Yellow Flag

Yellow Flag
Pertemuan


đźš© Jacob


Langkahku terhenti, di saat tanganku menggapai pintu kaca. Aku teringat sesuatu yang membuatku kembali menuju meja, di mana Sepia masih duduk termangu. Senyum kecil tertarik di sudut bibir, di saat aku kembali duduk. Sepia melebarkan matanya, menatapku seperti penuh harap. 


“Gue boleh minta tolong sama lo? Demi kenyamanan lo juga.” Sepia menarik napas dalam. Sesaat, matanya menatap cangkir teh. Aku berdehem pelan, sambil menunjuk cangkir yang masih penuh. “Minum aja dulu, biar tenang.”


Sepia minum beberapa tegukan, kemudian kembali meletakkan cangkir dengan tangan yang sedikit gemetar. “Apa lo minta tolong untuk ambil surat itu dari suami gue?” tanya Sepia dengan wajah ditundukkan. Hanya netra gelap itu yang bergerak, menatapku dengan sorot hati-hati.


Aku menggaruk pelipis, mencoba memikirkan cara lain untuk mendapatkan surat itu. Karena aku sama sekali tidak percaya dengan Sepia! Entah apa yang ia perbuat, setelah surat itu kembali di tangannya. “Nggak usah. Gue cuman pengen ketemuan dengan suami lo. Atau…” aku mengeluarkan ponsel, kembali menatap Sepia yang sekarang kembali terlihat syok. “Lo kasih aja nomornya ke gue.”


Sepia memutuskan kontak mata. Wajahnya berpaling, menatap ke jalanan luar.


Mentari bersinar cerah. Hanya ada sedikit awan yang berarak menghiasi cakrawala. Aku melirik layar ponsel sebentar, siapa tahu Winona membalas pesanku. Namun hanya ada notifikasi dari grup yang membuatku menghela napas berat.


“Gimana? Masak lo nggak mau sih?” aku memajukan posisi duduk. Sepia kembali memalingkan wajahnya. Guratan kecemasan tampak di wajah itu. “Lo nggak perlu cemaskan Wio yang gangguin suami lo. Terserah lo mau anggap Wio yang kegatelan.


Meski gue tahu, lo tahu yang sebenarnya…” senyum kecil tertarik di sudut bibirku. 


Sepia mengusap wajahnya dengan kasar. “Lo mau ngomong apa sama suami gue?” ujarnya dengan helaan napas di ujung kalimat. 


“Gue bilang, jangan deketin Wio. Karena sekarang pawangnya udah balik.” Senyumku semakin lebar, sementara wajah Sepia semakin terlihat pucat. Aku berdecak sebal, “lo kok jadi aneh gini? Padahal Wio selalu baik sama lo. Tapi lo…”


Sepia kembali tertawa kecil, terkesan mencemooh. “Mungkin dulu gue dan Wio dekat. Tapi sekarang…” mata itu menyiratkan kebencian. “Gue nggak kenal dengan sahabat gue lagi. Dia polos dulu. Lugu. Tapi sekarang…”


“Kedengkian buat lo benci sama Wio,” potongku cepat. Aku sudah muak dengan Sepia yang terus-terusan mengomentari Winona seperti ini! “Lo mau ngasih nomer suami lo apa enggak?!” ujarku sedikit membentak. “Kalau nggak mau juga nggak papa. Gue bakal cari sendiri!” Aku berdiri, merapikan kemejaku. Menatap kedua sorot mata Sepia yang terlihat menahan geram.


Kening Sepia mengernyit dalam. Ia menarik napas tajam, “gue bakal atur pertemuan. Dinner? Gimana? Lo ajak Winona.”


Aku memikirkan rencana ini sesaat. “Boleh. Secepatnya, gue tunggu kabar dari lo.” Sepia mengangguk cepat.


Usai dengan rencana pertemuan itu, aku melangkah keluar dari cafe dengan langkah cepat. Aku melajukan Jeep ke kosan Winona. Selang seperempat jam, aku sudah memarkirkan mobil di jalan kecil, di depan kos lantai dua itu. 


Aku kembali membuka aplikasi chat, melihat dua centang pudar dari nama Winona. “Apa Wio tidur kali ya?” gumamku pada diri sendiri. Tapi sebenarnya apa rencanaku? Apa aku akan mengajak Wio keluar lagi? Apa dia mau? 


Ponselku berdering, menampilkan nama Elang. “Hallo lang,”


“Lo free nggak? Main badminton yuk.”


Aku menggaruk pelipis, memikirkan ajakan Elang sejenak. “Siapa aja yang main?”


“Temen kantor gue. Mereka mau ganda. Gue keingat lo deh,” tawa kecil terdengar dari seberang telepon. “Lumayan kalau menang, dia ngasih tiket konser…”


Deringan telepon lain menghentikan kalimat itu. Senyumku terulas lebar saat menatap nama di layar. “Lang, ntar lagi gue hubungi ya.” Tanpa menunggu jawaban dari temanku itu, aku mematikan sambungan. “Hallo Wio,” ujarku riang.


“Lo di mana?” nada itu terdengar dingin. 


Aku mengembuskan napas kecil, melirik jendela Winona dengan sedikit mendongakkan wajahku ke arah angka sebelas. “Aku di depan kos kamu.”


“Gue nggak di kos,” terdengar jeda sebelum Winona melanjutkan. “Bisa kita ketemu…”


Winona mengirimiku pesan. Lokasinya sekitar dua puluh menit menuju pinggir kota. Sebelum menghidupkan mesin mobil, aku kembali menelpon Elang. “Lang, gue nggak bisa. Lain kali aja ya…”


Helaan napasnya terdengar dari seberang telepon. “Mainnya nanti habis maghrib. Lo sibuk apaan?”


“Gue kirain sekarang. Nanti deh gue usahain.”


“Okey sipp. Nanti jam setengah enam konfirmasi lagi ya!”


Aku bergumam, “ya nanti gue kabari lagi.”


Perasaanku bercampur aduk selama berkendara. Dinilai dari nada dingin Winona, sepertinya dia sedang kesal. Dan kenapa dia di cafe itu? Apa Winona ketemuan sama seseorang? 


Aku mengeratkan pegangan di kemudi. Percakapan semalam kembali terulang di ingatanku. Setelah makan malam, Mama mengajakku untuk bertatap muka. Aku sudah tahu apa yang akan Mama sampaikan. Yang pastinya, Mama kesal dengan keputusanku yang secara terang-terangan menolak perjodohanku dengan Aleia. 


“Kamu itu gimana sih? Keras kepala banget! Lihat wajah Aleia! Dia terlihat sedih…” Mama menghela napas berat. Sebelah tangannya melambai di udara. “Apa hebatnya gadis itu, hingga kamu mau balikan sama dia?!”


Genggaman tanganku mengepal erat, mencoba menahan emosi yang membuncah di dada. Wajahku memanas, merasakan emosi yang tertahan di kepala. Perdebatan ini tidak akan menyelesaikan masalah. 


“Aku sudah bilang sama Mama, aku nggak mau nikah dengan wanita yang bekerja! Aleia dokter! Tahun-tahun kedepannya dia pasti sibuk. Dan dia nggak mau ngorbanin profesi dia demi aku Ma! Makanya aku menyerah untuk melanjutkan hubungan ini. Di awalnya, mungkin akan terasa manis. Tapi hubungan itu bukan perkara cinta semata Mah… perlu dua orang yang mengerti komitmen! Dengan Aleia?” 


Aku mengembuskan napas berat, dan menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimat. “Aku yang harus memberi waktu. Waktu yang dia habiskan di rumah sakit! Dan ketika dia senggang, aku yang menghabiskan waktu aku di lapangan.”


Mama menarik senyum kecut, “makanya kamu kerja di rumah sakit! Kamu bisa handle bagian online. Hal-hal yang berhubungan dengan administrasi, atau public relation. Kamu bisa….”


“Aku nggak bisa Mah! Jangan paksa aku jadi….”


“Ini semua demi kebaikan kamu! Pikirkan masa depan kamu!” Mama terdengar histeris, “kalau sama cewek itu, kamu bakal jadi gelandangan!”


Tawa tercekat terlontar dari bibirku. Aku membalas sorot tegang Mama, “apa sebegitu bodohnya aku? Hingga Mama pikir aku nggak bisa sukses dengan apa yang aku rintis sekarang ini?”


Mama terdiam. Kedutan di sudut bibirnya terlihat. Keningnya mengernyit dalam. “Mama nggak pernah merasa cukup dengan uang! Hidup Mama itu udah berlebih, tapi tetap saja merasa kekurangan.”


Mama menunjukku geram, “kurang ajar ya kamu! Beraninya kamu ngomong gitu sama Mama? Papa kamu pasti yang meracuni pikiran kamu!”


Aku menggeleng pelan, “jangan salahin Papa. Mama yang harus introspeksi! Jangan paksain kehendak Mama. Karena aku udah muak diatur-atur sama Mama!”


Aku mengusap wajah, mencoba menghilangkan sisa-sisa percakapan itu di pikiran. Anehnya, aku tidak merasa semarah dulu. Aku sudah merasa terbiasa tidak didukung oleh Mama. Karena bagi wanita itu, aku hanya beban yang menghabiskan uangnya.


Hubunganku dengan Mama memang buruk. Meski perkataan yang keluar tak pernah menyenangkan hati, itu bentuk dari rasa pedulinya padaku. Pilu memang. Namun memang begitu adanya!


Usai memarkirkan mobil, aku keluar dengan langkah tergesa-gesa. Suasana cafe bisa dikatakan sedikit ramai oleh anak kuliahan yang berkelompok. Riuh percakapan memenuhi atmosfer ruangan yang bergaya minimalis. 


Menyisir setiap meja, napasku tertahan saat melihat sosok yang duduk sekitar tiga meter dariku. Winona menatapku dengan mata bulat. Sedangkan di depannya….


Perlahan kepala berambut panjang bergelombang itu berputar. 


Apa yang Aleia lakukan di sini? Apa Winona kesal, setelah berbicara dengannya?