TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 53


Setelah selesai makan malam, Al dan Amera memutuskan untuk tidur. Mereka saat ini sudah berada di atas tempat tidur kamarnya. Wanita itu baru saja akan memejamkan kedua matanya, tapi suara sendawa yang berasal dari suara suaminya membuatnya sontak membuka matanya kembali.


Amera menatap suami spontan yang tengah kelihatan malu sekali.


Aduh, kenapa gue harus bersendawa di depan Amera, sih. Udah gitu kenceng banget, lagi. Ujar Al dalam hati.


Al melirik istrinya yang tengah menatapnya sambil senyum. Al semakin malu dibuatnya, namun ia harus tetap terlihat biasa saja di depan Amera.


"Ngapain lihatin saya kayak gitu?"


"Nggak apa-apa. Kamu suka ya sama masakan aku? Sampai-sampai aku masak nasi goreng segitu banyaknya kamu habisin," ujar Amera seraya menggoda.


"Apaan sih? Saya itu tadi lupa makan siang. Makanya saya jadi lapar, terus barusan makan agak banyak."


"Iyu bukan agak lagi, Mas. Tapi banyak banget, sampai kamu aja sendawa kenceng banget gitu. Kamu suka kan masakan aku? "


Lagi-lagi Amera menggoda suaminya dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Iya, iya. Mau dipuji aja maksa banget," ujar Al mengalah, lantaran kalau ia terus aja mengelak, Amera akan terus menggodanya.


Amera tersenyum seraya menghela nafas. "Aku gak maksa, Mas. Ya emang kamu aja yang suka sama masakan aku, karena masakan aku enak. Kamunya aja yang gengis buat bilangnya. Iya, kan?"


Lagi-lagi Amera bertanya, hal itu membuat Al menghembuskan napas lelah.


"Bisa diam nggak?! Kalau kamu ngomong terus, saya jadi gak bisa tidur!"


Amera segera mengatupkan bibirnya membentuk garis lurus, kalau suaminya sudah bicara dengan nada dinginnya.


"Iya, maaf! "


Akhirnya Amera ikut mengalah dan hendak ikut membaringkan tubuhnya, namun ia mengurungkan niatnya ketika ia mengingat sesuatu.


"Oh ya, mas Al. Aku boleh tanya sesuatu nggak?"


Al yang sudah memejamkan matanya menghembuskan napas.


"Nanya apa lagi sih? Masih mau nanya masakan kamu enak atau enggaknya lagi? Saya mau tidur, Ameraaaa..!"


"Bukan itu mas."


"Ya terus apa?"


"Disa beli obat halusinasi buat siapa?"


Pertanyaan Amera barusan membuat suasana kini berubah serius, Al pun membenarkan posisi tidurnya agak menyandar ke sandaran tempat tidur.


"Saya kurang tahu masalah itu. Saya juga belum sempat membahas hal itu sama dia."


"Tapi kenapa dia ngira kalau aku yang udah kasih tahu kamu, soal dia beli obat itu. Padahal kan aku sama sekali nggak tahu apa-apa."


"Besok saya akan coba bahas hal ini sama dia. Sekarang kamu tidur, udah malem."


Amera pun mengangguk. "Iya Mas."


***


Pagi ini, Mama Ressa sudah tampak sehat seperti biasanya. Terlihat dari aura yang terpancar di wajahnya kalau beliau kelihatan segar sekali.


"Good morning all. Pagi semua," ucapnya saat menghampiri putra dan menantunya di ruang makan.


"Pagi juga, ma. Mama udah membaik?"


"Alhamdulillah, sayang. Mama udah lebih baik." Al dan Amera tampak bahagia mendengarnya.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, Ma, Mama mau aku buatin roti selai nanas atau coklat?" tawar menantunya yang kebetulan sedang membuat roti untuk sarapan.


"Nanas aja."


"Bentar ya, Ma. Aku buatin."


"Iya, sayang."


Tidak Berapa lama, roti yang Amera oles dengan selai nanas pun jadi, dia menaruh ke atas piring putih kemudian memberikannya pada Mama Ressa. "Ini mah, udah jadi."


"Terima kasih, ya!" Ucapnya ketika menerima piring bersih roti tersebut.


"Iya, ma. Sama-sama. Kamu mau aku buatin lagi nggak, Mas?" Tawar Amera pada Al.


"Mas." Amera memanggil suaminya ketika dia baru saja beranjak.


"Apa? Saya kan udah bilang nggak usah!"


Amera ikut beranjak dari duduknya, maju beberapa langkah kemudian meraih buah tangan kanan suaminya.


"Hati-hati ya, Mas!"


Lagi-lagi Al dibuat gugup oleh perlakuan Amera barusan ketika menyalaminya. Jantungnya berdebar saat wanita di hadapan nya itu tersenyum kepadanya.


Mama Ressa yang menjadi saksi di antara mereka ikut bahagia melihatnya. Imunnya bertambah dua kali lipat sehingga beliau kini jadi benar-benar sehat.


"Iya." Jawab Al gugup.


Setelah itu menyalami mama Ressa guna berpamitan. "Aku berangkat ya, ma."


Mama Ressa mengusap bahu putranya. "Hati-hati, ya!"


Al pun pergi.


Saat ini hanya ada Amera dan mama Ressa di meja makan.


"Ra. Nanti kamu bisa temenin Mama ke butiknya Disa?"


Amera mengangguk antusias. "Iya, ma. Aku bisa."


"Oke. Sekarang kita siap-siap dulu aja."


"Iya, ma."


***


Di perjalanan menunjukkan kantor, Al kepikiran lagi soal obrolan beberapa hari lalu dengan Arsen tentang makam anak yang bernama Indah itu. Seluruh pertanyaannya belum mendapatkan jawaban sepenuhnya. Masih menyimpan misteri di sana.


"Apa gue suruh Arsen buat selidiki ini lebih jauh ya? Supaya gue tahu kebenarannya," ujar Al.


Kemudian ia mendial nomor Arsen di ponsel miliknya. Begitu sambungan telepon terhubung, Al segera menyambungkan dengan earphone.


"Halo, Sen. Saya ada tugas lagi buat kamu. Saya minta kamu ..." Al mengatakan sesuatu yang menjadi tugas untuk Arsen. Setelah itu ia menutup lagi teleponnya.


"Mudah-mudahan Arsen bisa cari tahu lebih jauh soal anak itu." Ucap Al penuh harap.


Sedetik kemudian ia mengingat sesuatu.


"Oh iya, gue lupa, gue belum sempat bahas soal obat yang Disa beli itu. Gue harus bahas hari ini juga."


Kemudian ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju butik Disa.


Mama Ressa dan Amera pun kini tengah di perjalanan menuju butik Disa, setelah sebelumnya Mama Ressa meminta alamat Butik tersebut pada putrinya. Mereka pun pergi bersama sopir pribadi.


"Mama itu senang banget waktu kamu tadi kasih perhatian sama Al. Apalagi pas kamu mencium tangannya saat bersalaman. Kamu lihat gak, ekspresi Al tadi gimana?"


Amera yang duduk di samping Mama Ressa di jok belakang kemudi pun menggelengkan kepalanya. "Emang Mas Al punya ekspresi, ma?"


Jawaban polosnya membuat mama Ressa tertawa.


"Itu dia. Al kelihatan kaku banget. Apalagi soal perempuan, kamu harus bisa lebih sabar lagi ya."


"Pasti, ma."


Tidak terasa, mereka kini sudah sampai di halaman parkir Glamour Butik milik Disa. Mama Ressa menatapnya takjub sekaligus bangga, lantaran putrinya bisa memiliki putik sendiri. Namun, tetapan takjubnya berubah menjadi tatapan heran saat kedua bola matanya menangkap mobil berwarna hitam di barisan kedua dari depan.


"Itu kan mobilnya Al? Kenapa dia ada di sini juga?" Ucapnya penuh tanya.


"Ada apa, Ma? Kok mama berdiri di sini?" Tanya Amera pada saat baru turun dari mobil. Dia mengikuti arah pandang mata Mama Ressa.


"Mobilnya Mas Al? Ngapain mas Al ke butik Disa pagi-pagi?"


"Kita coba masuk ke dalam aja yuk!" Ajak mama Resa pada Amera.


Amera pun menurut, ia mengikuti langkah mama Ressa masuk ke Butik tersebut.


_Bersambung_