
🌻Winona
Hati ini mengkhianati luka yang pernah ditorehkan. Separuhnya masih takut untuk kembali percaya. Namun separuh lagi, bagian yang terluka itu… justru memberi tanda. Pada setiap pertemuanku dengan Jacob, masih saja aku merasa bahagia.Â
Meski sekarang, aku tahu siapa saja yang akan aku hadapi jika tetap menginginkan kebersamaan dengan Jacob. Aleia bahkan keluarga besar Atmadja. Memikirkan untuk kembali bertemu ibunya Jacob saja sudah membuat aku merasa was-was.Â
Meski terakhir bertemu, dia sedikit menyunggingkan senyum padaku. Bukan senyum senang karena bertemu denganku. Melainkan senyum kecut yang tampak congkak. Aku tahu, mungkin dia bahagia karena akhirnya Jacob meninggalkanku.
Aku mengembuskan napas kasar. Mematut wajah lelahku dari pantulan cermin bundar.Â
Tadi Jacob mengatakan bahwa ia bertemu dengan Sepia? Dan bahkan Sepia menyetujui untuk diadakan pertemuan lanjutan! Memikirkannya, membuatku tidak bisa memproses perasaanku sekarang. Karena perkataan Jacob mengenai Sepia yang munafik, dan percakapan terakhir kami di telepon, memberikanku kesan yang negatif.Â
Aku selalu memiliki pikiran positif pada sahabatku itu. Setelah perkataannya kemarin di telepon, belum lagi apa yang Aleia katakan tadi siang…
Tampaknya memang benar, Sepia diam-diam membenciku!
Aku memaksa diri untuk membuka draft kerja. Berharap berkas-berkas yang butuh diedit itu bisa mengalihkan pikiranku dari Jacob dan rencana pertemuan dengan Sepia!
Pertengahan bulan ini, Divana, adik perempuanku, ada proyek kelompok. Dia meminta tambahan uang jajan padaku. Semoga aku bisa mendapatkan bonus dengan menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu.Â
Jam di layar ponselku menunjukkan pukul 00.45. Mata ini juga sudah semakin berat untuk tetap dibuka. Aku menyimpan draft terakhir, lalu mematikan laptop. Punggungku sudah menegang. Begitu pun persendianku rasanya sudah mulai kaku untuk digerakkan.
Kasur terasa nyaman, di saat tubuh dan pikiranku terasa lelah.Â
...***...
Senin selalu saja menjadi hari terberat. Bahkan raut wajah tak bersemangat orang-orang di dalam bus metro terlihat sama. Mata terkantuk, dengan ekspresi lesu.Â
Aku menikmati perjalanan dari halte menuju kantorku. Sekarang, jalanannya tampak rindang dengan adanya pohon peneduh. Genggaman laptop di tangan kananku semakin mengerat, di saat aku mempercepat langkah kaki.Â
Seperti biasa, pekerjaan yang monoton membuatku cepat bosan. Aku masih mengedit sisa draf yang masih ada tiga judul lagi. Namun tak terasa, waktu makan siang hampir tiba.Â
Senyum Ginara terlihat riang, “Win, ada yang nyariin lo tuh.”
Keningku mengernyit dalam mendengar perkataan Ginara. “Gue pikir lu ngajak makan siang.” Aku menghela napas, lalu kembali menatap layar laptop.Â
“Iya rencananya sih gitu. Tapi keknya dia ngajak lo makan siang deh…” ucap Ginara. Raut wajahnya kelewat girang.Â
Siapa si dia ini?Â
“Kok lo senang gitu sih?” tanyaku penasaran. Aku menyimpan pekerjaan terakhir, lalu mematikan monitor. “Lu boongin gue ya? Jangan bilang temen lu yang si Bujang dari sebelah yang…
Ginara menggeleng cepat, “nggak! Ini beda, Win! Style ni cowok aja berkelas. Terus suara berat nan dalam itu…” tatapan Ginara menerawang ke atas, begitu juga dengan tangannya. Melambai antusias di udara. “Kulit eksotisnya, dengan tatapan sipit nan tajam.”’
Tatapan sipit? Kulit eksotis? Setelan mahal?
Tunggu… jangan katakan….
“Bau parfumnya aja bikin pengen meluk lama-lama.”Â
Aku berdiri cepat. Napasku rasanya tercekat. Dan aku sangat ingin menyangkal keadaan! Karena aku tak yakin dengan apa yang barusan aku dengar.
Langkahku mengayun cepat. Ginara hanya menatapku dengan sorot tercengang. Aku mendengar langkah dari hak sepuluh centi itu mengekor di belakangku.
Ketika aku membuka pintu, aku mendapati senyum lebar dari wajah berahang persegi itu. “Ngapain lo di sini?” tanyaku langsung. Nada suaraku terdengar gusar.Â
“Siang Wio. Apa kabar?”Â
Keramah tamahannya membuatku mendengus. “Ngapain lo ke sini?” ulangku bertanya.Â
Senyum Gema masih sama. Terlihat genit. Membuatku ingin pergi saja dari hadapannya.Â
“Kita makan siang bareng yuk,” ajaknya. Suara berat itu masih terkesan lembut di telinga.Â
Aku menatap Gema nyalang, “lo kenapa sih? Udah gue bilang jangan ganggu gue!”
“Gue nggak ganggu lo.”
“Terus kenapa pakai chat gue dengan nomor Sepia segala?”
Gema mengembuskan napas berat, “itu…” ia menggaruk pelipisnya. Tatapan mata sipit itu jatuh ke bawah.Â
“Ngapain lo di sini?” ulangku gusar. Sudah tiga kali aku mengucapkan kalimat yang serupa.
“Ada yang mau gue omongin.”
Aku menyilangkan tangan di dada, sebelah kaki ditekuk. “Apa?”
“Soal Jacob. Dia…”
Aku tertawa mencemooh, “bukan urusan lo! Urus aja istri dan calon anak lo. Mereka itu masa depan lo! Jangan lo hubungi gue lagi!” Aku berbalik.Â
Sebelah tanganku ditarik, membuatku reflek menoleh dari balik bahu. “Gue belum selesai.”
Aku merenggut kasar tanganku, “jangan sentuh gue!” genggaman tangannya terlepas.Â
Gema mengembuskan napas kasar. Ia merogoh saku jas coklat yang ia kenakan. Mengeluarkan ponsel dari dalam sana. “Lo lihat dulu ini,” ujar Gema sambil memperlihatkan layar ponselnya padaku.Â
Aku menghela napas tajam. Jika aku menolak, akan ada momen di mana Gema kembali menarik tanganku. Atau dia akan membuat keributan di kantorku. Aku tahu betul sifat Gema! Dia orang yang nekat.Â
Foto di layar membuatku menahan napas. Aku bahkan mengambil ponsel Gema, demi melihat secara jelas foto itu. Karena entah mengapa, ada sedikit ruang di hatiku yang membuat aku tak percaya dengan apa yang aku lihat!
Ini foto Jacob dan seorang perempuan berambut panjang bergelombang. “Itu Jacob sama cewek di Club. Gue denger lo balikan.”
Aku mengembalikan ponsel Gema. Berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi kecewaku pada buaya di hadapanku. “Bukan urusan lo. Udah gue bilangin tadi.”Â
Gema menghela napas, “gue tahu! Tapi lo nggak bisa paksa gue untuk berhenti peduli sama lo!”
Aku tertawa pelan, terkesan mengejek. “Terserah lo! Gue nggak peduli.” Aku berbalik.Â
“Kenapa Jacob? Kenapa lo nggak bisa kasih gue kesempatan?”
Keningku mengernyit dalam mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Gema. Aku kembali menghadap pria itu. Ekspresi polos tak bersalah tergambar di wajah good looking itu. Akan mudah untuk jatuh cinta padanya, jika saja aku tak mengenal bagaimana watak manipulatif Gema.Â
“Lo gila apa? Lo sadar, kalau lo itu udah nikah dan punya anak? Masih saja lo ngomong gitu ke gue!” nada suaraku tidak terlalu tinggi. Aku tidak ingin terdengar oleh kuping-kuping di sebalik dinding.Â
“Iya,” Gema mengangguk. “Gue gila. Gila menginginkan lo, Wio…”
Ingin aku tampar wajahnya. Ternyata ada orang yang menyebalkan dan tidak tahu diri seperti Gema di dunia ini! Bahkan dia dengan nada mengiba, dan tatapan polos mengucapkan hal-hal yang tidak sepatutnya laki-laki beristri ucapkan pada gadis lajang sepertiku!Â
“Sekali aja… kita liburan ke Labuan Bajo. Hanya aku dan kamu aja…”
Aku tercengang mendengarnya. Bahkan merasakan desiran dingin di punggungku. “Lo nggak ada otak ngomong kek gitu!” Aku merasa geram. Ingin berteriak kasar padanya. Namun aku tahu, perbuatan itu hanya akan mempermalukan diriku sendiri.Â
Aku hanya berlalu, dengan langkah cepat menuju toilet di ujung lorong.