TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 36


"Hari ini Neni seneng banget, deh. Selain mbak amera, penghuni rumah ini betambah lagi. Apalagi mbak Vira bakalan jadi temen buat Neni. Aahh.. Pokoknya Neni seneng banget," Neni yang saat ini berjalan bergelayut sana gelayut sini ala khasnya tiba-tiba menghentikan langkah, pada saat kedua bola matanya menangkap seseorang yang baru saja keluar dari kamar Disa.


"Loh, itu kn mbak Disa. Mbak Disa pulang lagi ke sini apa ya?" pikirnya. Ketika ia hendak memanggil perempuan itu, dua sosok perempuan lainnya mwnyusul keluar dari kamar yang sama. Mereka berpapasan.


"Mbak Amera, mbak Vira? Kok bisa ada di kamar mbak Disa? Itu tadi, berarti beneran mbak Disa kan mbak Amera?" Neni mengernyit heran.


"Emm.. Iya. Tadi Disa, dia ke sini cuma mau ngambil barangnya yang ketinggalan.


"Oh begitu ya, mbak. Itu tangan mbak Vira kenapa?" Neni bertanya saat Vira sedari tadi memegangi pergelangan tangannya yang usai di cengkeram oleh Disa.


"Gue di sangka maling tadi sama adiknya pak bos. Padahal gue niatnya cuma mau bersihin aja tuh kamar. Pas adiknya pak bos itu datang, jadi salah paham deh."


"Ya ampun, kok mbak Disa tega ya sama mbak Vira. Mau Neni obatin, mbak? Kayaknya itu sampe lebam loh," Vira menggeleng.


"Gak usah, Nen. Makasih. Nanti juga bakalan ilang sendiri kok sakitnya."


"Neni benar, Vir. Itu lengan kamu sampe lebam loh. Mending di obatin dulu aja yah!" Vira pun akhirnya menurut.


"Iya deh, Ra."


"Ayo mbak Vir. Neni obatin di kamar," Neni mengajak Vira untuk mengobati lengannya, dan Vira pun berjalan mengikuti langkah Neni.


***


Mama Anna sudah sampai di rumah sakit Puja Medika, tempat dimana dulu Indah di larikan ke rumah sakit oleh seseorang pada saat kecelakaan. Beliau berjalan mendekat ke bagian data pasien, lalu bertanya pada suster di sana.


"Permisi, Sus!"


"Iya, bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Suster itu antusias.


"Iya, Sus. Saya mau tanya, apa Dokter Handoko Wijaya masih bertugas di Rumah Sakit ini?"


"Dokter Handoko Wijaya, beliau sudah tidak lagi bertugas dibRumah Sakit ini sejak lima tahun terakhir ini, bu."


"Oh begitu, Sus," ada nada kecewa yang terdengar dari nada bicara mama Anna. Namun, ia tidak boleh berhenti sampai di sana. Ia harus terus menyelidiki kasus ini sampai benar-benar jelas kebenarannya.


"Kalau boleh saya tau, Dokter Handoko Wijaya tinggal dimana ya, Sus?"


"Maaf, bu. Kalau untuk itu, saya tidak bisa memberikan alamatnya ke sembarang orang," jawab Suster itu lagi.


"Tapi saya benar-benar butuh alamat beliau, Sus. Saya mohon! Saya harus tanyakan soal putri saya yang beliau tangani pada saat kecelakaan sembilas belas tahun lalu di Rumah Sakit ini. Beliau yang mengatakan kalau putri saya meninggal , tapi saya sama sekali tidak di perbolehkan melihat jasadnya dengan alasan wajah putri saya ini rusak dan beliau takut kalau saya stress. Padahal kan saya ini ibunya. Orang tua putri saya. Saya mohon, Sus!" mendengar cerita mama Anna barusan, membuat Suster itu merasa iba. Terlebih mama Anna sampai menitikkan air mata menambah kesan iba yang begitu besar bagi Suster itu.


"Baik, bu. Saya akan berikan alamat beliau."


***


"Pah, ini mama dapet paket. Tapi perasaan, mama gak pernah order apapun, deh. Apa papa order sesuatu buat mama?" bu Marina memperlihatkan paper bag di tangannya pada pak Indra yang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.


"Enggak. Papa gak pesan apa-apa buat mama. Coba mama buka dulu aja paketnya. Siapa tau ada nama pengirimnya di sana!"


"Oh iya ya, pah," bu Marina pun membuka paper bag tersebut. Pertama yang ia lihat adalah sebuah kain berwarna biru navy. Begitu dia ambil, ekspresi wajahnya berubah takjub.


"Waahh.. Ini bagus baaanget gaunnya. Eh, tapi ini ada kertas nama pengirimnya, pah," begitu di ambil kertas tersebut, bu Marina langsung membaca nama pengirimnya.


"Semoga suka ya tante gaunnya. Disa. Disa siapa ya, pah?" pak Indra pun mengedikan kedua bahunya.


"Papa juga gak tau," jawabnya.


"Apa perempuan yang lagi deket sama Revan ya , pah? Kalo emang bener, bagus lah Revan punya perempuan lagi. Dia memang seharusnya move on dari pengkhianat itu!"


"Jangan terlalu membenci seseorang seperti itu, mah. Gak bagus. Bagaimanapun juga, Amera itu pernah menjadi bagian yang baik dalam kehidupan kita," tutur pak Indra. Bu Marina memutar bola matanya malas.


"Ih papa ini, masih aja belain perempuan yang udah ngekhianatin anak kita," pak Indra menghembuskan napas pelan menanggapi ucapan istrinya. Mungkin bu Marina masih tidak terima, kalau Amera menikah dengan laki-laki lain. Dan hatinya masih sangat terpukul mendengarnya. Dia sangat kecewa.


***


Mama Anna baru saja pulang, papa Abdi yang sedari tadi menunggu langsung berdiri begitu mama Anna kembali.


"Mah, kamu dari mana aja, mah? Kenapa aku telpon gak kamu angkat?"


"Aku.."


"Kamu selidiki lagi soal kematian putri kita? Untuk apa, mah? Kamu masih berpikir kalau Indah masih hidup, hanya karena wajah Disa mirip sama Indah? Ingat, mah, Disa itu adik Al! Dan mungkin cuma wajahnya yang kebetulan mirip sama Indah."


"Tapi perasaan seorang ibu gak pernah salah, pah!" ujar mama Anna dengan tegas. Hal tersenut tentunya membuat papa Abdi bungkam seketika.


"Aku menyelidiki hal ini karema aku memiliki sebuah keyakinan yang tidak bisa kamu rasain. Kalau di antara aku sama Disa itu seperti ada sebuah ikatan yang aku sendiri gak ngerti. Aku ngerasain hal itu pada saat aku bertemh pertama kali sama dia."


"Aku akan tetap menyelidi hal ini lebih jauh lagi. Dan besok, aku mau pergi ke Sukabumi daerah Jampang Kulon. Aku mau nanya-nanya lagi sama Dokter Handoko Wijaya yang sempat melarang aku ngeliat jasad anak aku sendiri!" tambah wanita itu.


Tanpa menunggu suaminya bicara lagi, mama Anna melipir pergi dari hadapan papa Abdi. Papa Abdi hanya bisa mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya sambil menghembuskan napas panjang.


Ya Allah. Kenapa mama jadi senekad ini? Aku cuma takut kalau mama menyelidikinya lebih jauh dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Mama pasti akan sangat kecewa. Dia pasti akan jauh lebih sedih lagi dari sebelumnya. Aku tidak mampu membayangkan lagi gimana sedihnya mama waktu Indah di nyatakan meninggal. Semoga nanti mama bisa terima, kalau Disa memanglah adiknya Al.


__


Tinggalkan jejak dengan LIKE, KOMEN, VOTE, dan beri hadiah. Follow juga ig @wind.rahma