TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 14


"Dasar munafik!" kalimat yang Revan lontarkan pada Amera tadi siang membuat gadis itu tidak bisa tidur malam ini. Bagaimana tidak, selama berhubungan dengan Revan, Amera tidak pernah di bentak apalagi di maki sekasar ini.


Revan yang Amera kenal adalah pria yang begitu baik. Bahkan selama dia tahun berpacaran, mereka jarang sekali bertengkar dan nyaris tidak pernah. Pria itu juga bukanlah orang uang gampang sekali cemburuan. Makanya Revan masih bisa tenang saat mengetahui saat ada pria lain yang mencoba melamar dirinya. Lantaran Revan tahu kalau ia begitu mencintainya. Tidak mungkin ia akan menerima lamaran dari laki-laki lain selain Revan.


Tapi sekarang cinta itu mulai terkikis oleh rasa sakit yang begitu melukai hatiya. Revan lebih mempercayai Disa daripada dirinya. Itulah yang membuat Amera lebih memilih mengakhiri hubungannya dengan Revan.


Karena rusaknya suatu hubungan bukan karena ada orang ketiga, tapi hilangnya sebuah kepercayaan.


Air mata Amera kian menderas. Membasahi bantai yang ia gunakan untuk tidur malam ini. Sampai akhirnya ia terlelap tidur, bersama air mata dan luka yang mudah-mudahan tidak ia bawa sampai ke alam mimpinya.


***


"Van, kamu kok tumben gak pernah ajak Mera lagi ke sini?" bu Marina yang saat ini membuatkan roti untuk sarapan pagi ini sepertinya merindulan Amera.


"Iya, tumben. Biasanya sebulan sekali kamu kamu ajak dia main ke rumah," pak Indra suami bu Marina sekaligus papa Revan yang juga sedang sarapan ikut menimpali.


Alih-alih menjawab pertanyaan kedua orang tuanya, laki-laki itu justru mempercepat kunyahan rotinya dan menyudahi sarapannya.


"Aku pergi ke kantor dulu mah, pah," pamitnya sambil mencium kedua punggung tangan orang tuanya.


"Van. Sarapannya gak kamu habisin?" ucap bu Marina setengah berteriak, dia menatap kepergian putranya dengan tatapan heran. Tidak biasanya Revan seperti ini.


"Pah, Revan kenapa, ya? Apa dia sedang ada masalah dengan Mera?" bu Marina kelihatan cemas dengan hubungan putranya.


"Papa juga gak tahu, mah. Kita do'akan saja ya, mah. Semoga hubungan mereka baik-baik saja," tutur pak Indra.


Di perjalanan menuju kantor, pertanyaan mamanya tadi pagi begitu mengganggu konsentrasi menyetirnya. Bagaimana tidak, biasanya dia memang selalu mengajak Amera ke rumahnya. Dan Amera juga sudah begitu dekat dengan Bu Marina juga Pak Indra. Terlebih Amera sering membantu bu Marina memasak. Jadi pantas saja dan tidak heran jika mamanya menanyakan gadis itu. Lantaran sudah hampir dua bulan Revan tidak membawa gadis itu lagi ke rumahnya.


Masih memikirkan soal gadis itu, Revqn jadi teringat sesuatu. Ia menepikan mobilnya di jalanan sepi dari lalau lalang pengendara lainnya.


"Aku rasa, aku juga harus bicara dengan laki-laki yang sudah merebut Amera dari aku agar semuanya jelas. Tapi, bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan laki-laki itu?" Revan tampak sedang berpikir.


Sekarang Revan ingat, kalau beberapa bulan yang lalu perusahaannya pernah bekerja sama dengan perusahaan milik laki-laki yang sudah merebut pacarnya. Saat itu sekretarisnya yang mewakili dirinya pada saat meeting dengan perusahaan tersebut. Segera Revan rogoh benda pipih di saku jasnya. Kemudian mendial nomer telpon seseorang lalu menempelkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.


"Halo, Siska. Kamu masih ingat dengan perusahaan yang pernah bekerja sama dengan perusahaan kita. Nama perusahaannya kalau tidak salah PT Permadi Jaya?"


"Iya, pak. Saya masih ingat," jawab wanita itu dari sebrang sana.


"Kamu masih punya kontak sekretaris CEO perusahaan itu? Soalnya saya ada sedikit urusan dengannya," pinta Revan sambil berharap kalau Siska masih mempunyai kontak yang ia maksud.


"Ada, pak. Saya kirim lewat chat ya, pak."


"Baik. Terima kasih," ucap Revan sebelum ia mengakhiri panggilannya. Sekarang Revan merasa sedikit lega, lantaran ia sudah memiliki cara untuk bertemu dengan laki-laki bernama Alan Permadi itu.


***


"Kamu harus janji untuk tidak menceritakan hal ini sama mama!" Alan nampak sedang memperingati Disa. Saat ini mereka sedang berada di meja makan untuk menyelesaikan sarapannya.


"Oke. Lagian gue juga mau tinggal di apartemen kalau kalian sudah menikah. Gue gak mau tinggal satu atap sama perempuan yang udah ngerebut Revan dari gue," ujarnya.


Alan sudah selesai sarapan, ia melirik jam tangan berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Ia harus segera pergi ke kantornya, mengingat sekretarisnya yang semalam sudah mewanti-wanti agar ia tidak terlambat datang ke kantor. Lantaran hari ini ara meeting penting dengan perusahaan yang tidak kalah ternama.


Saat ia akan beranjak dari kursi, ponselnya yang masih tergeletak di atas meja makan mengeluarkan suara notifikasi pesan masuk. Segera ia baca pesan tersebut.


Temui saya di Panorama Caffe jam satu siang.


-Revan Prahesta


Alan mengerutkan keningnya dalam setelah membaca pesan tersebut. Darimana dia bisa mendapatkan nomernya.


***


Suara seseorang yang mengetuk pintu tidak sedikitpun membuat Alan mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Seseorang yang tak lain adalah Meli-sekretarisnya kemudian masuk setelah dirinya mendapat izin.


"Iya," jawab Alan singkat.


"Kalau begitu, saya permisi lagi, pak," ujar Meli tanpa mengurangi rasa hormat. Ketika ia hendak pergi, Alan mencegahnya.


"Tunggu!" ia menutup laptop yang sedari tadi menjadi fokus utamanya.


"Iya, pak. Ada apa?" tanya Meli antusias.


"Saya mau tanya sama kamu. Apa hari ini kamu memberikan nomer telpon saya ke orang lain?" Meli menunduk setelah mendengar pertanyaan bosnya.


"Maaf, pak. Tadi pagi ada seseorang yang menghubungi saya dan meminta nomer telpon bapak. Dia sedikit memaksa katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Bapak."


"Lalu kenapa kamu gak minta izin dulu sama saya? Itu tuh privasi saya. Lain kali kalau ada yang minta nomer telpon saya apapun alasannya, gak usah kamu kasih sebelum kamu izin sama saya. Paham?!" kalimat dingin Alan barusan berhasil membuat Meli ketakutan sambil meremas jemarinya yang sudah basah akibat mengeluarkan keringat dingin.


Sepertinya Meli sudah melakukan kesalahan fatal sehingga bosnya bisa semarah ini padanya.


"Maafin saya, pak," hanya itu yang dapat Meli ucapkan bahkan dengan bibir gemetar.


Dugaan Alan ternyata benar, kalau sekretarisnya lah yang membetikan nomernya pada Revan. Ia berlalu meninggalkan sekretarisnya yang masih berdiri di dalam ruangannya. Sementara Meli merutuki kesalahannya.


"Dasar ceroboh!" rutuknya, kemudian menyusul langkah Alan yang sepertinya akan pergi menuju ruang meeting.


***


Meeting dengan perusahaan yang tidak kalah ternama telah selesai dan berjalan dengan semestinya. Tidak terasa, jam makan siang pun tiba. Alan melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Seketika ia ingat pesan yang di kirimkan Revan tadi pagi.


"Oh iya, gue lupa. Hari ini kan Revan minta gue buat nemuin dia di Panorama Caffe. Kebetulan jarak kesana cuma setengah jam," Alan yang sudah berada di parkiran kantornya segera menaiki mobil. Dan dalam waktu singkat ia sudah melesat pergi dari sana.


Sementara Revan sudah ada di Panorama Caffe bagian outdoor, tengah duduk menunggu kedatangan Alan dengan tidak sabar. Terlihat dari cara dia yang selirik melirik jam tangannya. Tidak lama kemudian, orang yang ia tunggu pun sudah menunjukkan batang hidungnya. Dari kejauhan, terlihat Alan sedang mencari meja yang di tempati orang yang akan ia temui. Lantaran sewaktu ia di perjalanan, Revan kembali mengirimi pesan kalau ia sudah menunggunya di sana.


Setelah Alan melihat keberadaan Revan, dia segera berjalan menghampiri dan duduk di hadapan pri itu. Alan lebih terlihat santai, berbeda halnya dengan Revan yang sepertinya tidak sabar untuk memulai pembicaraan.


"Ada perlu apa sampai anda meminta saya menemui anda di sini?" tanya Alan santai, seolah tidak ada permasalahan di antara mereka. Revan menatap Alan dengan tatapan seringai.


"Sebutan apa yang pantas untuk laki-laki yang sudah merebut pacar orang seperti anda?" kalimat yang Revan ucapkan berhasil memancing emosi Alan.


"Maksud anda apa bicara seperti itu?" ketegangan mulai terjadi di antara mereka.


"Sudahlah. Anda tidak perlu berlaga polos dan pura-pura tidak tahu!" mendengar jawaban Revan, pria di hadapannya itu tersenyum miring.


"Baguslah kalau anda sudah tahu. Saya tidak perlu repot-repot lagi untuk mengatakannya," Revan semakin tersulut emosi.


"KURANG AJAR!" sebuah pukulan keras mendarat dengan mulus di wajah Alan, menciptakan lebam dan setetes darah dari sudut bibinya. Bukannya membalas, Alan justru tersenyum di buatnya.


Suasana semakin memanas dan begitu menegangkan, para pengunjung kafe merasa takut sekaligus panik dengan keributan yang mereka ciptakan.


"Saya ingatkan sama Anda. Kalau pacar anda memang mencintai anda, dia tidak akan mungkin menerima lamaran dari laki-laki lain. Jadi berhenti menyalahkan orang lain!" ucap Alan menegaskan.


Hal itu justru semakin menambah tingkat kemarahan Revan secara tidak langsung Alan mengatakan kalau Amera berarti tidak pernah mencintainya.


"DASAR PECUNDANG!" lagi-lagi Revan melayangkan kepalan tangannya untuk menghajar pria yang sudah membuatnya geram. Alan nyaris terkena pukulan Revan untuk kedua kalinya, tapi untungnya security di sana datang untuk melerai perkelahian di antara mereka.


"Jangan pernah membuat keributan di sini atau saya akan melaporkan kalian ke pihak yang berwajib karena sudah mengganggu ketenangan para pengunjung kafe ini!" ucap security dengan tegas.


Kalau sudah seperti ini, maka urusannya akan semakin panjang. Alan melipir pergi dari tempat itu. Menurutnya bertemu dengan Revan sama halnya dengan membuang waktunya begitu saja.


___


Tambahkan rek rak favorit kalian ya!


Follow ig saya @wind.rahma