TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 32


"Berarti Al gak bohong soal itu? Tapi, apa maamnya Al sudah tau kalau kalian sudah menikah?" mendengar pertanyaan papanya barusan, Amera pun menggeleng lemah.


"Kenapa? Memangnya Al sama sekali gak pernah ngenalin kamu lewat telpon atau gimana sama mamanya?" rasa keingintahuan papa Abdi kian bertambah tentang pernikahan putrinya ini.


"Belum, pah," jawab Amera membuat papanya menghela napas panjang.


"Kenapa, nak? Kenapa? Apa hubungan rumah tangga kalian ini baik-baik aja? Maaf kalau papa ingin tau soal rumah tangga kamu, nak. Karena papa gak mau, kalau putri papa ini sebenarnya sedang tidak baik-baik aja," Amera menundukkan wajahnya.


Papa Abdi memang satu-satunya orang yang paking mengerti dirinya. Bahkan tanpa harus menceritakan lebih dulu, papa Abdi sudah bisa membaca isi hati Amera.


"Aku sama mas Al baik-baik aja kok, pah. Cuma, kemarin sempat ada masalah sedikit. Tapi papa gak usah khawatir, kita udah selesaikan masalah itu," ujarnya, menciptakan kerutan di dahi papa Abdi.


"Masalah apa, nak?"


"Jadi begini, pah. Waktu itu kan aku pernah bilang kalau cincin yang mas Al kasih waktu lamaran itu hilang di kamar mandi. Sebenarnya waktu itu aku bohong. Cincin itu gak pernah hilang di kamar mandi. Itu karena aku lupa di mana cincin itu hilngnya. Terus, tiba-tina mas Al bawa cincin itu katanya dari Disa pemberian dari Revan. Mas Al marah sama aku, karena dia pikir kalo cincin itu di ambil Revan waktu tau aku di lamar sama dia."


"Terus, gimana?"


"Ya aku coba tanyain langsung ke Revan, dari mana dia bisa punya cincin itu. Dan dia bilang, dia menemukan cincin itu di taksi. Aku jadi ingat dimana terakhir kali cincin itu sama aku. Ternyata Revan sempat naik taksi yang sama demgan taksi yang peernah aku naikki. Awalnya mas Al emang gak percaya. Tapi setelah Disa memberi tahu kbenarannya seperti itu, baru dia percaya sama aku," jelas Amera panjang lebar.


Papa Abdi akhirnya bernapas lega, lantaran Amera dapat menyelesaikan suatu masalah dalam rumah tangganya. Tapi di sisi lain, papa Abdi masih khawatir kalau nantinya pernikahan putinya akan menghadapi badai besar, apakah mereka mampu melewatinya. Lantaran suatu hubungan itu harus di landasi dengan kepercayaan, sedangkan mereka belum memilikinya.


"Sebesar apapun masalah kamu sama Al. Papa harap kalian menyelesaikannya dengan kepala dingin. Ya, nak?!" tutur serta pesan papa Abdi pada Amera.


"Iya, pah," pria itu nerengkuh bahu putinya kemudian menyandarkan kepala Amera di bahu kekarnya. Beliau mengusap rambut putrinya dengan lembut serta menghujaninya dengan ciuman di pangkal rambut tersebut.


Pelukan papa Abdi begitu menghangatkan sebagai seorang papa untuk Amera. Bagi anak perempuan, papa merupakan cinta pertama dalam hidup mereka. True.


***


Apartemen Singapur.


"Syukurlah, handphone-ku sudah selesai di service. Dan, data-data penting di handphone-ku tidak ada yang hilang," ujar mama Ressa. Sebenarnya mudah baginya untuk membeli ponsel baru, tapi handphone miliknya ini terlalu berharga. Selain banyak data-data penting di dalamnya, ponsel itu juga merupakan kado ulang tahun terakhir dari suaminya sebelum beliau meninggal.


"Oh, iya, aku coba telpon Disa, deh. Aku banget banget sama dia," mama Ressa mecari nomer kontak kemudian mendial nomer tersebut.


Di apartemennya, Disa sudah tampak rapih dan akan pergi ke butik seketika menghentikan langkahnya ketika ponsel dibtas slempangnya berdering. Mama, nama yang tertera di layar ponselnya ini membuat senyumnya mengembang dengan sempurna. Disa segera mengangkat telpon tersebut.


"Halo, mah. Mama apa kabar?" ucapnya memburu.


"Halo, sayang. Alhamdulillaah, mama baik. Kamu di sana baik-baik juga kan?" mama Ressa tak kalah bahagianya bisa mendengar lagi suara putrinya.


"Aku baikcbaik aja, mah. Oh, iya, kata Al handphone mama rusak?"


"Em, iya. Sempat jatuh waktu itu. Tapi sekarang sudah berfungsi dengan baik lagi. Oh, iya, kamu sekarang dimana?"


"Aku di A-" Disa menggantungkan kalimatnya.


Oh, iya, gue lupa. Mama kan gak boleh tau kalau sekarang gue tinggal di Apartemen. Al juga udah wanti-wanti gue buat gak kasih tau mama soal ini. Hampir aja gue keceplosan.


"A?" tanya mama. Ressa ketika Disa tidak melanjutkan kalimatnya.


"A, iya mah. Aku, aku lagi di atas, mah. Di lantai atas maksudnya," jawabnya sedikit terbata akibat gugup.


"Oh, kamu hari ini gak ke butik? Al bilang butik kamu udah launching."


"Iya, mah. Ini baru aja aku mau berangkat."


"Yaudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya! Good luck dear!"


"Iya, mah. Makasih ya."


"Sama-sama, sayang."


"Bye, mah."


Setelah sambungan telpon di tutup, Disa menghembuskan napas lega.


"Untung aja, mama percaya sama omongan gue. Kalau enggak, bisa habis gue sama Al."


***


"Gimana, bagus-bagus kan baju di sini?" tanya mama Anna pada temannya yang saat ini sedang terkesima melihat ke sekitar butik.


"Iya. Baru kali ini aku nemu butik dengan design sebagus ini. Berkelas lagi," Mona, teman mama Anna ini sama sekali tidak memalingkan wajahnya dari berbagai jenis pakaian di sekitar butik.


"Yaudah, kalo gitu kamu pilih-pilih baju aja dulu. Aku mau ke toilet sebentar. Gak apa-apa, kan?"


"Oh, yaudah. Gak apa-apa!"


Mama Anna baru dua kali ini ke Glamour Butik. Dan dia belum tahu dimana letak toilet butik ini. Kebetulan, ada salah satu pegawai butik berjalan ke arahnya. Dia jadi bisa menanyakan letak toilet pada pegawai tersebut.


"Permisi, mbak!"


"Iya, bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai butik antusias.


"Iya. Saya mau tanya, toilet sebelah mana ya?"


"Oh, ibu tinggal lurus aja, nanti belok ke sebelah kanan. Lalu di bagian pojok belakang ada toilet khusus wanita," kata pegawai tersebut seraya menunjukkan arahnya.


"Yaudah kalo gitu, makasih ya, mbak."


"Sama-sama, bu," mama Anna pun berjalan sesuai arah yang di tunjukkan pegawai butik barusan. Dan benar, letak toiletnya ada di sebelah sana.


Lima menit kemudian, mama Anna keluar dari toilet. Dia berjalan untuk kembali ke tempat tadi. Tempat dimana Mona-temannya itu sedang memilih pakaian. Namun seketika langkahnya terhenti, saat dia berdiri di depan sebuah ruangan dengan foto yang terpampang di depan pintu ruangan tersebut.


"Perempuan itu?" mama Anna menatap lekat perempuan yang ada di dalam foto, wajahnya tidak asing baginya.


Bayangan On


"Ya ampin, kalau jalan liat-liat, dong!" gadis yang tidak sengaja di tabraknya itu mengomel.


"Maaf, saya bu-" belum sempat mama Anna melanjutkan kalimat perminta maafannya, gadis itu sudah lebih dulu lergi dari hadapannya.


Bayangan Off


"Dia kan orang yang gak sengaja aku tabrak waktu aku ke toilet di gedung pernikahannya Amera sama Al?" mama Anna melihat nama perempuan di foto yang ada di pintu tersebut, telat di bawah fotonya.


"Disa Permadi?" mama Anna membacanya dengan sedikit mengeja.


Bayangan On


Mama Anna melihat papa abdi sedang bicara dengan seorang perempuan ketika dia baru saja selesai mencoba gaun yang akan dia beli di Glamour Butik. Mama Anna pun segera menghampiri, namun perempuan itu keburu pergi.


"Papa bicara sama siapa?" papa Abdi sedikit terkejut lantaran pembicaraannya dengan perempuan tadi di ketahui oleh istrinya.


"Itu tadi Disa, mah. Adiknya Al. Ternyata dia pemilik butik ini," jawab papa Abdi.


"Disa adik Al? Yang mana, pah? Kok mama gak tau?"


Bayangan Off


"Jadi perempuan yang gak sengaja aku tabrak di depan toilet gedung pernikahan Amera sama Al itu Disa, pemilik Glamour Butik ini, adiknya Al?" mama Anna masih tercengung dengan satu fakta yang dia dapatkan hari ini.


___


Jangan lupa Like, komen, tambahkan ke rak buku favorit, juga beri hadiah ya. Karena itu akan menambah semangat aku buat terus update.


Follow ig @wind.rahma