
🌻Winona
Ada nada khawatir dalam suara berat itu. Dan aku tidak bisa menjawab setiap pertanyaan dari Jacob. Bukan karena aku tak percaya pada Jacob. Hanya saja, memikirkan apa yang pernah terjadi antara diriku dengan Gema, membuatku merasa terhina.
Karena awalnya, aku sempat merasa luluh dengan segala rayuan manis pria itu. Hingga akhirnya Gema mulai agresif. Aku merasa tidak nyaman dengan sentuhan itu. Sering kali aku menghindar, namun Gema selalu memiliki cara untuk mendekatiku.
Aku mengusap pelan wajah dengan telapak tangan yang sudah basah oleh keringat dingin.
Jika aku tidak pergi malam ini, apa Gema akan kembali mengusikku? Namun pertanyaan sebenarnya adalah, mengapa Gema masih saja menggangguku? Aku yakin, banyak perempuan cantik yang mau mendekatinya. Banyak juga di antara mereka yang bersedia menjadi simpanannya!
Mengapa dia masih berusaha mendekatiku?
Jika keberadaan Jacob tidak bisa membuat Gema menjauh, aku tidak tahu lagi cara apa yang mampu aku lakukan untuk menghentikan pria itu untuk datang menemuiku!
“Kalau si Hama itu masih tetap mengganggu kamu, fix tu cowok emang brengsek!”
Aku menoleh ke samping, menatap Jacob dengan mata lebar. “Kenapa bisa ada orang kek gitu ya? Cewek yang juga cantik dan menarik pasti banyak di dekat dia. Apalagi melihat pekerjaannya yang…”
“Udah bosan dia,” sela Jacob. “Cowok brengsek model dia emang suka ganti cewek. Dan kamu nggak mau sama dia. Itu nyakitin ego dia. Karena di pikiran dia itu, semua cewek pasti mau sama dia.”
Benar juga apa yang Jacob katakan. Mindset Gema yang arogan, menyangka bahwa dengan uang semuanya bisa ia dapatkan. Nyatanya, dunia tidak segampang itu dibeli dengan uang. Meski benar, uang membuat hidup lebih nyaman. Tetap saja kebahagiaan tidak semata-mata karena ada uang.
Keningku mengernyit, saat teringat suatu hal. Sepia jelas tidak menyukaiku. Tapi dia setuju dengan rencana dinner ini. Apa yang dia inginkan dari pertemuan ini? Kenapa dia tidak mau bertemu secara langsung denganku?
Gerbang masuk hotel sudah di depan mata.
“Sepia tahu kalau suaminya yang brengsek. Tapi dia nggak bisa ninggalin Gema!”
Perkataan Jacob membuatku dengan cepat berpaling ke samping kanan. “Sepia lagi hamil Jac…”
Jacob menggeleng cepat. “Bukan itu,” sudut matanya melirik ke arahku. “Dia tahu dari awal pernikahan kalau Gema nggak suka sama dia! Tapi tetap aja dia memaksakan keberuntungannya.”
Napasku terasa sesak mendengar kalimat Jacob. “Kamu tahu apa cerita itu? Kamu hanya berasumsi!”
“Aku nggak hanya sekedar asumsi. Kamu tahu sendiri siapa yang dia lamar! Kamu di sanakan?”
Tubuhku terasa kaku mendengar kalimat itu keluar dari mulut Jacob. Dan sialnya, apa yang dia katakan itu benar!
“Bagaimana bisa akhirnya pernikahan itu berlangsung? Apa setelah itu, si Hama itu nggak ngejar kamu? Sepia gimana tanggapannya? Apa kamu pergi ke acara nikah mereka?”
Aku tertunduk. Mengingat kembali momen itu di kepalaku. “Sepia masih ngomong baik-baik sama aku. Dia bilang kalau aku datang, itu bikin dia malu karena ketika lamaran, Gema malah meraih tangan aku.” Mengangkat wajah, aku menoleh singkat ke arah pria di sampingku. “Jadi aku nggak masalah, Sepia nggak undang aku.” Dari sudut mata, aku bisa melihat Jacob mengusap wajahnya. “Tapi setidaknya, Gema melanjutkan rencana pernikahan itu.”
“Gema nggak ngehubungin kamu atau dia…”
Jacob tertawa pelan, “emang takdir mereka seperti itu.” Mobil sudah terparkir sempurna. Dari sudut mata, aku melihat Jacob memalingkan tubuhnya. Sebelah tangannya terentang, menarik tanganku ke atas pangkuannya. “Sekarang yang penting, Gema tahu kalau aku udah kembali sama kamu.”
Merasakan sentuhan itu, napasku sedikit tercekat. Meski jantungku tidak bertedetak cepat. Iramanya berdentum pelan. Dan anehnya membuatku merasa nyaman.
Aku menggeleng pelan. Senyum tanggung terulas di sudut bibirku. “Meski nyatanya kita nggak balikan,” ujarku sambil menarik tangan dari genggaman Jacob. Aku tidak lagi menatap matanya. Wajahku langsung berpaling ke arah luar. “Sebelum itu,” aku membuka seat belt, “aku mau bilang makasih udah luangin waktu untuk nolongin aku,” ucapku tanpa menoleh ke arah lawan bicara. “Aku harap setelah ini, kehadrian aku nggak mengganggu hidup kamu lagi.”
Udara malam terasa dingin di kulit. Aku mengusap pelan pergelangan atas, mencoba memberikan sensasi kehangatan. Mendongakkan wajah, aku menatap langit malam yang cerah. Kelip bintang bersanding bulan cembung.
Kami berjalan dalam diam. Usai dengan kalimat terakhirku, Jacob tidak mengatakan apa-apa. Raut wajahnya sedikit terlihat tegang. Sorot matanya hanya sesekali melirikku.
APaPergi acara pesta selalu membuatku merasa gelisah. Ditambah beberapa tatapan mata yang tertuju ke arahku. Meski di sampingku ada pria tampan luar biasa, tidak menghalangi mata-mata itu untuk mencuri pandang.
Well, yang menatapku tidak hanya pria. Wanita juga. Mungkin menilai kecocokanku dengan pria yang aku gandeng.
Sebenarnya, aku tidak menyalahkan mereka. Jacob terlihat elegan dengan setelan mahal. Sedangkan aku?
Ah, sudahlah. Jika harus membandingkan harga, punyaku akan berada pada angka paling rendah.
Yang terpenting sekarang adalah bagaimana membuat pertemuan malam ini menjadi hal yang terakhir untuk mengusir Gema dari hidupku. Dan aku harus memastikan, jika kesempatan Gema untuk mendekatiku sudah hilang dengan adanya Jacob di sisiku.
Aku mengembuskan napas tajam. Entah mengapa, ide bahwa Jacob berpura-pura menjadi kekasihku membuat aku merasa payah dan menyedihkan. Karena setelah ini, aku sudah bertekat untuk menghindar darinya.
Dan sekarang, sudah terlambat untuk menyesali keputusanku datang malam ini. Jika benar Gema takut bersaing dengan Jacob, maka rencana ini aku harap akan berhasil untuk menjauhkan minat Gema mendekatiku.
Pesona Jacob berbeda. Dia bukan hanya tampan. Namun kharisma yang dia miliki menambah daya tarik tersendiri. Sifatnya yang ekstrovert, menjadikan Jacob memiliki pribadi yang riang dan banyak teman.
Tak heran, jika ada yang mengenali dirinya di sini. Salah satunya, pria yang tersenyum lebar sambil melangkah ringan ke arah kami.
“Jac! What’s up bro!” Keduanya bersalaman ala panco. Senyum itu berubah sedikit menggoda saat melirik ke arahku. “Well, pulang-pulang udah ada yang balikan nih keknya.”
Aku merasakan pipiku merah padam. Jantungku juga bergemuruh cepat. Jacob melirik singkat ke arahku. Senyum kecil terulas di bibirnya.
Tunggu….
Aku tidak mengenal pria ini. Aku juga tidak pernah bertemu dengannya. Jika aku pernah, pasti aku mengingatnya. Sulit untuk melupakan pria manis di hadapanku ini. Juga, bagaimana bisa dia berucap bahwa aku balikan dengan Jacob? Dari mana dia tahu aku pernah berpacaran dengannya?
Belum sempat aku mengangkat suara untuk bertanya, sosok yang berjalan di belakang pria itu membuatku kembali mengatupkan bibir.
Sorot mata itu terlihat psycho.