
đźš© Jacob
Aku mulai merasakan keringat membasahi sekujur tubuh, degup jantungku juga berdentum cepat. Persendianku juga rasanya sudah mulai lemas untuk sekedar melanjutkan langkah.
Menyudahi kegiatanku dengan treadmill, aku menyeka keringat yang sudah membanjiri pelipis. Jam di layar menunjukkan pukul 10.56.
Aku kembali ke apartemen, membersihkan diri agar tubuh ini segar kembali. Setelah itu, aku menyusun jadwal untuk kegiatan besok pagi.
Aku kembali mengingat peristiwa semalam, perbincangan yang menarik dengan Eyang.
“Bisnis adalah bisnis! Investasi Eyang tentunya mendatangkan keuntungan juga kan bagi Eyang? Jadi kenapa Eyang sangkut pautkan dengan urusan kamu dan Aleia?”
Meja makan kembali hening. Tidak ada yang mau berdebat dengan Eyang Bagaskara. Karena ancamannya adalah, yang tidak setuju dengan perkataan Eyang akan dikurangi jatah warisan.
“Aleia juga, dia pasti nggak mau memaksakan keadaan seperti ini.”
Aleia hanya tersenyum kecil. Wajahnya sedikit ditundukkan.
Mengingat wajah kecewa Aleia, aku tidak menyangka ada sesuatu yang selama ini luput dari penglihatanku. Aleia menyimpan rasa padaku. Karena aku pikir, rasa sayangnya padaku hanya sebatas sepupu. Meski aku dan Aleia bukan sepupu kandung, tapi aku hanya menganggap Aleia seperti adikku sendiri.
Siang harinya, aku sudah bosan berkutat dengan laptop. Aku mengambil ponsel dan menekan nomor Winona.
Aku tahu, gadis itu pasti akan kesal karena aku mengganggunya lagi. Meski Winona kesal, aku juga tahu, diam-diam dia senang aku menghubunginya lagi. Bukan apa-apa, aku hanya menebak, Wio tidak sepenuhnya move on dariku. Aku juga begitu! Dan mengapa kita memberi jarak, hanya karena ego yang masih bersarang?
Teleponku tidak diangkat. Apa Wio sedang di kamar mandi? Ah, bisa saja! Aku mengirimi pesan, menanyakan apakah dia mau keluar lagi denganku.
Atau, aku langsung saja ke kosnya? Seperti kemarin, aku pergi ke kos Winona!
Aku sudah berada di basement, ketika ponselku kembali berdering.
Keningku mengernyit dalam saat menatap nama pada layar. Ada apa Sepia menelponku? “Halo Sep.”
“Jac, Halo.”
“Ya ada apa nelpon?” Aku mendengar tarikan napas dari seberang telepon.
“Kita bisa ketemuan nggak? Ada yang mau gue omongin.”
Apa ini waktunya, aku menanyakan pada Sepia tentang surat itu? Mengkonfrontasi wanita itu secara langsung lebih baik. Karena dia tidak bisa menghindar!
“Bisa. Gue share lokasinya sekarang.”
“Hm, jangan sekarang!” ujar Sepia, nada suaranya seolah terkejut.
“Oh, kalau nggak sekarang, gue nggak bisa!” ancamku. Ingin rasanya aku langsung mengatakan pada Sepia, dia apakan surat yang aku titipkan untuk Winona itu! Namun mengenal wataknya, pasti Sepia akan membatalkan pertemuan ini.
“Ya udah. Oke! Aku akan ke sana.”
“Gue nggak bakal nunggu lo lama-lama,” balasku sedikit ketus.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Sepia masuk jarak pandangku. Aku sudah memesan kopi, dan teh untuk Sepia. Wanita itu sedikit berisi sekarang. Setelan blazer hitam, dipadukan dengan rok span kotak-kotak di atas lutut, menunjang penampilan berkelasnya. Tak lupa, aku juga melihat tas jinjing kulit berwarna hitam di genggaman tangan kanannya.
Senyum kecil terulas di wajah itu. Sepia tidak jelek, namun menurutku lebih manis Winona.
Jika aku perhatikan lebih seksama, wajah Sepia sedikit berubah. Dagunya yang dulu agak bulat, sekarang terlihat lonjong. Tulang pipinya juga terlihat tegas. Entah karena make up, atau hasil pergi ke dokter klinik untuk glow up.
“Makin keren aja lo!” ucapnya semringah.
Aku tidak dalam mood berbasa-basi, karena tujuanku mau bertemu dengan Sepia adalah untuk menanyakan surat itu.
“Gue kesal sama lo, sebenarnya.” Aku menghela napas berat, lalu menegakkan tubuhku.
Kening Sepia mengernyit dalam, “kesal kenapa? Emang gue ada masalah sama lo?” suara itu sudah sedikit gusar.
Aku mengangguk cepat, “kenapa lo nggak ngasih surat yang gue titipkan pada Winona?”
Wajahnya seketika berubah, terlihat bingung.
Pasti dia merangkai kata di pikiran yang sudah kusut itu! Dan aku sama sekali tidak akan mudah percaya pada Sepia. Setelah apa yang ia katakan kemarin di telepon, lalu apa yang dikatakan Kim kemarin di cafe. Aku tidak tahu apa yang ia ucapkan di telepon dengan Winona. Apa pun itu, nampaknya Sepia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan Winona!
Tapi Winona terlalu baik untuk memiliki pikiran buruk pada teman yang sudah ia anggap sahabat baik!
“Kenapa? Lo buang surat itu?” pungkasku ketus.
Sepia menggeleng cepat. Setelahnya, ia menarik napas tajam. “Suratnya nggak sama gue!”
Keningku mengernyit dalam, “terus sama siapa? Jangan coba-coba lo bohong sama gue!”
Sepia kembali menggeleng cepat, “suratnya itu sama Gema!”
Aku tertawa pelan, terkesan mengejek. “Gimana bisa sama Gema? Bukannya lima tahun lalu gue titipin ke lo? Emang udah ada Gema di hidup lo waktu itu?” sindirku langsung.
Aku teringat, kopi yang sedari tadi terletak di atas meja, aku biarkan menjadi pajangan. Karena memang masih panas...
Aku meneguk kopi hitam itu, lalu kembali menatap Sepia yang termangu. Aku tahu, wanita itu sedang berdebat dengan dirinya sendiri, di dalam pikiran yang penuh kedengkian!
“Maafin gue...” lirihnya. Kedua mata itu hanya menatap meja, “gue akui, kalau gue nggak ngasih surat itu ke Wio. Tapi...”
Aku mendecih pelan, “lo gimana sih?” potongku. “Dia marah ama gue!”
Mata bulat Sepia semakin lebar. “Lo udah ketemu Wio?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Kalau gue nggak ketemu dia, gue nggak mungkin tau kalau lo nggak ngasih surat itu!” Aku berusaha agar tidak terdengar histeris. Tapi Sepia berhasil membuatku melewati batas kesabaran. “Dan sekarang seenaknya lo bilang kalau surat itu sama suami lo?!”
Sepia kembali mengalihkan tatapannya. Bibirnya bergetar. Bahkan aku melihat tangannya gemetar, saat menyangkutkan helaian rambut ke belakang telinga. “Gue nggak tau mau gimana lagi, Jac...” wajah itu masih ditekuk. Namun mata Sepia bergerak, membalas tatapanku. “Gue stress banget. Gue takut juga...”
Ah, aku bukannya tak ingin mendengar curhatan Sepia! Hanya saja, aku sudah malas meladeni wanita di hadapanku ini.
Tapi apa benar Gema yang mengambil surat itu? Jika benar, bagus kalau bajingan itu membaca isi surat itu! Kalau dia baca, pasti bajingan itu bisa memahami kenapa aku balikan dengan Winona!
“Lagian Winona udah balikan sama gue. Yang harus lo ancam biar nggak macam-macam itu justru suami lo! Bukan Wio!”
Sepia menghela napas pelan. Ia mengangkat jarinya, untuk memijat pelipis. “Jadi sebenarnya, lo mau ketemuan sama gue untuk ini? Untuk belain Wio?” Aku melihat mata itu sedikit berlinangan dengan air mata.
Aku menghabiskan sisa kopi, “trus lo pikir buat apa? Buat nanya kabar lo gitu?” ujarku sambil berdiri berdiri. “Nggak penting, tau nggak!”
Aku berlalu, dengan langkah lebar meninggalkan Sepia yang hanya duduk membeku.
Bahkan teh pesanannya tidak tersentuh dari tadi.
Tangan Sepia yang dingin menarik pergelangan tanganku. “Oke, tolong lo jauhin Winona dari suami gue!”
Mendengar kalimat dari nada dingin itu, membuatku menoleh ke samping, melirik Sepia yang menengadahkan kepalanya. “Lo yang jauhin suami lo dari...”
“Gue nggak bisa! Dia...” Sepia melepaskan genggaman tangannya. Wajah itu kembali berpaling, menunduk sendu. “Gue nggak punya hak buat ngatur hidup dia.” Nada suara Sepia begitu pelan. Jika saja kedai kopi ini ramai, mungkin aku tidak akan mendengar apa yang wanita itu ucapkan.
“Lo tahu pria seperti apa yang lo nikahin. Tapi tetap saja, lo setuju.” Aku masih berdiri di samping kursi Sepia, mengatakan kalimat itu dengan nada datar. “Lo lakuin ini semua demi apa...”
Aku mendengar tawa mencemoohnya. “Lo kaya, lo nggak tahu gimana rasanya menginginkan sesuatu tanpa mikirin harganya! Lo tinggal tunjuk! Kalau lo gagal usaha, lo masih punya keluarga yang tinggal di rumah mewah! Acara keluarga lo masih bisa pergi liburan! Gue...”
Aku menghela napas pelan. Memang mudah untuk merasa frustasi, di saat semua orang di lingkunganmu mendapatkan apa yang mereka mau tanpa bersusah payah.
Sepia memang benar, aku tidak memahami posisi itu. Di mana ego untuk memiliki sesuatu lebih besar dibandingkan dengan kemampuan diri.
“Meski bukan Wio, pasti ada wanita lainnya di luar sana yang...”
“Tapi bukan Wio!” sela Sepia. “Gue nggak mau benci sama sahabat gue sendiri. Tapi kalau gini, gue terbakar cemburu, Jac!” rengekan terdengar di ujung kalimat itu.
“Udah gue bilang tadi, Wio sama gue. Jadi lo nggak usah khawatir.” Usai dengan kalimat itu, aku melangkah keluar dari coffee shop.