Yellow Flag

Yellow Flag
Bukan Sekedar Fiksi


🌻 Winona


Perkataan Jacob membuat wajahku sedikit menghangat. Aku bisa merasakan pusaran angin di perutku. Senyum tanggungnya menambah efek yang membuatku tersipu malu.


Menghela napas kecil, aku mengenyahkan sisa rasa yang sedikit demi sedikit mulai terkumpul kembali. Aku harus fokus pada pertanyaan selanjutnya yang masih bergelung di pikiranku. Aku memberanikan diri, membalas tatapan itu. “Apa lo yakin, bisa melanjutkan bisnis lo tanpa dana itu? Karena sekarang ini, modal tanggung susah untuk survive.”


Jacob mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku harus yakin. Aku ada simpanan, lumayanlah. Lagian, paling keuntungannya yang masih belum seberapa. Aku ada proyek perdana, dan aku yakin tim yang aku pekerjaan bakal usaha keras untuk mendapatkan proyek lainnya.” Tatapan matanya sedikit berbinar.


Aku sangat berharap, Jacob bisa sukses dengan usahanya sendiri. Karena aku tahu, dia sering direndahkan oleh keluarga suami ibunya.


Tak banyak obrolan yang berarti. Hanya beberapa percakapan ringan yang menemani santap siang kami. “Sekarangkan Sabtu. Mana ada orang masuk kantor,” celetukku usai menghabiskan makanan.


Aku melihat ke sekeliling, menyisiri ruangan yang tidak terlalu ramai. Karena biasanya, jam segini semua kursi akan penuh.


Jacob terkekeh pelan. “Iya, aku lupa.” Ia berdehem kemudian, “kamu mau ngapain habis ini?”


Aku menghela napas berat, kembali menatap kedua mata yang membuatku lupa untuk bernapas. Oh! Mengapa dia begitu tampan? Jika aku terus-terusan bertemu Jacob, bukan tidak mungkin aku akan kembali terjerat tali asmara dengannya.


“Balik ke kos. Kan udah gue bilang, ada kerjaan.” Keningku mengernyit dalam, teringat sesuatu, “kalau bisa, lo lurusin masalah lo dengan Aleia. Gue nggak mau terseret masalah ini!”


Aku melihat sudut bibir Jacob sedikit berkedut. “Maaf ya, aku bawa-bawa nama kamu.”


Melihat mata itu berubah sendu, membuatku merasa bersalah karena masih saja membentaknya. Aku menghela napas pelan, “ya kalau kamu nggak mau, tolak aja dengan alasan yang kamu bilang ke aku sebentar ini.”


Jacob mengangguk cepat, “masalah kamu sama Sepia gimana?”


Aku menundukkan wajah, merasa lelah hanya untuk sekedar memikirkan jawaban dari pertanyaan Jacob. Menghela napas kalut, aku menggeleng pelan. “Entahlah. Biarin aja gitu. Kalau Sepia mau ketemu dan bicara baik-baik, aku akan meluangkan waktu. Dia lagian sedang hamil. Pasti dia sensitif, paling kalau otaknya bisa mikir dengan kepala dingin... Sepia bakal hubungi aku lagi.”


Jacob mengangguk pelan, “sekarang, aku anterin kamu pulang. Nanti nggak siap kerjaannya malah aku yang disalahin.”


Aku tertawa pelan mendengar nada datar dalam suara berat itu.


Jika aku pikir, memang salah Jacob! Bukannya cepat melupakan mantan, aku jadi kembali jatuh pada pesona mantan! Bahkan entah mengapa aku merasa senang, Jacob mengatakan bahwa dia balikan denganku. Meski itu hanya bohong, aku...


Ah, sial! Mengapa aku masih saja berharap! Ditambah surat yang Jacob katakan. Jika isi surat itu membuatku memahami alasan kepergiannya, mengapa aku menolak kedatangannya kembali saat ini?


Jika menyangkut soal Jacob, sepertinya pikiranku akan plin-plan.


...***...


Sisa hari Sabtu sore aku sibuk dengan menyelesaikan tugas. Meski kepalaku cenat-cenut, chat dari Jacob membuat pikiranku kembali membayangkan sosoknya yang semakin tampan saja! Entah karena umur, atau Eropa mengubah pria itu. Tubuhnya semakin kekar saja!


Memikirkan Jacob sekejap, cukup membuat kepalaku memanas. Jika aku turuti hawa nafsu, mungkin aku sudah terbakar oleh imaji liar yang menuntunku pada pelampiasan. Tapi rasanya, ini salah!


Aku menggeleng cepat. Lalu menggapai ponselku dan membalas pesan singkat dari Jacob, yang sedari tadi aku biarkan menggantung di bilah notifikasi.




Aku sama sekali tidak ada hak mencampuri urusan keluarga Jacob. Sudah aku katakan padanya, untuk tidak membawa namaku! Kenapa dia masih saja bilang, kalau dia masih sayang sama aku?


Aku tidak bisa membayangkan, cacian dari Ibu Saskia Atmadja itu! Aku pernah bertemu sekali dengannya, ketika ia tahu aku pacaran dengan Jacob. Kesan pertamaku tidak begitu baik dengannya. Hanya sepuluh menit kita mengobrol, dan aku masih ingat kata-kata itu...


“Kamu tahu anak saya itu suka mainin perempuan? Dia itu nggak serius sama kamu! Dia cuman jadiin kamu mainan dia!”


Jika aku pikir-pikir, Jacob tidak pernah benar-benar menyentuhku! Kata Sepia, mungkin Jacob kelainan. “Hah? Serius lo? Dia nggak pernah ngajak lo begituan? Aneh... apa jangan-jangan dia nggak doyan ama cewek...”


Kata-kata Sepia menggangguku selama tiga hari. Jacob bertanya kenapa akhir-akhir ini aku terlihat uring-uringan. Dengan nada malu-malu, aku bertanya padanya...


“Aku sudah menjadi pria brengsek sebelumnya. Dan aku nggak mau mengotori kamu hanya karena aku nggak bisa tahan diri aku. Bukan berarti aku nggak mikirin kamu.” Senyumnya sangat lebar, dan mata indahnya menunduk, tak mau membalas tatapanku.


“Kamu emang pengen tahu, apa yang aku pikirkan tentang kamu saat...”


“Udah! Aku udah nggak mau lagi bahas itu.”


Apakah sikapnya padaku aneh? Maksudku, dia tak pernah mengatakan hal-hal yang kotor seperti Gema, padaku! Jacob selalu bersikap manis.


Dentingan notifikasi pesan kembali berbunyi, mengoyak lamunan masa laluku.



Aku menarik senyum. Ikut merasa senang dengan kabar itu! Dan aku juga senang, Jacob juga sudah berubah banyak! Dulu dia sering pesimis, karena sering dibandingkan dengan anggota keluarga Atmadja yang lain. Mereka pintar lah, masuk kuliah di Kedokteran semua!


Kenapa Jacob milih jurusan yang tak punya masa depan seperti perfilman?


Tapi chat terakhirnya membuatku menggosok mata, berharap apa yang aku baca tidak benar adanya! Tak peduli berapa kali aku melihat... bahkan sampai tanda online Jacob sudah berubah, chat terakhirnya sukses membuat wajahku memerah!


...***...


Minggu pagi aku sudah menyiapkan sarapan sederhana. Roti gandum dan kopi latte favoritku. Ditemani dengan layar laptop yang sudah mulai menampilkan drama yang dari bulan kemarin ingin aku tonton!


Aku tak suka digantung. Jadi aku tunggu saja drama itu tamat, sebelum mengunduh dan menontonnya.


Jalan satu episode, ponselku berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar datar itu. Aku mengingat, apakah ada pesanan onlineku yang akan datang? Tapi, aku tak memesan apa-apa, berhubung tanggal tua! Daripada penasaran, aku jawab saja. Jika tangisan di seberang dan suara ‘minta tolong’ terdengar, aku tutup saja teleponnya. Atau kalimat, ‘selamat Kakak memenangkan...’


Ah, apa masih jaman, melakukan penipuan dengan telepon pada saat sekarang ini?


Aku mengklik space di layar keyboard. Sebelah tanganku mengambil handphone. “Halo?”


“Halo. Ini aku, Aleia...”


Pikiranku seketika langsung terenggut dari sisa-sisa drama yang barusan aku tonton! Seolah permasalahan cintaku lebih rumit, dari hanya sekedar drama fiksi.