TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 64


Amera, Al dan mama Ressa kini tengah sarapan.


"Mas, hari ini aku mau ke coffe shop-nya papa, ya. Soalnya Papa minta aku buat ke sana, katanya ada yang mau papa bicarain sama aku," ujar Amera meminta izin.


Al yang baru saja menyendok makanan ke mulut segera mengunyah makanan tersebut guna menjawab permintaan izin istrinya.


"Bicarain soal apa?" tanya Al penasaran.


"Gak tau pap mau ngomong apa sama aku. Kalau kamu mau tahu, ya udah kamu ikut aja. Gimana?"


"Gak bisa. Paling saya cuma bisa antar kamu sampai depan coffee shop-nya." Ujar pria itu kemudian meraih gelas berisi air putih di hadapannya. Sementara Amera mengulum senyum seraya menatap suaminya.


"Tumben kamu yang mau anterin aku,mas. Biasanya kan Arsen?" Mendapat sindiran seperti itu dari Amera, gelas yang baru saja menempel di bibirnya segera Al jauhkan kembali Mama Ressa pun ikut mengulum senyum.


"Ya udah kalau gitu saya telepon Arsen aja," ujarnya sambil merogoh ponsel di saku jasnya.


Almera yang melihat wajah dengan suami seperti itu segera mencegah ketika hendak menelepon asisten pribadinya itu.


"Nggak usah, Mas. Ngapain telepon Arsen?"


"Ya kan kamu yang minta diantar sama Arsen," ujar pria itu, wajah kesalnya tidak dapat dia pungkiri.


"Bercanda, Mas Al. Kalian kamu sensian deh, kamu?" Godaan Amera lagi, membuat Al jadi salah tingkah tidak karuan. Terlebih mamanya pun ikut mengulum senyum sejak tadi.


"Ya udah jadi pergi nggak? Kalau nggak saya tinggal nih," ujarnya sambil beranjak dari duduknya.


"Iya, jadi."


"Ya udah cepetan!" Kemudian Allah menyalami Mama Ressa.


"Aku pergi dulu ya, Ma." Pamit Amera.


"Iya. Hati-hati dan Ingat! Jangan galak-galak jadi suami, nanti istri kamu diambil laki-laki lain gimana?" Ujar Mama Ressa ikut menggoda.


"Apaan sih, Ma."


"Iya, Mas. Dengerin kata-kata Mama. Jangan galak-galak sama aku nanti-"


"Saya tinggal!" Ujar pria itu kemudian melipir pergi.


Mama Ressa dan Amera saling melemparkan tatapan dan senyuman melihat sikap pria itu.


"Aku pergi ya, Mah." Amera segera menyelami mama Ressa.


"Iya, hati-hati!" Ucapnya sebelum kemudian Amera pergi menyusul Al.


Mama Ressa turun memandang ke arah perginya mereka seray menggelengkan kepala.


***


Amera sudah sampai di depan coffe shop-nya Papa Abdi. Saat ini dia masih berada di dalam mobil.


"Kamu nggak mau mampir dulu, Mas?" Tanya Amera sebelum turun dari mobil.


"Lain kali aja. Salam aja buat mama sama papa! "


"Iya, mas. Kamu hati-hati ya!"


"Iya."


Setelah Amera menyalami suaminya, dia turun dari mobil. Ia melambaikan tangannya sebelum akhirnya mobil Al benar-benar hilang dari pandangan.


Ketika Amera hendak masuk ke dalam coffee shop tersebut, langkahnya ia urungkan saat melihat mobil Papa Abdi yang baru saja memasuki parkiran.


"Tumben mama sama papa baru datang," pikirnya. Lalu Ia memutuskan menunggu kedua orang tuanya di tempat berdirinya saat ini.


Papa Abdi dan mama Anna turun dari mobilnya. Lalu mereka berjalan menuju coffee shopnya.


"Pokoknya nanti sore kita harus ke tempat orang itu lagi. Aku mau mastiin laki-laki yang membawa Indah itu emang orang yang kebetulan lewat atau emang orang tua anak yang satunya lagi," Ujar Mama Anna kekeh.


"Iya, ma. Mudah-mudahan orangnya sudah pulang dari luar kota."


"Iya, Pa. Karena aku yakin sekali kalau Disa Itu Indah, anak kita, pa!"


"Iya, Ma. Tapi-"


Kalimat papa Abdi terhenti saat dia melihat Amera berdiri di hadapannya saat ini. Pria itu seketika panik, bagaimana kalau Amera sampai mendengar pembicaraannya barusan.


"Mera? Ka-kamu udah di sini, nak?" Tanya papa Abdi gugup begitupun dengan mama Anna.


"Pa, ma. Barusan Mama bilang Disa itu Indah. Itu maksudnya gimana ya?"


Papa Abdi kini sudah tidak dapat lagi merahasiakan hal ini dengan Amera. Mungkin ini saatnya mereka menceritakan kecurigaannya bahwa Disa itu Indah. Amera menatap papa Abdi dan mama Anna secara bergantian, dengan tidak sabar menunggu jawaban dari mereka.


"Sebaiknya kita ngobrol di dalam aja yuk!" Ajak Papa Abdi dan Amera pun menurut.


Kini mereka bertiga sudah ada di dalam coffee shop, duduk di sofa tempat mama Anna dan papa Abdi biasanya. Sebelum menjelaskan, pria itu menghela napas panjang.


"Pa?" Mama Anna memberi suaminya tatapan tajam agar tidak menjelaskan yang sebenarnya pada Amira.


"Gak apa-apa, ma. Amera berhak tahu!" Ujar pria itu menciptakan kekesalan di wajah istrinya.


"Terserah kamu deh, Pa!"


Amera yang melihat mereka berdua seperti menyembunyikan sesuatu semakin penasaran.


"Ini sebenarnya ada apa sih, Pa? Apa maksud omongan mama tadi?" Tanya perempuan itu lagi.


"Iya, jadi begini, nak. Mama kamu, merasakan ada yang janggal tentang kasus kematian Indah, adik kamu."


"Janggal? Janggal gimana?" Rasa penasaran Amera kian membesar.


"Awalnya mama merasa ada sebuah ikatan saat pertama kali melihat Disa, adiknya Al. Sampai akhirnya Mama memutuskan untuk menyelidiki kasus Indah. Awalnya Papa tidak setuju, tapi setelah kita bertemu dengan dokter yang dulu sempat menangani Indah, dokter itu bilang kalau orang yang membawa Indah ke rumah sakit merupakan orang tua dari anak yang mengalami kecelakaan yang sama dengan anak yang hanya mengalami luka ringan. Sedangkan pada saat kejadian kecelakaan, warga bilang orang yang membawa Indah ke rumah sakit adalah orang yang kebetulan lewat di sana. Dan waktu Mama tanya ciri-ciri orang itu, ciri-cirinya sama dengan foto laki-laki yang ada di kamar Bu Ressa. Yaitu papanya Al," jelas Papa Abdi membuat Amera tidak percaya.


"Jadi mama sama papa berpikir adiknya mas Al itu Indah, adik aku?"


Pria itu mengangguk, membuat Amera seketika teringat sesuatu.


Bayangan on


Saat acara makan malam di rumah Papa Abdi. Amera mengambil ponsel milik Mama Anna di pantry. Waktu itu dia melihat suaminya tengah berdiri menatap foto di dinding sambil melamun.


"Kamu ngapain, Mas?" Pertanyaannya membuat tubuh al terlonjat kaget, padahal dia sama sekali tidak mengejutkannya.


"Saya, saya nggak ngapa-ngapain," jawab Al tampak gugup waktu itu.


Kemudian setelah pulang makan malam dari rumah Papa Abdi, Al sempat menanyakan foto itu.


"Foto dua anak kecil di rumah kamu, itu siapa? "


Al juga sampai menanyakan kronologis kecelakaan Indah.


"Kamu pernah bilang ke saya, kalau kamu pernah dibenci mama Ann karena dia pikir kamu penyebab kecelakaan adik kamu sampai adik kamu meninggal. Kalau boleh saya tahu, itu kronologisnya seperti apa?"


Lalu Al pernah mengatakan kalau mama Ressa sempat melakukan operasi pengangkatan rahim.


"Mama sering sakit perut pasca operasi pengangkatan rahim."


"Operasi pengangkatan rahim? "


"Hm." Jawab Al masih fokus menyetir.


Dan kemarin saat bertemu dengan Bu Marina, wanita itu mengatakan pada Mama Ressa.


"Jangan marah, nanti stres kamu kambuh lagi loh gara-gara gak bisa punya anak lagi setelah anak yang nikah sama si penghianat ini."


Amera langsung menanyakan soal ucapan Bu Marina kepada Al.


"Oh ya, Mas. Tadi aku sama mama ketemu sama tante Marina, mamanya Revan. Terus dia bilang kalau mama pernah stress gara-gara gak bisa punya anak lagi setelah kamu. Itu maksudnya gimana ya?"


"Kamu ingat saya pernah bilang mama pernah melakukan operasi pengangkatan rahim? Itu dilakukan setelah Mama melahirkan Disa. Dan mungkin orang itu gak tahu kalau Mama kehilangan rahimnya setelah mama punya anak lagi selain saya. "


Tapi waktu itu Al juga pernah mengatakan pada Disa.


"Saya nggak mau melihat Mama saya sakit karena ulah kamu. PAHAM?!"


Amera pun menanyakan hal tersebut.


"Mas, dari tadi kamu bilang apalagi waktu ke Disa, Mama Ressa itu Mama kamu. Jadi lebih ke cuma Mama kamu sendiri. Padahal kan mama Ressa juga mamanya bisa. "


"Ya itu karena Saya anak pertama, Makanya mama itu lebih dulu jadi Mama saya."


Bayangan off


Amera mengerutkan keningnya dalam seraya memikirkan semua itu.


Dengan semua sikap dan apa yang dikatakan Mas Al waktu itu, sepertinya kecurigaan mama sama papa memang ada benarnya. Tapi Masa iya sih, Disa itu Indah adik aku?


_Bersambung_