Yellow Flag

Yellow Flag
Api Cemburu


đźš© Jacob


Aku mengetukkan kuku jari pada kemudi, menunggu lampu berubah hijau. Kesabaranku benar-benar sudah di ambang batas, ingin langsung menerobos lampu merah. Andai saja aku tidak mendengar teriakan Aleia, mungkin saja aku tidak akan merasa cemas begini.


Aleia bukan tipe perempuan yang suka pergi ke Club. Apa yang dipikirkan gadis itu? Mengapa dia pergi ke sana? Apa percakapannya dengan Winona tadi siang membuat gadis itu frustasi? Apa benar, Aleia mencintaiku…  melebihi kakaknya sendiri?


Meski hubungan keluarga kami terbentuk setelah Mama menikah dengan Adijaya Atmadja, tetap saja aku masih menganggap Aleia seperti sepupuku sendiri. Meskipun bukan sepupu kandung pun, tetap saja bagiku… rasa itu tidak ada.


Aku sayang pada Aleia. Merasa marah jika ada yang mengganggunya. Tapi cinta?


Rasa itu sudah dicuri dariku.


Dan wanita yang aku cintai, melihatku dengan sorot tak percaya. Seolah dia tak mau mendekat, namun tidak juga menyuruhku menjauh. Mungkin takut jika aku kembali menorehkan luka yang belum sembuh. Karena aku pernah menjadi bagian dari masa lalu, yang membuatnya kecewa.


Jam di dashboard menunjukkan pukul 01.48, saat aku sudah memarkirkan mobil. Aku langsung keluar, melangkah dengan cepat menuju pintu masuk.


Bau alkohol memenuhi udara. Membuatku mendengus muak. Aku sedikit mengedikkan bahu, melihat arus masa yang berjoget mengikuti ritme musik. Sedikit mendorong tubuh-tubuh yang menghalangi jalan, aku melirik ke arah meja order. Mencari-cari keberadaan Aleia di deretan wanita dan pria yang menatap bartender menyajikan minuman mereka.


Napasku tercekat, saat melihat gadis yang aku cari tengah mendorong seorang pria yang menarik tangan kirinya. Aku semakin mempercepat langkah.


Aku langsung menarik tangan pemuda itu, membuatnya mendongak, menatapku dengan memicingkan mata. Bibirnya terbuka, mengucapkan kata yang bisa kumengerti dari gerak bibirnya. “Apa lo!”


Aleia menoleh, menatapku terkejut. Aku menarik pergelangan tangannya. Aleia sedikit limbung, membuatku secara spontan merentangkan tangan. Memeluknya dan menarik gadis itu ke sisiku. Aleia melirikku sesaat. Ia terlihat menahan kantuk, seolah berusaha agar mata itu terus terbuka.


Samar-samar aku mendengar suara pria itu, di antara riuhnya musik yang membuat jantungku berdentum cepat. “Lo… siapa sih?”


“Dia cowok gue! Jadi pergi lo sana!” jawab Aleia dengan nada tinggi.


Aku hanya bisa menahan napas mendengar jawaban spontan itu. Jika aku koreksi… tidak penting! Karena pria bertubuh semampai itu melirikku dan Aleia bergantian, lalu mengibaskan tangannya di udara.


Aku menggenggam pergelangan tangan Aleia, menarik gadis itu agar mengikuti langkah kakiku keluar dari Club.


“Kamu kenapa sih?” tanyaku setelah berdiri di pelataran parkir.


Aleia menarik keras tangannya, membuatku melepaskan genggaman tangan. Wajah manis itu sudah merah oleh alkohol. Begitu pun setiap embusan napasnya berbau cairan yang membuatku melangkah mundur. Aku tidak begitu suka bau itu, karena membuat dadaku terasa sesak.


“Ngapain lo ke sini?” ujar Aleia, terdengar geram. Aku melihat genangan di pelupuk matanya.


Membuatku menghela napas kasar. Karena aku tahu, Aleia sangat sensitif. Terlebih pengaruh alkohol. “Kita pulang dulu ya.”


Aleia menggeleng cepat, “gue bawa mobil,” ujarnya sambil berpaling muka.


Aku mengusap wajah, “gue nggak bakalan izinin lo bawa mobil sendiri! Gue anterin pulang.”


“Gue nggak mau!” bantah Aleia. Rahangnya mengencang setelah mengucapkan kalimat bernada tinggi.


Aku menyipitkan sebelah mata, “lo kenapa sih? Nggak biasanya minum kek gini.”


Aleia memukul dadaku. Kepalan tangan itu terasa mungil dan lemah. “Salahin diri lo sendiri! Ngapain lo– nanya ke gue!” ujarnya terbata.


Aku kembali menghela napas tajam. Topik ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku, akan terlontar dari mulut Aleia. Melihat air mata yang menetes di pipi tirus itu, membuatku merentangkan tangan. Mengusap pelan wajahnya. Jika sudah begini, hanya ada satu skenario yang biasanya akan membuat wanita manapun akan luluh.  “Maafin gue, kalau ini salah gue. Tapi kita pulang dulu ya?”


Aleia menundukkan wajahnya. Tubuh gadis itu sedikit condong ke arahku. Ia menjatuhkan dirinya, membuatku reflek merentangkan tangan. Pelukan itu terasa kaku.


Isak tangis perlahan terdengar. Aleia melingkarkan tangannya di tubuhku.


“Salah ya, kalau aku terlanjur menyimpan rasa sama kamu?” gumam Aleia.


Aku hanya terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Karena sekarang di kepalaku, hanya ada satu nama yang menyimpan rasa di hatiku.


...***...


Fera langsung menoleh, ia mengangguk cepat. “Udah Pak… Hasan sama Lolita sudah mulai bikin konten. Kita udah bisa mulai produktif hari ini. ”


Aku melirik Beno yang duduk di kursi belakang. “Kita hari ini lihat ke lokasi. Kalau bisa take gambar awal. Tapi kita harus usahakan yang terbaik.”


“Kalau sandal gunung, kita take di area pegunungan juga Pak?” tanya Beno, nada itu terdengar polos.


Aku menambah kecepatan laju mobil. “Iya. Masak di pantai?” balasku sedikit tertawa.


Fera terkekeh pelan. “Masa pake nanya!” ujarnya sambil menoleh ke kursi belakang.


“Ya kirain bisa di area … oh…” aku melirik ke kaca spion, Beno mencondongkan tubuhnya ke depan. “Apa bisa take di tokonya gitu.”


Percakapan berlanjut. Sedangkan aku terhanyut dalam pikiranku sendiri.


Kepalaku berdenyut ngilu. Kuapan tak henti-hentinya menemani perjalananku menuju pinggiran kota. Percakapan dengan Aleia mengganggu tidurku.


“Kamu kenapa sih, suka sama perempuan kegatelan itu?” tanya Aleia. Kepala gadis itu tersandar ke kaca. Sorot matanya menatap lurus ke jalan raya. “Dia perempuan penggoda! Tahu Gema dan Sepia kembali ke sini, dia malah chat Gema. Ngajak ketemuan. Padahal Sepia lagi hamil. Apa dia nggak punya hati? Dan apa… dia bilang…”


Dari sudut mata, aku melihatnya menoleh menatapku. Genggamanku pada kemudi semakin erat. Napasku juga terasa berat untuk dihirup.


“Kamu yang mau balikan sama dia! Solah semua pria mengejarnya! Malah bilang kalau kamu nolak aku karena aku dokter muda? Aku tak punya waktu untuk kamu. Jika aku mau korbanin karir yang sudah susah payah aku capai, malah sia-sia begitu saja demi…”


Kalimat itu terhenti.


Darahku mendidih mendengar ucapan Aleia. Jika saja Aleia sadar seutuhnya, aku mungkin sudah bertengkar dengan gadis itu. Aku memilih diam. Tak menggubris kata-kata Aleia. Meski aku sangat ingin mengutarakan yang sebenarnya.


Namun  apa gunanya, jika kata-kataku akan dilupakan di pagi hari? Karena gadis yang aku ajak bicara malam itu, adalah wanita yang tengah mabuk.


Belum lagi chat dari Sepia pagi ini membuatku bertambah kesal. Pesan itu membuatku menggenggam ponsel dengan geram. Aku langsung membalas pesan Sepia.



Pesan itu tidak lagi aku balas. Aku sudah merasa kesal pada wanita itu. Setelah segala asumsi negatifnya pada Winona, tetap saja Sepia merasa bahwa dia korban dari sahabatnya sendiri.


Aku menarik napas dalam. Mencoba meleburkan masalah pribadi. Sekarang, waktunya kerja! Dan aku harus memenuhi target yang sudah dirancang.


Sekitar dua jam, aku dan Beno mengambil gambar, sekaligus membahas tema dan ide iklan. Untungnya, pekerjaanku bisa terselesaikan tanpa adanya kendala yang berarti. Aku juga sudah memperkirakan tanggal untuk take berikutnya.


Angka 12.45 di layar membuatku teringat Winona. Apa dia mau aku ajak lunch? Tapi aku tak punya cukup waktu untuk datang tepat waktu. Sekitar satu jam perjalanan jarak yang membentang.


Atau aku telpon saja! Biasanya, wanita akan sulit melupakan pria yang sering menghubunginya, menanyakan apakah mereka sudah makan atau belum. Bentuk perhatian itu terkesan sederhana, namun bermakna dalam.


Aku mengetuk-ngetukkan kuku di atas meja, menunggu nada dering bernada sambung. Pada deringan terakhir, akhirnya teleponku diangkat.


“Halo…”


Keningku mengernyit dalam, mendengar suara yang sama sekali tidak familiar. “Siapa ini?”


“Saya Ginara. Winona sedang lunch bareng mas tampan.”


Mas tampan…. “Siapa?”


“Saya nggak tahu, dia…”


Perasaan tidak enak mengusik. Intuisi menuntunku pada satu nama. “Apa dia tinggi, mata sipit dan kulit sawo matang?”


“Ya! Oh, ini temen Winona atau…”


Aku langsung mematikan sambungan telepon. Api cemburu membakar jantungku. Jika saja aku memiliki kekuatan teleportasi, mungkin aku sudah mendarat di tempat Winona dan Gema sekarang!