TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 17


Pernikahan merupakan tujuan akhir dari pacaran sekaligus kehidupan baru bagi semua orang. Hal itu akan di sambut oleh kebahagiaan oleh setiap pasangan. Berbeda dengan gadis yang saat ini wajahnya sedang di rias. Wajahnya di selimuti oleh kesedihan yang berusaha ia tutupi.


Hari ini, pernikahan antara Alan dengan Amera akan segera di mulai. Tidak begitu banyak tamu undangan yang datang, lantaran Alan hanya mengundang orang terpentingnya saja.


Saat ini Amera sedang menatap cermin, melihat pantulan wajahnya yang sudah di make over. Tidak pernah terbayangkan oleh Amera kalau dirinya akan menikah secepat ini. Terlebih ia harus menikah dengan pria yang bukan kekasihnya.


Dua orang wanita membantu Amera berjalan menuju tempat utama di bagian outdoor gedung tersebut. Setelah seseorang memberi tahu kalau acaranya harus segera di mulai. Dengan penuh kehati-hatian, gadis itu berjalan. Saat sudah sampai di outdoor, hampir semua orang ada di sana menatapnya takjub. Tidak sedikitpun dari mereka juga mengagumi kecantikan Amera. Sekilas, senyum di bibir Alan terbit.


Ketika Amera hendak melangkahkan kaki yang tinggal beberapa langkah lagi, matanya di buat membulat sempurna ketika matanya menangkap seorang tamu undangan yang duduk di kursi belakang. Jantungnya berpacu dengan semakin cepat dan darahnya mulai membeku. Kakinya seakan tidak kuat menopang beban tubuhnya. Seseorang itu adalah Revan Prahesta.


Dan yang membuat Amera terkejut, laki-laki itu datang bersama Disa. Adik dari calon suaminya. Mereka terlihat sedang bergandengan.


Disa sengaja mengajak Revan untuk datang ke pernikahan itu setelah mati-matian membujuknya. Awalnya Revan menolak, tapi dengan usaha kerasnya akhirnya Revan pun luluh. Disa mengatakan pada Revan kalau:


Pengkhianat itu harus di balas dengan pengkhianatan. Agar dia merasakan gimana ada di posisi itu.


Amera menatap Revan dengan penuh kekecewaan.


Kenapa kamu tega sekali sama aku, Van. Kamu menyebut aku dengan sebutan tidak pantas dan menganggap aku seorang pengkhianat. Padahal kamu sendiri yang melakukannya.


Panggilan pak Abdi membangunkan Amera dari segala pemikirannya. Gadis itu pun melanjutkan langkah kakinya dan duduk di hadapan penghulu dan tentunya di samping Alan Permadi.


Tidak mau menunggu lama apalagi mengulur waktu, ijab kobul pun segera di kumandangkan. Alan begity lantang mengucapkab ijab kobul di hadapan semua orang yang hadir. Hingga akhirnya mereka pun sah menjadi sepasang suami istri.


Bulir bening yang sedari tadi Amera tahan pun akhirnya lolos keluar dari pelupuk matanya. Ia meremas gaun berwarna putih senada yang membalut tubuhnya saat ini. Amera mencium punggung tangan Alan yang kini telah menjadi suaminya. Kehidupan yang sebenarnya pun akan segera di mulai.


***


Setelah acara ijab kobul selesai, para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Sebagian dari tamu yang hadir masih sibuk mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


"Sayang, kamu gak mau ngucapin selamat buat mantan pacar kamu itu?" mendengar pertanyaan Disa membuat Revan semakin gerah saja, sedangkan Disa justru senang melihat laki-laki di hadapannya semakin membenci Amera.


"Kamu masih mau di sini atau pulang sekarang? Karena aku ada meeting sore ini dengan klien," Revan sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar sesuatu yang tidak di inginkan terjadi di sini.


"Ok. Aku mau pulang. Tapi, tunggu sebantar, ya! Aku ke toilet dulu," Disa melambaikan tangannya, sementara Revan hanya bisa berdiam di tempat.


Saat ini bu Anna terlihat sangat bahagia. Akhirnya Amera menikah, yang nantinya akan tinggal bersama Alan. Itu artinya Amera tidak akan merepotkannya lagi. Bu Anna berjalan tanpa nelihat ke arah sekitar, sampai akhirnya ia menyenggol gelas berisi minuman di meja itu tumpah sebagian ke pakaiannya.


"Aduh, sial!" umpatnya sambil berusaha mengelap noda minuman tersebut menggunakan tisu. Dan sepertinya nodanya tidak akan hilan, bu Anna pun memutuskan untuk pergi ke toilet guna membasahi sedikit dengan air.


Ketika hendak memasuki toilet, lagi-lagi bu Anna tertimpa sial. Seorang gadis yang baru saja keluar dari toilet menabraknya dan nyaris membuat tubuhnya ambruk.


"Maaf saya bu-" kalimat bu Anna terhenti pada saat ia melihat wajah gadis di hadapannya. Seketika bu Anna tertegun dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tidak tahu kenapa, perasaannya mengatakan seperti ada sebuah ikatan di antara mereka. Wajah paruh baya itu sama sekali tidak mengedipkan matanya melihat gadis yang baru saja pergi dari hadapannya.


"Wajahnya... Dia-" bu Anna tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Tentu saja dia sangat mengenali wajah gadis tersebut. Seperti mimpi rasanya dirinya bisa di pertemukan lagi dengan wajah tersebut. Sampai bu Anna bersimpuh di lantai di depan pintu toilet karena tubuhnya kian melemas.


***


Sudah lima menit pak Indra menatap istrinya dengan penuh tanya. Pasalnya, bu Marina terus saja tersenyum serta memancarkan ekspresi bahagianya seraya terus terpaku pada layar hp.


"Mah, mama ini kenapa, sih? Sebenarnya apa yang membuat mama senyum-senyum seperti ini?" ini merupakan pertanyaan yang sama yang ke sekian kalinya, tapi pak Indra tetap saja tidak mendapatkan jawabannya.


"Iihh.. Papa ini berisik deh dari tadi nanya terus. Ini loh pah, mama ini lagi chatingan sama temen lama mama. Udah lama mama lost kontak sama dia. Ceritanya kita lagi kangen-kangenan gitu," penjelasan bu Marina tersebut membuat pak Indra semakin penasaran.


"Teman lama mama yang mana?" bu Marina mendengus kesal lantaran suaminya terus saja kepo.


"Yang dulu dateng ke pernikahan kita terus bawa kado besar itu. Papa masih inget, gak?" pak Indra nampak sedang mengingat-ingat, mengingat usia sudah tidak muda lagi jadi sering lupa.


"Oohhh... Itu. Iya, papa ingat sekarang," ujarnya setelah ingat orang yang mereka maksud.


Ponsel bu Marina kembali mengeluarkan bunyi notifikasi pesan masuk, dengan cepat dia membuka chat tersebut dengan tidak sabar. Tapi seketika ekspresi bahagianya luntur dan berubah menjadi tatapn penuh kemarahan.


"Loh, pah. Ini kan Amera, kok dia nikah sama orang lain, pah?" bu Marina menatap foto di layar hp-nya dengan penuh rasa ketidakpercayaan. Hal tersebut pun menyita rasa penasaran pak Indra.


"Nikah gimana maksud mama?" bu Marina kemudian memperlihatkan foto di layar ponselnya.


"Liat deh, pah! Ini Amera, kan?" pak Indra menatap lekat-lekat foto perempuan yang ada di dalam foto. Dan benar, itu adalah Amera kekasih putra mereka. Tapi, pak Indra berusaha lebih tenang, tidak mau terprovokasi begitu saja oleh sesuatu yang belum tentu kebenarannya.


"Benar kan, pah? Mama heran deh, kok bisa, gitu. Amera tega menikah sama laki-laki lain. Sedangkan selama ini ian jelas-jelas dia pacaran sama Revan. Apa jangan-jangan dia selingkuh?" bu Marina nampak begitu marah sekaligus kecewa, dia sama sekali tidak habis pikir.


"Mah, mah. Mama tenang dulu! Kita jangan mudah percaya dengan sesuatu yang belum tentu bemar. Sekarang papa tanya, memangnya siapa yang kirim foto itu ke mama?" bu Marina segera memeriksa nama pengirim foto di layar hp-nya.


"Mama gak kenal, pah. Gak ada namanya di kontak mama. Gak ada foto profilnya juga, pah," pak Indra menghembuskan napas sedikit lega, setidaknya ada sedikit harapan kalau apa yang baru saja mereka lihat itu tidaklah benar.


"Tuh, kan. Papa bilang juga apa, mah. Jaman sekarang itu kan udah canggih, siapa tahu itu cuma editan. Mungkin ada seseorang yang tidak begitu menyukai hubungan mereka, makanya dia melakukan cara apapun untuk menghancurkannya. Termasuk seperyi sekarang ini. Sekarang lebih baik mama tenangin diri mama dulu, nanti kita tanya Revan untuk lebih jelasnya," ucapan pak Indra membuat istrinya sedikit lebih tenang, dan mereka berdua berharap kalau semua ini memang tidak benar.


___


VOTE, like, tambahkan ke rak favorit ya. Follow juga akun ig @wind.rahma