
🚩 Jacob
Ponsel Winona berdering sedari tadi. Aku menaikkan sebelah alis, menatap gadis itu. Tangannya asik menyendok nasi goreng kambing ke dalam mulutnya.
Tadi, selagi menunggu pesananku datang, kami hanya duduk dalam diam. Segudang pertanyaan berputar di benakku. Namun melihat Winona yang tampak murung, membuatku mengurungkan niat untuk bertanya.
Aku berdehem pelan, tidak tahan dengan kebisuan di antara dua insan yang bernapas di ruangan minimalis ini. “Besok kamu masuk kerja?”
Winona terbatuk pelan.
Aku langsung berdiri, mengambil mineral dari dalam kulkas. Dengan cepat, aku menyodorkan botol mineral yang sudah aku buka.
“Sabtu? Huh...” ujarnya sedikit terbata.
Ah, aku lupa besok hari apa. Aku kembali berdehem pelan. Sebelah tanganku mulai menyendok nasi goreng di dalam kotak, memindahkannya ke piringku. “Kamu kerja di mana? Kalau aku boleh tau.”
“Aku kerja di startup, bagian copywriting. Jangan nanya detail. Udah kek wawancara kerja aja.”
Aku tertawa pelan mendengar kalimat terakhirnya.
Jika aku tatap wajahnya lamat-lamat, aku bisa mengatakan bahwa Winona sedikit gugup. Apa dia gugup karenaku?
Oh, betapa aku berharap, jika Winona masih menyimpan rasa suka padaku. Meskipun hanya sedikit.
Lalu apa? Apa yang aku lakukan dengan rasa itu?
Terakhir, aku membiarkannya berharap dalam ketidakpastian. Apa aku akan kembali menghancurkan hati gadis di hadapanku ini?
“Ngapain lo balik ke Indo? Bosen? Huh?” nada tak acuh itu membuatku kembali menatap lawan bicara.
Nasi goreng di piring Winona nyaris tak bersisa. “Kamu mau tambah?” ujarku sambil menyendok nasi goreng, lalu mengayunkannya ke piring gadis itu.
Winona menggeleng cepat, ia mendorong pelan tanganku. Kemudian tangan kecilnya kembali meraih mineral yang masih tinggal separuh.
“Aku ada projek di sini.”
Winona meletakkan mineral, hanya sesaat, lirikan matanya bertahan menatap wajahku. “Projek apa? Kalau boleh tau?” tanyanya cepat.
Aku tersenyum tipis. Winona ingin mengobrol. Dan aku suka momen ini. Aku bisa menghabiskan waktu dengannya. “Sinematografi. Jadi aku take, edit video yang orisinil... sesuai dengan kebutuhan client tentunya. Misalkan mereka ingin video gunung Bromo sebelum sunrise... ”
“Pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan alam,” potongnya. “Landscape...” Winona menaikkan sebelah bahunya. “Gitukan ya? Jadi kamu lebih ke alam? Nggak yang orang... eng...” bibirnya mengernyit, mencoba mengolah kata.
Aku mengangguk. “Untuk saat ini iya. Dan di Indonesia itu banyak banget yang bisa di take. Alamnya cantik, sama kek ceweknya.”
Winona memutar bola matanya. Aku mendengar tawa kecil yang tertahan.
“Itu handphone kamu dari tadi bunyi terus.” Meskipun tidak terlalu nyaring, namun suara itu jika diulang-ulang membuatku terusik. Ingin aku berdiri, dan mengangkat telepon itu, jika Winona enggan menjawabnya.
“Paling Gem...” Winona menggigit bibir bawahnya. Menghentikan kalimat yang akan terlontar di bibir manisnya.
“Gema?” tebakku. Gadis itu hanya mengembuskan napas berat.
Aku langsung berdiri, dan melangkah cepat menuju kamar.
“Jac...”
Aku mendengar langkah kaki Winona dari belakang.
Rasa posesif membuat langkahku semakin cepat. Rasa terbakar di dada juga membuatku kehabisan napas. Memang status Winona masih lajang, tapi pria itu sudah menikah! Dan istri pria bajingan itu adalah Sepia!
Aku tidak mau, Sepia semakin membenci Winona hanya karena tindakan kurang ajar suaminya!
Tas hitam itu masih tergeletak di atas lantai. Apa tadi Winona duduk bersandar di daun pintu? Apa tadi, dia kembali menangis sendirian!
Winona langsung merenggut ponsel itu dari tanganku. Gadis itu menarik napas tajam saat menatap layar. “Oh, ibu yang menelpon!” Ia memalingkan wajahnya ke samping, lalu mengangkat telepon. “Bunda...” Winona menutup matanya sebentar, “Waalaikumsalam. Ada apa Bun?”
Aku hanya bisa menilai wajah Winona yang tampak menahan ringisan. Keningnya mengernyit dalam. Gadis itu menggigit kuku jempolnya.
Satu langkah jarakku darinya, membuatku bisa mencium aroma terbakar matahari di rambutnya. Winona setinggi dadaku. Jika aku mengulurkan tangan, menarik pinggangnya dan menenggelamkan kepala itu dalam dekapanku...
Betapa aku ingin melakukannya!
Aku akan meletakkan daguku di atas kepalanya.
“Kenapa dia nelpon Bunda sih?” nada gusar dalam suara lembut itu membuatku membuyarkan lamunan.
Dia? Siapa yang Winona bicarakan?
“Nggak Bun. Aku di...” lirikan matanya menatapku sesaat. Winona menarik napas tajam, lalu melangkah keluar kamar.
Aku hanya membiarkannya berjalan, kembali ke arah meja makan.
Baru aku sadari, lampu kamarku belum menyala. Sinar bulan penuh menjadi pencahayaan alami, menyoroti sebagian ruangan yang masih gelap gulita. Jika aku menutup pintu ini, kamarku akan terlihat estetik. Sad vibe tentunya.
Aku kembali ke meja. Lalu melihat tumpukan nasi goreng yang belum aku sentuh. Seketika, perutku kembali berbunyi.
“Makan...” lirih Winona. Ia masih menelpon, namun sudut matanya menatap ke arahku. “Iya teman aku Bunda. Jadi nggak perlu khawatir, oke.”
Sesaat kemudian, gadis itu meletakkan ponsel di atas meja.
Aku menyendok makananku dengan cepat. Sesekali aku memperhatikan wajah Winona yang hanya menatap meja. Keningnya mengernyit dalam, rahangnya ditarik kencang.
Ia tampak kesal.
Tak lama, aku mendengar decihan pelan. Lalu Winona berdiri. “Makasih makanannya,” ucapnya pelan. Lalu berbalik.
“Nggak mau cerita?” tanyaku dengan nada lembut. “Kalau Gema ngusik kamu, aku nggak bakalan tinggal diam.”
Aku mendengar tawa mencemoohnya, sesaat sebelum Winona kembali memutar tubuhnya. “Peduli lo apa?”
“Wio...” aku berdiri, lalu menghampiri gadis itu. “Aku peduli sama kamu...”
“Kalau lo peduli, lo nggak bakal ninggalin gue...”
Apa yang harus aku katakan lagi? Kesalahanku hanya satu, hadir untuk mengisi lembaran di hidup Winona! Namun jika ada yang berani menyakitinya, aku tidak akan tinggal diam!
“Terus kamu mau digangguin terus sama Gama?” pertanyaanku hanya pancingan. Karena jika aku tanya baik-baik, Winona tidak akan mau bercerita.
Winona menatapku tajam, “lo pikir gue cewek apaan?!”
“Makanya! Biarin gue urus bajingan itu!” Lepas sudah amarah yang sedari tadi aku coba tahan. “Gue nggak terima, Sepia nggak ngasih lo surat itu! Meski gue tau, lo mungkin tetap kecewa sama gue! Tapi yang paling nggak bisa gue terima...”
Aku merasakan amarah yang membuat wajahku memanas. Aku mengambil napas dalam sebelum melanjutkan kalimat. Dan aku harus berpikir sebelum berucap. Jika aku salah bicara, Winona akan kembali menarik diri!
Aku harus terus menggunakan nama ‘Gema’, agar Winona mau terbuka.
“Bajingan itu gangguin lo terus-terusan! Dia udah nikah! Apa dia mau menghancurkan persahabatan lo sekaligus rumah tangganya?”
Sekali lagi pada malam ini, aku melihat buliran bening jatuh ke pipinya.
Amarahku langsung padam, saat membalas tatapan yang berkaca-kaca itu. Oh, gadisku yang rapuh...
Aku menarik Winona, menenggelamkan wajahnya ke dadaku. “Ada aku di sini. So please... tell me.”