Yellow Flag

Yellow Flag
Pertengkaran


🚩 Jacob


Pagar besar bercat emas itu mengayun terbuka. Aku kembali menarik gas, mengendarai motor sport sampai ke halaman depan rumah. Melewati air mancur yang mendekorasi taman depan, aku menatap sekilas pada tambahan pahatan porselen


Sejak kapan ada pilar-pilar dan tanaman rambat itu ada di sana?


Memilih untuk menyelesaikan urusanku, langkahku mengayun cepat. Di seberang telepon, Mama terdengar marah. Aku pun juga merasa kesal! Bahkan aku jadi berpikir, jangan-jangan Mama yang menyuruh Aleia ke apartemenku!


Meski aku tahu, Mama pasti akan membela Aleia. Sedangkan aku? Mama selalu menuduhku playboy yang hanya suka mematahkan hati perempuan. Aku anak berandalan. Aku anak yang tidak memikirkan masa depan!


Pintu tidak dikunci. Aku mempersilahkan diriku sendiri untuk masuk. Langkah tergesa-gesa terdengar dari arah ruangan, yang terletak di samping kanan. Aku juga melangkah lebar menuju sumber suara.


Bi Anifah terkejut, matanya membulat lebar saat melihatku. “Oh, Mas Jac pulang!” tawa pelannya terdengar. “Kirain tukang paket... main nyelonong aja.”


Aku hanya tertawa pelan menanggapi Bi Anifah. “Mama mana Bi?”


“Di belakang, di kolam renang. Non Jessi sama teman-temannya lagi di...”


“Aku tunggu di ruang tamu aja,” potongku. “Bilangin ke Mama ya Bi.”


Perempuan pendek bertubuh ramping itu mengangguk cepat. “Okeh, siap meluncur!” ujarnya sambil meletakkan tangan di pelipis, memberi hormat.


Aku tertawa kecil mendengar respon Bi Hanifah.


Sekitar lima menit aku menunggu, sayup aku mendengar suara-suara yang datang mendekat. Ketika Mama masuk jarak pandangku, seketika sorot mata cerianya berubah kaku.


Mama duduk di kursi single, menghadapkan tubuh ramping hasil yoga dan sedot lemak itu padaku. “Kamu kenapa sama Aleia?” mulai Mama. Nada itu masih terdengar rendah.


Aku menghela napas pelan. “Mama kenapa ngasih kartu itu sama Leia?”


Mama mengernyitkan keningnya. “Emang kenapa? Dia Mama suruh ke sana, kalau kamu sempat...”


Jadi benar dugaanku! Mama yang menyuruh Aleia untuk datang ke apartemenku.


“Kamu sarapan bareng ya sama Jacob! Itu aja kok.” Mama menarik napas tajam. Sudut bibirnya yang disulam sedikit berkedut. “Kamu tahu waktu Aleia itu nggak banyak! Dia itu dokter muda. Masih sibuk-sibuknya. Dia bela-belain datang pagi-pagi cuman buat sarapan bareng sama kamu! Tapi kamu malah marah karena kartu itu!”


“Aku nggak marah kok Mah!” aku menggeleng pelan. “Aku cuman...”


“Apa?” sela Mama. “Nggak marah kamu bilang? Aleia nangis, terus kamu malah...” Mama melambaikan tangannya di udara, “main nutup pintu!”


“Ya terus aku suruh dia masuk? Aku lagi mandi! Itu aja aku nggak pake apa-apa!”


“Kamu gila?!” sorak Mama, nada itu sedikit meninggi. “Kamu...” Mama menggeleng pelan. Embusan napas kasarnya terdengar. “Mama nggak mau tahu, kamu sekarang ajak dia lunch. Minta maaf atas perlakukan kasar kamu!”


Aku mengernyitkan kening, merasa hal ini seharusnya tidak dibesar-besarkan. Meminta maaf pada Aleia, kata Mama? Atas persoalan yang aku sendiri tidak salah!


Lalu apa reaksiku yang tepat? Oh, seharusnya aku berbicara lemah lembut seperti bicara pada anak kecil? Apa Aleia sebegitu rapuhnya, di saat nada suaraku sendiri tidak begitu tinggi, dia malah langsung menangis?


“Kenapa kamu diam aja? Cepat kamu telepon Aleia!”


Aku membalas tatapan Mama. Aku tidak boleh terpancing amarah! Jika aku balas berteriak, Mama hanya akan semakin menyudutkanku. Aku tahu kata-kata pamungkas Mama, ‘kamu sama saja seperti Papa kamu! Keras kepala dan egois!’


Setiap kali aku beradu argumen dengan Mama, pada ujungnya, kalimat yang sudah seperti quote itu akan keluar dari mulutnya.


Aku berdiri. Mama mengernyitkan keningnya. “Telepon Aleia?” tanyaku dengan kekehan mencemooh. “Kalau Mama peduli, Mama aja yang telepon.”


Aku berlalu begitu saja. Namun tangan Mama dengan sigap menggenggam pergelangan tanganku. “Kamu kenapa, sama saja seperti Papa kamu! Keras kepala dan egois!”


Aku mengembuskan napas kecil. Aku pikir, sudah terbebas dari quote itu. Nyatanya, takdir tidak membiarkanku lolos tanpa kata-kata andalan itu.


“Iya Ma. Aku keras kepala dan egois!” aku menarik tanganku. “Jadi jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak aku suka! Aku nggak salah, untuk apa aku minta maaf.”


Aku tertawa pelan, berlagak mencemooh. “Mulia? Dia digaji besar kok Mah. Yang punya rumah sakit ayahnya! Kalau dia bekerja di rumah sakit pemerintah, melayani pasien BPJS, dengan keramahan yang dia tunjukkan sekarang saat melayani pasien VIP... aku bakal bangga Ma!”


“Oh, emang salah dia mendapatkan semua privilege itu? Dia nggak pantes gitu?”


Aku menghela napas pelan, “bukannya nggak pantas, tapi apa yang akan dibanggakan? Dia mendapatkan itu semua dengan sendok emas di mulutnya!”


“Terus apa, kamu prefer cewek seperti mantan nggak tau diri kamu itu? Yang nggak punya apa-apa, malah kerjaannya morotin kamu terus?”


Aku tidak terima Mama mengatakan itu! Mama hanya tidak mengerti persoalan dari rumitnya hubungan tanpa adanya ketertarikan finansial!


“Aku sama Aleia bukannya sama?! Bedanya Mama yang morotin keluarga Atmadja! Dan lagian, Wio nggak pernah morotin aku Mah. Lagian Mama nggak ngaca? Mama nggak morotin suami Mama?”


“Kamu kenapa jadi gini?!” bentak Mama. Ia mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk ke arah wajahku. “Sejak kapan kamu berani ngomong nggak sopan gini sama Mama? Pasti karena Papa kamu yang ngajarin kamu nggak bener, selama kamu di sana!” Mama menggeleng cepat, sorot matanya semakin menegang. “Lima tahun kamu di Berlin! Kelakuan kamu sudah nggak beretika!”


“Mama yang selalu benar,” ucapku datar. Aku kembali melangkah cepat, meninggalkan rumah megah yang dingin itu dengan perasaan gusar.


Aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Tujuanku ke rumah sakit. Aku akan menemui Aleia. Bukan untuk meminta maaf, aku ingin menanyakan satu hal padanya.


Aku langsung memarkirkan motor, lalu mengambil ponsel. Menekan kontak Aleia, panggilanku diangkat pada deringan ketiga.


“Halo,” ujarnya, suara itu terdengar lembut.


“Gue di parkiran. Lo bisa keluar sebentar?”


“Hmm,” gumamnya dari seberang, “tunggu bentar ya. Aku ada pasien.”


Ini yang tidak aku suka! Jika aku dengan Aleia, aku harus siap menjadi nomor dua. Dan aku tidak bisa menerima itu. Untuk itu aku melepaskan hubungan ini sedari awal!


Dua puluh menit aku menunggu, hingga akhirnya aku melihat langkah anggun Aleia. Ia berlari kecil, menyusuri halaman parkir rumah sakit.


“Maaf ya, kamu nungguin lama.”


Kedua mataku menangkap dua wanita lainnya sedang menatap ke arah kami berada. Keduanya melayangkan lirikan singkat. Senyum di wajah mereka membuatku menduga, mereka sengaja keluar, mengikuti Aleia. Mungkin ingin melihatku.


“Aku ke sini cuman mau bilang, kalau...” aku kembali menatap kedua mata Aleia.


Sejujurnya, dia gadis yang lembut. Benar kata Mama, bukan salahnya terlahir di keluarga kaya. Dan keluarga itu sudah menyediakan segala kebutuhan gadis itu. Dia hidup nyaman dengan segala kelebihannya...


Satu-satunya yang menjadi masalah di hidupnya adalah aku!


“Kalau?” tanya Aleia.


Aku mengembuskan napas pendek, “aku balikan sama Wio.”


Kedua mata gadis itu membulat lebar. Bibirnya juga terbuka karena terkejut.


Aku sendiri, tidak tahu mengapa lancar mulutku... mengucapkan kalimat itu!


“Winona?” lirihnya pelan. Sebelah tangannya sedikit bergetar.


“Jadi aku mohon sama kamu, bilangin ke Papa aku, supaya bisa ngertiin aku. Kalau Mama, kamu tahu sendiri, Mama nggak suka sama Winona.”


“Kena-pa Winona?” Pertanyaan itu keluar dengan sedikit nada terbata.


Aku mengernyitkan kening, memikirkan sesaat jawaban dari pertanyaan itu.


“Kata Agnes-Mo, cinta tak ada logika. Jadi jangan tanya kenapa, hanya hati yang tau rasa.”