Yellow Flag

Yellow Flag
Pengakuan Jacob


🌻 Winona


Laptopku terbuka begitu saja. Layar itu sudah sepenuhnya berubah hitam. Aku mengambil kopi, meneguknya banyak-banyak. Kopi itu sudah alang-alang dingin.


Aku mengembuskan napas gusar. Lalu merebahkan tubuhku ke atas kasur dengan kasar. Percakapan dengan Sepia di telepon, kembali terngiang seperti mantra kutukan. Meski aku memahami kenapa Sepia marah, tapi aku tidak terima apa yang ia katakan!


Aku tidak pernah cerita pada Sepia, perkara Gema. Karena waktu itu memang komunikasi kita sempat terhalang. Untuk mendapatkan promosi jabatan, Sepia harus bekerja di kantor cabang selama dua tahun itu. Aku dan Sepia hanya sesekali mengobrol. Itu pun hanya sebentar, sebatas menanyakan kabar.


Ketika aku akhirnya ingin pindah, Sepia memohon untuk mencari lowongan kerja padaku. Karena ia tidak tahan lagi bekerja di sana. Aku pindah, Sepia yang mengisi lowongan kerja itu.


Mungkin minggu lalu aku melihat postingan Sepia. Aku pikir, Gema sudah berhenti menjadi pria brengsek di saat ia dan Sepia sudah memiliki cabang bayi. Pria itu bahkan menuliskan komentar yang romantis.


Ponselku kembali berdering. Aku melihat satu nama, yang sudah lama tidak tertera pada layar datar itu! Mataku membulat lebar, saat waktu berpikir, aku habiskan untuk mengingat.


Kenapa ada nomor Jacob di ponselku?


Apa semalam, pria itu memasukkan nomornya saat aku terlelap? Ya! Hanya itu kemungkinannya.


“Halo!” ucapku dengan nada gusar.


“Aku di luar kosan kamu, bisa keluar sebentar nggak?”


Di luar kosku? Aku langsung berdiri, membuka gorden jendela selebar satu meter itu. Aku terkesiap kaget, mendapati sorot mata tajam Jacob menatapku tanpa bergeming. Setelan jeans hitam, dengan jaket kulit hitam itu membuat sosoknya seperti pembalap liar di film-film saja.


Karena balap liar di kehidupan nyata menurutku tidak stylish.


“Sebentar kok, nggak lama. Ada yang mau aku omongin.”


Kenapa suara itu terkesan dingin? Malah ekspresi wajah Jacob bisa aku katakan sedikit tegang.


Aku mengambil cardigan, mengepaskannya di tubuhku. Aku melihat pantulan di kaca sambil lalu. Wajahku terlihat pucat, alisku juga tipis.


Wajahku juga sedikit kusam! Ufh!


Aku mengambil lip tint, mengoleskannya sekilas hanya untuk membuat wajahku sedikit cerah.


Ketika aku sampai di tangga bawah, aku melihat Jacob berdiri. Seulas senyum tanggung melekat di wajah itu. Entah mengapa, ada sedikit penyesalan yang terlihat dalam sorot mata itu.


“Mau ngomong apa?” mulaiku.


Jacob menggaruk kepalanya. Aku yakin itu gerakan canggung pria itu.


“Kamu ada kegiatan nggak siang ini?”


Aku mengernyitkan kening, memikirkan pertanyaan yang aku pikir akan mengarah pada... Jacob sepertinya mengajakku keluar!


“Gue nyelesain draft kerjaan. Daripada besok gue ribet, jadi ya...”


“Ah... ya...” wajah itu sedikit ditundukkan.


“Tadi katanya mau ngomong? Tentang apa?”


“Aku boleh minta tolong sama kamu?” Jacob hanya sebentar menatap kedua mataku. Aku mendengar helaan napas tajamnya. Bahkan kedua tangannya sedikit bergetar.


Aku tertawa pelan, terkesan tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. “Minta tolong? Apa yang bisa aku bantu?”


Aku menggigit bibir bawah, tersadar sudah mengganti kata panggilan itu. Jacob yang terus-terusan mengguna ‘aku, kamu’ membuatku mengikuti gaya bahasanya.


“Aku...” Jacob menoleh ke atas, menengadahkan telapak tangannya. “Kita bisa ngomong di tempat yang agak nyaman nggak?”


Oh, ini tidak baik!


Alarm berbunyi di kepalaku. Jika aku pergi dengan Jacob, akan susah untuk hatiku kembali tertutup! Bagaimana pun, aku mulai sekarang harus hati-hati. Jangan sampai hatiku jatuh untuk kedua kalinya, pada pria yang telah menyia-nyiakan perasaanku sebelumnya!


“Ah, iya...” ujarnya sedikit meringis. “Aku tadi nelpon Sepia.”


Mataku membulat lebar saat nama itu disebutkan.


Nah, iya! Perkataannya mengingatkanku pada percakapanku barusan dengan Sepia. “Iya, bentar ini gue juga nelpon dia. Trus...”


Sial! Mengapa tiba-tiba jantungku bergemuruh begini? Seolah kata-kata Sepia mengenai Gema yang masih mengingatku, membuatku merasa tak enak pada temanku itu.


“Dia ngomong apaan?” nada suara Jacob terdengar penasaran. Begitupun dengan sorot mata, dan sedikit kedutan di sudut bibirnya.


“Lo nanyain gue! Mungkin alibi lo doang, buat mancing Sepia cerita soal gue.” Aku menarik napas dalam, “Sepia ada ngomong hal yang... nggak enak gitu, tentang gue yang Sepia nggak suka?”


Kening Jacob semakin mengernyit dalam, setelah mendengar perkataanku. “Sepia marah sama kamu?”


Aku mengangguk pelan. Lalu aku teringat kata-katanya yang... “malah, dia nyuruh gue buat nikah! Biar Gema nggak mikirin gue lagi!” Aku menggeleng pelan, mencoba mengenyahkan suara rengekan Sepia di pikiranku.


Jacob tertawa pelan.


Dengan cepat aku menatapnya heran. “Kenapa ketawa? Gue nggak ngelawak!”


Ia menggeleng pelan, “pas aja sih. Sebentar ini, aku bilang ke Aleia, kalau aku balikan sama kamu.”


“Apa!” sorakku histeris. Aku merasakan sesak di dada, dan udara terasa berat untuk dihirup. “Lo gila apa!”


Jacob menggeleng pelan. “Aku nggak mau dijodohin sama Aleia.”


Aku tertawa sinis, “kenapa emangnya? Dia nggak jelek juga! Malah bagus, nyokap lo dapat wanita yang selevel dengan keluar...”


“Wio...” sela Jacob, “aku nggak suka sama Aleia. Lagian, dia sibuk. Aku nggak suka punya istri yang sibuk dengan pekerjaannya!”


“Jadi perempuan itu cuman di rumah gitu? Ngurus...”


“Buat apa aku kerja kalau gitu?”


Aku kembali tertawa pelan, “kamu...” aku menggigit bibir bawah, menghentikan kalimatku sendiri saat melihat ekspresi Jacob sedikit berubah.


Pria tampan di hadapanku benar-benar terlihat kesal sekarang. Aku ingat dulu, percakapan kami tentang topik pernikahan...


“Aku pernah tanya sama Papa, kenapa mereka bercerai. Papa bilang, karena mereka tidak lagi saling cinta. Apa memang begitu, ya? Lalu Papa bilang, dia capek kerja. Mama juga kerja! Mereka jadi jarang ada waktu untuk sekedar mengobrol. Buat apa Papa kerja? Jika anak dan istri Papa tidak bisa menghargai uang yang Papa berikan?”


Jacob bilang padaku, kalau kita menikah, aku tak perlu kerja! Dia akan sangat senang, jika aku di rumah saja. Menunggu dia pulang kerja, lalu kita makan bersama. Selagi kita makan, kita akan mengobrol tentang apapun itu...


“Aku? Kenapa?” ujar Jacob. Suara beratnya membuyarkan lamunanku.


Aku berdehem pelan, mencoba mengingat perkataan terakhirku. “Kamu kenapa bilang ke Aleia kalau kita balikan?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirku.


Menatap kedua sorot yang berubah tegang, rasa kesal kembali membuatku mendengus “Apa lo jadiin gue pelampiasan yang kalau...”


“Aku sayang sama kamu Wio...”


Aku hanya menatapnya sebentar, lalu mendecih pelan. “Sayang? Apa sayang semudah itu untuk dicampakkan?”


“Aku akan dapatkan surat itu dari Sepia! Kalau kamu udah paham posisi aku, aku harap kamu...” Jacob sekarang yang tertawa pelan. “Aku udah sabar. Terus mengulang kata-kata yang sama dari semalam! Tapi kamu nggak mau dengerin aku. Apa kamu sebegitu benci sama aku, jadi kamu nggak mau lagi...”


“Gue nggak benci ama lo...”


“Terus kenapa?” sela Jacob. “Kenapa kamu marah terus sama aku! Bisa nggak bahas aku yang ninggalin kamu itu... karena...” Jacob meremas rambutnya geram.


Apa aku keterlaluan? Jika aku pikir dengan kepala dingin, perdebatanku dengan Jacob selalu saja kembali pada permasalahannya yang hilang tanpa kabar.


Well, bagiku dia hilang tanpa kabar. Bagi Jacob, dia sudah memutuskan hubungan seumur jagung itu dengan sepucuk surat.