TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 26


"Haduh, gue harus cari kerja kemana lagi ya? Sana sini gak di terima masalah pendidikan terakhir gue," seorang perempuan dengan stelan formal baru saja keluar sari Kafe Amora. Dia mengeluh lantaran lamaran kerhljanya terus saja di tolak.


"Kalo gini caranya, gue gak bisa dapet duit buat biaya emak gue di rumah sakit," keluhnya lagi, kali ini dia terluhat sedih. Tatapannya sendu. Sebut saja namanya Vira.


Seketika mata Vira menangkap seorang laki-laki yang duduk di bagian pojok kafe tersebut. Vira menyipitkan kedua matanya guna memastikan laki-laki yang saat ini ia lihat.


"Cowok itu? Kok mukanya familiar banget ya? Gue kayak pernah liat tuh cowok, tapi dimana ya?" Vira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil mengingat-ingat siapa dan dimana ia pernah melihat laki-laki tersebut.


"Ah, udahlah. Ngapain juga gue nginget-inget siapa tuh cowok. Gak penting banget buat gue. Mending gue cari kerja lagi buat biaya rumah sakit emak gue," ujarnya. Kemudian pergi meninggalkan Kafe Amora.


Laki-laki yang duduk di bagian pojok kafe yang Vira maksud adalah Revan. Saat ini dia tengah menunggu seseorang datang untuk menemuinya. Ia sangat berharap seseorang yang tak lain adalah Amera, masih mau di ajak bertemu. Karena dia yakin sekali, kalau Amera masih menyimpan perasaan untuknya. Begitupun sebaliknya.


***


Di halaman parkir Kamboja Caffe. Arsen baru saja mengantarkan Meli sekertaris Al guna menemui klien di sana.


"Terima kasih banyak, pak Arsen!" ucap Meli segera di balas oleh Arsen.


"Sama-sama."


"Pak Arsen mau langsung pulang?"


"Tadi pak Al sudah menugaskan saya untuk menunggu bu Meli sampai meeting-nya selesai," Meli pun menggangguk.


"Oh, begitu. Ya sudah, kalau begitu sata langsung masuk ya, pak Arsen," pamitnya sebelum pergi dari hadapan pria tersebut.


"Iya, silahkan, bu!"


Arsen memutuskan menunggu Meli di mobil saja. Ketika hendak memasuki mobilnya kembali, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat Disa yang sedang menelpon dengan seseorang berjalan memasuki Kafe Kamboja. Yang membuat Arsen menghentikan langkahnya sebenarnya bukan karena Disa, tapi cincin yang terpasang di jari manis adik majikannya tersebut.


"Itu kan?"


Bayangan On


Setelah mendapat tugas dari sang majikan barusan di telpon, Arsen segera pergi ke sebuah toko perhiasan dan berlian. Dia memilih cincin dengan harga tinggi sesuai permintaan Al.


"Ini kayaknya bagus, deh. Apa saya pilih yang ini aja ya? Pak Al pasti akan menyukainya juga," ujar Arsen setelah menemukan cincin dengan bentuk sederhana simple tapi bagus. Kemudian ia menyerahkan cincin tersebut ke pegawai toko guna melakukan transaksi.


Bayangan Off


"Itu kan cincin yang saya beli atas perintah dari pak Al. Kenapa ada di mbak Disa, yah? Apa pak Al memang membelikannya untuk mbak Disa?" Arsen mengerutkan dahi merasa ada yang aneh.


"Lebih baik saya telpon pak Al aja deh," Arsen mengeluarkan ponselnya sari balik saku jasnya. Kemudian mendial nomer Al di layar hp-nya.


Al yang saat ini berada di dalam perjalanan segera mengangkat telpon dari Arsen menggunakan earphone yang selalu dia gunakan saat sedang berkemudi.


"Iya, Sen. Ada apa?"


"Iya, pak. Jadi begini, waktu itu pak minta saya untuk membeli cincin. Kalau boleh saya tau, itu untuk siapa ya, pak?"


"Kenapa emangnya?" tanya Al heran, sebelumnya Arsen tidak pernah kepo soal urusan pribadinya.


"Barusan saya lihat mbak Disa masuk ke Kamboja Caffe memaki cincin yang saya maksud, pak," kalimat Arsen barusan menciptakan kerutan dalam di dahi Al.


Bayangan On


"Cincin kamu mana? Kenapa tidak kamu pakai?" pertanyaan Alan membuat mata Amera membulat sempurna. Pasalnya cincin itu hilang. Dan sekarang, ia harus memberikan alasan apa? Sebelum mamanya memberi sederet pertanyaan, ia harus lebih dulu memberi pria itu jawaban.


Bayangan Off


Bukannya Amera bilang kalau cincin itu hilang di kamar mandi? Kenapa sekarang bisa ada sama Disa?


"Kamu yakin cincin yang Disa pake itu cincin yang sama dengan yang kamu beli waktu itu?" tanya Al memastikan.


"Saya yakin sekali, pak. Karena waktu itu pegawai tokonya bilang, kalau cincin itu model terbaru dan tidak ada model yang serupa dengan cincin tersebut," jelas Arsen. Al semakin di buat bingung.


Kalau cincin yang di pakai Disa adalah cincin yang sama dengan cincin yang dia berikan untuk Amera. Lantas darimana Disa mendapatkan cincin tersebut?


"Nanti saya akan tanyakan sama Disa. Terima kasih atas infonya ya, Sen!"


"Sama-sama, pak," sambungan telpon pun terputus.


Gue harus pastiin kalo cincin itu cincin yang gue kasih untuk Amera atau bukan. Kalo venar, berarti Amera bohongin gue. Pikir Al dalam hatinya.


Kembali lagi ke Amora Caffe. Sudah satu jam lebih Revan menunggu Amera. Namun Amera tak kunjung datang juga. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Udah jan tiga. Kenapa Amera belum juga datang , yah? Apa tidak sudah mau ketemu aku lagi?" setelah memikirkan hal itu, Revan memutuskan untuk menghubungi Amera saja.


Di tempat kediaman Al, Amera sudah berdiri di pantry dapur seraya memikirkan masakan apa yang harus dia hidangkan untuk makan malan nanti bersama suaminya. Dering ponselnya seketika membangunkannya dari segala pemikiran.


"Mau apa lagi sih sebenarnya Revan ngajak aku ketemuan di kafe?" pikir Amera ketika melihat layar hp-nya menampilkan nama Revan yang menelponnya.


"Aku silent aja deh," ujarnya lagi. Lalu meletakan ponselnya di atas meja dekat pantry agar Revan tidak mengganggu konsentrasinya saar memasak.


"Kenapa Amera tidak mengangkat telpon dari aku? Apa jangan-jangan dia memang sudah tidak mau lagi bertemu dengan aku?" Revan menggenggam hp-nya erat-erat, lalu tenggelam ke dalam pemikiriannya tentang Amera.


***


Sudah hampir satu jam Al menunggu Disa di depan pintu Unit Apartemen. Tetapi Disa belum pulang juga. Saat hendak memutuskan untuk menelponnya, Al melihat adiknya sudah menampakkan diri.


"Ngapain di depan pintu Unit Apartemen gue?" tanya Disa sambil menatap heran Al. Tanpa basa-basi Al pun langsung menanyakan hal yang menjadu tujuannya datang ke sini.


"Kamu dapet cincin itu darimana?"


"Cincin? Maksudnya cincin ini?" Disa memamerkan cincin yang terpasang di jari manisnya. Sambil tersenyun dia menjawab.


"Gue dapet cincin ini dari Revan. Kenapa emangnya?"


"Revan?"


"Iya. Emang kenapa sih? Lagian kok lo bisa tau kalo gue pake cincin?' Disa semakin di buat bingung.


Seketika Al tertegun. Arsen begitu yakin kalau itu cincin yang dia beli atas perintahnya. Dan benar, dari modelnya cincin itu sama persis dengan cincin yabg dia berikan untuk Amera saat dia melamarnya. Lalu Amera bilang kalau cincin itu hilang, dan saat ini Disa memakai cincin yang serupa pemberian dari Revan.


Apa jangan-jangan Amera bohongin gue ya? Kalau cincin itu sebenarnya gak hilang. Tapi cincin itu di ambil Revan karena tidak terima Amera gue lamar.


___


Tambahkan ke favorit dan VOTE.


Follow ig @wind.rahma