
🌻 Winona
Aku menoleh ke samping kanan, melihat fokus pada nomor bus yang bergerak lambat menuju halte. Beberapa orang berdiri. Aku hanya duduk diam, karena bukan bus tujuanku.
“Wio!”
Aku langsung menoleh, menatap nyalang pada sosok yang meneriakkan namaku. Baru sebentar ini aku mendengar suaranya!
Kedua mataku melebar, saat melihat lambaian tangan Jacob. Pria itu tersenyum lebar.
Aku melirik bus yang semakin mendekat. Bunyi klakson terdengar saat bus itu semakin dekat. Aku berdiri. Mengangkat jari telunjukku. Menunjuk ke arah area di mana bus akan berhenti.
Senyum itu kian lebar, saat aku sudah berdiri di samping mobil Jacob. “Ketemu juga kan?” ujarnya penuh percaya diri. “Yuk, masuk. Aku anterin pulang.”
Aku mengembuskan napas. Perasaanku campur aduk. Antara senang dan gelisah. Senang karena melihat senyum itu terlihat bahagia. Gelisah karena aku tak bisa menjaga hatiku!
Karena kenyataannya, tetap saja rasa itu masih ada di sana.
Oh….
Jika Jacob tidak kembali di hidupku, mungkin saat ini aku akan menjalani kehidupan normal. Pulang dan pergi kerja. Tidak ada kehidupan romansa. Yang pastinya akan membosankan.
Ah, mungkin ada sedikit romansa. Tapi tidak akan semendebarkan seperti saat sekarang ini.
“Wio?”
Suara lembut Jacob membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng pelan, mencoba membuyarkan sisa pemikiran terakhir.
Aku bergumam. Bibirku sudah terbuka, namun pikiranku tidak bisa mengolah kata. Saat kedua mata itu menatapku begitu dalam dan intens. Membuatku melupakan kalimat yang sudah berputar di benak.
“Kamu kenapa?” kernyitan keningnya terlihat, saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya. “Masuk. Ayo. Nanti di jalan kita ngobrolnya.”
Apa aku bisa menolak? Apa alasanku menolak? Saat aku ingin menjauh, mengapa takdir justru seperti mempertemukanku kembali dengan Jacob?
Aku mendecih pelan. Tanganku terulur, membuka pintu mobil.
Bukan ego yang menang. Rasa yang terpendam itu mulai tumbuh untuk berkembang. Dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat sekarang. Karena menjauh dari Jacob hanya akan membuat pria itu semakin gigih untuk datang.
“Kamu kerja di mana sih? Dekat sini yang pastinya, ya kan?” Jacob langsung bertanya begitu saja saat aku sudah duduk. Deheman pelan terdengar, membuatku menoleh ke samping. Senyum itu sedikit mengendur. Hanya kedutan kecil di ujung bibirnya. “Kamu kenapa? Nggak coba menghindar setelah bertemu dengan Aleia, kan?”
Mendengar nama Aleia disebutkan, aku jadi teringat foto yang Gema tunjukkan padaku. “Kemarin malam, bukannya lo sama Aleia?” Dari sudut mata, aku melihat genggaman tangan Jacob di kemudi mengerat.
Tidak ada jawaban selama beberapa saat.
Tawa pelan, jelas mencemooh terdengar. “Apa Gema si Hama yang ngasih tahu sama kamu?”
Gema si Hama? Aku terkekeh pelan mendengarnya. Apa Jacob memberi julukan pada Gema?
“Apa pentingnya siapa yang ngasih tahu? Yang jelas…” aku terdiam. Menggigit bibir bawah. Sadar bahwa kalimatku barusan terdengar seperti pacar yang cemburu.
“Aleia pergi ke klub, semalam. Sedikit mabuk. Tapi ya… kamu tahu sendiri kelab malam gimana. Jadi aku jemput dia ke sana. Daripada dia pulang sendiri? Kan, bahaya.”
Oh, jadi itu yang terjadi. Bagaimana bisa Gema mendapatkan foto itu? Apa dia tanpa sengaja bertemu dengan Jacob?
“Tadi si Hama itu ngapain ketemu kamu?”
Aku menghela napas kecil. “Dia nunjukin foto di klub itu. Terus…” aku meremas rok span yang aku kenakan. Mengingat ucapan Gema membuat jantungku bergemuruh hebat. Kalimat itu sangat tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang sudah berkeluarga!
“Terus?” tanya Jacob penasaran.
Aku berdehem pelan. “Mau ngomongin apa, tadi? Katanya ada yang mau dibicarakan,” ujarku cepat. Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Aku menggeleng pelan. Seketika merasa ada beban saat mendengar ide pertemuan dengan Sepia dan Gema! Memang aku menginginkannya, namun setelah pertemuan tadi siang….
Oh, tunggu! Jika Gema tahu di mana kantorku, bukan tidak mungkin dia akan datang ke sana lagi!
Ah, sial! Dia pria yang bebal! Tidak akan mau mendengar, meski aku sudah berteriak kesal. Yang dia pikirkan hanyalah dirinya saja.
“Kamu setujukan, besok kita ketemuan dengan mereka?”
Sebetulnya, ini masalahku. Tidak ada urusannya sama sekali dengan Jacob. Dia hanya berada pada waktu yang tepat, di tempat yang salah. Aku bahkan tidak bisa memikirkan kemungkinan lain, jika aku tidak bertemu Jacob.
Bisa saja malam itu, aku bertemu Gema! Mengingat aku sudah melihatnya di parkiran. Dan hanya Tuhan yang tahu, seperti apa pertemuan itu berlangsung!
“Wio? Kamu kenapa? Dari tadi aku ngomong, kamu banyak mikirnya.” Jacob memelankan intonasi. Suara berat itu terdengar lembut di telinga. “Kamu lagi banyak pikiran ya? Masalah kerjaan?”
Mengapa dia perhatian sekali! Aght!
Jika aku jujur pada diri sendiri, salah Jacob hanya satu. Yaitu dia pergi tanpa kabar. Meski dia mengatakan bahwa kepergian itu, diiringi dengan salam perpisahan.
Mengingat kalimatnya, aku menoleh ke samping. Menatap siluet wajah tampan itu dari samping. “Gue kesal aja sama Gema. Mikirin ketemuan lagi sama manusia semacam dia…”
“Dia ngomong apa sih, sama kamu? Sampai bikin kamu bad mood gitu?”
Aku mengembuskan napas berat. Kata-kata Gema menurutku tidak pantas. Tapi aku juga penasaran dengan reaksi Jacob. Apa dia semakin marah pada Gema?
Tapi adanya Jacob sebenarnya sangat membantuku. Karena dia, Gema ingin menghancurkan hubungan pura-puraku dengan Jacob. Jika tidak, bisa saja kedatangan Gema tadi siang ke kantor, hanya untuk melancarkan aksi rayuan gombal memuakkan itu!
Tiba-tiba aku teringat kalimat Gema, ‘kenapa Jacob? Kenapa lo nggak bisa kasih gue kesempatan?’
Lampu hijau di kejauhan, kembali berubah merah. Untuk ketiga kalinya, Jacob berhenti, mematuhi rambu-rambu lalu lintas. “Wio? Kamu jujur sama aku, Gema ngapain ke kantor kamu?”
Aku kembali menoleh, membalas tatapan penasaran itu.
“Dia nunjukin foto kamu meluk cewek. Aku tahu itu Aleia. Terus, ya…” aku menaikkan sebelah bahu. “Dia inginnya, aku pisah sama kamu.”
Jacob tertawa pelan, “tu orang emang benar-benar nggak punya hati! Dan Sepia terus aja nyalahin kamu. Udah tahu suaminya yang kegenitan.”
Aku menghela napas berat. Masih saja aku ingin menyangkal, bahwa Sepia tidak benar-benar membenciku. Dia berpikiran seperti itu, karena ingin menyelamatkan rumah tangganya sendiri.
“Tapi dia juga, nggak tahu harus nyalahin siapa,” ujarku pelan. Aku menunduk. Genggaman tangan di pangkuanku semakin mengerat.
“Kamu itu terlalu baik sama dia. Wio, dia…”
“Aku bukannya baik. Momen aku bertemu dengan Sepia nggak ada. Dan lagian, aku pikir juga nggak ada yang harus diluruskan dengan mereka. Yang terjadi sama aku dan Gema bukan kesalahpahaman. Itu kesalahan Gema yang terus aja gangguin aku!”
“Makanya, aku ingin Gema tahu… kalau kamu udah punya pawang,” ujarnya dengan penuh percaya diri. Aku mendengar tawa di ujung kalimatnya.
Aku tertawa pelan, “selanjutnya, aku bakal hadapin keluarga kamu gitu. Karena kamu sama Aleia….” Aku terdiam, sengaja menggantungkan kalimat.
“Aku sama Aleia nggak bakal bisa bersatu,” sanggah Jacob pelan. “Aku nggak mau disalahin sama keluarga Atmadja, kalau sampai Aleia keluar dari rumah sakit. Lagian…” Jacob mengangkat sebelah bahu, “dia juga mentingin karir untuk saat ini. Dan yang terpenting, aku tu pengen kamu yang jadi pendamping hidup aku.”
Oh, tidak! Aku salah dengar! Jacob tidak serius dengan apa yang ia ucapkan.
Di saat pikiranku penuh penyangkalan, mengapa hatiku justru berdebar tak karuan?
“Makanya, besok kita akan ke acara itu. Aku bakal bikin Gema menjauh dari hidup kamu!”
Kata-kata itu terdengar seperti janji.
Aku mengusap wajah dengan kasar. Jika bukan Jacob, aku juga tidak tahu, siapa yang bisa menolongku untuk jauh dari gangguan Gema!