
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di taman Teratai Indah. Mobil tersebut milik Revan, ia sengaja pergi ke tempat itu untuk menenangkan dirinya di sana.
Revan berjalan untuk mencari tempat duduk yang pas, kebetulan suasana taman sedang sepi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai di penuhi oleh kaum remaja bersama pasangannya.
Langkah Revan tiba-tiba terhenti, ketika matanya tertuju pada sosok wanita memakai gaun biru muda duduk di bangku di bawah pohon besar ujung taman. Sosok wanita itu tidak asing bagi Revan.
"Amera..?" ujar Revan ketika memperhatikan baik-baik si wanita itu.
"Ngapain dia di sini?" pikir Revan.
"Jangan-jangan Amera janji ketemuan dengan Alan!" pikirnya lagi.
Revan melihat ke sekitar parkiran, ia tidak melihat mobil lain selain dirinya. Ia juga tidak melihat akan ada kendaraan menuju arah sana.
"Lebih baik aku temui dia dulu, untuk meminta penjelasan dengan apa yang sudah terjadi," akhirnya Revan melangkahkan kaki berjalan menghampiri Amera.
"Mera.." Revan menyentuh bahu sebelah kanan Amera, membuat wanita itu seketika mundur ke belakang karena waspada. Ia pikir orang menyentuhnya barusan adalah orang jahat, tapi ternyata itu adalah Revan.
"Revan? ngapain kamu di sini?" Amera sedikit terkejut melihat kehadiran Revan di sana.
"Harusnya aku yang nanya sama kamu, ngapain kamu di sini?" Revan menanya balik Amera.
"Em..gak. Aku gak lagi ngapa-ngapain. Kebetulan aku tadi lewat sini, jadi aku mampir ke sini," jelas Amera sedikit terbata-bata.
Revan menatap Amera, dari matanya ia bisa mengetahui kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh gadis di hadapannya ini.
"Mera, kebetulan kita ketemu di sini. Dua hari ini kamu gak bisa aku hubungi, dan kamu juga tidak berusaha menghungi aku. Ada apa sebenarnya, Mera? Apa perasaan kamu sudah tidak seperti dulu lagi? Apa kamu sudah memiliki laki-laki lain?" pertanyaan Revan menyudutkan Amera, ia harus menjawab pertanyaan Revan dengan apa?
Aku sengaja pura-pura tidak tahu, Mera. Agar aku bisa dengar dari mulut kamu sendiri, apa kamu akan bicara dengan jujur atau kamu justru akan membohongiku? Ujar Revan dalam hatinya.
"Ak-aku... Aku kan sudah bilang sama kamu, saat ini aku sedang sibuk mencari pekerjaan. Aku gak bisa buat hubungin kamu sementara waktu. Aku juga sempat datang ke kantor kamu tapi rupanya kamu sedang sibuk, aku tidak mau mengganggu waktu kamu, Revan."
Ternyata kamu bohong Amera, kenapa kamu menutupi soal Alan yang melamar kamu. Kata Alan dalam hati.
Maafin aku, Revan. Aku terpaksa harus bohongi kamu. Dalam hati, Amera merasa sangat bersalah.
"Kapan kamu datang ke kantor aku? Seharian kemarin aku nunggui kamu, aku pikir kamu akan datang buat jelasin semuanya. Ternyata kamu gak datang sama sekali."
"Aku datang, Revan. Tapi kamu sedang sibuk."
"Kapan aku sibuk? Aku tidak ada meeting, dan aku tidak bertemu dengan siapapun hari kemarin. Aku cuma nungguin kamu di sana, Mera," Revan tetap bersi kukuh.
Kamu bilang tidak bertemu dengan siapapun, Revan. Jelas-jelas kamu ada di ruangan kamu sama Disa, aku lihat dengan kepala mata aku sendiri kalau kamu sedang berpelukan. Kenapa harus bohong?
Dari kejauhan, Disa melihat mobil milik Revan terparkir di sekitar taman Teratai Wangi. Ia yang tadinya akan pergi lagi ke kantor Revan, akhirnya berhenti juga di sana.
"Ngapain Revan di sini?" pikir Disa.
Tanpa pikir panjang, Disa memarkirkan mobil merahnya di sebelah mobil Revan. Setelah turun dari mobilnya, Disa mengedarkan pandangannya ke sekitar taman tersebut.
Disa berjalan lebih masuk ke sana, dengan terus mencari keberadaan sosok Revan.
Tidak lama kemudian, Disa menemukan laki-laki yang sedang ia cari sedang duduk bersama Amera.
Emosi pun menyulut hati Disa, ia sudah mati-matian membuat Revan untuk kembali padanya. Namun kenapa Revan tetap menemui Amera?
Disa berjalan menghampiri mereka setengah berlari.
"Revan, sayang... Maaf ya aku telat, kamu udah lama nungguin aku?" Disa mengalungkan tangannya di lengan Revan.
Nungguin? Apa jangan-jangan mereka janji ketemuan di sini? Tanya Amera dalam hatinya.
"Sayang.. Kamu kenapa, sih? Apa karena ada di sini, kamu jadi malu-malu kayak gini?" Disa kembali bergelayut di lengan Revan.
Tidak mau menjadi obat nyamuk di antara Revan dan Disa. Amera lebih baik memilih pergi dari sana, meskipun status mereka masih berpacaran, namun Amera tahu diri, kalau saat ini ia sudah resmi menjadi calon bagi Alan.
"Kalau begitu, aku duluan ya!" Amera mengambil tasnya yang tergeletak di bangku, dan pergi dari sana sembari menahan tangis agar tidak terjatuh.
"Lepaskan, Disa! Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, jangan pernah datang lagi ke kehidupan aku. Paham, kamu?!" Revan lari untuk mengejar langkah Amera.
"Mera, tunggu! Mera, aku bisa jelaskan semuanya, Mera. Mera...tunggu...!" Revan terus berlari mengejar Amera, namun sayangnya Amera sudah pergi dengan taksi yang baru saja ia hentikan.
***
Pak Abdi dan bu Anna rupanya sedang berbincang-bincang di coffe shop milik mereka.
"Ma, sepertinya makin kesini pengunjung coffe shop kita semakin sepi. Mana kita harus bayar hutang sisa nambahin modal, lagi," pak Abdi tampak sedang mengeluh.
"Iya, pa... Gimana, ya? Mama juga gak tahu harus berbuat apa. Kita harus sabar lagi kali, pa.." bu Anna sebagai istri berusaha menyemangati, karena pada dasarnya bu Anna ini orang baik. Hanya saja ia bersikap kurang begitu baik pada Amera dengan alasan demikian.
"Iya, mama benar," pak Abdi tersenyum pada istrinya.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba terdengar keributan dari luar. Pak Abdi dan bu Anna sontak kaget ketika melihat ada tiga orang laki-laki bertubuh tinggi dan kekar, berpakaian serba hitam dengan wajah di tutupi agar tidak di ketahui identitasnya.
Ketiga laki-laki itu masuk ke dalam coffe shop milik pak Abdi begitu saja tanpa ada kata sopan. Kedatangan mereka membuat beberapa pengunjung dan pegawai terutama kasir sangat ketakutan, ketika mereka menodongkan senjata tajam.
"Serahkan semua uangnya sama gua, atau lu gua tusuk!" ancam salah satu dari mereka pada kasir.
Semua pengunjung berlari berhamburan ke luar karena ketakutan, sementara penjaga kasir tidak tahu harus melakukan apa. Ia sangat ketakutan sekali.
"Ada apa, ini?" pertanyaan pak Abdi membuat ketiga preman itu menengok ke arahnya.
"Pa.. Ini ada apa?" bu Anna begitu panik dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya.
"Gak usah banyak tanya! Sekarang juga, gua minta serahin semua uanya!" pinta preman itu dengan nada bicara tinggi.
"Memangnya kalian ini siapa? Seenaknya minta uang sama kita. Saya akan melaporkan kalian semua ke polisi, karena apa yang kalian ini kriminal!" pak Abdi mengancam balik ketika preman yang berniat merampok itu.
Bukannya takut, ketiga preman itu malah tertawa dengan sangat keras.
"Hahahahaha... Laporin aja! Gua gak takut. Karena sebelum lu laporin gua, gua akan habisin lu," preman yang menodongkan sebilah pisau ke penjaga kasir ini berjalan mendekati pak Abdi, kemudian menodongkan sebilah pisau itu ke arahnya.
Ketakutan serta kepanikan bu Anna bertambah pada saat sebilah pisau mengarah ke suaminya.
"Pa.. Udah lah, pa. Kita serahkan saja uangnya. Mama takut papa kenapa-kenapa," bu Anna bicara dengan bibir yang gemetar.
"Mama tenang ya, ma. Orang seperti mereka ini tidak bisa kita biarkan," pak Abdi mengambil hp di saku celananya, ia berniat akan melaporkan mereka ke polisi. Namun sedetik kemudian.
Prakkk..
Preman itu berhasil menjatuhkan hp pak Abdi, ia segera menyerang pak Abdi dengan pukulan lumayan keras. Setelah itu, ia meminta semua uang yang ada di kasir. Kasirpun memberikan seluruh jumlah uang yang ada di sana.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, ketiganya langsung pergi begitu saja. Sementara para pekerja di sana dan bu Anna menghampiri pak Abdi yang sudah tergeletak di lantai.
"Papa...." bu Anna berteriak sambil menangis, ia melihat ujung bibir suaminya lebam.
***
NB: follow ig @wind.rahma