
đźš© Jacob
Hasil tangkapan gambar Beno tidak begitu buruk. Namun editan Fera tidak terlalu mengubah apa pun. Aku mengusap dahi, yang entah mengapa terasa panas saat layar terus bergulir. Menampilkan deretan gambar dengan tingkat ketajaman yang menyakitkan mata.
Apa aku perlu mengedit gambar ini sendiri? Tapi, untuk apa aku memperkerjakan karyawan?
Aku menghela napas, mengangkat tangan untuk menopang dagu. “Ini gambarnya terlalu tajam, jadi kurang terlihat smooth. Seolah terlihat tidak menyatu dengan background yang entah mengapa, di sini terlihat blur.” Kalimatku tidak tertata. Malah terdengar berbelit. Aku hanya berusaha untuk tidak menyinggung Fera. Bagaimana pun, tadi dia juga bekerja keras.
Pak Utomo mau memberikan projek tambahan. Dengan syarat adanya peningkatan penjualan setelah kami mengiklankan produk beliau. Fera dengan skill marketingnya, mampu mengolah kalimat yang membuat Pak Utomo percaya. Bukan hanya sandal gunung yang kami dapatkan, perlengkapan mendaki gunung juga sudah masuk dalam daftar next day project.
Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 16.05. Aku melirik keempat karyawan yang masih berbagi meja denganku. Sebenarnya ada ruangan khusus untukku. Hanya saja, bekerja sendiri membuatku mudah terdistraksi. Begitu juga dengan rekan kerjaku. Jika tidak diawasi, mereka akan bermain ponsel.
Aku berdehem pelan. “Ini udah lewat jam kantor, kenapa nggak ada yang bilang?” ujarku sambil melirik satu per satu karyawan.
Lolita menarik senyum paksa, “iya Pak. Tadi kelihatannya masih ada yang dikerjakan, jadi…”
“Ya nggak papa,” potongku. Aku menutup laptop. “Besok kalau sudah lewat jam kerja, kalian bilang aja.” Aku menoleh, menatap Hasan. “Template untuk project satu bagaimana?” tanyaku.
“Masih ada lima postingan lagi. Masih basic, tapi besok sudah jadi.”
Aku mengangguk pelan, “baiklah. Hari ini sampai di sini ya. Kita lanjutkan lagi besok.”
Dalam perjalananku menuju parkir, aku menekan kontak Winona. Memastikan dia….
Oh, tunggu… aku tidak tahu di mana kantornya!
Yah, sekalian aku menanyakan hal itu.
Panggilanku tidak diangkat. Sudah tiga kali aku menelpon, masih saja di penghujung nada dering, suara operator yang menjawab. Apa jangan-jangan Gema kembali ke kantor Winona? Mengganggu gadis itu?
Mengingat nama itu saja membuatku tiba-tiba merasa tidak nyaman. Gema….
Siapa bajingan ini?!
Dia punya cukup nyali dan segudang kepercayaan diri yang membuatnya yakin untuk mendekati Winona. Terlebih dia sudah menikah. Dan yang membuatku semakin kesal adalah, istrinya tahu mengenai sifat buaya suaminya.
Namun Sepia tak bisa berbuat banyak! Malah dia menyudutkan Winona. Menimpakan kesalahan pada sahabatnya sendiri! Teman macam apa Sepia itu!
“Masih di sini Pak?” suara lembut itu membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, mendapati sorot malu-malu Lolita. Senyum kecil tertarik di sudut bibirnya. “Mau ke arah mana Pak?”
Kenapa dia bertanya? Dari lagaknya, sepertinya Lolita ingin menumpang. Aku tidak dalam mood untuk memberi tumpangan pada gadis selain Winona. Aku tertawa pelan, sambil menggaruk pelipis. “Saya pergi dulu ya.” Aku langsung berbalik, melangkah cepat menuju pintu.
Pikiranku berkelana, di tengah padatnya arus jalan raya. Apa Winona lembur? Itu lebih baik dibandingkan adanya gangguan dari hama yang bernama Gema!
Aku terkekeh pelan. Mengingat bagaimana cocoknya jika aku memanggil Gema si Hama!
“Ah, sial!” makiku. Aku merasa kesal lagi. Karena kebodohanku yang tidak tahu di mana kantor Winona. Seharusnya aku tanyakan pada gadis itu. Bertanya pada siapa pun, aku tidak tahu.
Ponselku berdering. Dengan cepat, aku mengambil benda pipih itu.
Bahuku yang sempat tegang, kembali turun saat membaca nama pada layar. Ada apa Aleia menelponku?
Aku abaikan saja. Jika aku angkat, dan dia memintaku untuk menemuinya, aku tidak akan bisa ke sana. Atau jika dia kembali membuka percakapan semalam… yang siapa tahu dia ingat, aku sama sekali tidak dalam mood melayani curhatannya.
Yang aku inginkan, adalah telepon dari Winona.
Ponselku kembali bergetar. Ada notifikasi pesan masuk. Dari sudut mata, aku melihat nama Aleia yang mengirim pesan.
Mengapa sekarang aku menyadari, bahwa mencari wanita seperti Winona sangat sulit. Komunikasi menjadi hal pertama yang menjadi jembatan dari sebuah hubungan. Dan satu-satunya masalahku dengan Winona hanya kesalahpahaman. Saat aku mengatakan bahwa aku meninggalkan sebuah surat pada Sepia, gadis itu mulai mencair.
Dia mau mendengarkan.
Lampu merah masih sekitar 100 meter lebih. Antrian mobil dan motor yang menyalip menambah suasana ruwet Ibu Kota.
Aku menghela napas berat. Merasa jengkel dengan angka yang tertera di layar.
16.46.
Layar notifikasi masih menampilkan nama Aleia. Aku mengernyitkan kening, membaca sekilas pesan itu.
Maafin aku ya.
Isi pesan itu menarik atensi. Membuatku membuka pesan yang sudah dikirimkan beberapa menit yang lalu.
Aku mengembuskan napas berat setelah membaca pesan itu. Aleia paham posisinya, tapi dia seperti memintaku untuk memaklumi itu? Apa dia pikir aku tidak punya mimpi? Apa dia pikir, hanya dia yang ingin meraih masa depan yang indah?
Aku juga!
Pesan itu sudah aku buka, ingin aku balas dengan curhatan panjang lebar juga. Namun nama di layar panggilan membuatku menarik senyum.
"Halo, Wio."
"Halo. Hmm, jadi lo ke sini? Atau gue pulang aja kali ya."
"Tadi aku nelpon kamu, tapi nggak diangkat. Aku mau nanyain di mana kantor kamu."
Kekehan pelan terdengar dari seberang telepon. "Mau ngapain sih, ketemuan segala?"
Aku mengingat, hal apa yang ingin aku bicarakan dengan Winona.
Ah, ya! Masalah Gema… "tadi aku minta nomor Gema."
Cukup lama aku menunggu Winona memberi jawaban. Hingga lampu berubah hijau. Dan aku masih terjebak di dalam kemacetan. Beberapa meter lagi, lampu sudah kembali berubah merah.
"Nggak guna kamu ngomong lewat telepon. Dia itu orangnya bebal. Tadi aja masih sempatnya ngerayu aku."
Aku langsung menggertakkan rahang. Tinjuku membulat di atas kemudi. Apa aku chat Sepia lagi. Menyetujui pertemuan di acara besok malam? Sekalian saja aku memanasi Gema si Hama itu!
"Kantor kamu di mana sih? Aku ke sana sekarang."
Kembali, keheningan di seberang sana. Sepertinya, gadis itu tengah tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Aku masih menunggu jawaban Winona, hingga lampu kembali berubah hijau. Aku berbelok ke arah kiri, melirik spion dan menekan klakson. Pengendara motor yang melaju di sebelahku sedikit menurunkan kecepatan motornya. Aku tidak tahu ke mana arah tujuan, sedangkan Winona masih diam.
"Nggak usah ke sini. Gue mau pulang." Sambungan dimatikan.
Aku mendengus tak percaya. Sikap Winona kembali dingin. Apa percakapannya dengan Aleia, membuat gadis itu memutuskan untuk menarik diri?
Aku tak sengaja melirik ke arah halte. Senyumku melebar, saat mata ini menangkap satu subjek yang tengah duduk di sana.
Seolah benang takdir tidak rela membentuk jarak di antara aku dan Winona.