
🚩 Jacob
Meski chat Sepia membuatku kesal setengah mati, namun aku tidak bisa mengundur pertemuan ini lebih lama lagi. Bukan tidak mungkin Gema akan kembali mengganggu Winona. Kemarin saja, pria bajingan itu masih sempatnya datang ke kantor Winona!
Mengingat wajah gadis itu berubah muram kemarin sore, membuatku merasa geram. Aku bisa menebak, Winona tidak menceritakan semuanya padaku. Apa mungkin, Gema mengucapkan sesuatu yang tak pantas padanya? Mengingat betapa buayanya bajingan itu. Dan betapa congkaknya ia!
Aku tahu pemikiran bajingan genit seperti Gema! Aku juga pria yang memiliki hasrat dan logika. Jika ia berpikir bisa menyentuh Winona, akan aku beri dia pelajaran berharga nanti malam!
Mengusap wajah, aku mengalihkan perhatian pada gelas kopi di sisi kiri tanganku. Aku melihat Lolita dan Hasan fokus pada layar di hadapan mereka. Menyandarkan punggung ke belakang, aku meregangkan persendian.
Rasanya lega, setelah aku membereskan satu projek. Lusa, aku akan kembali ke toko Pak Utomo. Mengambil beberapa gambar dan video untuk projek kedua kami.
Ketukan di pintu mengalihkan atensi. Aku mendeguk kopi sebelum berucap, “Masuk.”
Kepala Lolita menyembul dari balik pintu. Senyum lebar mengambang dari wajah manis itu. “Misi Pak, ada pesan dari Green Roof Camp.”
“Pesan apa?” tanyaku dengan alis terangkat sebelah.
Lolita melangkah ke dalam ruangan. “Untuk projek kita minggu depan sudah dikonfirmasi. Mereka mengirimkan beberapa paket untuk berkemah, yang ingin mereka promosikan.”
Aku menarik senyum kecil, “oke. Atur jadwalnya. Sekalian kita bisa bawa alat kemah ke sana.” Dua projek itu bisa sekali jalan.
“Siap Pak.”
Aku mengambil ponsel dari dalam laci. Napasku tertahan saat melihat ada pesan dari Winona.
| Nanti jam berapa lo jemput?
Pertemuan itu untuk jam delapan malam. Jadi aku bisa jemput Winona sekitar pukul tujuh.
| Jam tujuh aku udah di kos kamu.
Aku ingin mengantar Winona setelah ia pulang kerja. Namun arah apartemenku dan kos Winona berlawanan arah. Jika aku ke sana terlebih dahulu, tidak akan sempat karena jalanan akan macet.
Tepat pukul empat, aku menutup layar laptop. Merapikan meja, aku kemudian bergegas keluar ruangan. Senyum kecil tertarik di sudut bibir, saat aku melirik keempat karyawan. “Terima kasih semuanya. Besok kita lanjutkan kerja kita lagi.”
“Iya Pak. Terimakasih. Selamat beristirahat Pak,” ujar Fera penuh semangat.
...***...
Tepat pukul tujuh kurang dua menit, aku sudah parkir di samping pagar kos Winona. Aku sedikit menjulurkan leher, melirik ke arah balkon kamar Winona.
Tak lama, aku melihat lampu kamar itu dimatikan.
Aku mengembuskan napas pelan. Tak sadar, bibirku menarik senyum. Aku merasa dejavu. Mengingat kembali momen di mana aku berpacaran dengannya, lima tahun silam.
Hubungan itu awalnya canggung. Seiring waktu berubah menjadi pertemanan yang membuatku mampu membuka cerita. Berbicara dengannya tanpa kenal waktu. Bahkan aku sama sekali tidak sadar telah mulai melibatkan perasaan terlalu dalam.
Binar itu kemudian tumbuh semakin terang. Hingga rasa sayang itu berubah menjadi cinta. Jenis cinta yang berbeda dengan apa yang pernah aku rasakan sebelumnya. Karena cintaku sebelum Winona, hanya rayuan gombal untuk mendapatkan apa yang aku mau.
Itu semua berbeda dengan Winona. Karena entah mengapa, aku ingin menjadi orang suci di sampingnya. Aku ingin menjaganya. Aku tidak mau menodai kepolosannya. Di lain sisi, Winona pandai membaca isi hatiku. Dia sering menebak apa yang terlintas di kepalaku.
Bahkan saat aku mencoba menyembunyikan masalah keluargaku, Winona hanya menatapku dengan lengkungan sedih di bibirnya.
Bunyi klik, dari pintu mobil yang terbuka menarik kesadaranku. Winona tersenyum kecil. Ia menarik sisi gaun saat melangkah masuk. Wangi vanilla dan jeruk yang manis menguar di udara. Membuat senyumku semakin lebar.
“Kamu cantik malam ini,” ujarku lembut.
Tawa rendahnya terdengar, “terpaksa gue dandan. Awalnya, gue make jeans sama jaket crop top. Tapi dipikir-pikir, mereka curiga kalau gue nggak tampil maksimal.”
Aku ikut tertawa pelan mendengar kalimat itu. “Yang ada, nanti kamu malu sendiri,” ujarku sambil mengemudi keluar dari area kos.
“Kita bakal bahas apa nanti di sana?” tanya Winona.
Aku mendengus memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Karena yang aku tahu, Gema mengganggu Winona. Lalu dengan kedatanganku di sampingnya, akan menyadarkan Gema di mana posisinya. Dia harus bisa menarik diri. Jika ia ingin bermain mata, cari saja perempuan lain. Bukan Winona.
“Kamu diam aja. Nanti biar aku yang urus.”
“Mana bisa aku diam!” sanggah Winona cepat. “Kalau nanti dia mancing emosi, pasti aku nggak tinggal diam. Gema mungkin akan bersikap sopan di depan tamu, tapi di belakang mereka? Dia bisa bersikap kurang ajar.”
Winona terdengar kesal. Namun itu membuatku menduga, bahwa Gema bersikap kurang ajar pada Winona!
Aku mengembuskan napas tajam. Seketika merasa geram dengan situasi ini. “Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sekarang ada aku di samping kamu.”
“Iya. Tapi….” Winona diam.
Aku menoleh sebentar, mendapati kerutan di keningnya. “Tapi… apa?” tanyaku penasaran.
“Terus, rencana lo apa?”
Aku mengangkat sebelah bahu, “kita ke sana. Sebagai tamu. Tunjukin ke mereka, kalau kamu udah punya aku. Dan pastinya, aku akan mengatakan sesuatu ke si Hama itu.” Aku mengeratkan rahang, memikirkan pertemuan itu. Tidak perlu banyak-banyak membuang kata. Yang penting adalah aksi.
Gema mungkin akan menang dengan gombalan dan rayuan. Namun daya pikatku berbeda. Aku bisa katakan, bahwa cara si Hama itu mencoba merusak hubunganku dengan Winona terkesan murahan. Ia mencoba trik perselingkuhan, sebelum tahu cerita yang sebenarnya.
Meski hubunganku belum mendapatkan status yang sesungguhnya, setidaknya ada cara yang membuatku bisa dekat dengan Winona.
Aku masih ingat, wajah kesal Gema saat aku jumpai pria itu di parkiran Mall. Jelas si Hama tampak menahan geram. Untung saja aku datang tepat waktu! Jika tidak, bisa saja bajingan itu memaksa Winona naik ke mobilnya.
Tunggu….
Mengingat betapa nekatnya bajingan itu, bukan tidak mungkin dia pernah bertindak melewati batas kesopanan pada Winona!
Aku menoleh, melirik Winona dengan kening berkerut. Lebih baik aku tanyakan langsung padanya, daripada merasa buruk dengan dugaan yang belum tentu benar. “Apa dia pernah macam-macam sama kamu? Dia itu bajingan! Nggak ada pria baik-baik yang berani godain wanita lajang. Apa lagi yang sampai bela-belain datang ke kantor kamu, cuman buat nunjukin foto aku dan Aleia!”
Selama beberapa saat, hanya ada keheningan di antara kita. Aku sempat menoleh sekali lagi, memperhatikan raut wajah yang terlihat bingung itu.
Apa yang dipikirkan Winona? Mengapa butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaanku?
“Iya, ya? Bajingan itu per…”
“Nggak seperti yang lo bayangin,” potong Winona cepat.
Jika aku tidak salah menilai, ada nada kegetiran dalam suara yang terkesan dingin itu. “Terus? Seperti apa?” tanyaku penasaran.
Aku mendengar embusan napas tajam dari wanita itu. “Bukan apa-apa lagi. Semuanya masa lalu.” Sepertinya, Winona tidak mau bercerita. Apa luka yang aku sebabkan membuat gadis itu tak percaya?
Meski begitu, aku tak bisa menyalahkannya. Aku yang membuatnya terluka.
“Yang penting sekarang,” lanjut Winona pelan. “Kita akan menghadapi apa yang terjadi nanti. Aku harap, kamu bisa membuat Gema berhenti mengusik aku.”
Senyum kecil tertarik di sudut bibirku. ‘Pasti!’ ucapku dalam hati.