TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 62


Amera dan mama Ressa kini berada di ruang tamu.


"Gimana, Al sudah hubungi kamu dia pergi kemana?" Mama Ressa menatap menantunya yang tampak cemas.


"Belum, ma. Aku tadi udah coba telepon tapi gak diangkat. Terus Udah aku coba chat gak dibalas juga."


Wanita paruh baya itu mengusap bahu Amera.


"Kamu nggak usah khawatir. Mungkin ada urusan pekerjaan. Oke?!"


Amera pun menganggukan kepalanya lemah. "Ya udah daripada bete kayak gitu mending kita have fun jalan-jalan temenin Mama mau? Mama bosan di rumah terus."


Perempuan itu mendoakan wajahnya. "Kemana, Ma?"


Mam Ressa tampak berpikir. "Kemana ya? Ke mana-mana yang penting kita have fun. Oke?!"


"Iya, Ma. Kalau gitu aku ganti baju dulu sebentar."


"Ok. Mama tunggu kamu di sini. "


Amera beranjak dari sana guna mengganti pakaiannya. Senyum mema Ressa perlahan memudar saat Amera sudah pergi dari sana. Sebenarnya dia juga mencemaskan Al. Tapi dia berusaha menutupi perasaan itu di depan Amera,antaran ia tidak mau membuat menantunya semakin cemas.


***


Sementara di tempat kediaman rumah Revan. Pak Indra tampak sedang mengobrol bersama istrinya. Beliau duduk di tepi ranjang tempat tidur, sedangkan Bu Marina duduk menghadap cermin.


"Pa, Mama hari ini rencananya mau ke salon. Lihat deh, Pa! Rambut mama udah lepek, udah jarang di creambath. Kuku Mama juga udah ada yang patah. Papa temenin Mama bisa kan?" Pinta wanita itu sambil terus menatap pantulan wajahnya di cermin.


Pak Indra menghela napas berat. "Mama pergi sendiri aja ya. Soalnya papa nanti ada urusan. Rencananya hari ini Papa mau ke Yogyakarta."


"Ke Yogya hari ini, Pa? Kok mendadak sih?" Wanita itu nampaknya terkejut.


"Iya, Ma. Soalnya barusan, partner bisnis Papa kirim pesan katanya Papa harus ke sana sekarang. Ada sedikit masalah di sana."


"Oh, gitu ya, Pa. Ya udah deh nanti mama pergi sendiri aja." Ada nada kecewa yang terdengar dari nada bicara Bu Marina.


"Iya, Ma. Nanti tolong siapin baju Papa yang mau papa bawa, ya. Besok malam setelah urusannya selesai, Papa pasti langsung balik lagi ke sini."


"Iya, Pa."


***


Mama Ressa dan Amera baru saja keluar dari salon.


"You are beautiful. Kamu cantik sekali dengan gaya rambut kamu yang dibuat curly." Puji mama Ressa.


"Makasih, ma. Mama juga cantik." Kata Amera balik memuji mertuanya.


"Iya, karena mama perempuan hehe ..." Mereka pun saling melemparkan tawa.


Seketika mama Ressa teringat sesuatu.


"Handphone Mama mana, ya? Kamu lihat handphone Mama nggak?" Wanita itu mencari ponselnya di tasnya.


"Mungkin ketinggalan di dalam, ma."


"Kalau gitu Mama coba cek dulu ke dalam ya. Kamu tunggu sebentar di sini nggak apa-apa kan?"


Amera mengangguk. "Iya, Ma. Nggak apa-apa."


Lalu mama Ressa kembali ke salon tempat mereka barusan guna mengambil ponselnya yang ketinggalan.


Dari kejauhan, Bu Marina melihat seseorang yang tak asing tengah berdiri di depan salon yang hendak ia datangi. Ia sampai menyipitkan kedua matanya guna memperjelas siapa orang itu.


"Itu kan Amera si penghianat itu?" Ujarnya.


"Ini kesempatan aku buat ngasih pelajaran sama dia. Karena dia udah berani mainin perasaan Revan," ujar wanita itu lagi.


Bu Marina kemudian bergegas menghampiri Amera.


"Eh ... Ada penghianat."


Amera menoleh. "Tante Marina?"


"Ngapain kamu di sini? Pasti lagi nunggu om-om, ya?"


"Maksud tante apa ya ngomong seperti itu sama aku?" Tanya Amera seraya mengerutkan alisnya. Wanita paruh baya itu berlaga seperti orang tanpa dosa.


"Ya kamu emang seorang penghianat kan? Kamu lupa kalau kamu sudah menghianati anak saya dengan menikah sama pria lain. Itu bukan penghianat namanya?"


"Cukup, tante!" Ujar Amera tegas.


Bu Marina tentunya tidak terima dengan ucapan Amera barusan.


Mama Ressa, bernapas lega lantaran ponselnya memang tertinggal di Salon. Untung dia ingat saat masih di depan salon tersebut. Kalau tidak, mungkin dia sudah kehilangan ponsel sekaligus hadiah terakhir dari almarhum suaminya.


Saat dia keluar dari salon, kedua bola matanya menangkap seorang wanita yang kelihatan sedang marah-marah pada menantunya. Langsung saja ia melangkahkan kaki menghampiri mereka.


"Berani ya kamu jelek-jelekin Revan di depan saya?!" Wanita itu mencengkeram lengan Amera cukup kasar, sehingga perempuan itu merintih kesakitan.


"Jangan pernah sentuh apalagi menyakiti menantu saya!" Ucap seseorang seraya menepis tangan Bu Marina.


Yang membuat wanita itu terkejut ternyata orang yang menepis tangannya barusan merupakan Mama Ressa.


Dan mama Resa pun tidak kalah terkejutnya setelah mengetahui siapa orang yang telah berani menyakiti menantunya.


"Oh jadi ini menantu kamu Ressa?" Ucapnya dengan nada meledek.


"Dan, suami kamu itu anaknya dia?" Tanya Bu Marina lagi sambil menunjuk ke arah Mama Ressa.


"Hahaha ... pantesan aja kelakuan anaknya gak jauh beda sama mamanya. Sama-sama tukang rebut pacar orang!" Tambah wanita itu lagi.


"Jaga mulut kamu, Marina!" Ucap Mama Ressa dengan tegas.


"Kenapa, Ressa? Emang iya kan? Jangan marah-marah, nanti stress kamu kamu lagi loh gara-gara gak bisa punya anak lagi setelah anak yang nikah sama si penghianat ini."


"Cukup, tante! Aku rasa tante harus intropeksi diri dulu sebelum bicara begitu sama orang lain. Ayo, ma. Kita pergi."


Amera mengajak Mama Ressa untuk segera pergi dari sana, lantaran tidak ada gunanya juga melayani orang seperti Bu Marina.


Sementara Bu Marina dibuat geram oleh ucapan Amera barusan. Dia tidak menyangka kalau Amera bisa setegas itu padanya.


"Awas aja ya kamu, Amera!" Ucapnya seraya mengepalkan kedua tangannya.


***


Di dalam taksi, perjalanan pulang.


Amera jadi kepikiran soal ucapan Bu Marina tadi kepada Mama Ressa.


Bayangan on


"Jangan marah-marah, nanti stress kamu kambuh lagi loh gara-gara gak bisa punya anak lagi setelah anak yang nikah sama si penghianat ini. "


Bayangan off


Kenapa Tante Marina bilang kalau mama Ressa stress gara-gara gak bisa punya anak lagi setelah mas Al, ya? Jelas-jelas anak mama Ressa setelah mas Al itu kan Disa. Mas Al juga. Waktu dia marah-marah sama Disa. Dia terus bilang seolah nama Ressa itu cuma mamanya. Aku rasa ada yang aneh. Pikirnya.


"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Mama Ressa sambil meraih pergelangan tangan Amera, takutnya dia luka.


"Iya, Ma. Aku baik-baik aja, kok."


"Kalau boleh Mama tahu, kamu Ada masalah apa sama Marina?"


Amera diam sejenak. " Emm ... sebenarnya nggak ada masalah apa-apa sih, ma. Cuma tante Marina mungkin nggak bisa terima kalau aku menikah sama Mas Al. Jadi tante Marina Itu mamanya Revan."


Mama Ressa dibuat terkejut. "Marina mamanya Revan? "


Amera mengangguk membenarkan. "Iya, ma. Mama kenal juga sama tante Marina? Kok dia sampai bilang begitu tadi sama mama?"


"Emmm..." wanita itu diam sejenak. "Iya. Mama kenal sama Marina. Tapi mama baru tahu kalau dia ternyata Mamanya Revan."


"Jadi Mama sama suaminya Marina itu sahabatan. Tapi karena suatu kesalahpahaman, Marina berpikir kalau mama mau ngerebut Indra, suaminya. Padahal mama kenal dan sahabatan sama suaminya, jauh lebih lama sebelum mereka kenal."


Amera mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Emm.. gitu ya, Ma. Kalau gitu Mama nggak usah mikirin omongannya tante Marina tadi ya."


" Iya, sayang. Thanks, ya. "


"Iya, Ma." Balas Amera seraya tersenyum.


Mereka kini cukup dekat seperti anak dan ibu, terlebih nama Ressa sudah sayang kepada Amera seperti anaknya. Lantaran Ia memang begitu menginginkan anak perempuan.


Mama Ressa menatap sendu Amera.


Kasihan Amera. Dia menjadi korban atas keegoisan Disa. Disa bukan cuma menghancurkan hubungan Amera dengan Revan, dia juga sudah merusak hubungan baik Amera dengan Marina. Aku harap Al bisa membahagiakan Amera, bahkan lebih.


_Bersambung_