
Amera mengerutkan keningnya dalam seraya memikirkan semua itu.
Dengan semua sikap dan apa yang dikatakan Mas Al waktu itu, sepertinya kecurigaan mama sama papa memang ada benarnya. Tapi masa iya sih, Disa itu Indah adik aku?
"Bisa jadi sih ma, pa. Karena mas Al pernah bilang sama aku kalau mamanya pernah melakukan operasi pengangkatan rahim pasca dinyatakan ada tumor di rahimnya. Dan kemarin aku gak sengaja ketemu sama tante Marina mamanya Revan, tante Marina bilang kalau mamanya mas Al pernah stress gara-gara gak bisa punya anak lagi setelah mas Al."
Ucapan Amera barusan membuat papa Abdi juga mama Anna cukup terkejut.
"Serius, Ra?" Seru mama Anna, Amera pun mengangguk.
"Iya, Ma. Tapi waktu aku nanyain hal itu ke mas Al, Mas Al bilang mungkin tante Marina nggak tahu kalau mama sebenarnya stress pasca operasi setelah Mama Ressa punya Disa," tambah Amera.
"Terus Al bilang apa lagi?" Tanya papa Abdi yang juga kian penasaran.
"Gak bilang apa-apa lagi sih. Cuma waktu itu, waktu makan malam di rumah Papa sama Mama, mas Al pernah ngeliatin foto aku sama Indah gitu. Terus pas di rumah, dia nanya-nanya soal foto itu. "
Penjelasan Amera barusan membuat papa terutama Mama Anna semakin yakin jika Disa itu merupakan putri mereka.
"Mas Al juga pernah marah sama Disa karena Diaa udah ngecewain Mama Ressa, Mas Al gak terima kalau disa ngecewain mamanya, dengan mengatakan Mama Ressa itu 'Mama saya'." Sambung Amera lagi.
"Pa, benar kan kecurigaan aku selama ini? Dengan apa yang barusan kita dengar dari Amera, membuktikan kalau Indah masih hidup. Indah itu Disa, pa!" Ucap Mama Anna memburu, membuat pria itu menenangkan istrinya.
"Iya Ma. Kamu tenang dulu ya. Nanti, setelah kita pulang dari sini ke rumah kita langsung ke rumah orang itu lagi ya. Biar semuanya lebih jelas. Oke?!"
"Untuk apa, pa? Semua udah jelas," ucap mama Anna kukuh.
"Iya, ma. Tapi kita gak bisa bilang gitu aja sama keluarga Al kalau Disa itu Indah anak kita. Kita juga harus punya bukti. Karena mereka juga gak akan percaya gitu aja," tutur Papa Abdi.
"Iya, ma. Papa benar. Mama sabar dulu ya. Nanti aku juga bakal ikut cari tahu lagi buktinya," ujar Amera menimpali, wanita paruh baya itu pun akhirnya menurut.
"Oh iya, Pa. Papa katanya mau bicara sama aku. Papa mau bicara soal apa?" Tanya Amera mengubah topik pembicaraan setelah beberapa saat kesenyapan menyelinap di antara mereka.
"Iya, nak. Waktu itu kamu pernah bilang ke papa kalau ada lowongan kerja di sini, papa harus bilang ke kamu. Kebetulan sekarang ada, karena salah satu pegawai di sini ada yang memutuskan berhenti bekerja kemarin, soalnya dia mau buka usaha sendiri."
"Oh gitu. Iya, waktu itu emang ada temen aku yang butuh banget pekerjaan, tapi sekarang dia udah kerja di rumah Mas Al," ujarnya.
Yang Amera maksud adalah Vira. Jadi waktu ketemu Vira di jalan, Amera sempat menghubungi papanya guna menanyakan lowongan pekerjaan di kantor teman papanya yang pernah ditawarkan untuknya. Tapi sayangnya sudah ada gantinya. Kemudian ia berpesan kalau ada lowongan pekerjaan di coffee shop papa Abdi, papanya Itu harus segera menghubungi.
"Oh begitu. Ya udah nggak apa-apa." Ucap Papa Abdi.
***
Di tempat kediaman Bu Marina.
Wanita itu baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Rambutnya masih dibungkus menggunakan handuk putih lantaran basah. Suara notifikasi pesan masuk membuatnya yang semula duduk di depan kaca rias berpindah ke tepi ranjang guna mengambil ponselnya di sana.
Mendapat pesan dari suaminya barusan, senyum di bibir wanita itu pun mengembang dengan sempurna
"Alhamdulillah, hari ini papa udah bisa pulang. Kalau gitu, aku mau belanja bahan masakan buat masakin papa nanti," ujar Bu Marina lalu bersiap-siap merapikan diri.
Sementara di apotek, Disa tengah membeli sebuah tespek guna mengetes apakah dirinya benar-benar hamil atau memang telat haid saja. Kebetulan, dia membeli barang tersebut di tempat di mana ia membeli obat halusinasi tempo hari. Jadi dia bisa sekalian nanya-nanya ke pegawai yang juga pernah melayaninya.
"Mbak, saya mau nanya. Mbak masih inget saya nggak? " pegawai itu pun memperhatikan wajah Disa baik-baik.
"Emm ... Mbak yang pernah beli obat tertentu waktu itu ya?" Tanya pegawai tersebut yang usianya tidak beda jauh dari Disa.
"Ah iya, itu saya. Syukur deh kalau mbak masih ingat."
"Memangnya kenapa ya, Mbak?" Tanya pegawai itu penasaran.
"Iya, jadi begini, Mbak. Waktu saya beli obat itu, ada nggak orang yang nanya-nanya atau apa gitu ke mbaknya?"
"Oh, iya ada, Mbak. Waktu Mbak keluar memang sempat ada orang yang nanya-nanya Mbak membeli apa di sini."
Disa mengerutkan keningnya dalam.
"Siapa? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Mbak." Jawab pegawai tersebut.
Disa terdiam sejenak.
Nggak salah lagi, itu pasti Arsen asisten pribadinya Alan. Ujarnya dalam hati.
"Emm .. Mbak. Lain kali kalau saya membeli suatu apapun di sini, jangan pernah kasih tahu ke siapapun kalau sampai ada orang yang nanya-nanya lagi ya?!" Pesan Disa dan pegawai itu pun mengangguk
"Baik, mbak."
Setelah melakukan transaksi pembayaran berupa barang tersebut Disa pergi dari sana.
Bu Marina saat ini duduk di belakang kemudi taksi online dalam perjalanan menuju supermarket. Seketika kedua bola matanya menangkap seseorang di parkiran hendak memasuki mobil.
"Itu kok kayak Disa ya?" Bu Marina melihat dari kaca samping pintu mobil.
"Disa ngapain ke apotek ya? Apa jangan-jangan dia lagi sakit?" Pikir wanita itu.
"Nanti aku coba tanya ke Revan aja deh. Sekalian ajak dia jengukin Disa ke rumahnya," ucap Bu Marina.
_Bersambung_