
Alan kembali memejamkan matanya, suara notifikasi kembali terdengar dari hp nya.
"Apa lagi sih, Sen..?" Alan berpikir kalau pesan yang masuk itu dari Arsen, tapi ternyata bukan dari asistennya.
Saya terima lamaran anda.
Sebuah pesan yang mengejutkan itu berasal dari Amera. Alan menatap layar hp nya sangat lama. Meneguk salivanya dengan susah. Bagaimana bisa Amera menerima lamarannya? Begitu yang di pikirkan oleh Alan.
Alan mengetuk nama Arsen di layar hp nya untuk ia hubungi. Dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Halo, Sen. Setelah dari bandara, kamu cari tahu semuanya tentang Amera dan keluarganya dalam waktu tiga hari," perintah Alan merupakan sebuah titah bagi Arsen.
"Baik, pak," jawab Arsen yang kebetulan sudah berada di perjalanan untuk kembali.
"Bagus," hanya itu yang di sampaikan oleh Alan pada Arsen, setelah itu ia menutup kembali sambungannya.
Alan masih tidak habis pikir dengan Amera, mengapa dia bisa menerima lamaran darinya. Apa Disa melakukan sesuatu lain yang membuat Amera mudah menerima lamarannya begitu saja?
***
Matahari sudah tenggelam, langit nampak gelap. Kendaraan yang berlalu lalang mulai sepi di jalanan. Angin yang menghembuskan hawa dingin membuat Amera memeluk dirinya. Duduk sendiri di taman halaman rumah sembari menatap indahnya malam setidaknya bisa mengurangi beban yang ada di pikirannya.
Amera mengambil sesuatu dari saku bajunya, sebuah kotak berwarna merah pemberian dari Alan itu ia genggam. Dengan sangat hati-hati Amera membuka kotak merah tersebut.
Kilauan yang keluar dari mata cincin dari kotak itu memang sangat indah, seharusnya ia menjadi wanita paling bahagia sedunia ketika ada laki-laki yang memberikan cincin lamaran seperti sekarang ini.
Namun bukanlah kebahagiaan, justru penderitaan yang mungkin akan Amera dapatkan.
Amera melepaskan cincin itu dari kotaknya, kemudian memasangkan di jari manisnya. Cincin itu pas dan terlihat cantik di tangannya.
"Mama sudah mau membesarkan aku dari kecil, aku akan menuruti permintaan mama walaupun ini menyakitkan untukku," setitik kristal jatuh dari pelupuk mata Amera.
Amera memejamkan kedua matanya, lama. Pikiran dan hatinya sedang berkecamuk. Hatinya memilih Revan, namun pikirannya mengarah pada ucapan mamanya.
"Kalau aku ketemu sama dia, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan!" gumam Amera.
***
Saat ini Alan sedang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamarnya. Beberapa kali ia mencoba untuk tidur namun sangat sulit. Amera, nama gadis itu telah mengganggu pikirannya.
Alan bangun, dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia memijit bagian dia antara kedua alisnya.
"Al..al.. Kenapa lo harus mikirin soal itu, sih? Seharusnya dia yang mikirin hal ini. Stop, Al! Lo gak bisa kayak gini," Alan berbicara pada dirinya sendiri.
Suara dering panggilan masuk bunyi berasal dari hp di atas nakas miliknya. Tertera nama mama di sana. Alan segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, ma.."
"Halo, Al. Maaf mama baru kabarin kamu, tadi hp mama lowbat waktu mau ngabarin kamu kalau mama sudah sampai," kata bu Ressa dari sebrang sana.
"Iya, ma, gak apa-apa. Syukurlah kalau mama udah sampai."
"Iya, Al. Jangan lupa kabarin sama adik kamu kalau mama sudah sampai di Singapur dengan selamat, soalnya mama harus beresin barang-barang yang ada di koper!"
"Iya, nanti aku kasih tahu Disa. Mama baik-baik di sana, ya. Jangan cape-cape, mama harus banyak istirahat!" ujar Alan khawatir.
"Ok, kamu juga jangan lupa sama kata-kata mama. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, okay?!"
"Iya, ma. Kalau begitu aku istirahat dulu ya, ma. Selamat beristirahat!"
"Selamat beristirahat juga, my son. Bye," bu Ressa mengakhiri telponnya.
Alan menaruh kembali hp nya ke atas nakas. Ia membaringkan tubuhnya lagi, memejamkan kedua matanya berharap malam ini ia bisa tidur dengan tenang.
***
Pagi harinya, di tempat kediaman keluarga Amera. Kini mereka bertiga tengah sarapan bersama.
"Ma.. Mama kenapa? Kok papa lihat dari tadi mama kelihatan bahagia. Ada apa, ma?" pertanyaan yang ingin pak Abdi tanyakan sedari tadi akhirnya keluar juga.
Amera menatap wajah mama tirinya sekilas, bu Anna nampak sedang menatapnya dengan senyuman.
"Pa.. Mama itu lagi happy....banget. Soalnya Amera kan udah terima lamaran dari Alan. Mama yakin, sebentar lagi Alan pasti akan melangsungkan pernikahan dengan Amera. Iya kan, Mera?" bu Anna bertanya pada Amera yang sedang tersedak akibat mendengar kata pernikahan seperti yang mamanya bilang barusan.
"Uhukk..uhukkk.." Amera berusaha meraih segelas air putih yang kebetulan jauh dari jangkauan tangannya.
"Pelan-pelan, nak...!" pak Abdi memberikan segelas air putih yang berusaha Amera raih.
Amera meneguk minumnya sampai menyisakan setengahnya. Rasanya tenggorokannya sangat sakit sekali.
"Terima kasih, pa.." ucap Amera karena papanya sudah memberikan air minum.
"Lagian kamu kenapa sih, Mera? Kaget kalau mama bicara tentang pernikahan?" bu Anna menatap Amera dengan tatapan seperti biasanya lagi, tatapan ketidak sukaannya.
"Ma.. Sudah lah, ma. Gak usah bahas itu lagi. Biarkan itu menjadi urusan mereka. Kita sebagai orang tua cukup mendo'akan yang terbaik aja," pak Abdi tidak mau kalau ucapan istrinya menambah luka di hati putrinya.
"Tapi kan, pa.."
"Udah, ma.. Ayo habiskan sarapannya! kita harus pergi ke coffe shop kita."
Selain karena tidak lagi memiliki selera makan, Amera juga tidak mau ada di tengah-tengah perdebatan antara kedua orang tuanya. Amera memilih untuk pamit pergi.
"Ma, pa. Aku duluan, ya," Amera menyalami papa dan mamanya.
"Mau kemana, nak?" tanya pak Abdi saat Amera menyalaminya.
"Aku ada janji sama Alan, katanya hari ini dia mau ngajak aku ketemuan," kata Amera bohong demi menghindari mamanya yang ingin terus membahas soal lamaran sampai pernikahan.
"Ketemu Alan? Ya udah sana, kamu cepat temui dia!" bu Anna nampak senang, mood-nya kembali membaik.
Amera mengangguk, berusaha tersenyum untuk menyembunyikan lukanya. "Iya, ma. Kalau gitu aku ambil tas aku dulu," Amera pergi ke kamarnya, setelah itu ia pergi dari sana.
Sementara di tempat kediaman Alan. Arsen, asisten pribadi Alan nampaknya sedang menunggunya sejak tiga puluh menit yang lalu.
"Pagi, pak," Arsen menyapa Alan seperti biasa ia lakukan, tidak lupa ia memasang senyum di bibirnya.
"Pagi, Sen. Ada informasi apa?" tanya Alan yang masih sibuk memasang jam tangan di pergelangan tangannya.
"Jadi begini, pak. Ternyata keluarga bu Amera itu mempunyai sebuah coffe shop di jalan XX," ujar Arsen memberikan informasi yang ia dapat.
"Ada lagi?"
"Untuk sementara hanya itu saja, pak. Saya akan cari tahu informasi lebih banyak mengenai keluarga bu Amera sesuai dengan yang bapak minta."
"Ok, saya tunggu dua hari lagi. Saya tidak mau tahu, kamu harus kumpulkan informasi itu sebanyak-banyaknya!" titah Alan dengan cepat di angguki oleh Arsen.
"Iya, pak."
"Oh iya, saya ada tugas baru lagi buat kamu. Nanti saya akan kirimkan lewat pesan WhatsApp."
"Baik. Kalau begitu saya permisi duluan, pak."
"Ya."
Sebelum pergi dari hadapan Alan, Arsen tidak lupa memberi senyum serta sedikit membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat terhadap majikannya.
***
NB: Kira-kira apa ya tugas yang di berikan alan pada Arsen? yuk tambahkan ke favorit, supaya dapat notofikasi ketika part selanjutnya di update.
Follow ig: @wind.rahma