Yellow Flag

Yellow Flag
Mati Rasa


🚩 Jacob


Emosi yang tertahan membuatku mengepalkan tangan dengan erat. Aku tidak berani menatap kedua mata yang kini berkaca-kaca, siap menetas jika aku salah bicara. Aku yang menorehkan luka pada jiwa gadis polos itu, membuat hati dan pikirannya terjerat. Di saat aku tak yakin, apakah cinta atau hanya rasa kagum yang gadis itu miliki untuk diriku yang juga punya luka.


Tidak pernah aku menyangka, perceraian


orang tua memberikan dampak pada kesehatan mentalku. Aku tidak percaya dengan komitmen. Di pikiranku, komitmen hanyalah janji palsu yang akan diingkari dengan mudahnya.


“Kenapa nggak lo… langsung saja beri ke gue ?!” suara itu bergetar.


Aku kembali mengingat momen lima tahun lalu. Saat aku pergi ke kos Winona untuk mengucapkan selamat tinggal. “Kamu waktu itu sedang pulang kampung. Hanya ada Sepia di kos…”


“Pulang kampung?”sela Winona. Tawa kecil, terkesan mengejek keluar dari bibirnya. “Kapan aku pulang…”


Bunyi berdenting pelan terdengar. Pintu lift otomatis terbuka. Aku melangkah keluar.


“Sepia yang bilang,” ujarku sambil jalan. “Kalau kamu pulang…”


“Gue nggak pernah pulang! Ibu gue yang datang ke sini.” Winona terdengar geram. Sebelah tangannya menyangkutkan helaian panjang rambut halus itu ke belakang telinganya.


Jika aku perhatikan, wajahnya sedikit memerah.


“Mengapa Sepia berbohong?!” ucapnya tak percaya.


Aku membuka pintu, mempersilahkan Winona masuk duluan. Gadis itu tidak menatapku. Sebelah tangannya menggenggam erat tali tas hitam yang ia sandang.


Aku bisa menduga, kenapa Sepia kesal pada Winona. Meskipun Winona selalu baik, juga perhatiannya pada Sepia terkesan tulus. Namun gadis itu menyimpan rasa iri pada Winona.


Sepia menyukaiku. Gadis itu tahu aku tidak benar-benar mencintai Winona saat aku menjalin hubungan dengannya. Sepia tahu, aku berpacaran hanya karena aku tidak ingin dijodohkan oleh Eyang.


Waktu itu Eyang hanya bisa mengangkat kedua bahunya pasrah. Aku masih ingat kata-kata eyang, ‘cinta yang berapi-api hanya akan berkobar sebentar. Jika kamu sudah bosan bermain dengan gadis manis itu, satu pesan Eyang… putuskan dia dengan baik-baik. Meski hatinya tetap hancur, namun itu tidak akan sehancur kamu yang hilang tanpa kabar.’


Ironi.


Aku pikir, sudah mengakhiri hubungan itu dengan baik-baik. Ternyata, apa yang ditakutkan Eyang yang terjadi pada hubunganku dan Winona.


Aku paham posisiku di mana sekarang. Aku tahu Winona merasa kesal padaku. Dan aku tahu, dia benci merasa tak berdaya seperti ini!


Jika saja aku tidak pulang dengan Winona sekarang ini, mungkin saja aku masih di cafe. Mengobrol hingga larut malam dengan teman-temanku. Tapi apa yang terjadi jika aku tidak keluar, memutuskan untuk mencari dan mengantar Winona pulang? Bisa saja Gama brengsek itu sudah memaksa Winona untuk ikut dengannya!


Dari sekian banyak skenario, aku merasa lega karena bisa menjelaskan masalah terbesar dari hubunganku dengan Winona secepatnya. Entah dia mau mengunjungiku besok, yang terpenting sekarang… Winona bersamaku.


“Aku tahu kamu nggak mau dengerin penjelasan aku,” ujarku sambil menghidupkan lampu utama. Aku memutar tubuh, melirik Winona yang terus melangkah menuju ruang tamu. “Jika benar Sepia tidak memberikan pada kamu surat itu, aku…”


“Tidak penting sekarang!” Winona memutar tubuhnya cepat. Kedua mata itu menatapku bulat. “Apa gunanya mengetahui itu sekarang? Apa bisa mengembalikan keadaan? Apa bisa membuat gue kembali percaya?” Tawa tercekat itu terdengar. Seolah mencemooh.


Kedua mata itu tidak menatapku. Wajah itu berpaling, menghadap ke jendela kaca.


“Kenapa! Kenapa lo datang lagi ke kehidupan gue….” desisnya pelan. Gelembung bening menetes ke pipi tirusnya. Aku mendekat, merentangkan tanganku di udara. Winona melangkah mundur, mengusap kasar pipinya.


Aku merasakan luka yang kembali menganga, mengisi celah pada retakan hati yang rusak. Aku tak pernah menyesal meninggalkan Winona!


Karena aku pikir, dia akan menemukan pria yang mencintai dan menjaganya lebih baik dariku! Sebelum cinta itu semakin dalam, aku meninggalkannya!


Dan sekarang…


Sepertinya semesta belum usai merangkai kisah kita. Di hari pertama kepulanganku ke Indonesia, aku dipertemukan lagi dengan Winona.


Gadis itu duduk di sofa bulat. Kedua tangan yang gemetar itu menyembunyikan wajahnya.


Oh, sialnya… aku tidak merasa! Aku begitu mati rasa untuk bisa bersimpati!


Aku tahu aku peduli! Tapi… mengapa tidak ada percikan rasa bersalah bersarang di hatiku?


Meskipun begitu, aku sangat ingin mendekat. Mendekapnya erat dalam pelukanku. Menenangkannya. Mengatakan padanya, ‘aku ada di sini’.


Tapi untuk apa aku berkata demikian? Memberikannya harapan palsu lagi?!


Jika aku mendekat dan menepuk pundaknya pelan, maukah Winona….


Ada satu hal yang harus aku katakan pada Winona. Aku mengembuskan napas berat. “Maafkan aku Wio. Seharusnya….”


“Gue lelah Kubi,” ujarnya pelan.


Kubi….


Senyum kecil tertarik di sudut wajahku yang terasa kaku. Ada sedikit rasa bahagia tersemat di hatiku saat mendengar panggilan itu.


“Sorry gue gangguin private space lo. Gue harap, nggak ganggu lo di sini.” Suara datar itu membuatku tak bisa mengatakan apapun.


Di saat Winona bersikap dingin, sekarang hatiku bisa merasa? Aku merasakan pilu di dada! Jika Winona marah dan berteriak, aku akan merasa dihakimi. Dan keduanya tidak buruk!


Meskipun sikap dingin dan tenangnya membuatku khawatir. Aku tidak mau Winona menyimpan duka itu seorang diri! Apalagi, aku lah yang menjadi sumber luka itu!


Kedua mata yang masih berair itu kembali menatapku. “Gue bakal tidur di sofa, kalau lo…”


“Nggak,” aku menggeleng cepat. “Please Wio, aku juga lelah membantah kamu terus. Tapi tolong, kamu tidur di dalam. Biar aku di sini!”


Winona berdiri, langkahnya mengayun cepat. Sorot matanya menuju sofa yang terletak tiga langkah dariku.


Aku mengambil langkah lebar, lalu duduk di sofa. Winona menghentikan langkahnya. Temaram lampu gantung membuat separuh wajahnya tak terlihat.


Apa ini nyata? Melihat Winona berdiri di hadapanku… rasanya seperti mimpi!


Rambut panjang itu terurai, membingkai wajah ovalnya yang manis. Mata almond itu masih saja terlihat innocent! Bibir itu… aku pernah mengecupnya sekali.


Dan itu hampir saja membuatku hilang kendali! Aku tidak mau menodainya. Meskipun saat itu, hasrat menenggelamkan rasionalitas. Aku masih ingat, ketika Winona menarik diri. Bisikan rendah suaranya menjadi musik di telingaku.


Winona tertawa pelan, ‘bad boy! Ini godaan. Kamu tahu? Apa kamu pernah…’ Winona mendengus kecil. Ia mengibaskan tangan di depan wajahnya. ‘Jaga aku ya. Aku nggak mau menyesal karena kita terbakar hasrat.’


Aku menggelengkan kepala dengan cepat, mengenyahkan sisa-sisa gambaran Winona yang menyandarkan kepalanya di pundakku.


“Kamar aku di sana,” ucapku sambil menunjuk ruangan di belakang Winona.


Gadis itu berpaling sebentar, sebelum ia kembali menatapku. “Keras kepala banget jadi orang!” dengusnya.


“Oh, kamu mau di sini? Jangan salahin aku kalau tiba-tiba aku keluar, trus angkat kamu. Terus aku kepikiran untuk tidur di samping kamu.”


Winona menarik napas tajam. “Kalau mau buat dosa sendiri aja! Jangan sampai gue kena imbas.”


Aku tertawa pelan. Sepertinya suasana kembali hangat. “Makanya kamu tidur di dalam aja. Ya?”


Winona tidak menjawabku. Gadis itu hanya menghentakkan kakinya, dan berlalu begitu saja.


Ketika Winona sudah masuk ke dalam kamar, aku meluruskan kaki. Meregangkan tubuhku di sofa beludru ini.


Besok, aku akan bertemu Sepia! Aku akan konfirmasi pada gadis itu, mengapa dia tidak memberikan surat itu pada Winona!