Yellow Flag

Yellow Flag
Badminton dan Masalah Aleia


đźš© Jacob


Napasku sudah terasa berat untuk dihirup. Detak jantungku juga berdentum cepat. Keringat sudah membasahi telapak tanganku. Untungnya, emosi yang tertahan membuatku menumpahkan kekesalan pada setiap smash.


*Kok menyentuh lantai lawan. “Yes! Match point*!” seru Elang di sebelahku. Aku tersenyum simpul, sambil memainkan raket di genggaman tangan kiriku. “Keep calm!” desis Elang. “Sebelum menang mesti kalem,” ujarnya sambil melirik kedua lawan.


"Stay focus!" gumamku pelan. Mungkin Elang tak akan mendengar ucapanku.


Wajah lawan main terlihat tegang. Sorot matanya tertuju padaku dan kok yang berada di tangan kananku. Austin menyeka keringat di keningnya. Sedangkan Vero, menatap tajam pada benda putih di tangan kananku.


Aku melemaskan pegangan, memberikan sedikit tenaga pada pukulan. Kok melayang di udara, sedikit di atas net.


Vero dengan sigap maju, menangkis serangan rendahku. Kok kembali mengudara, menuju sisi Elang. Temanku menangkis serangan melambung, dengan melakukan smash ke area lawan.


“Yes!” teriak Elang, terdengar kelewat girang.


Aku melebarkan senyum. Melakukan high five dengan Elang.


“Woooo!! Congrats duo cowok ganteng akuuh!” teriak Kim dari area penoton. Tepuk tangan riuh dari beberapa penonton terdengar nyaring di telingaku.


Hanya ada sekitar dua puluh orang, dan rata-rata mereka adalah teman sekantor Elang. Aku hanya mengenal kedua temanku yang duduk di bangku depan.


“Good game…” ujar Vero saat kami bersalaman. Mata sipit itu hilang saat senyum kecil tertarik di sudut bibirnya. Aku ikut menarik senyum, sambil mengangguk kecil.


Austin hanya mengangguk sungkan. Ia terlihat sedikit menahan geram. Aku tak menyalahkan Austin. Jika aku jadi dirinya, mungkin aku juga akan merasa kesal karena kalah dua set.


“Kalau gue main sama Heru, pasti udah babak belur di set awal!” ujar Elang sambil berjalan bersisian denganku. Senyumnya tak pernah pudar. “Kemarin itu yang main Vincent. Dia sama Vero main cakep banget,” ujar Elang dengan suara rendah.


“Smash lu brutal banget!” komentar Heru saat kami sudah dekat. Tangannya mengayun di udara, lalu menirukan gerakan smash. Wajah berjambang tipis itu sedikit tegang, menatapku dengan sorot terkejut.


Ia menghela napas, lalu sorot mata itu berubah cemas. “Lu ada masalah ya? Bawaannya kek orang emosian gitu.”


Heru memang yang paling konyol, sekaligus yang paling sensitif. “Tau aja lo…” dengusku. Sebelah tanganku menarik handuk dari dalam tas. Aku menyeka keringat yang sudah membasahi tengkuk dan leher.


Mata Kim membulat lebar. “Eh, emang iya yak? Gue pikir adrenalin rush, make your smash…” Kim ikut mengayunkan tangannya di udara. Wajah cerianya terlihat tanpa beban. “Shoo… shoo…” ia menghela napas tajam. Lirikan mata Kim menangkap sosok Heru yang berdiri di samping kanannya. “Untung lo yang main, kalau Jeju…” Kepalanya menggeleng cepat. “Dah lah, pasti kalah!”


“Belum tentu,” balas Heru sambil menyikut Kim. “Gue udah rajin ngegym. Pasti bisa menang kita!” Heru mengangkat tangannya, menyingkap pergelangan kaos merah maroon yang ia kenakan. Bisep itu hasil dari timbunan lemak, bukan massa otot.


Kim terkekeh. Tangannya memijat otot Heru. “Ini kenyal njir! Mana ada otot begini!” ia tertawa lepas.


Aku mengambil ponsel dari dalam ransel. Angka 9.05 PM, tertera di layar. “Gue balik ya. Besok Senin, kalian pada masuk kerja juga kan?”


Kim mengangguk lemah, “besok lo hari pertama ngantor ya?” Kim melebarkan matanya, “lo ada kantor kan? Apa hybrid?”


Aku mengangguk, “gue ada kantor. Tapi ya… masih basic banget.”


“Semangat bro!” ujar Heru sambil mengepalkan tangannya di udara. “Merintis emang harus bersusah-susah di awal.”


Aku menghela napas berat. “Thanks ya.”


...***...


Malam terasa panjang. Terlebih saat pikiran menyiksa batin ini. Kata-kata terakhir Winona seperti mantra kutukan di kepala.


Mata penuh kekecewaan itu membuatku tak bisa lama-lama menatapnya. Aku tidak tahu, bagaimana caranya membuat Winona tak merasa sedih lagi.


Aku menggosok wajah dengan kasar. Lalu membalikkan tubuh menghadap kanan. Menggeram rendah, aku bangkit ke posisi duduk.


Aku membuka pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Menghirup udara malam dari kota yang berpolusi. Tidak ada kesegaran, hanya sesak yang semakin mencengkram hulu hatiku.


Aku kembali ke dalam, mengambil rokok dari dalam laci. Kemudian aku ke dapur, mengambil mineral dari dalam kulkas.


Bahkan kulkas itu tidak berisi apapun! Seharusnya aku tadi singgah dulu di mini market.


Kembali ke balkon, aku menarik bangku bulat kecil yang terletak di sudut, meletakkannya di dekat teralis.


Pikiranku kembali berkelana, saat menatap hampa pada lampu-lampu kendaraan yang masih berlalu lalang di jalan utama. Aku ingin menyanggah perkataan Wio. Namun gadis itu terlihat marah.


Aku benar-benar sayang padanya. Jika tidak, mungkin aku akan meninggalkannya tanpa kabar, seperti yang ia tuduhkan padaku! Meski nyatanya, kesalahpahaman itu yang membuat Wio semakin terluka dan kecewa padaku.


Jika ingin memenangkan hatinya kembali, hanya ada satu cara. Waktu!


Perlahan, aku menghisap rokok. Menikmati setiap tarikan dan embusan dari tembakau yang terbakar.


Aku selalu percaya, rasa mulai tumbuh seiring waktu yang kita habiskan bersama. Begitu pun hubungan akan terbentuk, saat waktu membentuk sebuah momen. Mengukir sebuah peristiwa spesial, yang nantinya akan menjadi kenangan.


Dan aku juga percaya, kenanganku dengan Winona akan membuat gadis itu kembali padaku! Dan demi waktu, aku akan mendapatkan hati Winona kembali!


Aku menarik senyum kecil. Teringat bagaimana posesifnya diriku. Jika aku berani menduga, hanya aku yang pernah ada di hati Wio. Hal itu semakin menguatkan tekadku untuk kembali menjadikannya bagian dari momen indah di hidupku.


Tapi bagaimana caranya aku mendapatkan waktu dengan Winona? Ah, aku teringat rencana pertemuan dengan Sepia. Pertemuan itu sedikit membuatku cemas. Sepia pandai bermain peran. Aku akui, tadi ketika aku melihat wajahnya yang terlihat tertekan, membuatku iba. Aku merasa kasihan, bahwa ia menikah dengan pria bajingan seperti Gema.


Ponselku berdering, membuatku menoleh ke arah kamar. Siapa yang menelponku larut malam begini?


Aku mematikan rokok, lalu meletakkannya di samping botol mineral yang masih utuh.


Nama Aleia tertera di layar. Tumben sekali dia menelpon larut malam begini?


“Hallo,” suara  pria terdengar dari seberang telepon.


“Brengsek! Jangan sentuh gue!” teriakan Aleia terdengar di latar belakang. Begitu juga dengan suara musik disko yang terdengar nyaring.


Jantungku bergemuruh setelah mendengar suara Aleia. “Hallo, ini siapa?” tanyaku dengan nada mendesak. Langkahku mengayun cepat, menuju lemari pakaian. Mengambil jaket kulit hitam, aku mengepaskan di tubuhku.


“Saya waiters dari Frederica’s Bar and Lounge, mbak ini mintak tolong sama saya hubungi last contact.”


Last contact? Aku menarik ponsel dari telinga, menurunkan bilah notifikasi. Nama Aleia tertera pada keterangan misscall.


“Jagaian adek saya ya. Saya sekarang ke sana!” Aku mengambil kunci motor, lalu mematikan lampu kamar.


“Baik.”


Tidak biasanya Aleia ke bar! Dan dengan siapa dia pergi? Apa dia pergi sendiri ke sana? Ini bahaya! Aku harus segera pergi ke sana.