebuah hasrat! Aku merasa nyaman dengan sentuhan itu. Karena sebelumnya, aku tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya dipeluk seperti itu. Aku tidak mau mengulanginya. Takut...
Aku takut bermain dengan hasrat. Aku takut tersesat. Terbawa putaran panas yang mendebarkan dan menggairahkan.
Kita berdua sama-sama dewasa.
Dan aku rasa, hasrat pria lebih berbahaya. Seketika lagu Camila Cabello, Shameless, berputar di kepalaku.
Aku menarik napas dalam, lalu kembali membalas tatapan bingung Jacob. “Lo juga punya masalah. Jadi sekarang keknya...” tawa tercekatnya membuatku menghentikan kata.
“Aleia, kamu tahu siapa dia.”
Aleia? Oh, sepupu Jacob, anak kedokteran itu? Well, sekarang tentunya dia sudah menjadi dokter muda!
“Aku dijodohin sama dia.”
“Nggak tahu. Aku cuman nggak mau...” Jacob menghela napas berat.
Aku tertawa pelan, “apa karena aku, kamu...” aku mengulang kata-kata Jacob.
Pria itu kembali menatapku dengan cepat. Senyumnya kian lebar, “bisa jadi!” tawa kecilnya terdengar.
Aku ikut tertawa, merasakan suasana seperti roller coaster. Sebentar kesal, sebentar marah, sebentar kecewa, sebentar humor...
Ah... hanya pria di hadapanku yang mampu membuatku merasa seperti ini!
“Hari ini, aku akan ketemu Sepia! Aku kesal dia nggak ngasih kamu surat itu!”
Surat lagi? Aku memutar bola mata. “Emangnya, isi surat itu apa?” aku kembali menyesap latte yang sudah mulai dingin.
“Oh...” Jacob terdiam. Pikirannya sibuk mengolah kata.
Aku memberikannya waktu berpikir. Sementara sebelah tanganku sibuk memindahkan salad ke dalam mangkok.
“Itu, kata-kata gitu...” ia menggaruk kepalanya.
“Nggak ingat kata-katanya?”
“Ingat!” jawab Jacob cepat. “Cuman ya, aku pikir...” Jacob kembali menghentikan kalimatnya. Ia bergumam pelan, terlihat gugup.
Aku mendengar helaan napas beratnya. Lalu Jacob meraih botol mineral yang terletak di atas kabinet.
“Kamu suka serial yang cewek nyimpan surat buat cowok yang dicintainya itu...”
Aku mengernyitkan kening, mengingat judul film itu. “To All the Boys... that I...” aku menggeleng cepat. “Gue lupa!” dengusku.
“Pokoknya itu!” Jacob mengayunkan jari telunjuknya, “aku pikir kamu akan simpan surat terakhir dari aku.”
Aku terkekeh pelan, dengan tangan yang berhenti mengaduk salad. “Orang nyimpan surat cinta, gue malah nyimpan surat putus! Gimana sih.
“Kata-katanya nggak kejam kok...”
Ah, sekarang aku jadi penasaran! Terkutuklah Sepia! Tapi... “kok Sepia nggak ngasih ke gue?”
Jacob mendelikkan sebelah bahu, “dia masih suka mungkin sama aku.”
Sepia suka dengan Jacob? Huh! Kok aku tidak pernah menyangka! Tapi, aku tidak akan menyalahkan Sepia! Dan wanita manapun yang jatuh hati pada pria tampan di hadapanku ini!
“Jadi dia simpan surat itu buat...” aku menggeleng cepat. “Sepia itu teman aku! Meskipun dia nyebelin kadang-kadang... tapi dia nggak pernah...”
“Dia muka dua! Mungkin di hadapan kamu dia nggak tunjukin itu!”
Aku menggeleng cepat, “nggak! Nggak mungkin! Dia sering ngasih aku pinjaman. Dulu di akhir bulan, dia sering jajanin aku...”
“Emang kalian pernah sekantor?”
Aku menggeleng cepat menjawab pertanyaan Jacob.
“Kenapa? Apa nggak ada lowongan? Atau dia nggak mau kamu satu kantor dengan dia?”
Aku terdiam. Aku tidak pernah berburuk sangka dengan Sepia. Karena bagiku, dia sahabatku satu-satunya. Sedari kami SMA! Aku mengenalnya. Lalu kami kuliah, masuk jurusan yang sama.
Tidak mungkin Sepia bermuka dua? Lagian, selama ini, tidak ada tingkahnya yang membuatku terluka!
“Terserah kamu! Yang jelas, hari ini aku akan ketemuan dengan Sepia. Aku bilangin ke dia, gimana sikap suam...”
“Jangan!” potongku cepat. “Sepia hamil! Kasihan dia...”
Jacob mengembuskan napas berat. Ia menutup matanya sebentar, sebelum ia mengangguk pelan.
“Kamu gimana? Hari ini kamu di sini aja?”
Aku menggeleng cepat. “Ya balik ke kos! Ngapain aku... gue di sini!”
Aku tanpa sadar sudah mulai berucap dengan nada biasanya dengan Jacob. Dan itu meresahkan!