TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN

TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN
Bab 11


"Hergh... Sial ! Kenapa sih Revan masih aja ngejar-ngejar perempuan itu?" Disa memukul setirnya dengan cukup keras, setelah tidak berhasil membujuk Revan untuk tidak mengejar Amera di taman tadi.


"Apa Revan belum tahu ya, kalau pacarnya itu udah di amar Alan?" pikirnya. Disa menepikan mobilnya di bahu jalan, kemudian ia berpikir bagaimana caranya agar Evan tidak akan lagi mengejar-ngejar Amera.


"Gue harus cari cara lain supaya Revan berhenti ngejar-ngejar pacarnya. Setelah itu gue akan buat Revan kembali lagi ke pelukan gue," bibir Disa menyeringai, sepertinya ia mempunyai niat jahat agar rencana membuat Revan kembali kepadanya kali ini berhasil.


***


Setelah dinyatakan baik-baik saja atau tidak ada luka yang serius, pak Abdi di izinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Alan yang mengantarkan Pak Abdi, istrinya, serta Amera pulang.


Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah Pak Abdi. Alan membantunya untuk turun dari mobil.


"Terima kasih ya, nak Alan. Sudah repot-repot membantu saya, mengantarkan saya ke rumah sakit dan pulang," ucapnya pada saat Alan membantunya turun dari mobil.


"Sama-sama om. Saya sama sekali tidak merasa di repotkan. Justru saya merasa senang bisa membantu Om," Pak Abdi dan Bu Anna pun tersenyum.


"Oh iya, Al. Gimana kalau kamu mampir dulu sebentar? kita ngobrol untuk mengenal lebih jauh dengan kamu. Iya kan, Ra?" tawar dan tanya Bu Anna pada Amera yang sedari tadi diam saja.


Amera hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum di bibirnya sekilas.


"Ya sudah, kalau begitu kita masuk yuk, pah, Al, ayo Mera!" ajak Bu Anna.


"Iya, Mah," sahut Pak Abdi, suaminya.


Setelah itu Bu Anna, Pak Abdi, Alan dan Amera pun masuk ke dalam rumah. Tidak lupa Bu Anna segera mempersilahkan Alan yang di anggap sebagai tamu istimewanya ini untuk duduk saat sampai di ruang tamu.


"Al, kamu mau tante buatkan minuman apa? Kopi, teh, atau jus?" bu Anna menawarkan berbagai varian minum untuk ia suguhkan.


"Tidak perlu repot-repot, tante. Terima kasih banyak! Lagi pula saya tidak akan lama, kok," tolak Alan sopan.


"Gak repot sama sekali, Al. Tante buatkan minum dulu, ya," ujar bu Anna pada suami dan calon menantunya.


"Aku bantu ya, mah!" kata Amera yang berdiri di samping bu Anna.


"Kamu di sini aja sama papa sama Alan. Biar mama sendiri aja."


"Tapi, ma..."


"Kamu temenin Alan ngobrol aja!" bu Anna melipir ke dapur tanpa memperdulikan Amera yang masih ingin ikut membantunya.


"Aku ke kamar sebentar ya, pah," Amera buru-buru pergi ke kamarnya untuk menghindari obrolan dengan Alan di ruang tamu.


"Iya, nak," jawab pak Abdi sebelum Amera pergi dari tempat berdirinya. Sebenarnya pak Abdi sangat tahu, bagaimana perasaan putrinya. Ia harus mengobrol lagi nanti setelah Alan tidak ada.


***


Setelah pulang dari kantornya, Revan ingin cepat-cepat sampai di rumah. Ia merasa tubuhnya sangat lelah. Apalagi tadi ada meeting mendadak dengan klien.


Tiba-tiba saja Revan kembali teringat dengan kekasihnya yang telah di lamar pria lain. Namun dirinya tidak bisa melakukan apapun.


"Kenapa aku masih bisa tenang dan pura-pura gak tau apa yang sebenarnya terjadi? Padahal jelas-jelas ada pria lain yang mencoba merebut Ameraku."


"Aku harus bicarakan hal ini besok," ucapnya lagi. Setelah itu Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Beberapa detik kemudian, mobilnya seketika berhenti membuat pria itu kian emosi. Ia segera turun dari mobil lalu mengecek mesin.


"Sial, kenapa harus mogok sih?" Revan sampai menendang ban depan mobilnya cukup keras guna meluapkan keksalannya.


Melihat jalanan cukup sepi lantaran hari sudah malam, sepertinya Revan akan kesulitan mencari taksi. Karena ponselnya sudah mati sejak ia masih di kantor. Ia tidak bisa memesan taksi online.


Tapi hari ini, masih ada keberuntungan untuk Revan. Sebuah taksi melintas ke arahnya. Hampir saja ban depan mobilnya jadi sasaran luapan kekesalannya lagi. Tapi untunglah, Tuhan masih menyrlamatkan si ban mobil tersebut dari tendangan Revan.


Revan langsung menyetop taksi tersebut dan tanpa pikir panjang ia langsung masuk ketika taksi itu sudah berhenti.


"Ke Jalan Algerima nomer 10 ya, pak!" ujar Revan memberi tahu.


"Baik, pak," jawab sopir taksi.


Ketika mobil sudah melaju beberapa kilometer, ujung mata Revan menangkap sebuah benda kecil yang gumirlap memantulkan cahaya kelap kelip. Ia pun mengambil benda tersebut dari selipan jok mobil di sampingnya. Begitu benda itu berhasil ia ambil , ia sedikit terkejut.


"Cincin siapa ini?" sambil ia putar dan perhatikan di depan wajahnya.


***


"Kalau kamu masih berat sama pacar kamu, kamu bosa bicara baik-baik sama nak Alan untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Tapi kalau saran papa, nak. Kamu sama nak Alan saja, dia baik kok," pak Abdi menatap putrinya yang tengah dilema.


"Walaupun Revan sudah lama pacaran sama kamu, tapi dia gak pernah datang ke rumah buat seriusin kamu. Beda sama nak Alan, dia langsung datang menghadap papa buat lamar kamu."


"Kalau papa lihat, Alan kayaknya bukan orang jahat. Dia sangat baik, menolong papa sama mama waktu kita kerampokan di coffe shop. Bahkan dia juga memberi kita sejumlah uang untuk tambahan modal," pak Abdi terus saja meyakinkan putrinya tentang Alan. Meskipun dirinya tidak mengenal Alan terlalu jauh.


Sudah panjang lebar pak Abdi berbicara memberi masukan, namun Amera masih memilih diam. Yang di katakan papanya memang benar. Revan tidak pernah datang ke rumah untuk sekedar bertamu. Jadi, rasanya akan percuma juga memiliki hubungan bertahun-tahun lamanya kalau tidak pernah ada keseriusan.


Namun, melupakan kenangan yang indah bersama Revan bukan hal yang mudah begitu saja. Apalagi ia akan hidup bersama pria yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya. Alan Permadi, entah sosok pria seperti apa? Tidak pernah bisa Amera bayangkan. Kalau lamaran ini akan berlangsubg ke sebuah pernikahan.


Suara notifikasi pesan masuk menyadarkan Amera dari lamunannya. Ia segera meraih hp dan membaca pesan tersebut.


Sayang. Besok kita ketemu di Amora Caffe jam sepuluh pagi.


Ada perasaan hangat setelah membaca pesan barusan. Namun perasaan itu segera Amera tepis secara perlahan.


___


NB:


Sebelumnya minta maaf lagi buat kalian semua yang masih dengan setia menunggu cerita IBU DARI ANAKKU. Namun sekarang judulnya sudah saya ganti menjadi TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN. Semoga kalian tetap terhibur dengan cerita ini. Insha Allah mulai hari ini kembali update kalau tidak ada halangan.


Jangan lupa buat follow akun ig saya untuk mengetahui info lebih lanjut @wind.rahma