
Amera menitikkan air matanya, masih tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Air mata itu menggulir sampai jatuh melewati dagu runcingnya.
Tak mau menambah luka lagi dengan terus melihat kekasihnya bersama wanita lain, akhirnya Amera memutuskan untuk tidak jadi menemui Revan dan memilih untuk pulang.
Naasnya, Amera menabrak seorang OB yang sedang mengepel di dekatnya. Itu sampai terdengar oleh Revan dan Disa yang sedang ada di dalam.
"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Amera.
"Iya, bu. Tidak apa-apa!" kata si OB tersebut.
Tidak mau Revan atau Disa sampai melihatnya, Amera pun segera lari dari sana. Air matanya terus bercucuran jatuh ke lantai.
"Lepaskan, Disa! Apa-apaan sih kamu, ini?" Revan mendorong tubuh Disa cukup keras, sehingga Disa terdorong jauh ke belakang.
Mendengar ada suara orang yang sedang bicara di depan ruangannya, Revan segera pergi ke asal suara.
Begitu di lihatnya, tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada seorang OB yang sedang mengepel.
"Kamu tadi ngobrol sama siapa? Perasaan tadi saya dengar ada yang bicara di sini?" tanya Revan pada OB tersebut.
"Oh.. Tadi ada seorang wanita yang tidak sengaja menabrak saya, pak," jelas OB tersebut.
"Seorang wanita?" tanya Revan pada dirinya sendiri. Revan berpikir mungkin itu pekerja yang ada di kantornya.
Revan tidak memikirkan itu terlalu jauh, ia langsung kembali ke dalam ruangannya. Di lihatnya, masih ada Disa di sana.
"Sekarang kamu pergi dari sini, Disa! Kalau kamu gak mau pergi juga, aku panggil satpam untuk menyeret kamu keluar. Keluar dari ruanganku sekarang! Keluar...!" Revan nampaknya sudah sangat marah pada Disa, ia sudah melayangkan telunjuknya ke arah pintu agar Disa mau pergi dari sana.
Melihat Revan sudah marah seperti itu, akhirnya Disa mau keluar juga dari ruangan Revan. Tapi sebelum itu, ia mengatakan sesuatu pada Revan.
"Aku pasti akan kembali lagi ke sini. Aku akan buat kamu kembali lagi ke dalam pelukan aku. Kamu harus ingat itu, Revan sayang!" Disa membisikkannya tepat di telinga Revan.
***
Arsen sedang memasukkan koper milik bu Ressa ke dalam mobilnya. Hari ini ia mengantar bu Ressa ke bandara sesuai tugas dari Alan.
"Neni, saya titip rumah, Alan sama Disa, ya!" pinta bu Ressa pada asisren rumah tangganya yang berdiri untuk mengantar kepergiannya di halaman rumah.
"Baik, bu bos!" jawabnya.
"Dan kamu, Mali. Jaga gerbang baik-baik, jangan masukkan sembarang orang ke dalam rumah!" perintahnya pada satpam yang juga ada di sana, berdiri di samping Neni.
"Siap, bu bos!"
"Sudah siap, bu." Arsen sudah membukan pintu mobil untuk bu Ressa.
"Iya, Sen. Saya pergi dulu, ya!" bu Ressa kembali berpamitan pada Neni dan Mali sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat Mali lari untuk membukakan pintu gerbang. Mobil pun melaju sampai tidak lagi terlihat oleh Mali maupun Neni.
***
"Assalamu'alaikum.." Amera membuka pintu rumah, setelah dari kantor Revan Amera memilih untuk pulang.
"Wa'alaikumussalaam.." jawab pak Abdi yang sedang duduk di ruang tamu.
"Kamu kenapa, nak?" pak Abdi melihat wajah putrinya nampak sedih.
"Aku.. Aku gak apa-apa kok, pa. Aku ke kamar dulu, ya," setelah menyalami sang papa, Amera masuk ke kamarnya.
Pak Abdi menghela napas, ia tahu betul bagaimana perasaan putrinya saat ini.
Amera membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Air mata seketika mengalir dari pelupuk matanya. Hatinya seperti di sayat, di cabik-cabik sehingga membuat luka yang menganga.
Mendengar kalau mamanya menerima lamaran untuknya dari laki-laki yang baru saja di kenal saja sudah membuat Amera merasa hancur. Apalagi ia melihat kekasihnya sedang berpelukan dengan gadis yang mengaku pernah hadir di masa lalunya. Rasanya sangat sakit sekali.
Pak Abdi membuka pintu kamar putrinya dengan pelan, ia melihat Amera sedang menangis seperti dugannya. Tidak tega melihat putrinya sedih seperti ini, pak Abdi pun harus tegas dan membuat keputusan demi kebaikan semuanya.
Pak Abdi masuk ke kamar Amera, menutup pintu kamar itu rapat secara perlahan pula. Ia berjalan mendekat ke arah tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang.
"Nak.." pak Abdi mengusap rambut Amera.
"Papa.." suara Amera terdengar parau.
"Papa kok tiba-tiba ada di sini?" Amera melihat ke arah pintu yang tidak terdengar di buka atau di tutup kembali.
Pak Abdi tersenyum, ia menyandarkan kepala putrinya di bahunya.
"Nak.. Papa sudah pikirkan baik-baik mengenai lamaran Alan. Biarpun mama kamu sudah menerima lamarannya, tapi kalau kamu tidak mau, batalkan saja." Amera melirik papanya sekilas.
"Papa tahu kalau kamu tidak mungkin berbohong. Kamu bicara jujur mengenai Alan yang baru saja kenal. Kalau kamu tidak berani bicara sama mama, biar papa saja. Bila perlu papa datang ke kantor Alan langsung. Papa akan bicara, kalau lamarannya tidak kamu terima dengan alasan demikian," tambah pria itu.
Ucapan pak Abdi seharusnya menjadi kabar bahagia untuk Amera, namun apalah daya, Amera sudah tidak memiliki harapan apa-apa lagi.
Satu-satunya harapan terbesarnya adalah Revan, tapi Revan sudah kembali bersama perempuan di masalalunya tanpa memutuskan hubungan lebih dulu dengannya membuat hatinya sangatlah sakit.
"Tidak usah, pa! Aku.. Aku akan coba terima lamaran dari pak Alan," ucap Amera dengan berat hati.
Pak Abdi pun terkejut, bahkan tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Bagaimana mungkin putrinya bisa berubah pikiran secepat ini?
"Kamu terima lamaran Alan, nak? Kok, bisa? Bukannya kamu bilang..."
"Papa bilang saja sama mama, kalau aku terima lamaran Alan," ucap Amera dengan lantang.
"Tapi kan.."
"Udah, sekarang papa bilang aja sama mama, ya! Aku mau istirahat dulu ya, pa," Amera membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi pak Abdi.
Pak Abdi menatap punggung putrinya, masih tidak mengerti dengan keputusan yang baru saja Amera ucapkan.
"Kalau itu sudah jadi keputusan kamu, papa cuma bisa berdo'a. Semoga nanti kamu bahagia dengan keputusan kamu, nak. Papa sayang kamu," pak Abdi mengecup pangkal rambut Amera, setelah itu ia keluar dari kamar putrinya.
Amera menengok ke arah pintu untuk memastikan kalau papanya sudah keluar dari kamarnya.
"Maafin aku, pa. Mama benar, dengan keputusan aku yang sekarang, aku gak akan lagi repotin kalian. Aku gak bisa terus-terusan numpang di rumah ini. Semoga keputusan ini adalah keputusan yang tepat," Amera memejamkan kedua matanya sembari menghembuskan napas panjangnya.
***
Saat ini Alan ada di kantor. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sembari memejamkan kedua matanya. Ia sedang meratapi sebuah kebodohan yang telah ia lakukan semalam.
"Al..al.. Kenapa lo bisa seceroboh ini, sih?"
"Kenapa lo harus lamar perempuan yang sama sekali gak lo kenal demi Disa, adik lo?"
"Bagaiman kalau Amera bilang sama mama papanya, kalau dia gak kenal sama lo? Bisa mampus lo Al..!" Alan memukuli kepalanya sendiri berulang kali.
Sebuah pesan masuk ke hp nya. Alan segera mengambil benda pipih itu dari saku jasnya.
Bu Ressa sudah naik pesawat, pak.
Pesan dari Arsen, asisten pribadinya.
"Untung mama pergi, jadi kalau Amera nantinya terima lamaran gue. Sementara gue aman, mama gak perlu tahu soal ini," Alan menggenggam hp nya erat-erat.
"Gak! Lo jangan mikiran soal itu, Al. Amera gak akan mungkin terima lamaran lo!"
"Tapi kalau Amera gak terima lamaran gue, rencana Disa buat kembali dengan Revan akan sia-sia. Gue harus gimana?" Alan kembali memejamkan matanya, suara notifikasi kembali terdengar dari hp nya.
"Apa lagi sih, Sen..?" Alan berpikir kalau pesan yang masuk itu dari Arsen, tapi ternyata bukan dari asistennya.
Saya terima lamaran anda.
Sebuah pesan yang mengejutkan itu berasal dari Amera. Alan menatap layar hp nya sangat lama. Meneguk salivanya dengan susah. Bagaimana bisa Amera menerima lamarannya? Begitu yang di pikirkan oleh Alan.
***
NB: Jangan lupa tambahkan ke favorit ya. Biar tahu gimana kelanjutannya.
Follow ig: @wind.rahma