Yellow Flag

Yellow Flag
Konfrontasi Aleia


🌻 Winona


Senyum manis itu tidak menyentuh matanya. Kecanggungan yang aku rasakan membuat langkah kaki terasa berat. Bagaimana pun, ada hal yang ingin aku luruskan dengan Aleia. Untuk itu aku menyetujui ajakannya untuk bertatap muka.


“Makasih ya, udah mau ketemu sama gue.,” mulai Aleia. Nada itu terdengar datar, namun anehnya terasa dingin. Begitu juga dengan tatapan fokus dokter muda itu padaku.


Aku mengangguk pelan, “gue juga mau ngomongin sesuatu.” Karena aku tahu, hanya ada satu nama yang menjadi penghubung pertemuan aku dan Aleia.


Cukup lama rasanya, kami saling beradu pandang. Hingga akhirnya aku berdehem pelan. “Masalah Jac...”


“Gue tahu,” sela Aleia. Aku terdiam, dengan bibir yang masih sedikit terbuka. “Tapi gue cuman nggak mau lo kecewa,” imbuhnya cepat.


Kecewa? Mengapa Aleia sok peduli padaku!


Aku menghela napas kecil. Baru terlihat olehku, cup berisikan matcha latte di atas meja. Dilihat dari bulir air yang berada di sisi luar gelas itu, sepertinya Aleia sudah sampai lebih lama dari perkiraanku.


Tadi kami berjanji untuk ketemuan jam dua. Sekarang, baru jam dua lewat dua menit.


“Karena gue dan keluarga Jacob udah merencanakan pernikahan.”


Kalimat itu seperti pengumuman penting yang membuat pikiranku berhenti untuk berpikir. Merencanakan pernikahan katanya? Jadi benar, Jacob belum mengatakan yang sebenarnya! Jika aku tidak benar-benar balikan dengan pria itu.


Mengapa Jacob masih saja menggunakan alasan itu untuk menolak Aleia? Dan sekarang, lagi-lagi aku yang kena konfrontasi!


“Urusannya sama gue apa?” tanyaku, berpura-pura polos.


Aleia tersenyum kecil, “Jacob bilang kalian balikan. Tapi gue...” ia mendelikkan sebelah bahu. “Nggak percaya. Karena gue pikir Jacob cuman cari alasan.”


“Kenapa dia cari alasan segala?” tanyaku, masih dengan nada datar.


Gadis di hadapanku melebarkan matanya. Rahangnya tampak ditarik tegas. “Dia masih gengsi aja. Karena dia masih merintis usahanya,” jawab Aleia.


Entah kenapa, nada suara Aleia membuatku merasa kesal. Niatku yang awalnya ingin bicara baik-baik, berubah menjadi perdebatan sengit. “Terus tujuan lo nelpon gue, ngajak gue ketemuan buat apa?”


Aleia menghela napas, “gue cuman pengen memperjelas aja. Biar lo nggak ngasih sisa rasa yang masih lo simpan buat Jacob.” Sebelah alis gadis itu sedikit terangkat, “karena dia, nggak peduli sama lo. Dia cuman peduliin egonya saja.”


Kata-kata itu terdengar halus, namun kalimatnya menyakitkan. Aku memang sudah menyerah memberi hatiku untuk Jacob. Tapi mendengar Aleia berkata seperti itu, membuat jantungku bergemuruh dengan rasa cemburu.


Seolah gadis itu telah memiliki hak atas Jacob! Sedangkan aku? Hanya pembatas jalan yang bisa disingkirkan, ketika Jacob sampai pada tujuannya. Yaitu memiliki bisnis yang stabil dengan jerih payahnya sendiri!


“Lo nggak perlu peduliin gue!” ujarku, terdengar geram. “Gue juga udah bilang ke Jacob, untuk nggak bawa-bawa nama gue. Tapi dia tetap aja nggak ngasih klarifikasi. Malah dia bilang masih sayang sama gue.” Aku mengambil napas dalam sebelum melanjutkan kalimat. “Jadi lo harus bilang ke Jacob sendiri, buat berhenti...”


“Lo kenapa sih?” potong Aleia. Aku melihat wajahnya sedikit memerah. Sorot mata itu juga tampak tajam. “Lo masih suka sama Jacob kan? Lo seneng, dia bilang kalian balikan. Padahal aslinya, kalian cuman ketemuan doang!”


Aku mendengus kesal, “lo yang kenapa! Kok jadi marah gini sama gue?”


Tawa kecil Aleia terdengar mengejek. “Bener ya kata Sepia. Kalau lo tu cewek yang suka mengganggu hubungan orang!” Aleia semakin terdengar ketus.


Mendengar nama Sepia disebutkan membuat jantungku bergemuruh menahan emosi. Entah kenapa, rasa kesal itu berubah menjadi geram sekarang!


“Tadi pagi gue ketemu sama Sepia. Dia yang ngasih nomor lo ke gue.” Senyum kecil itu terlihat mengejek, “dia lagi hamil! Tega ya lo, gangguin rumah tangga sahabat lo sendiri!”


Aku mendengus muak. Benar-benar merasa muak melihat wajah Aleia!


Decihan pelan terdengar dari bibir Aleia. Senyum kecil itu masih terukir, mengejekku dengan tawa rendahnya. “Wah! Hebat ya lo. Tadi ngakunya, Jacob yang sayang sama lo. Sekarang, Gema juga mau sama lo. Make jasa pelet di mana lo?”


Aght!


Aku sangat ingin berteriak! Namun Aleia pandai bermain kata. Aku harus tenang. Menyusun kata-kata yang tak kalah pedasnya. Aku tahu, Aleia juga sama kesalnya denganku sekarang.


Karena dari tadi, wajahnya semakin memerah saja!


“Lo pengen tahu? Huh!” aku mengangkat dagu sedikit. “Kalau lo mau nikah sama Jacob, silahkan. Tapi kalau Jacob nggak mau sama lo, lantas itu salah gue?”


Bibir Aleia yang dipoles lipstik peach, bergetar pelan.


Aku menghela napas berat, “sialnya,” ujarku dengan nada mengejek. “Jacob cuman anggap lo adik. Nggak bisa lebih! Jadi ya, lo yang harusnya jaga perasaan lo. Karena nyatanya cinta lo, masih aja bertepuk sebelah tangan.” Senyum kecilku terkesan mengejek, menyamai ejekan Aleia tadi.


Aleia memutuskan kontak matanya dariku. Kening gadis itu mengernyit dalam.


“Tapi kalau lo cinta sama Jacob, rela berkorban...” ucapku lagi. Teringat alasan Jacob tak mau menikahi Aleia. Meski aku kesal dengan gadis di hadapanku, yang dia lakukan padaku tidak sepenuhnya bisa aku salahkan.


Aleia terbakar cemburu. Dari sudut pandangnya, aku yang disalahkan karena telah menjadi penghalang di antara hubungan mereka.


Dokter muda di hadapanku kembali menatap kedua mataku. Bibirnya terkatup rapat. Sepertinya, ia mau mendengarkanku.


“Dia cuman mau wanita yang tidak sibuk dengan pekerjaannya. Dia ingin pulang ke rumah, melihat istrinya di sana. Tapi lo...”


Aleia tertawa pelan, “keluarga tradisional? Apa bisa berhasil?” Suaranya terdengar bergetar. “Apa dia nggak selingkuh di luar sana, dan bilang istrinya nggak kerja? Cuman jadi beban. Ujung-ujungnya cari wanita lain yang tetap berkarir.”


Kalau begini, susah memang menyatukan dua kepala yang sudah berbeda ideologi!


“Lo aja nggak percaya sama Jacob, kenapa lo nikah sama dia?”


“Ya, makanya gue kerja!” ketus Aleia


Aku tertawa, terkesan mengejek, “apa bedanya? Trus nanti dia cari selingkuhan yang cuman mau ngurusin rumah. Jadi beban dia. Karena dia suka itu!” Aku menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Jacob pernah bilang ke gue, ‘untuk apa dia bekerja? Kalau istrinya juga bekerja?’ Jacob pengen jadi tumpuan untuk keluarganya. Dia juga ingin waktu bersama keluarga. Lo tahu, orang tuanya cerai karena mereka sama-sama sibuk!”


Aleia kembali memalingkan mukanya. Ia menatap meja dengan pandangan kosong.


“Gue nggak tahu itu...” lirihnya pelan.


“Luka batin dari perceraian itu menghancurkan mentalnya. Dia nggak ingin kejadian itu berulang. Sedangkan lo, punya trust issue sendiri.” Aku menghela napas kecil. Entah mengapa, pertemuanku dengan Aleia hanya menyisakan sesak di dada.


“Gue bukan penghalang hubungan orang! Lo nggak tahu apa-apa masalah gue dan Sepia, sama suaminya.” Aleia kembali menatapku, namun sekarang, sorot matanya berubah sendu.


Aleia gadis polos. Mudah sekali bersimpati. Jika dia merasa kesal padaku, setelah mendengar cerita Sepia, berarti temanku itu benar-benar marah padaku.


Aku harus bertemu Sepia! Menanyakan langsung apa masalahnya denganku. Aku bukan menggoda suaminya, tapi memang suaminya yang buaya darat!