
"Pagi, sayang.." ucap seseorang itu, membuat Revan memutar bola matanya malas.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Revan dingin.
"Aku kangen sama kamu, sayang. Makanya aku dateng ke sini buat ketemu sama kamu," pria itu sama sekali tidak menggubris, ia tetap fokus pada layar laptopnya.
"Oh, iya, sayang. Aku mau tanya sesuatu sama kamu deh. Sebenernya cincin kemarin itu kamu beli buat siapa sih?" Revan menoleh ke arah Disa sekilas.
"Bukannya kamu gak mau tau soal itu. Toh, cincinnya juga udah kamu ambil."
"Iya, sih, sayang. Tapi ya, aku penasaran aja sekarang itu cincin buat siapa?" Revan menatap Disa heran.
Kenapa tiba-tiba Disa penasaran dengan cincin itu, ya? Apa jangan-jangan dia tau sesuatu soal cincin itu? Pikir Revan dalam hati.
"Aku sama sekali gak ada niat buat ngasih cincin ke siapapun. Lagipula cincin itu bukan punya aku."
"Bukan punya kamu gimaa, sayang? Terus cincin itu punya siapa?" Disa sengaja pura-pura tidak tau apa-apa seperti yang di katakan Al, lantaran ia ingin tau lebih detail tentang cincin tersebut.
"Cincin itu aku temuin di taksi minggu lalu. Akuudah sempat tanyakan pada Driver taksinya tapi belum ada orang yang merasa kehilangan cincin itu," jelas pria itu pada Disa.
Berarti Revan sama sekali gak ngerebut cincin itu dari mbak Amera.
"Kenapa kamu nanya-nanya soal cincin itu? Apa sebenarnya kamu tau siapa pemiliknya?" tanya Revan ketika melihat Disa barusan sedang memikirkan sesuatu.
"E-enggak, aku gak tau, sayang. Makanya aku nanya-nanya sama kamu," ujarnya kemudian berusaha tersenyum guna menutupi kegugupannya supaya Revan tidak curiga.
Revan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Itu artinya setengah jam lagi ia harus sudah tiba di Amora Caffe.
Dengan sigap ia menutup layar laptop yang sejak tadi menjadi fokus utamanya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Disa ketika Revan beranjak dari duduknya.
"Aku ada meeting penting pagi ini," jawab pri itu bergegas keluar dari ruangannya.
"Sayang, aku belum selesai bicara. Revaaan..!" pria itu sama sekali tidak memperdulikan teriakan Disa, dia tetap memilih untuk pergi.
***
Di rumah Al, Amera kini sudah tampak rapi dengan stelan pakaian berwarna biru muda serta tas kecil di tangannya. Neni menatap Amera takjub ketika perempuan itu berjalan melewatinya.
"Mbak Amera udah rapi, cantik, mau kemana?" tanya Neni seraya memuji. Amera pun tersenyum.
"Makasih, Nen. Rncananya saya mau pergi ke Amora Caffe, ada janji sama seseorang. Kalo gitu, saya pergi dulu ya."
"Iya, mbak Amera. Hati-hati!" ucap Neni sambil membalas lambaian tangan Amera.
Setelah Amera benar-benar pergi, Neni segera merogoh ponsel di saku pakaian ciri khasnya sebagai pelayan. Kemudian menempelkan benda pipih tersebut setelah mendial nomer seseorang di sana.
Di ruangan kantor PT. Permadi Jaya, Al tampak tidak fokus dengan pekerjaannya. Masalah cincin begitu mengganggu konsentrasinya. Sampai akhirnya, suara dering ponsel memecah keheningan dalam ruangan. Al mengernyit saat melihat nama Neni yang tertera di layar hp nya.
"Ada apa, Nen?"
"Halo, mas Al. Neni cuma mau ngasih tau, kalo mbak Amera barusan pergi," ujar Neni memburu.
"Pergi?"
"Iya, mas."
"Pergi kemana?"
"Barusan sih Neni tanya katanya ada janji sama seseorang di Kafe Amora, mas Al," seketiak Al tertegun.
"Ya udah. Terima kasih ya infonya."
"Sama-sama, mas Al," setelah mematikan sambungan telpon, Al langsung beranjak dari duduknya kemudian bergegas pergi keluar dari ruangannya.
Sementara Neni merasa tidak enak terhadap Amera lantaran sudah memberi tau Al kalau dia pergi. Neni tidak mau kalau Al sampai menyalahkannya lagi jika terjadi sesuatu buruk pada Amera seperti beberapa hari lalu.
***
"Amera mana ya? Kenapa dia belum datang jiga?" beberapa kali Revan melirik jam tangannya, juga menoleh ke arah datangnya para pengunjung kafe. Namun Amera belum juga kelihatan.
Tidak berapa lama, senyun pria iru terbit saat melihat wanita yang sedari tadi ia tunggu sudah nampak di depan mata.
"Hai," sapanya yang hanya di balas senyun canggung oleh wanita itu. Kemudian menarik kursi guna mendaratkan tubuhnya di hadapan Revan.
"Kamu mau minum apa, Mocca Late kesukaan kamu mau? Biar aku pesankan," tawar Revan segera di tolak oleh Amera.
"Enggak, gak usah! Lagian aku cuma sebentar, kok."
"Oh, begitu. Jadi, kamu mau bicara soal apa sama aku?" tanya Revan begitu antusias.
"Iya, jadi aku cuma mau tanya soal cincin yang kamu kasih ke Disa. Kalau boleh tau, kamu dapet cincin itu darimana?"
"Cincin?" Amera menganggik. Revan sempat merasa agak bingung dengan pertanyaan Amera.
Kenapa semua orang membahas soal cincin hari ini. Tadi Disa, sekarang Amera. Sebenarnya ada apa dengan cincin itu?
"Emm.. Minggu lalu aku menemukan cincin itu di taksi. Dan sampai sekarang belum ada orang yang mengaku sebagai pemiliknya," penjelasan pria itu membuat Amera seketika ingat kalau terakhir kali dia memegang cincinnya di taksi pada saat dia berusaha menjaih dari Revan ketika mereka bertemu di sebuah taman.
"Memangnya ada apa dengan cincin itu?" pertanyaan Revan membuat Amera sedikit terlonjak kaget akibat melamun.
"Enggak, gak ada apa-apa," jawabnya gugup, sehingga pria itu menatapnya ragu.
"Yakin tidak ada apa-apa?" Amera mengangguk mantap.
"Ok. Kalau begitu, ada yang mau kamu bicarakan lagi sama aku?" tanya Revan setelah beberapa saat kensenyapan menyelinap di antara mereka.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!" ujar seseorang yang baru saja datang, membuat Amera dan Revan menoleh ke sumber suara. Begitu menoleh, Amera terkejut melihat suaminya kini sudah berdiri di hadapannya.
"Mas Al," ucapnya lirih, sekarang dia benar-benar panik sekaligus takut kalau Al akan salah paham lagi.
"Apa sudah jadi hobi anda, menemui istri orang secara diam-diam?" kata Al seraya menatap tajam Revan, pria di hadapannya itu tersenyum.
"Jangan pernah salahkan saya, kalau istri anda yang diam-diam meminta saya untuk menemuinya di sini!" balas pria itu tak kalah sengit, hal tersebut semakin memantik emosi Al.
"Jaga bicara anda!"
"Harusnya anda bisa jaga istri anda! Atau jangan-jangan anda tidak bisa memberi istri anda cinta. Sehingga istri anda merindukan cinta lamanya."
"Cukup Revan! Gak sepantasnya kamu bicara seperti itu di depan suami aku. Lagipula aku udah gak punya perasaan apapun lagi sama kamu!" ujar Amera ikut angkat bicara.
"Anda dengar sendiri kan, kalau Amera sudah tidak punya memiliki perasaan apapun untuk anda. Jadi jangan pernah berharap lebih!" tambah Al, kemudian menarik lengan istrinya membawa pergi dari hadapan Revan.
"Sial!" umpat Revan, kemudian pergi dari tempat berdirinya saat ini.
___
Happy weekend. Jangan lupa tambah ke favorit, VOTE, dan follow ig @wind.rahma