TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 21


Revan berdiri menghadap cermin wastafell, meratapi dirinya yang terlihat sangat bodoh. Kenapa dirinya harus pergi ke sebuah club malam, padahal itu tempat yang sama sekali tidak ingin ia kunjungi.


Melihat sekaligus menyaksikan wanita pujaan hayinya menikah dengan laki-lain lain tentunya akan membuat laki-laki manapun merasa frustasi. Termasuk Revan. Dan meminum alkohol seakan satu-satunya cara mereka melampiaskan semuanya.


Revan meraba saku kemeja putih dan celana hitamya, ia tidak menemukan benda yang saat ini ia cari. Ketika ia berpikir dan tampak mengingat-ingat sepertinya hp-nya tertinggal di tempat club malam lantaran semalam ia mabuk berat. Tanpa mengganti pakaian lusuh yang masih di kenakannya. Revan beranjak memutuskan pergi kembali ke tempat semalam.


Sementara di tempat kediaman keluarga Permadi, Amera masih canggung untuk melakukan berbagai aktivitas. Setelah suaminya menolak untuk di buatkan sarapan tadi pagi, terlebih Al juga melarang dirinya untuk menyentuh apapaun yang bersifat pribadi. Tiba-tiba saja Amera menyadari ada sebuah cairan hangat yang keluar dari anggota tubuhnya.


"Ini udah tanggal dua puluh lima, kayaknya aku datang bulan deh," Amera beranjak dari tempat tidur. Akan sangat bahaya jika cairan tersebut menembus tempat tidur milik suaminya.


"Aku lupa bawa pembalut lagi di koper. Apa aku ke minimarket terdekat aja, yah. Sekalian beli bahan masakan lainnya buat nanti malam. Stok belanjaan di kulkas juga aku lihat udah mulai menipis tadi," tanpa pikir panjang lagi, Amera segera mengambil tas dan keluar dari kamar. Sebelum cairan tersebut lebih banyak keluar, ia harus segera tiba lebih dulu di minimarket untuk membeli pembalutnya.


***


"Kenapa nomer mama gak aktif-aktif ya? Udah beberapa hari masih gak aktif juga," Al menatap layar hp-nya dengan perasaan cemas. Padahal selama mamanya di Singapur, tidak pernah mama Ressa sampai berhari-hari tidak mengabarinya.


Al yang saat ini berada di kantor, memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya.


Di tempat lain, Amera tengah menenteng dua kantong plastik di tangannya baru saja keluar dari minimarket. Ia berdiri di bahu jalan sambil menunggu ojek online yang telah di pesan sebelumnya.


"Mana ya ojek online-nya? Harusnya kan udah sampai," ia menoleh ke kiri dan ke kanan guna mencari ojek online pesanannya. Tidak lama kemudian, sebuah pengendara motor pun berhenti tepat di hadapannya.


"Dengan mbak Amera?" tanya Driver ojek online tersebut.


"Iya, betul. Kalau begitu kita langsung ke alamat yang sudah saya berikan ya, pak!" Driver tersebut mengangguk lalu memberikan helm pada Amera. Sambil membantu memegangi belanjaannya juga lantaran Amera meminta bantuannya.


Beberapa ratus meter motor tersebut melaju menuju tujuan. Tiba-tiba saja Driver tersebut menghentikan kendaraannya. Hal itu membuat Amera mengernyit kebingungan.


"Kenapa, pak? Kok berhenti di sini?"


"Maaf, mbak. Saya baru ingat kalau sekarang saya harus pergi ke rumah sakit untuk check up anak saya!"


"Oh gitu. Ya udah deh, kalau begitu saya pesan ojek online lain aja."


"Iya, mbak. Sekali lagi maaf ya!"


"Iya, gak apa-apa," Amera pun membayar ongkosnya kemudian Driver tersebut pergi putar balik.


Saat ini Amera berdiri di pinggir jalan sendirian. Jalanannya cukup sepi dan jauh dari keramaian. Bahkan Amera tidak melihat lagi kendaraan lewat di sana.


Lima belas menit berlalu, ojek online yang Amera pesan lagi tidak kunjung datang. Perasaan takut mulai membayangi diri, pada saat ponselnya yang sialnya ikut mati lantaran dia lupa men-charger semalam. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk jalan kaki sajasl sampai ke tempat yang ramai.


Saat beberapa langkah berjalan, tiga orang pria bertubuh besar yang menakutkan tiba-tiba muncul lalu menghadangnya. Hal tersebut membuat Amera sontak panik, terlebih tempat tersebut jauh dari keramaian.


"Kalaian siapa? Jangan macam-macam ya!" ucap Amera dengan tubuh waspada, ketakutannya kian bertambah ketika salah satu dari mereka kembali melontarkan godaan yang terdengar vulgar.


"Wow, body-nya boleh juga. Pasti bakalan nikmat nih kalo kita bareng-bareng."


"Boleh juga ide lo," sahut temannya kemudian mereka tertawa.


"Saya mohon jangan pernah macam-macam!" tanpa Amera sadari air matanya sudah lolos dari pelupuk matanya. Takut, panik, semua bercampur menjadi perpaduan yang mengerikan.


Ketiga pria itu sudah saling melemparkan kode untuk kesepakatan apa yang akan mereka lakukan. Ingin rasanya Amera berteriak sekencang-kencangnya meminta tolong pada saat mereka berdiri mengurungnya. Namun hal itu akan percuma lantaran tidak ada siapa-siapa di sana.


Yang dapat Amera lakukan saat ini hanyalah memejamkan mata sambil berharap ada seseorang yang menjadi penolongnya.


"Jangaaaannn...!!!" teriaknya. Belanjannya sudah berceceran di jalan sebelum ketiga orang itu benar-benar nekad.


Sedetik kemudian Amera membuka matanya dan melihat ketiga pria itu sudah terkapar di jalanan. Amera segera bangun pada saat seorang laki-laki yang berhasil menghajar penjahat tersebut membantu membangunkannya dari posisi jongkoknya.


"Kamu tidak apa-apa, Mera? Aku minta kamu tunggu di mobil aku, ya! Aku akan mengurus ketiga preman itu," laki-laki yang tak lain adalah Revan meminta Amera untuj menjauh ketika ketiga penjahat sudah bangkit kembali.


"WOY! Siapa lo? Beraninya lo gagalin mangsa kita!" ujar preman itu merasa tidak terima.


"Pergi atau saya akan laporkan kalian ke polisi atas kasus pelecehan!" ancam Revan, tapi itu tidak membuat mereka takut. Justru mereka malah tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha.. Lo pikir gue takut sama polisi? Polisi aja takut sama gue. Udah lah mending lo nyerah aja! Atau, gimana kalau kita sepakat aja buat nikmatin cewek itu rame-rame. Coba deh lo liat body-nya, beuhhh mantap banget. Deal?" mendengar hinaan preman itu terhadap Amera membuat Revan geram dan hatinya terluka. Meskipun Revan berpikir kalau Amera sudah menghianatinya. Tetap saja ia tidak tega melihat ada orang lain yang melukainya. Termasuk ketiga preman ini.


Secepat kilat laki-laki itu melayangkan pukulan di sertai tendangan yang sangat keras kepada lawan yang tak seimbang. Hal tersebut membuat para preman mengakui kalau dirinya yang berjumlah tiga orang tidak dapat mengalahkan satu orang saja. Mereka kini babak belur, sebagai bonusnya salah satu dari mereka Revan buat patah pinggangnya. Sampai akhirnya, lari kocar-kacir adalah satu-satunya jalan agar mereka selamat.


Setelah ketiga preman kurang ajar itu pergi, Revan berjalan menghampiri Amera yang berdiri di dekat mobilnya masih di rundung ketakutan. Sebenarnya Revan ingin sekali memeluk tubuh perempuan di hadapannya, namun ia sadar kalau itu tidak mungkin ia lakukan. Bahkan rasa ingin menenangkan saja pun dia tidak berani.


"Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" tidak ada kecemasan yang di tunjukan pada pertanyaan Revan, ia hanya ingin memastikan saja keadaan Amera.


"Aku tidak apa-apa, makasih ya kamu udah nolongin aku," Amera tersenyum canggung.


"Iya. Sama-sama. Apa kamu mau pulang? Biar aku antar," tawarnya.


"Tidak perlu!" ujar seorang laki-laki yang baru saja datang membuat Revan dan juga Amera menoleh ke asal suara.


___


VOTE tambah ke rak buku favorit.


Follow instagram @wind.rahma