Yellow Flag

Yellow Flag
Telepon Dari Jacob


🌻 Winona.


Ginara masih berdiri di dekat mejaku. Perasaan tadi, dia mengikutiku keluar. Sebelah tangannya menopang tubuh, sebelah lagi mengangkat ponsel ke telinganya. Tunggu dulu… bukankah itu ponselku yang sedang digenggam Ginara?


“Temen Winona atau gebetannya?” 


Langkahku semakin cepat saat mendengar kalimat itu. Aku langsung merenggut ponsel dari tangan Ginara. Gadis berambut pendek bergelombang itu menoleh dari balik bahu. Sorot matanya menatapku tegang. Bibirnya terbuka. “Ada yang nelpon. Namanya…” 


“Ngapain lo main angkat telepon gue?!” potongku, terdengar geram.  


Ginara sepenuhnya berbalik, menatapku dengan rengutan di wajahnya. Ia mengembuskan napas pelan. Wajahnya sedikit ditekukkan. “Gue pikir lo udah pergi. Makanya gue…”


Aku mendecih pelan, “tetap aja… jangan main angkat telepon orang sembarangan!” Aku merenggut sling bag yang tersampir di kursi. Lalu melangkah pergi, meninggalkan Ginara yang masih cemberut. 


“Sorry Win!” soraknya. Aku mendengar langkah kakinya selangkah di belakangku. “Lo jangan marah ama gue…” ujarnya dengan suara memelas. 


Ginara menggenggam tanganku, membuatku menghentikan langkah. Aku mengembuskan napas berat. Memalingkan wajahku untuk menatap gadis itu. 


Ginara memang tipikal gadis kepo yang suka ikut campur urusan orang. Meski begitu, tingkahnya terkadang masih saja seperti ABG labil. Namun sialnya, Ginara salah satu teman kantor yang cukup dekat denganku. Yang lainnya? Selain Denada, semuanya munafik!


Bahkan beberapa dari mereka secara terang-terangan melirik ke arahku dengan sorot menghina. Salahku hanya satu… yaitu mendapatkan pekerjaan ini dari teman tanteku. Memang salah memiliki networking, di saat kebanyakan dari mereka juga masuk kerja mengandalkan orang dalam? Toh aku juga bekerja keras di sini!


“Kita makan yuk!” Senyum Ginara melebar, saat membalas tatapan pasrahku. Mata itu juga ikut membulat lebar. “Eh, lo bukannya sama Mas Tampan?” ujarnya antusias. 


Keningku mengernyit dalam, “Mas Tam…” aku menggigit bibir bawah. Teringat kepada siapa panggilan itu ditujukan. Aku memutar mata malas. “Dia udah pergi,” ujarku sambil melangkah. Ginara mensejajarkan langkah kakinya denganku. 


Tadi setelah aku mencuci wajah di toilet, aku mengintip ke lorong. Melihat apakah Gema sudah pergi atau belum. Untung saja, pria menyebalkan itu tidak menungguku di sana. 


Aku tidak habis pikir! Mengapa bisa pria beristri… dan parahnya, istrinya sedang hamil! Masih saja menggoda perempuan lain! Gema tahu betul, aku dan Sepia sahabat. Mengapa dia tega berbuat seperti ini pada Sepia?!


Dulu aku gadis yang naif. Aku pikir sifat Gema bisa berubah setelah dia menikah. Nyatanya, sama saja! Dia konsisten menjadi pria bajingan. Bahkan kata-katanya tadi terkesan tak pantas!


Tidak mungkin Gema mencintaiku. Manifestasi cinta akan selalu benar. Dan apa yang Gema perbuat dan katakan padaku itu adalah hal yang salah!


“Lo kenal di mana sama Mas Tampan?” tanya Ginara. Aku berhenti di meja Ginara, menunggunya mengambil tas. “Jabatannya apaan? Keknya cukup tinggi ya? Gue lihat setelannya aja berkelas gitu.”


Jika aku jadi Ginara, yang tidak mengenal Gema sebelumnya, aku juga menganggap dia pria mapan yang menarik. Dan pastinya, aku akan berkhayal menjadi istrinya.


Sayangnya, aku tidak mendapatkan kesan baik itu darinya. Bahkan jika aku boleh jujur, dulu….


Andai saja hatiku tidak hancur oleh Jacob. Bisa saja aku menerima Gema. Karena jika aku ingat-ingat, awal pertemananku dengan Gema tidak buruk. Dia pria yang manis. Sering menungguku pulang kerja. Terkadang juga kita pergi makan siang bersama. 


Dan Gema datang di saat yang salah. Hati ini masih patah. Karena ada secuil harapan yang tersisa, aku masih berharap Jacob kembali. Pria itu akan kembali dan memberikan penjelasan. 


Mengingat pertanyaan Ginara, aku melirik gadis itu dari sudut mata. “Dia emang kaya. CEO Fahrenheit Beach Club.” Aku menekan tombol lift, mendongakkan wajah menatap angka merah yang naik perlahan.  


“What?!” sorak Ginara. “Lo serius?” matanya membulat lebar ketika mengucapkan kalimat itu. 


Aku mengangguk, “yep.” 


Aku mendengar tarikan napas tajamnya saat pintu lift terbuka. “Dia masih lajang nggak?” tanya Ginara. “Atau duda?” lanjutnya. 


Aku meringis mendengar pertanyaan itu. “Dia duda…” aku menarik napas tajam. Kemudian melirik Ginara dari pantulan dinding lift. “Mantan duda sih lebih tepatnya,” imbuhku cepat.


Ginara mendengus. “Yah… kalah cepat gue!” Kening gadis itu mengernyit dalam. Ia menoleh, menatapku dengan sorot bingung. “Trus ngapain dia ke sini? Pake cariin lo segala?” mata lebar itu dipicingkan. Senyum centil tertarik di sudut bibirnya. “Lo jangan-jangan…”


Aku mengibaskan tangan di depan wajah, “apaan sih lo! Gue…” aku terdiam. Jika aku pikir-pikir, membicarakan topik ini dengan Ginara bukan ide yang bagus. Dia akan menjadikan kisah romansa yang menyedihkan ini sebagai bahan gosip. Cukup sudah orang-orang di kantor lamaku yang beranggapan jelek terhadapku! Aku tidak mau reputasiku yang masih rapuh seperti cangkang telur, hancur karena gosip tambahan dari Ginara. 


“Apa?” tanya Ginara penasaran. “Lo kok diam?”


Aku menghela napas, “istrinya itu sahabat gue. Dia mau beliin hadiah gitu….” Aku berujar pelan. Berbohong menjadi pilihan aman bagiku. 


“Sahabat lo? What?! Serius?” 


Aku mengangguk cepat. “Iya.”


Ginara mengernyitkan kening, “dia ulang tahun? Dikasih hadiah segala.”


Aku mengambil napas dalam, lalu memalingkan wajah menatap Ginara. “Dia hamil. Jadi mereka seperti ada kesalah pahaman gitu. Nah tadi dia nanya, kalau teman gue ngambek, biasanya…”


Ginara memang tukang gosip sejati. Dia akan menanyakan detail dari topik ini.


Aku menggaruk pelipis. “Ya lo kek nggak tahu cowok aja sih. Emang biasanya mereka nggak peka!”


Gadis itu terkekeh pelan, “iya juga sih ya. Kalau urusan mau beli kado, langsung bingung gitu beli apaan. Padahal, tinggal beli kalung berlian aja, pasti istrinya nyengir lebar.”


Aku mengangguk, membenarkan perkataan Ginara. 


“Oh, tadi itu yang nelpon siapa?” 


Jika saja Ginara tidak bertanya, aku sudah melupakan kejadian itu. Aku langsung membuka tas, mengambil ponselku.


Napasku tertahan saat menatap nama di layar panggilan. “Lo ngomong apa sama dia?” tanyaku sambil memalingkan wajah menatap Ginara. 


Pintu lift terbuka.


“Oh, itu tadi gue bilang lo lagi lunch bareng Mas Tampan,” ujar Ginara sambil melangkah keluar. 


Langkahku terasa berat. Pikiranku sibuk memproses rasa yang membuatku bingung. Pada satu sisi, aku tidak mau membuat Jacob salah paham. Namun jika dia cemburu, apakah benar jika Jacob masih menyimpan rasa untukku?


Ponselku berdering. Benda pipih itu masih aku genggam di tangan. 


Jacob kembali menelponku! 


Oh! Baiklah… aku harus tenang! Jika dia kesal, tandanya dia cemburu. Jika dia cemburu, tandanya dia masih sayang!


“Halo,” ujarku pelan. 


“Kamu sama siapa?” suara itu terdengar mendesak. 


“Kenapa emangnya?”


“Kamu di mana sekarang?” suara itu terkesan tenang.


Cukup mengejutkanku. Karena biasanya Jacob akan berteriak. Dia tempramental!


Aku melirik Ginara yang mencuri pandang di sampingku. “Masih di kantor.”


“Kamu sama Gema?"


"Nggak. Aku sama temen kantor. Yang angkat telepon tadi."


“Tadi Gema ke sana?” Aku bergumam keras menjawab pertanyaan Jacob. “Dia mau apa sih? Kamu punya nomor dia nggak?”


Huftt… 


Aku terjebak! Di dalam perangkap cinta lama yang kembali menjeratku. Aku tahu pasti, Jacob pasti ingin bertemu Gema. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya pertemuan itu berlangsung!


“Wio?” panggil Jacob dari seberanf telepon. 


“Ada. Bukannya kamu bilang, Sepia akan…”


“Kamu di kantor kan?” sela Jacob.


“Iya.” Apa Jacob akan ke sini? Oh… aku…


“Nanti sore aku jemput kamu pulang kerja ya. Sekarang aku lagi di pinggir kota.”


Ah… mengapa aku sempat berharap, pria itu akan langsung menemuiku siang ini. 


Ada apa denganku? Di mana tekadku tiga tahun silam, saat aku menyadari Jacob tidak akan kembali. Aku sudah  berjanji pada diri sendiri bahwa saat ia kembali, aku akan menolaknya habis-habisan. Aku tidak akan peduli dengan permintaan maafnya!


Sekarang… justru aku mengembalikan harapanku pada pria itu!


Tidak! Jika ingin menolaknya, aku harus mengingat, awal dari luka itu!