
🚩 Jacob
Aku mengambil ponsel, langsung mencari kontak Sepia pada layar datar itu. “Kamu tahu di mana rumah Sepia?” tanyaku. Sudut mataku masih melirik wajah Winona yang terlihat bingung.
Gadis itu menghela napas pendek. Ia menggelengkan kepalanya pelan. “Gue nggak tahu,” ujarnya datar.
“Aku akan tanya sama dia. Aku nggak terima dia nggak ngasih tahu kamu apa-apa! Kamu nyalahin aku terus, yang hilang begitu aja dari hidup kamu.” Wajah Winona sedikit terangkat, matanya membulat lebar. “Kalau aku sebutin pun apa isi suratnya, pasti kamu juga akan... nggak terima! Aku mau, kamu baca surat itu sendiri!”
Kening Winona mengernyit dalam, Sudut bibirnya sedikit berkedut.
Ponselku berdering. Nama Papa tertera pada layar. Aku mendecih pelan, membuang muka ke samping.
Aku kembali melirik Winona. Sorot matanya terlihat penasaran. Kedua tangannya sekarang sudah disilang di depan dada, memeluk ujung cardigan abu-abu itu dengan erat.
“Halo, Pa...”
“Kamu di mana?”
“Kenapa tanya aku di mana?”
Helaan napas panjang terdengar, “Eyang Bagaskara pengen ketemu sama kamu.”
Aku menghela napas berat. Tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung. “Nanti aku ke sana,”
“Ya udah, kamu makan malam di rumah ya...”
“Iya, Pa.”
Ah, sial! Ini yang aku mau bukan? Tapi kalau bawa Eyang Bagaskara, aku tahu akhirnya bagaimana!
“Kamu kenapa?” suara lembut itu terdengar penuh perhatian.
Aku kembali menatap Winona. Sorot mata teduhnya selalu membuatku merasa menjadi tenang.
Aku mengusap wajah, merasa gusar dengan asumsi negatif yang menyerbu pikiranku. Dari segala kerunyaman itu, selalu saja di bertemu Winona membuatku merasa tentram.
“Eyang Bagaskara ingin bicara sama aku,” aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. “Awalnya yang bujuk aku ke sini Eyang Rafiq, dia udah janjian sama Eyang Bagaskara untuk danain bisnis aku. Asal aku mau balik ke Indonesia. Ini awalnya gitu. Terus, Eyang Rafiq jodohin aku sama Aleia.” Aku mendengus pelan, “aku punya feeling, kalau Eyang Bagaskara bakal nekan aku...”
“Jadi maksud kamu,” sela Winona. “Eyang bakal tarik pendanaan kalau kamu batal buat nikah sama Leia?”
Aku mengangkat bahu pelan, “mungkin ke sana nanti arah pembicaraannya.”
Eyang Bagaskara adalah ayah dari ayah sambungku, kakek kandung Aleia. Jika Eyang Bagaskara lebih sayang sama Aleia, aku bisa terima. Tapi situasiku dibuat seperti ini, seolah aku harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang itu!
Sedangkan Eyang Rafiq, ayah dari ibuku. Memang Eyang Rafiq diminta untuk tinggal bersama dengan Mama. Sekalian Eyang Rafiq dan Eyang Bagaskara menjadi teman sebaya di rumah mewah itu.
Wajah Winona ditundukkan. Kedua lengannya semakin erat memeluk tubuh rampingnya.
Aku mendecih pelan, “aku paling muak diatur oleh uang! Emang aku butuh, tapi kalau kek gini?!” ujarku dengan nada kesal.
Winona mengembuskan napas berat. Ia mengangguk pelan, “gue lapar. Mau makan ayam penyet tempat biasa kita makan dulu. Mau nggak...”
“Ayok,” potongku cepat. “Kamu ganti baju cepat,” aku melirik jam di ponsel. “Bentar lagi jam istirahat kantor. Bakal rame dan lama kalau kita nyampe pas mereka keluar.”
Aku menarik senyum kecil. Winona setidaknya mau mendengarku. Dan masalah Eyang... aku sepertinya harus siap kehilangan pendanaan itu!
Tabunganku lumayan. Jika aku keluarkan untuk biaya produksi...
Yah, aku harus berhemat tentunya. Dana dari Eyang rencananya aku gunakan untuk dekorasi kantor, agar bisa bekerja dengan nyaman.
Tapi jika aku bisa sukses tanpa bantuan Eyang, bukankah itu lebih bagus? Tidak akan ada kata-kata, ‘jika saja bukan karena Eyang Bagaskara...’
Biasanya bukan Eyang yang akan menyombongkan hal itu, namun Auntie Ginan. Entah apa yang membuatnya tak suka padaku...
Ah, iya! Mungkin karena Vero, anaknya Auntie Ginan yang kalah pesona dariku!
Ya, wajar saja...
Bukannya aku ingin menjelekkan ayah Vero, tapi pria kurus itu untungnya kaya. Memiliki bisnis kuliner yang sudah sukses membuka banyak cabang. Om Hakim bukannya jelek, dia hanya terlihat pas jika disandingkan dengan Auntie Ginan yang juga tidak terlalu cantik.
Winona sudah siap dengan setelan kasual. Jeans dan atasan floral berbahan chiffon. Rambutnya digulung di bawah tengkuk. Make up di wajahnya bisa aku katakan ringan. Namun wajahnya yang sudah cantik alami, hanya memerlukan sedikit kuasan bedak agar tampil mempesona.
Kami langsung pergi. Dan untung saja kami memesan sebelum gerombolan anak kantoran keluar mencari santapan.
Usai meneguk jus jeruk, Winoa menatapku dengan kening berkerut. “Sebenarnya, Eyang lo tu yang mana sih?” Aku tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari wajah polos itu.
Silsilah keluarga Atmadja sebenarnya membuatku pusing. Jika aku disuruh membuat pohon keluarga, butuh kertas satu meter untuk menuliskan semuanya.
“Eyang Bagaskara punya tiga istri. Istri pertama dan ketiga sudah meninggal. Yang kedua cerai, dan sekarang tinggal di luar negri. Ada sembilan anaknya. Tiga anak dari istri pertama, yaitu ayah sambungku, dua adik laki-lakinya, yang satu sudah meninggal karena kanker. Istri keduanya cantik, keturunan Rusia. Ada empat anaknya, keempatnya perempuan, di mana salah satunya ibunya Aleia. Lalu dua anak dari istri ketiga, yaitu Auntie Ginan, dan dua lagi adik laki-lakinya.”
Kening Winona semakin dalam berkerut. Ia menggaruk pelipisnya, “dengernya aja gue udah pusing,” keluhnya. “Jadi ibunya Aleia, maksud gue neneknya Aleia ada keturunan Rusia gitu?”
Aku mengangguk cepat, “jadi Eyang Bagas yang mau danain. Tapi kalau aku nolak gini, aku jadi ragu Eyang Bagas mau nolongin aku.”
Winona mengembuskan napas kasar, “makanya lo jadi youtuber aja. Bikin vlog. Lumayan lu juga bisa jual tampang.”
Aku terkekeh pelan mendengar kalimat itu.
“Lalu masalah lo sama Aleia apa?” tanya Winona dengan nada kesal.
“Dia wanita karir. Dan keluarga Aleia semuanya rata-rata Dokter. Atau enggak mereka terjun bisnis di bidang kesehatan juga. Ya nggak jauh-jauh lah. Kalau aku nikah sama dia, aku juga bakal disuruh ngurusin rumah sakit. Awalnya mungkin jadi manager dulu. Tapi nanti, ujung-ujungnya Aleia juga yang naik ke kursi presdir. Aku cuman cucu tiri!”
Aku mengembuskan napas gusar. “Bukannya aku minder. Ah... ya! Mungkin benar aku minder. Jadi aku tolak itu sebelum aku susah untuk melepaskan itu semua.”
Winona menatapku dari balik mata sendu, “sama gue lo nggak dapat apa-apa.” Suara itu cukup pelan. Jika saja aku tidak benar-benar memperhatikan gerak bibir ranum itu, mungkin aku tidak akan menangkap apa yang ia katakan.
“Sama kamu, aku nggak perlu pura-pura. Sama kamu, aku selalu nyaman menjadi diri aku. Karena kamu selalu jujur sama aku.” Senyum kecil tertarik di sudut bibirku. Meski Winona marah, ia selalu mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.
“Dan kamu selalu menjadi orang yang tulus buat aku, atau siapa pun yang ada di dekat kamu.”
Sudut bibir Winona sedikit menyunggingkan senyum. Rona pipinya sedikit memerah.
Ah, aku rindu melihat senyum manis itu.