
Apa jangan-jangan Amera bohongin gue ya? Kalau cincin itu sebenarnya gak hilang. Tapi cincin itu di ambil Revan karena tidak terima Amera gue lamar.
"Kamu tau, Revan dapet cincin itu dari mana?" tanya Al membuat Disa menggelengkan kepalanya.
"Ada apa sih sebenernya?" perempuan itu semakin di buat penasaran.
"Itu cincin, hasil dari ide kamu sendiri!" jawab Al. Disa tampak kesal.
"Udah deh gak usah berbelit-belit. Gue tuh bingung tau gak? Sekarang mending lo jelasin ini maksudnya apa?" perihal tersebut semakin menggelitik rasa penasaran Disa. Dia kesal lantaran Al tidak mengatakan to the point langsung aja.
"Kamu suruh saya lamar pacar dari laki-laki yang kamu cintai. Saya melakukannya. Saya memberinya cincin yang Arsen beli atas perintah saya. Dan mungkin, pacar dari perempuan yang saya lamar itu tidak terima. Bisa jadi dia ambil cincin itu pacaranya. Dam sekarang, kamu memakai cincin dari laki-laki hasil merebut dari pacarnya yang saat ini sudah menjadi istri saya. Sampai di sini paham?"" Disa terdiam mencoba mencerna perkataan Al.
"Jadi maksud lo cincin ini, cincin yang lo pake buat lamar mbak Amera?" tanya Disa setelah beberapa detik terdiam.
"Iya. Itu cincin yang sama. Dan sekarang kamu masih mau pake cincin itu?" Disa menggeleng keras.
"Gak. Gue gak mau."
"Yaudah, kalo gitu berikan cincin itu sama saya?" Al membuka telapak tangan kanannya agar Disa memberikan cincin tersebut. Kemudian Disa segera melepaskan cincin dari jemarinya dan memberikannya pada Al.
"Saya pergi. Kamu jaga diri baik-baim di sini!" pesan Al sebelum pergi dari hadapan Disa.
Sementara Disa masih mematung di depan pintu Unit Apartemennya. Baru aja dia mendapat kebahagiaan, lantaran cincin yang mungkin akan Revan kasih untuk wanita lain berhasil dia milikki. Tapi sekarang sudah ada hal lain yang melunturkan kebahagiaannya itu.
Gue harus pastiin semuanya. Apa yang di bilang Al itu benar atau tidak?
***
"Mas Al belum pulang, mbak Amera?" kedatangan Neni dari belakang tempat berdirinya saat ini cukup mengejutkan Amera. Dia pikir Neni sudah tidur, lantaran dia sudah Neni meminta Neni untuk istirahat saja.
"Emm.. Belum," jawab Amera seraya menggelengkan kepalanya. Neni mengerutkan keningnya.
"Kok tumben ya mas Al akhir-akhir ini pulang malem terus. Biasanya, paling telat jam lima sore mas Al udah ada di rumah," perkataan Neni membuat Amera ikut mengerutkan kening sambil berpikir. Apa Al sedang menghindari rumah lantaran saat ini ada dirinya di rumah ini? Lalu apa alasanĀ sebenarnya Al menikahinya? Pertanyaan itu seakan muncul kembali, namun segera Amera tepis agar ia bisa berpikiran yang baik tentang suaminya.
"Mungkin mas Al lagi banyak kerjaan kali ya. Jadi dia harus pulang malam. Lagian ini juga baru jam tujuh kok. Belum terlalu malam juga. Atau kalau enggak, mas Al lagi jalan terus kena macet. Kita kan gak tau," Neni pun mengangguk-anggukan kepalanya setuju, dan Amera berusaha untuk tetap berpikir positif.
"Iya juga ya, mbak. Kalau begitu, Neni istirahat ke kamar ya, mbak Amera. Mbak Amera gak apa-apa kan nunggu mas Al sendiri?"
"Oh iya gak apa-apa. Kamu istirahat aja!" Neni mengangguk.
"Apa aku buatin teh hangat ya buat mas Al? Siapa tau dengan aku memperlakukannya seperti itu, kita bisa menjadi suami istri seperti pada umumnya," Amera kelihatan semangat sekali ketika membuatkan teh hangat untuk suaminya. Dan kebetulan sekali, mobil Al sudah terdengar saat Mali membukakan pintu gerbang depan.
Setelah teh hangatnya jadi, Amera membawanya ke ruang tamu guna menyambut suaminya yang baru saja pulang. Dia berharap, minuman hangatnya dapat menetralisir rasa lelah suaminya.
"Mas, kamu udah pulang. Aku baru aja selesai bikinin teh hangat buat kamu," dengan senyuman sehangat mungkin, Amera menyambut suaminya pulang sambil menyodorkan secangkir twh hangat yang ia bawa di tangannya.
Ali-alih membalas senyum sang istri dan mengambil secangkir teh yang Amera berikan untuknya. Al justru malah menepis kasar cangkir teh tersebut sampai membuat Amera tercengang menatapnya tidak percaya. Teh hangat itupun tumpah ke lantai bersamaan dengan cangkirnya yang pecah berkeping-keping.
"Kamu apa-apaan sih mas?" Amera bertanya dengar bibir gemetar. Al menatapnya tajam dengan tatapan dingin. Hal itu membuat Amera sedikit takut.
Tanpa mengeluarkan suara, Al mengambil sesuatu dari balik saku jasnya dan memperlihatkan pada Amera. Amera sontak bingung mwlihat sesuatu yang baru saja Al perlihatkan padanya. Cincin. Amera merasa bingung kenapa cincin itu bisa ada di tangan Al. Seketika ia berubah lebih takut, lantaran waktu itu dia berbohong tentang cincin itu dengan mengatakan bahwa cincin itu hilang di kamar mandi.
"Cincin itu? Kenapa bisa ada di kamu mas?" tanya Amera gugupbb
"Kenapa? Harusnya saya yang tanya sama kamu, kenapa cincin ini bisa ada di Revan? Sementara kamu bilang kalau cincin ini hilang. JAWAB!" tubuh Amera tersentak saat Al mengeluarkan nada tinggi yang tidak pernah Amera duga sebelumnya.
Amera benar-benar merasa takut sekaligus tidak menyangka kalau Al akan bersikap seperti ini padanya. Setitik kristal pun berhasil menembus benteng pertahanan pelupuk matanya. Amera bahkan tidak berani menatap Al lagi saat ini.
"Apa jangan-jangan Revan memang merebut cincin ini, setelah dia tau kalau kamu saya lamar?" beberapa kali menyebut nama mantan kekasihnya, Amera pun memberanikan diri mendongak menatap kembali suaminya.
"Aku juga gak tau kenapa cincin itu bisa ada di Revan seperti yang kamu bilang, mas. Aku sama sekali gak tau. Aku-"
"CUKUP! Saya tidak suka di bohongi," Al pergi meninggalkan Amera sebelum mendengar penjelasan yang sebenarnya.
"Mas, dengerin aku dulu, mas. Mas Al," Amera berusaha mengejar langkah Al. Namun Al tidak perduli. Ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras. Tubuh Amera kembali tersentak mendengar kerasnya bantingan pintu.
"Mas, kamu harus dengerin penjelasan aku dulu, mas. Mas Al. Maaass.." sekuat apapaun Amera berusaha mengetuk pintu guna menjelaskan yang sebenarnya pada Al, pria itu tidak akan pernah mau mendengarkannya. Lantaran Al terlihat marah sekali padanya.
Yang Amera lakukan selama ini rasanya sia-sia. Ia hanya bisa bersimpuh di balik pintu sambil menangis di sana. Awalnya dia pikir, usahanya hari ini akan menjadi awal yang baik untuk mereka saling menbuka hati. Agar pernikahan mereka berujung dengan kebahagiaan. Namun setelah kejadian hari ini, Amera jadi berpikir kalau ini adalah sebuah awal penderitaan yang akan membawanya ke akhir pernikahan seperti apa.
Aku harus bertemu dengan Revan besok. Aku harus cari tau, dari mana Revan mendapatkan cincin itu?
___
Jangan lupa tambahkan ke favorit, ya. VOTE sebanyak-banyaknya.
Follow ig @wind.rahma