
Revan Prahesta. Pria itu kini tengah mencari sesuatu di laci nakas kamarnya. Dia membuka-buka setumpuk map di laci tersebut. Namun, seketika pencariannya terhenti pada saat kedua matanya menangkap sebuah benda di sana. Dia mengambil benda tersebut dan saat ini ia genggam.
"Jam tangan ini..." ujarnya terpotong saat dia mengingat sesuatu.
Itu merupakan jam tangan yang Amera berikan di hari ulang tahunnya. Dia begitu bahagia waktu itu meskipun dengan hal yang sederhana. Tapi sayangnya jam itu rusak sehingga jam itu tidak dapat dipakai lagi.
Seulas senyuman terbit di bibir pria itu. Begitu indah rasanya dulu saat dia masih bersama Amera. Tapi sekarang semuanya sudah berbalik. Hidup ini terasa begitu rumit, apalagi kembalinya Disa ke dalam kehidupannya.
Revan menggenggam erat-erat jam tangan tersebut di kedua telapak tangannya.
"Andai aku melakukan hal bodoh itu dengan Amera, bukan Disa. Pasti aku akan dengan senang hati menikahinya. Tapi sayangnya, Amera terlalu berharga untuk aku sentuh. Dan Amera memang bukan orang bodoh seperti Disa, "ujarnya lagi.
Suara notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian Revan. Pria itu segera meraih ponselnya di atas nakas kemudian membaca pesan tersebut.
Siska.
Selamat pagi, Pak. Hari ini ada meeting jam sepuluh pagi di Panorama Cafe.
Pria itu pun mengetikkan balasan pada sekretarisnya.
Iya.
***
Mama Ressa merasakan pusing di bagian kepalanya. Mungkin itu karena kemarin dia tidak makan seharian. Amera mengajak Mama Ressa untuk pergi ke rumah sakit, tapi wanita itu menolak.
"Ma, Mama yakin nggak mau ke rumah sakit? Kalau gitu aku beli obat di apotek aja ya?" Ajak Amera sedikit panik karena dia begitu cemas,
Wanita itu pun mengangguk.
"Ya udah, kalau gitu aku tinggal sebentar,ya. Mama jangan kemana-mana. Mama istirahat!" Amera membantu membaringkan tubuh Mama Ressa kemudian menyelimuti tubuh wanita itu.
Amera bergegas keluar kamar, sebelum dia pergi, dia memutuskan untuk meminta izin ke Al, lantaran dia tidak mau disalahkan meskipun dengan alasan membeli obat Mama Ressa.
Amera mendial nomor suaminya, kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya. Al pun mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Mas. Mas Al, aku mau minta izin keluar. Aku mau beli obat buat Mama. Kepala mama pusing katanya."
"Mama sakit?" Tanya Al cemas.
"Enggak. Cuma kepalanya pusing aja, mungkin karena mama kemarin seharian nggak makan kali, ya. Jadi kalau gitu, aku mau ke Apotek sebentar ya."
"Ya udah, tapi kamu ditemenin sama Vira, ya! Soalnya sopir pribadi Mama tadi izin pulang."
"Iya, Mas."
Setelah sambungan terputus, Amera pun segera menghampiri Vira guna meminta antar.
Di tempat lain, Disa menepikan mobilnya di bahu jalan. Sepertinya hari ini dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke butik, lantaran pikirannya masih sangat kacau. Ucapan Mamanya masih terngiang di telinganya sampai saat ini. Perempuan itu kini meremas kedua sisi kepalanya.
"Tenang, Disa! Lo gak boleh kayak gini. Lo harus yakin kalau Revan pasti akan jadi milik lo. Cuma milik lo," Ujarnya pada diri sendiri.
Setelah mengatakan hal barusan kini kedua matanya menangkap seseorang yang baru saja keluar dari kafe.
"Itu kan?" Disa menyipitkan kedua matanya.
"Iya, itu Revan. Ngapain dia di Panorama Cafe? Apa jangan-jangan dia habis ketemuan sama perempuan lain?" Pikir perempuan itu.
"Gue harus samperin dia," ujarnya lagi.
Kemudian ia membuka pintu mobil dan turun dari sana. Dia bergegas melangkahkan kaki menghampiri pria yang dilihatnya barusan.
" Revan... "
Panggilan Disa membuat pria yang hendak memasuki mobilnya pun menoleh, dia memutar bola matanya malas ketika melihat siapa orang yang memanggilnya barusan.
"Harusnya aku yang tanya. Kamu ngapain di sini? Kamu habis ketemuan sama perempuan lain?"
"Bukan urusan kamu!" Jawab Revan, kemudian membalikkan tubuhnya guna masuk ke dalam mobil yang ada di sebelahnya.
Namun Disa dengan cepat mencegah pria itu untuk tidak pergi meninggalkannya.
"Tunggu Revan! Aku belum selesai bicara."
Disa menarik pergelangan tangan Revan, pria itu kembali membalikkan tubuhnya dengan menepis tangan Disa sedikit kasar.
"Mau bicara apa lagi? Apalagi yang harus dibicarakan? Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jadi stop, jangan ganggu aku lagi Disa! "
"Apa? Mngganggu? Revan, Sayang. Kamu lupa, kejadian malam itu di rumah kamu? Kita memang nggak menyatukan hati kita, tapi kita udah menyatukan tubuh kita, sayang."
Ucapan Disa rupanya mulai memancing kembali emosi pria itu.
"Apa kamu bilang? Lupa? Bahkan aku sengaja dibuat tidak ingat apapun sama kamu."
"Tapi, sayang. Gimana kalau nanti aku hamil? Aku nggak mau tahu, ya, pokoknya kamu harus tanggung jawab! "
"Tanggung jawab untuk apa, Disa? Untuk kesalahan yang tidak pernah aku berbuat? Iya? "
Ketegangan pun mulai terjadi di antara mereka.
Dari kejauhan, Amera dan Vira baru saja membeli obat dari Apotek yang tidak jauh dari Panorama Cafe. Perempuan di samping Amera itu menghentikan langkah ketika dia melihat dua orang sedang bicara di halaman parkir kafe tersebut.
"Ra, Ra. Itu bukannya adik Pak Bos, ya?"
Amera mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan oleh Vira. Dan benar saja, itu adalah Disa yang bersama Revan.
"Eh tunggu, deh. Itu adiknya Pak Bos lagi ngomong sama siapa ya? Kok kayaknya gue kayak pernah lihat tuh cowok tapi di mana ya?" Vira tampak mengingat-ingat pria yang ada di hadapan Disa.
Bayangan on
Mata Vira menangkap seorang laki-laki yang duduk di bagian pojok Cafe Amora. Ia menyipitkan kedua matanya guna memastikan laki-laki yang saat ini ia lihat.
"Cowok itu? Kok mukanya familiar banget ya? Gue kayak pernah lihat tuh cowok, tapi di mana ya?"
Bayangan off
"Oh iya. Gue ingat, Gue pernah ketemu sama itu cowok pas gue ngelamar kerja di cafe Amora. Mukanya familiar banget, lo tau nggak itu siapa Ra?"
"Emmm .. dia Revan, Vir. Laki-laki yang dulu sering gue ceritain ke lo," jawab Amera, menciptakan kerutan dalam di kening Vira.
"Maksud lo?"
"Iya, jadi dia itu mantan gue yang pernah gue liatin fotonya ke lo dulu. "
Vira tampak mengingat-ingat sampai akhirnya dia pun mengingatnya.
"Eh, Ra. Tapi kok mantan lo bisa sama adik Pak Bos, ya? Apa jangan-jangan mereka pacaran? Tapi kok bisa kebetulan gitu ya, mantan lo sama adik suami lo dan lo bisa sama kakaknya. "
Amera sedikit terkejut temannya bisa berpikir dan menyimpulkan sesuatu sejauh itu. Tidak mau Vira akan terus bertanya lebih jauh, kemudian dia berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Vir. Kita langsung balik aja yuk! Soalnya mama Ressa harus segera minum obat ini."
Vira pun akhirnya setuju.
"Oh iya, Ra. Gue jadi lupa. Ayo!"
Kebetulan taksi online yang mereka pesan sudah datang, mereka pun langsung naik dan masuk ke dalam mobil tersebut.
_Bersambung_