Yellow Flag

Yellow Flag
Belenggu Masa Lalu


🌻 Winona


Di saat aku sudah melupakan bayangan dari wajah Jacob, mengapa sekarang ia muncul di hadapanku? Kehadirannya kembali membuatku tak bisa lepas dari belenggu masa lalu!


Dan di sinilah aku… di kamar Jacob!


Punggungku tersandar pada daun pintu. Perlahan, aku duduk di atas lantai dingin.


Mataku menerawang ke sekeliling kamar. Aku belum menghidupkan lampu. Dan Jacob masih membiarkan gorden jendelanya terbuka. Memberikan akses pada cahaya bulan dari luar menerangi kamar.


Ruangan ini luasnya kurang dari dua puluh lima meter persegi. Kasur queen size itu ditutupi dengan bed cover berwarna putih. Selimutnya terlihat dilipat dengan asal-asalan.


Oh, dulu aku memimpikan hal ini. Saat di mana akhirnya aku bisa satu ruangan dengan pria itu. Aku mendapatkannya sekarang, setelah aku menjadi mantan pria itu!


Aku mencoba menetralkan detak jantung yang sedari tadi berdentum tidak karuan. Sorot matanya menatapku dengan pancaran perhatian. Entah itu manipulasi, atau dia benar-benar peduli padaku!


Lima tahun yang lalu, aku benar-benar merasa hancur. Jacob pergi tanpa kabar. Dan aku ditinggal di saat aku mulai mencintainya.


Satu bulan aku berharap, pria itu akan segera menghubungiku. Harapanku sekedar kabar yang memberikan kepastian. Namun itu semua tak terjadi. Setahun berlalu. Dua tahun, tiga, empat…


Sekarang, dia kembali? Apa masih belum cukup, luka yang ia torehkan selama ini?


Lalu apa tadi yang Jacob ucapkan? Sebuah surat yang ia titipkan pada Sepia? Jika itu benar, mengapa Sepia tidak memberikan surat itu padaku?


Aku tertawa pelan. Sekali lagi menertawakan kebodohanku. Karena percaya dan berharap pada pria itu!


Klasik sekali alasan Jacob!


Aku tidak boleh terkecoh dua kali! Kali ini, aku tidak boleh terbuai dengan pesona mematikannya. Aku harus terus mengingatkan diri, bagaimana sakitnya hati ini saat ia tinggal pergi.


Ponselku berdering.


Mataku membulat lebar, saat melihat nama di layar.


Rasa kesal membuatku langsung menekan tombol angkat. “Halo,” ujarku ketus. “Lo ke mana aja Sep? Kenapa lo nggak ngasih kabar apapun! Gue udah nungguin lo di Cafe!”


“Apa kamu sudah di kosan kamu?” suara serak di seberang telepon membuatku tersentak kaget.


“Gema! Kok lo yang...”


“Iya,” sela Gema. “Kamu pasti nggak angkat kalau aku yang nelpon.”


Aku mengembuskan napas kasar. Dan ya, Gema benar. Aku tidak akan mengangkat jika dia yang menelpon.


Karena nomornya sudah aku blokir!


Aku langsung memutuskan sambungan telepon.


Tiba-tiba kesadaran baru masuk ke dalam pikiranku. Apa jangan-jangan bukan Sepia yang mengajakku ketemuan?


Apa mungkin Gema yang mengirimku pesan? Bukan Sepia?!


Tidak! Rasa cemas kembali membuat tubuhku bergetar. Aku sudah berupaya semampuku untuk menghilangkan gambaran dari peristiwa itu di pikiranku!


Jika aku ingat-ingat, aku bertemu Gema dua tahun yang lalu. Saat aku masih karyawan berstatus magang. Kami memutuskan berteman, karena memang tidak ada rasa yang bersarang. Di saat Gema mulai memberi kado dilengkapi dengan note yang bertuliskan gombalan, aku sudah paham apa maksudnya. Aku menarik diri, karena memang merasa tidak nyaman.


Gema tidak suka dengan penolakan. Dan setiap kata ‘tidak’ dariku, pria itu akan semakin terobsesi menggangguku. Aku semakin merasa risih di saat teman-teman di kantor lamaku mulai bergosip.


Bagiku, cerita mereka hanya karangan belaka. Namun bagi mereka, pembelaanku hanyalah alasan semata.


“Si cewek paling lugu. Sok suci dia emang!”


“Kalau gue lihat juga, dia cantiknya standar. Apa yang spesial coba?”


Aku menggelengkan kepala dengan cepat. Mengenyahkan suara-suara mencemooh yang membuat hidupku sengsara.


Aku akhirnya terpaksa resign di saat Gema mulai bersikap agresif. Pernah suatu waktu, aku sedang menunggu air panas di pantry. Lalu Gema tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Dia langsung memelukku dengan erat.


Aku berteriak, lalu mencoba untuk melepaskan pelukannya.


Beberapa teman kantorku yang mendengar, lalu mereka menjadi saksi perlakuan itu. Bukan simpati dan dukungan yang aku dapatkan. Malah mereka semakin mencapku sebagai wanita murahan.


Ketika aku keluar, Gema memutuskan untuk pindah ke Bali. Di sana pria bajingan itu bertemu dengan Sepia! Aku baru mengetahuinya tiga bulan yang lalu, saat Sepia mengundangku ke acara pria yang ia sebut ‘Mr. Crush’.


Sepia begitu memuja Gema. Well, Sepia hanya memuja harta Gema. Karena pria itu juga sering memberinya hadiah yang berisikan barang-barang branded.


Entah pria itu sengaja, atau memang takdir senang mengejekku!


Di saat dia melamarku di depan tamu dan teman-temannya, aku hanya bisa terdiam dengan tubuh gemetar. Aku masih ingat, tatapan penuh amarah Gema.


Aku takut. Sungguh takut. Jika pria itu menyimpan dendam dan memutuskan untuk menerorku. Aku tidak ingin terlibat dalam tindakan kriminal, di mana aku korbannya! Dan Gema menjadi pembunuh berdarah dingin.


Di saat teman-teman Gema melirik ke arahku dan Sepia secara bergantian, saat itu aku mendapatkan ide yang brilian. Aku menarik Sepia, lalu berucap dengan lantang. “Oh, Gema suka nge-prank! Kalian tahu siapa nyonya di sini!”


Berakhirlah Sepia yang mendapatkan lamaran itu. Apa Sepia marah padaku karena membuatnya berada di posisi itu? Gadis itu hanya tersenyum lebar. Begitupun Gema, dia mengatakan bahwa, ‘ya, aku berpura-pura! Kalian semua tahu dengan siapa aku akhir-akhir ini pergi?”


Ketukan pelan di balik punggung membuat tubuhku tersentak kaget.


Apa dari tadi, aku merosot, duduk di atas lantai yang dingin ini? Mengulang cerita kelam dari masa lalu? Satu pria membuatku merasa hancur, satu lagi membuatku merasa buruk!


“Wio? Kamu udah tidur?” suara itu terdengar dalam dan semakin berat.


Untuk apa dia bertanya?


Oh! Apa Jacob membutuhkan sesuatu di kamarnya? Apa dia ingin menukar pakaiannya? Tadi, pria itu masih menggunakan celana jeans dan kemeja!


Dengan cepat, aku berdiri lalu membuka pintu.


Jacob berbalik. Aku melihatnya berdiri sekitar empat langkah dari pintu.


Senyum kecil terulas di sudut bibirnya. “Kamu belum tidur ya?”


“Hmmm...” tanpa diduga, perutku berbunyi.


Ah, kapan aku makan? Seingatku, aku hanya makan nasi goreng jam dua tadi! Saat lapar begini, tubuhku terasa lemas. Dan kerongkonganku juga kering. Tadi aku hanya meminum Latte!


“Mau ambil sesuatu dari dalam kamar?” tanyaku cepat.


Jacob menggelengkan kepala. “Aku mau memesan makanan. Kamu udah makan?” ia tertawa pelan sambil menggaruk kepalanya. “Aku tadi tidur lama banget. Terus langsung keluar, ketemuan di cafe. Belum makan sih, jadi kamu...” Jacob menggantungkan kalimatnya.


Apa aku akan menolak, lalu balik ke kamar? Mencoba tidur dengan perut yang bergemuruh minta diisi?


Apa aku akan jujur dan...


Mengapa situasi ini seperti drama Korea saja! Aku mengembuskan napas berat.


Apa sekali lagi, aku terpaksa menenggelamkan ego? Terpaksa kembali menghadapi Jacob dengan segala sikap perhatiannya?


Dengan wajah dan senyum itu. Dengan segala suara berat nan lembut itu.


“Wio? Kamu kelihatan pucat.” Jacob melangkah mendekatiku. “Kamu kecapekan lagi? Atau kamu banyak pikiran?”


Dua langkah jarak Jacob dariku. Dan aku kembali merasakan kehangatan dari kehadirannya. Aku juga bisa mencium aroma peppermint yang membuatku tenggelam dalam fantasi liar.


“Gue lapar,” ucapku cepat. Aku tidak menatapnya. Langkah kakiku mengayun pelan menuju sofa.