TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 66


Amera baru saja pulang, dia mendapati Mama Ressa tengah membaca majalah di sofa ruang tamu. Wanita tersebut menyadari kalau dirinya sudah pulang.


"Hei, kamu udah pulang?" Mama Ressa bangun dari tempat duduknya kemudian Amera menyalaminya.


"Iya, Ma." Jawab Amera seraya tersenyum.


Kedua bola mata Mama Ressa beralih pada kantong plastik berukuran sedang yang ditenteng Amera.


"Itu, kamu bawa apa? Banyak banget."


"Ini bahan masakan. Tadi aku rencananya mau masak rendang buat makan malam nanti."


"Umm .. itu pasti enak sekali," ucap Mama Ressa sambil membayangkan.


"Iya, Ma. Kalau gitu aku tinggal ke dapur sebentar ya"


"It's oke."


Amera melangkah masuk ke dapur, dia mendapati Neni Tengah mencuci piring. Lalu menari kantong plastik tersebut di atas pantry.


"Nen, nanti kamu bantuin saya masak ya," pinta Amera.


Neni pun menoleh.


"Oke, Mbak Amera," ucapnya seraya membentuk huruf O i antara ibu jari dan telunjuknya.


Sebelum Amera kembali ke ruang tengah guna menghampiri Mama Ressa, dia sempat menanyakan sesuatu pada Neni.


"Mm .. Nen. Saya boleh tanya sesuatu nggak sama kamu?" Neni pun menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Boleh, Mbak. Mbak Amera mau nanya apa ya?"


"Kamu kerja di sini udah berapa lama?" Mendapat pertanyaan seperti itu Neni tampak berpikir.


"Kurang lebih tujuh tahun, Mbak. Kenapa emangnya?" Neni bertanya balik.


"Nggak sih, nggak papa. Emm .. kalau asisten rumah tangga di sini sebelum kamu kamu tahu?" Tanya Amera lagi membuat perempuan di hadapannya itu menggeleng.


"Nggak tahu mbak kalau itu. Coba Mbak Amera tanya aja sama Mali. Soalnya Mali kan udah kerja lama sebelum Neni di sini."


"Oh gitu ya. Ya udah kalau gitu saya ke depan lagi ya."


"Ya, Mbak." Setelah perempuan itu pergi, Neni pun jadi penasaran kenapa Amera nanya-nanya soal asisten rumah tangga di sini.


Namun seketika, lamunannya buyar saat Vira datang mengejutkannya dengan menepuk bahu sebelah kanannya.


"Woyy ..." tepukan Vira di bahu Neni benar-benar membuat perempuan itu terlonjak sejadi-jadinya.


"Mbak Vira, ngagetin Neni aja deh iiihh..." protes Neni dengan raut wajah kesal.


"Ya lagian, melamun aja loh. Ngelamunin apa sih? Ngebet kawin sama Mali ya loh?"


"Ih amit-amit sama Mali. Sama Lee Min Ho aja deh."


Vira mengerutkan kening.


"Lee Min Ho siapa?"


"Bintang film, " jawabnya, membuat Vira kembali tertawa.


"Hahaha ... Mimpi lo ketinggian, ntar ketabrak pesawat." Neni pun ikut tertawa.


***


Arsen masuk ke ruangan Al setelah dia mendapat perintah untuk menemuinya di ruang tersebut. Al segera mempersilahkan Arsen untuk duduk ketika asisten pribadinya itu masuk ke ruangannya.


"Duduk, Sen!"


"Terima kasih, Pak." Ucap pria itu kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi dekat Al.


"Sen, nanti tolong kamu antar Meli ke perusahaan PT Bakti Sahaja. Soalnya dia mewakili saya meeting di sana!" Pria di hadapannya pun mengangguk antusias.


"Baik, Pak." Ucap Arsen, beberapa saat dia teringat sesuatu.


"Oh iya, pak. Saya lupa memberitahu Pak Al kalau waktu saya ke rumah Pak Sugandi, satpam itu bilang bahwa ada dua orang juga yang datang ke sana. Saya jadi berpikir, apa mungkin dua orang itu Pak Abdi dan Bu Anna ya, Pak?" Ucapan Arsen seketika menciptakan kerutan di dahi Al.


"Mm .. Maaf Pak. Saya lupa."


"Hal sekecil apapun kamu harus laporkan sama saya. Jangan sampai hal yang kita anggap kecil itu justru akan menimbulkan masalah besar. Mengerti?!"


"Iya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Arsen sungguh.


"Iya. Kalau gitu, nanti kamu hubungi Pak Sugandi. Terus kamu bilang sama dia kalau ada yang datang atas nama papa Abdi dan mama Anna dengan tujuan menggali informasi tentang anak atas nama Indah Arandita. Jangan pernah beri informasi apapun, apalagi sampai mengatakan ada orang lain yang mencari informasi serupa, yaitu kamu, Sen."


"Baik, Pak. Saya akan menghubungi beliau."


"Bagus."


"Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya lagi, Pak."


"Silakan." Ucap Al Seraya memperagakan tangannya.


Setelah Arsen keluar dari ruangannya, Al menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Kakinya seperti biasa bertumpu di atas kaki yang satunya lagi.


Kalau orang itu beneran papa dan mama Anna, berarti mereka gak main-main nyelidiki kasus ini.


***


Di unit apartemen Disa.


Perempuan itu tengah menatap pantulan dirinya di cermin wastafel toilet. Perasaannya tidak menentu, saat dirinya tengah menunggu hasil tes kehamilan yang lima menit lalu sudah dia celupkan ke urine.


"Duh... Kenapa gue jadi tegang gini ya?" Ujarnya lalu mencoba mengontrol deru napasnya.


"Kalau misalkan hasilnya negatif, berarti apa yang selama ini gue lakukan percuma dong. Semua sia-sia. Gue udah ngecewain Mama dengan merusak harga diri gue sendiri. Tapi setidaknya gue perempuan yang pertama kali Revan sentuh, ya walaupun Revan nggak sadar waktu dia nyentuh gue."


"Tapi kalau hasilnya positif, Mama pasti bakal lebih kecewa lagi sama gue. Al juga pasti bakal marah besar sama gue. Tapi di sisi lain, rencana gue buat bikin Revan milik seutuhnya berhasil," ujar perempuan itu masih menatap pantulan wajahnya di cermin.


Setelah menyiapkan diri, Disa pun mengambil tes kehamilan itu di kamar mandi. Apapun resikonya dia akan siap menerima segala konsekuensinya.


Tidak berapa lama Disa kembali ke tempat berdirinya barusan seraya menggenggam hasil tes tersebut di tangannya.


"Pokoknya gue harus terima semua ini," ucapnya lalu menghela napas panjang.


Perlahan genggaman tangannya dibuka, menampakan setengah bagian dari hasil tes tes tersebut. Dibuka lagi menampakan satu garis, dan, dan, dan, ia membuka genggaman tangannya penuh. Memperlihatkan dengan jelas hasil tes tersebut.


Perempuan itu seketika membungkam mulutnya sendiri seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tubuhnya nyaris ambruk jika dia tidak segera berpegangan ke wastafel. Lututnya melemas seakan tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya.


"Gue hamil???" Ucapnya dengan bibir gemetar lantaran hasil tes tersebut memunculkan dua garis merah yang berarti positif.


"Itu artinya Revan benar-benar bakalan jadi milik gue?" Ucapnya lagi.


Beberapa saat kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman seraya mengusap perut datarnya.


"Terima kasih sayang .. hadirnya kamu akan mempersatukan Mama sama laki-laki yang mama cintai."


***


Sorenya, Mama Anna dan papa Abdi kembali ke rumah seseorang yang mungkin Disa memberikan informasi tentang kasus kematian putrinya.


"Permisi ..!" Ucap Mama Anna yang kini berdiri di depan gerbang rumah tersebut. Satpam rumah itu pun berjalan menghampiri.


"Iya, ada apa ya, Pak, Bu?" Ucap satpam itu bertanya.


"Emm... Pak Sugandi nya ada?"


"Ada, Bu. Kebetulan baru saja pulang tadi siang. Bapak sama ibu yang waktu itu pernah ke sini kan?" Tanya satpam tersebut yang merasa tidak asing terhadap keduanya.


"Iya. Kami yang waktu itu." Jawab papa Abdi.


"Ya sudah, Bapak sama Ibu boleh masuk. Tapi tunggu saya lapor ke Bos saya, ya!"


"Baik. Terima kasih." Papa Abdi bersama istrinya pun masuk ke pelataran rumah tersebut setelah satpam membukakan gerbangnya. Tidak lupa, beliau juga memarkirkan Mobilnya di sana.


Tidak berapa lama, pa Sugandi keluar guna menemui tamu yang satpamnya maksud. Begitu melihat siapa tamunya, ia terkejut dan membulatkan mata.


Bersambung