
Disa saat ini tengah menatap wajah pria yang semalam tidur bersamanya. Pria itu masih tidur, padahal hari sudah pagi. Mungkin dia terlalu lelah melakukan sesuatu itu tadi malam.
Senyum perempuan itu mengembang, saat kelopak mata Revan perlahan bergerak dan terbuka. Namun bukan balasan senyum yang ia dapat, pria itu justru terkejut saat pertama kali membuka matanya.
"Disa? Apa yang kamu lakukan di kamar aku?" pria itu bangun dan segera menjauhkan dirinya dari Disa.
"Sayang, ini kamar tamu loh. Kamu lupa, semalam kamu ngelakuin apa sama aku, hem?" Revan sontak mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Dan benar, itu memang kamar tamu.
Pria itu lebih di kejutkan lagi oleh pemandangan tubuhnya yang tel*njang dada.
"Baju aku?" Revan meraba dada bidang miliknya, lalu kembali menatap perempuan di hadapannya dengan tajam.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap aku, Disa? Kenapa aku bisa tidur di sini sama kamu? Apa kamu sudah berbuat hal yang tidak menyenangkan terhadap aku?" tanya pria itu memburu.
"Sayang. Hei?! Kamu beneran lupa, semalam kamu masuk ke kamar aku dan kita melakukan hal yang sangat menyenangkan? Bahkan kamu yang melakukannya berkali-kali loh. Awalnya aku juga gak mau, aku nolak. Tapi kamu maksa aku dan bilang kalo kamu akan tanggung jawab kalo sampe terjadu sesuatu sama aku. Iya kan?" pria itu menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja Disa katakan.
"Gak mungkin! Aku gak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu, apalagi sama kamu, Disa. Berhenti omong kosong!" ucapnya dengan tegas. Lalu pria itu meraih baju yang tergeletak di bawah tempat tidur. Pria itu segera pergi keluar dari kamar tersebut setelah memakai kembali pakaiannya.
Saat membuka pintu kamar, sialnya dia malah berpapasan dengan mamanya.
"Revan? Kamu ngapain di kamar tamu?" pria itu sontak di buat gugup lantaran mamanya memergokinya keluar dari kamar itu.
"A-aku tadi-"
"Sayang pokoknya kamu harus tanggung jawab kalu-" Disa menggantungkan kalimatnya saat meihat bu Marina berdiri di.depan pintu kamar.
"Tanggung jawab? Tanggung jawab apa, Sa? Memangnya apa yang sudah Revan lakukan sama kamu?" wanita itu tampak khawatir.
"Emm, gini. Begini, mah. Jadi aku ke kamar Disa itu buat ngajakin dia sarapan. Cuma Disa gak mau. Terus Disa minta aku tanggung jawab buat nganterin dia pulang. Betul.begitu kan, Disa?" perempuan itupun mengangguk setelah Revan beberapa kali memberinya kode.
"I-iya, tante."
"Oh, gitu. Yaudah deh kalo gitu kamu anterin Disa ya!"
"Iya, mah," Revan merasa lega lantaran mamanya percaya dengan ucapannya.
"Aku pamit ya, tante," Disa menyalami bu Marina.
"Iya. Kapan-kapan main lagi kesini ya!"
"Pasti, tante. Aku pasti bakalan sering-sering main kesini. Assalamu'alaikum."
"Walaikum salam. Hati-hati ya!" ujarnya.
Setelah Revan dan Disa pergi, entah kenapa bu Marina merasa ada yang mereka sembunyikan darinya.
Revan menarik lengan Disa lalu membawa perempuan itu keluar rumah. Rasanya pria itu sudah tidak tahan dan merasa muak melihat Disa ada di hadapannya. Terlebih perempuan itu kini dekat dengan mamanya.
"Dengar ya, Disa! Apa yang barusan mama aku dengar itu.bisa membuat dia berpikir yang tidak-tidak sama aku. Tentang yang kamu ceritskan tadi,.aku sama sekali gak merasa.melakukan apapun sama kamu. Jadi berhenti menuntut pertanggung jawaban apapun sama aku!" ucap.pria itu dengan begitu tegas. Pria itu.benar-benar marah kali ini, tapi Disa masih saja bersikap santai.
"Ok, fine. Terserah kamu, sayang! Meskipun kamu gak mengakuinya, aku akan tetap berterima kasih sama kamu. Makasih ya karna kamu udah kasih aku kenikmatan semalam yang mungkin belum pernah kamu kasih ke perempuan lain, termasuk mbak Amera. I'm very happ, baby!"
"CUKUP, DISA! Aku bahkan jijik mendengarnya," ujarnya sebelum kemudian pergi meninggalkan Disa.
Sementara Disa tersenyum menyeringai penuh kelicikan.
Kamu boleh gak percaya dan gak mau tanggung jawab, Revan. Tapi aku pasti akan membuat mama papa kamu percaya. Dan mereka yang akan meminta kamu buat tanggung jawab dengan bukti yang aku punya.
***
Di tempat lain, Al pun merasakan hal serupa. Dia cemas lantaran belum juga menemukan keberadaan mamanya. Beberapa kali ia menghubugi Disa, namun nomer telpon perempuan itu tidak aktif juga.
"Gue harus cari mama kemana lagi?" ia menghela napas berat.
Seketika ponselnya berdering, Al pun segera mengangkat telpon yang memunculkan nama Disa di sana.
"Kamu kemana aja? Saya telponin dari semalam gak aktif. Kamu tau? Mama udah tau semuanya, terus mama pergi dan sekarang saya gak tau mama kemana," ucap Al memburu begitu menerima telpon dari Disa.
"Mama tau semuanya? Kok bisa?" tanya Disa ikut panik.
"Tadi malam mama pulang, terus mama ketemu sama Amera."
"Yaudah terus sekarang lo dimana?"
"Saya lagi di jalan Antariksa. Saya mau cari mama lagi."
"Ok gue nyusul cari mama. Ini gue juga lagi di jalan," sambungan telpon di antara mereka pun terputus.
Al kembali berpikir, kemana lagi dia harus mencari mamanya. Seketika dia teringat tempat yang sering mamanya datangi jika dia sedang ada masalah.
"Gue tau harus pergi kemana. Mudah-mudahan mama ada di sana," kemudian pria itu kembali menghidupkan mesin mobilnya, lalu menancap gas guna melaju dengan kecepatan tinggi.
***
Papa Abdi menepikan mobilnya di depan rumah besar pagi ini.
"Benar ini alamatnya, mah?" mama Anna yang sedari tadi terpaku pada layar hp-nya pun mengangguk.
"Iya, pah. Kalo dari alamat yang Suster itu kasih sih benar di sini," ujar mama Anna. Mereka berdua akhirnya memutuskan turun dari mobil, guna menanyakan pada satpam rumah itu.
"Permisi, pak! Apa benar ini rumah Dokter Handoko?"
"Iya benar, pak," jawab satpam tersebut.
"Dokter Handoko-nya ada?" tanya papa Abdi lagi.
"Ada."
"Apa kami boleh masuk? Kami dari Jakarta ada perlu dengan beliau," satpam tersebut pun mengizinkan.
"Boleh, pak," setelah mendapatkan izin, papa Abdi bersama mama Anna di antarkan masuk ke rumah Dokter Handoko, setelah sebelumnya beliau sempat memasukan mobil ke dalam gerbang yang masih terparkir di jalan.
Satpam itu berbicara dengan seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan yang sepertinya merupakan asisten rumah tangga di rumah itu. Lantaran usai bicara dengan satpam, wanita tersebut mempersilahkan papa Abdi dan mama Anna duduk guna menunggu dirinya memanggil tuan rumah. Tidak lupa, dia juga sempat menawarkan minuman pada mereka.
Tidak berapa lama, orang yang mereka tunggu pun akhirnya keluar menemui mereka di ruang tamu. Beliau terlihat sudah tua, usianya berkisar enam puluh tahunan. Mereka pun saling tegur sapa kemudian masuk ke pembicaraan inti.
"Jadi kalian ini ada perlu apa sama saya? Sampai datang jauh-jauh dari Jakarta ke Jampang-Sukabumi," tanya Dokter Handoko.
"Begini, pak. Kami ini orang tua dari anak yang mengalami kecelakaan sembilan belas tahun lalu. Pasien yang anda tangani di Rumah Sakit Puja Medika. Orang tua yang tidak di perbolehkan melihat jasad putrinya saat di nyatakan meninggal dengan alasan kondisi wajah beserta tubuh putri kami dalam keadaan hancur. Apa anda masih ingat?" Dokter Handoko seketika terdiam mendengar pertanyaan mama Anna barusan.
___
NB:
Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN, dan beri hadiah ❤❤❤. Tambahkan ke ke RAK FAVORIT yah.
Follow ig @wind.rahma