TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 44


Mama Ressa membangunkan putranya, mensejajarkan berdiri mereka yang saat ini berhadapan. Wanita itu mematap sendu Al, dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya.


"Al, my son!" mama Ressa memeluk Al dengan erat, membiarkan air matanya jatuh di bahu kekar milik putranya. Al membalas pelukan mamanya tak kalah erat.


"Mama minta maaf kalau, kasih sayang yang mama berikan untuk Disa sampai harus membuat kamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Maaf minta maaf, sayang!"


"Mulai saat ini mama akan coba hilangin trauma mama. Mama akan coba bersikap lebih adil lagi sama kalian. Dan, mama minta. Kamu tidak perlu menyelesaikan pernikahan kamu!" ucapnya seeaya terisak.


Al akhirnya berhasil meluluhkan hati mamanya. Mama Ressa pun mengerti akan alasan Al menyembunyikan pernikahan ini darinya. Pria itu cuma butuh waktu yang tepat untuk mengatakannya.


"Mamaa.." panggilannyang berasal dari seseorang barusan seketika memecah suasana mengharu biru di antara Al dan mama Ressa. Ketika di lihat seseorang itu tidak lain merupakan Disa.


Setelah Al mengetahui tempat dimana sering di datangi mamanya, pria itu segera menghubungi Disa guna memintanya umtuk menyusul ke sana. Dan perempuan itupun menurut. Makanya sekarang dia sudah ada di sini.


Disa pun ikut bergabung ke dalam pelukan mama Ressa dan Al. Mereka saling memelik erat satu sama lain.


"Disa, mama perlu bicara sama kamu!" ucap mama Ressa setelah mereka melepaskan pelukannya.


Mendapati nada bicara yang terkesan dingin dari mamanya, perempuan itupun seketika panik.


***


Saat ini Revan tengah memikirkan ucapan Disa tadi pagi, kalau dirinya telah melakukan sesuatu pada perempuan itu. Sampai beberapa berkas yang seharusnya dia tanda tangani pun di biarkan menumpuk di atas meja kerjanya.


"Kenapa aku bisa tidur di kamar tamu bersama Disa, ya?" tanya pria itu pada dirinya sendiri. Dia tampak berpikir keras guna mengingat-ingat kenapa hal tersebut bisa terjadi.


"Semalam, aku duduk di ruang tamu. Terus Disa datang membawa minuman. Lalu-" Revan menggantungkan kalimatnya lantaran dia mengingat sesuatu. Matanya membulat sempurna dua kali lipat daripada batas normalnya.


"Apa jangan-jangan minuman yang Disa kasih ke aku itu dia campuri sesuatu? Sehingga aku tidak ingat apapun malam itu, kemudian aku bangun di pagi hari di kamar tamu bersamanya?" pikir pria itu.


"Kalau itu sampai benar, kemungkinan yang Disa katakan juga-" lagi-lagi Revan menggantungkan kalimatnya. Pria itu kemudian menggeleng keras setelah terdiam sejenak.


"Gak. Itu gak mungkin! Aku tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu! TIDAK!" Revan menyapu apa saja yang ada di meja di hadapannya menggunakan skedua tangannya. Sehingga ruangannya kini sangat berantakan.


***


Mama Ressa kini duduk berdua di bangku taman belakang Villa bersama Disa, setelah meminta Al untuk meninggalkan mereka di sana sebentar.


Keinginan terbesarku memiliki seorang anak perempuan, membuat beberapa orang terluka karna keegoisanku. Termasuk Al. Dia sampai rela melakukan sesuatu demi tidak ingin melihatku sedih jika Disa sampai sedih. Sepertinya mulai saat ini, aku harus bisa bersikap adil kepada mereka. Dan aku harus bisa terima kalau suatu saat nanti aku harus kehilangan putriku. Dia berhak bahagia dan aku tidak bisa memaksakan kehendak.


"Maah.." Disa melambaikan tangannya di depan wajah mama Ressa, membuat lamunan wanita paruh baya itu seketika buyar.


"I-iya, sayang?"


"Mama katanya mau bicara sama aku. Mama mau bicarain soal apa?" tanya Disa membuat mamanya diam sejenak.


"Emm, jadi begini, Sa. Mama sudah tau semuanya dari kakak kamu. Kalau dia menikahi perempuan pacar dari pria yang kamu cintai itu atas permintaan kamu. Apa itu benar?" Disa sontak gugup di tanya soal itu. Dia segera merangkai kata-kata di kepalanya untuk memberikan alasan tersebut.


"I-iya, mah," mendapat jawaban itu keluar dari mulut Disa sontak membuat mama Ressa memejamkan kedua matanya seraya menghela napas panjang.


"Why? Kenapa? Kenapa kamu meminta hal itu?"


"Ya karna aku, aku harus bisa mendapatkan apa yang aku mau, mah," mendengar alasan Disa berhasil membuat hati mama Ressa merasa semakin bersalah, lantaran ia telah salah dalam mendidik putrinya ini dengan memberikan apapun yang Disa mau sejak dia masih kecil.


"Tapi tidak semua yang kamu inginkan, harus kamu dapatkan. Kamu juga harus bisa menerima kenyataan kalau, tidak semuanya bisa kamu milikki, sayan." tutur mama Ressa.


"Tapi papa kan pernah bilang, kalo kita mau mendapatkan sesuatu kita harus berusaha."


"Tapi tidak dengan menghalalkan segala cara!"


Kalimat mama Ressa barusan berhasil membuat Disa bungkam. Namun dia tidak pernah menyesal dengan semua yang dia lakukan demi mendapatkan seorang Revan. Termasuk yang di lakukannya tadi malam.


***


Malam harinya, Amera memutuskan untuk tidak makan malam sebelum suaminya kembali. Dia tetap memilih menunggu Al di halaman rumah sampai pria itu pulang. Beberapa kali Amera mencoba menghubunginya lewat telpon, namun hasilnya tetap sama. Nomer pria itu tidak aktif. Hal tersebut membuatnya semakin di buat cemas. Terlebih kepergiannya untuk menjelaskan perihal pernikahannya yang membuat perempuan itu tidak bisa tenang.


Bagaimana kalau mama Ressa tidak menerimanya sebagai menantu? Lantaran pernikahan mereka yang suaminya tutupi selama ini.


"Aku harus bisa hadapi masalah ini. Walaupun mamanya mas Al tidak bisa menerima aku sebagai menantunya, aku akan berusaha. Sama seperti halnya mas Al yang belum bisa menerima aku sebagai istri seutuhnya," Amera meremas jemarinya yang mengeluarkan keringat dingin sejak tadi.


Mali di buat terkejut saat melihat sosok perempuan tengah duduk di bangku besi halaman rumah majikannya malam-malam. Awalnya dia mengira kalau itu merupakan sosok makhluk halus, tapi setelah dia perhatikan kalau kakinya sosok perempuan tersebut menapak tanah, ternyata itu bukanlah sosok seperti yang dia pikirkan. Melaikan itu Amera.


"Bu Amera ngapain malem-malem di luar ya? Pak bos juga dari semalem belum pulang-pulang. Bu Ressa juga, baru pulang dari luar negri udah main lergi lagi aja. Ck, sebenernya ini ada apa ya?" Mali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Satpam itu lebih di kejutkan lagi oleh klakson mobil yang terdengar keras. Mobil tersebut sudah ada di luar pintu gerbang. Dia segera lari, guna membuka pintu gerbang tersebut.


Amera yang juga mendengar klakson mobil tersebut yang ternyata berasal dari mobil suaminya segera bangkit dari duduknya. Sunyumnya seketika terbit. Namun ia sedikit bingung lantaran ada mobil lain yang menyusul mobil suaminya. Yaitu mobil milik Disa.


Tanpa berpikir apapun lagi, Amera berjalan menghampiri Al dan mama Ressa yang baru saja turun dari mobil. Tidak bisa Amera pungkiri, ada perasaan takut saat mama Ressa berjalan lebih mendekat kemudian berdiri tepat di hadapannya.


Jantung Amera seketika berpacu lebih cepat dari biasanya. Terlebih wanita paruh baya itu menatapnya serius. Yang bisa dia lakukan saat ini diam dengan sedikit menundukkan wajahnya. Tangannya pun kembali mengeluarkan keringat dingin.


Suasana cukup menegangkan, dan terasa mencekam bagi Amera.


"Kamu.." ucap mama Ressa dingin pada Amera, membuat perempuan itu semakin kehilangan mentalnya.


___


Jangan lupa dukungannya ya. Tambahkan ke rak favorit kalianšŸ¤—


Follow ig @wind.rahma